
Pada era 1960an terjadi perang sosial yang berkepanjangan dengan gerakan-gerakan sosial untuk membentuk budaya-budaya baru. Tahun 1960 juga merupakan era perang budaya diantara aliran liberal, konservatif, dan radikal untuk merekonstruksi sosial dan budaya berdasarkan agenda mereka. Dalam perkembangannya, perang sosial tersebut berlanjut dalam waktu yang lama.
Runtuhnya tembok berlin, jatuhnya kerajaan komunis Soviet, dan bubarnya Uni Soviet tadinya diduga akan mengakhiri masa masa sulit yang telah terjadi dalam sejarah. Namun kenyataannya, ternyata hal tersebut tidak juga membawa kestabilan dan kedamaian. Yang terjadi adalah ledakan perang nasional dan agama, dimana tidak ada kekuatan politik yang dapat menyelesaikannya.
Pasca Perang Dunia II terjadi polarisasi budaya, politik, dan ekonomi serta terjadi pembagian antara blok barat dan blok timur, sosialis komunis dan kapitalis liberalis. Polarisasi tersebut kemudian mendorong terjadinya perang teori dan ideologi diantara keduanya untuk menghegemoni negara-negara lain.
Peningkatan media massa pada tahun 1960an mendorong terjadinya kebebasan informasi, sehingga setiap orang dari belahan dunia manapun dapat mengakses informasi yang sama tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Akses informasi yang sangat tinggi mengakibatkan terjadinya fever, dimana masyarakat merasa bingung dan gagap melihat banyaknya teori dan informasi yang masuk. Dengan adanya ledakan teori tersebut, maka terjadilah perang teori (theory wars), dimana para teoritikus berusaha meyakinkan teorinya masing-masing bahwa teorinyalah yang paling relevan
Kemunculan teknologi baru pada akhir dekade secara langsung telah mengubah pola kehidupan masyarakat. Dengan adanya teknologi baru, banyak pekerjaan yang tergantikan, banyak tercipta lapangan kerja baru, serta adanya bentuk-bentuk komunikasi baru dan kemudahan pengaksesan infomasi.
Namun demikian, perlu kita sadari bahwa media baru dan teknologi sebenarnya memiliki efek yang kontradiktif dan ambigu. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai macam pilihan, kemungkinan otonomi budaya, dan kesempatan mengeksplorasi ide dan budaya yang lebih terbuka. Namun disisi lain, teknologi justru memungkinkan terjadinya pengawasan dan pengontrolan yang secara tidak langsung juga membatasi ruang gerak kita.
Media baru sebenarnya juga berjasa dalam membuat bentuk kontrol sosial baru yang lebih efisien, namun disisi lain juga dapat menyembunyikan praktek-praktek manipulasi dan indoktrinasi dengan lebih halus. Keberadaannya juga dapat melemahkan energi politik dan mengamankan masyarakat dari aksi politik massa.
Secara historis, budaya media merupakan budaya yang relatif masih baru. Setelah datangnya televisi pasca Perang Dunia II, budaya media menjadi kekuatan dominan dalam budaya, sosial, dan politik. Hal tersebut kemudian mendorong media massa lain untuk mengkolonialisasi masyarakat dan menjadi pusat dari sistem budaya dan komunikasi di Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya, seperti dijelaskanoleh Horkheimer dan Adorno (1972).
Perlu disadari, komersialisasi dan komodifikasi budaya memiliki beberapa konsekuensi penting. Pertama, adanya kepentingan ekonomi akan mendorong pemilik industri untuk memproduksi produk-produk populer dan menjual agar dapat menarik banyak massa. Dengan demikian akan terjadi produksi produk-produk media berstandar rendah yang tetap diterima masyarakat. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan, karena bertentangan dengan fungsi-fungsi media sebenarnya.
Saat ini budaya media merupakan budaya yang dominan. Budaya media telah menggantikan bentuk-bentuk high culture sebagai pusat atensi budaya yang berpengaruh terhadap banyak orang. Dalam hal literasi media, budaya oral dan visual juga telah menggantikan budaya buku yang berimplikasi terhadap tuntutan baru literasi media untuk menguasai media-media baru.
Budaya media telah menjadi kekuatan sosial yang kuat dengan media images dan unsur-unsur media yang menggantikan posisi institusi tradisional seperti keluarga sebagai juru nilai, rasa, dan pemikiran. Perubahan tersebut mengakibatkan munculnya model identifikasi baru dan merubah gaya hidup serta perilaku masyarakat.
Dalam tulisannya ini, Kellner menyebutkan banyak teori-teori yang berkaitan dengan studi budaya yang ia bahas. Teori-teori tersebut antara lain adalah teori post-modernisme, post-strukturialisme, marxisme, feminisme, positivisme, dan teori sosial. Selain itu Kellner juga banyak menyebutkan aliran-aliran masyarakat seperti aliran konservatif, radikal, dan lain-lain.
Kellner menekankan pentingnya teori dalam kehidupan seseorang. Ia menyebutkan, tidak ada persepsi yang dengan sempurna dapat melihat dan menginterpretasikan sesuatu, oleh karena itu kita harus melandasinya dengan asumsi-asumsi teoritis. Ia melihat bahwa teori merupakan alat untuk melihat dan mendiskusikan fenomena-fenomena, serta mencari solusi masalah. Teori juga dapat menjelaskan realitas sosial yang membantu seseorang untuk memahami dunia mereka.
Secara singkat, akan dijelaskan sedikit tentang teori-teori yang disebutkan Kellner dalam tulisannya:
- Post-modernisme merupakan pengembangan dari modernisme, post-modernisme muncul karena modernisme dianggap tidak berhasil memperbaiki kehidupan manusia serta tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.
- Post-strukturialisme membahas metode dan epistimologi budaya seperti diskursus bahasa dan simbol.
- Marxisme merupakan perlawan terhadap paham kapitalisme yang membahas tentang konflik kaum borjuis dan kaum proletar.
- Femisnisme merupakan sebuah gerakan yang memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
- Positivisme merupakan teori yang menganggap sains sebagai alat untuk memahami semua fenomena yang terjadi di dunia.
- Teori sosial memberikan gambaran besar yang memungkinkan seseorang untuk mengkonstektualisasikan pengalaman mereka dalam bidang sosial yang lebih luas.
Tulisan ini merupakan rangkuman Chapter 1: Theory Wars and Cultural Studies dalam buku Media Culture karya Douglas Kellner. Versi PDF dapat didownload disini.