Posts tagged ‘teori kritis’

March 30th, 2011

Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat

by via

Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.

Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.

read more »

March 15th, 2011

Genealogi Kajian Budaya

by via

Robert E. Babe memulai tulisannya tentang Genealogy of Cultural Studies dengan definisi-definisi tentang kajian budaya. Dalam tulisannya tersebut, ia tidak membahas tentang sejarah atau genealogi kajian budaya. Merujuk pertanyaan Blundell, Shepherd dan Taylor bahwa membicarakan sejarah kajian budaya merupakan hal yang cukup sulit . Oleh karena itu, kita hanya bisa merujuk pendapat-pendapat para ahli yang pemikirannya juga berasal dari para ahli kajian budaya terdahulu.

Para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam melihat kajian budaya. Secara umum jika dilihat dari penjelasan Wikipedia, kajian budaya merupakan kombinasi dari ekonomi politik, komunikasi, sosiologi, teori sosial, teori literasi, teori media, kajian film dan video, antropologi budaya, filsafat, dan sejarah dalam melihat fenomena budaya dalam masyarakat .

Kajian budaya menjadi penting untuk diperbincangkan karena saat ini kita hidup di era budaya baru yang secara dramatis telah diubah oleh media global dan teknologi komputer. Oleh karena itu, kita membutuhkan kajian budaya untuk menganalisis kondisi ekonomi politik industri budaya saat ini, efek media baru dan teknologi, serta dampaknya terhadap masyarakat. Dalam tulisan ini, kita akan melihat kajian budaya ini dari dua sisi, yaitu dari sisi British Cultural Studies dan Critical Cultural Studies.

Critical cultural studies menekankan tentang adanya ketidak adilan dalam hubungan kekuasaan. Sandar dan Van Loon menyebutkan tiga karakteris critical cultural studies yang berkaitan dengan hubungan kekuasaan, yaitu:

  1. Critical cultural studies bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan kekuasaan mempengaruhi praktek-praktek budaya.
  2. Critical cultural studies bertujuan untuk memahami semua bentuk budaya serta menganalisa konteks sosial dan politik yang termanifestasi didalamnya.
  3. Critical cultural studies berkomitmen pada evaluasi moral  masyarakat modern dan politik radikal, serta memahami dan merubah struktur dominasi khususnya dalam masyarakat kapitalis .

British cultural studies memberikan kita penjelasan untuk menganalisa situasi sosial yang sedang terjadi dan juga ikut mengembangkan teori kritis dan kajian budaya dengan cara-cara praktis. British cultural studies ini dimulai saat didirikan University of Birmingham Center for Contemporary Cultural Studies pada tahun 1963 yang menjelaskan berbagai perspektif tentang kajian budaya. Dalam kajiannya, mereka fokus pada hubungan saling mempengaruhi antara ideologi kelas, gender, ras, serta budaya media.

British cultural studies membicarakan tentang bagaimana masyarakat menggunakan media massa serta cara mereka dalam menginterpretasikan pesan-pesan yang ada didalamnya sebagai bentuk dari budaya media. Kajian ini menganalisa fakto-faktor apa saja yang membuat masyarakat merespon media dengan cara-cara yang berbeda-beda. British cultural studies juga merupakan kajian pertama yang membicarakan tentang efek media massa seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan efek bentuk-bentuk budaya populer lain.

Secara umum, perspektif British Cultural Studies memiliki beberapa kesamaan dengan perspektirf Frankfurt School. Pertama, terjadinya penurunan kesadaran revolusioner diantara kelas pekerja. Kedua, budaya media berperan dalam membentuk kelas pekerja menjadi masyarakat kapitalis. Ketiga, budaya media membentuk hegemoni kapitalis.

Richard Hoggart, salah satu tokoh British Cultural Studies  memperkenalkan konsep The Uses of Literacy yang menekankan sisi kepemilikan media dan dan aspek-aspek produksi konten media, tidak hanya sisi konsumsi dan interpretasinya saja . Ia mengatakan bahwa media massa telah menggantikan budaya kelas tradisional, sehinggga mengurangi kesadaran kelas diantara masyarakat .

Sementara itu, Raymond Williams yang juga merupakan tokoh British Cultural Studies fokus pada pengalaman-pengalaman kelas pekerja dan aktivitas mereka dalam mengkonstruksi kebudayaan serta budaya kelas. Argumentasinya adalah klasifikasi kerja dalam budaya memiliki struktur gagasan kolektif. Hal ini dapat dilihat dari kelas-kelas yang ada dalam masyarakat dalam menentukan posisi maupun kelas dalam suatu pekerjaan. Ia memperkenalkan beberapa konsep tentang kajian budaya, yaitu culture and society, mass and class consciousness, economic determinism, dan technological (media) determinism.

Raymond Williams berpendapat bahwa kelas dominan secara kuat dapat mengontrol transmisi dan distribusi pesan dalam media. Selain itu, kehadiran base and superstucture dalam economic determinism juga berpengaruh dalam memunculkan homogenitas media. Dimana fokus base and superstructure adalah memberikan pengaruh yang tujuannya mengikat kaum proletar yang bisa dipekerjakan sesuai dengan keinginan dan kehendak para pemilik modal. Hal ini tentunya kemudian akan menciptakan hegemonitas oleh para pemilik modal terhadap para pekerja dan arus informasi yang berada dalam media yang dikuasainya.

Tulisan ini merupakan rangkuman buku “Cultural Studies and Political Economy” karya Robert E. Babe. Versi PDF dapat didownload disini.

February 15th, 2011

Kellner: Perang Teori dan Studi Budaya

by via

Pada era 1960an terjadi perang sosial yang berkepanjangan dengan gerakan-gerakan sosial untuk membentuk budaya-budaya baru. Tahun 1960 juga merupakan era perang budaya diantara aliran liberal, konservatif, dan radikal untuk merekonstruksi sosial dan budaya berdasarkan agenda mereka. Dalam perkembangannya, perang sosial tersebut berlanjut dalam waktu yang lama.

Runtuhnya tembok berlin, jatuhnya kerajaan komunis Soviet, dan bubarnya Uni Soviet tadinya diduga akan mengakhiri masa masa sulit yang telah terjadi dalam sejarah. Namun kenyataannya, ternyata hal tersebut tidak juga membawa kestabilan dan kedamaian.  Yang terjadi adalah ledakan  perang nasional dan agama, dimana tidak ada kekuatan politik yang dapat menyelesaikannya.

Pasca Perang Dunia II terjadi polarisasi budaya, politik, dan ekonomi serta terjadi pembagian antara blok barat dan blok timur, sosialis komunis dan kapitalis liberalis. Polarisasi tersebut kemudian mendorong terjadinya perang teori dan ideologi diantara keduanya untuk menghegemoni negara-negara lain.

Peningkatan media massa pada tahun 1960an mendorong terjadinya kebebasan informasi, sehingga setiap orang dari belahan dunia manapun dapat mengakses informasi yang sama tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Akses informasi yang sangat tinggi mengakibatkan terjadinya fever, dimana masyarakat merasa bingung dan gagap melihat banyaknya teori dan informasi yang masuk. Dengan adanya ledakan teori tersebut, maka terjadilah perang teori (theory wars), dimana para teoritikus berusaha meyakinkan teorinya masing-masing bahwa teorinyalah yang paling relevan

Kemunculan teknologi baru pada akhir dekade secara langsung telah mengubah pola kehidupan masyarakat. Dengan adanya teknologi baru, banyak pekerjaan yang tergantikan, banyak tercipta lapangan kerja baru, serta adanya bentuk-bentuk komunikasi baru dan kemudahan pengaksesan infomasi.

Namun demikian, perlu kita sadari bahwa media baru dan teknologi sebenarnya memiliki efek yang kontradiktif dan ambigu. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai macam pilihan, kemungkinan otonomi budaya, dan kesempatan mengeksplorasi ide dan budaya yang lebih terbuka. Namun disisi lain, teknologi justru memungkinkan terjadinya pengawasan dan pengontrolan yang secara tidak langsung juga membatasi ruang gerak kita.

Media baru sebenarnya juga berjasa dalam membuat bentuk kontrol sosial baru yang lebih efisien, namun disisi lain juga dapat menyembunyikan praktek-praktek manipulasi dan indoktrinasi dengan lebih halus. Keberadaannya juga dapat melemahkan energi politik dan mengamankan masyarakat dari aksi politik massa.

Secara historis, budaya media merupakan budaya yang relatif masih baru. Setelah datangnya televisi pasca Perang Dunia II, budaya media menjadi kekuatan dominan dalam budaya, sosial, dan politik. Hal tersebut kemudian mendorong media massa lain untuk mengkolonialisasi masyarakat dan menjadi pusat dari sistem budaya dan komunikasi di Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya, seperti dijelaskanoleh Horkheimer dan Adorno (1972).

Perlu disadari, komersialisasi dan komodifikasi budaya memiliki beberapa konsekuensi penting. Pertama, adanya kepentingan ekonomi akan mendorong pemilik industri untuk memproduksi produk-produk populer dan menjual agar dapat menarik banyak massa. Dengan demikian akan terjadi produksi produk-produk media berstandar rendah yang tetap diterima masyarakat. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan, karena bertentangan dengan fungsi-fungsi media sebenarnya.

Saat ini budaya media merupakan budaya yang dominan. Budaya media telah menggantikan bentuk-bentuk high culture sebagai pusat atensi budaya yang berpengaruh terhadap banyak orang. Dalam hal literasi media, budaya oral dan visual juga telah menggantikan budaya buku yang berimplikasi terhadap tuntutan baru literasi media untuk menguasai media-media baru.

Budaya media telah menjadi kekuatan sosial yang kuat dengan media images dan unsur-unsur media yang menggantikan posisi institusi tradisional seperti keluarga sebagai juru nilai, rasa, dan pemikiran. Perubahan tersebut mengakibatkan munculnya model identifikasi baru dan merubah gaya hidup serta perilaku masyarakat.

Dalam tulisannya ini, Kellner menyebutkan banyak teori-teori yang berkaitan dengan studi budaya yang ia bahas. Teori-teori tersebut antara lain adalah teori post-modernisme, post-strukturialisme, marxisme, feminisme, positivisme, dan teori sosial. Selain itu Kellner juga banyak menyebutkan aliran-aliran masyarakat seperti aliran konservatif, radikal, dan lain-lain.

Kellner menekankan pentingnya teori dalam kehidupan seseorang. Ia menyebutkan, tidak ada persepsi yang dengan sempurna dapat melihat dan menginterpretasikan sesuatu, oleh karena itu kita harus melandasinya dengan asumsi-asumsi teoritis. Ia melihat bahwa teori merupakan alat untuk melihat dan mendiskusikan fenomena-fenomena, serta mencari solusi masalah. Teori juga dapat menjelaskan realitas sosial yang membantu seseorang untuk memahami dunia mereka.

Secara singkat, akan dijelaskan sedikit tentang teori-teori yang disebutkan Kellner dalam tulisannya:

  • Post-modernisme merupakan pengembangan dari modernisme, post-modernisme muncul karena modernisme dianggap tidak berhasil memperbaiki kehidupan manusia serta tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.
  • Post-strukturialisme membahas metode dan epistimologi budaya seperti diskursus bahasa dan simbol.
  • Marxisme merupakan perlawan terhadap paham kapitalisme yang membahas tentang konflik kaum borjuis dan kaum proletar.
  • Femisnisme merupakan sebuah gerakan yang memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
  • Positivisme merupakan teori yang menganggap sains sebagai alat untuk memahami semua fenomena yang terjadi di dunia.
  • Teori sosial memberikan gambaran besar yang memungkinkan seseorang untuk mengkonstektualisasikan pengalaman mereka dalam bidang sosial yang lebih luas.

Tulisan ini merupakan rangkuman Chapter 1: Theory Wars and Cultural Studies dalam buku Media Culture karya Douglas Kellner. Versi PDF dapat didownload disini.