<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Speech</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/tag/speech/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description>Catatan Kecil Tentang Komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 May 2010 03:59:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pentingnya Flash Back dalam Pidato</title>
		<link>http://lutviah.net/2009/05/05/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2009/05/05/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 13:57:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[Speech]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/05/public-speaking.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-261" title="public-speaking" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/05/public-speaking.jpg" alt="" width="137" height="181" /></a>Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak hal dan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita.</p>
<p>Begitu juga dalam pidato, ketika kita menyelipkan catatan sejarah di dalamnya maka pidato kitapun akan terasa lebih bermakna. Mengapa demikian? Karena sejarah merupakan sesuatu hal yang pernah terlewati oleh setiap manusia. Setiap orang memperoleh pengalaman dan pelajaran dari sejarah yang penah ia lewati atau ia dengar. Karena itu ketika kita menceritakan tentang suatu hal di masa lampau, maka para pendengarpun akan semakin tertarik dengan pidato kita. Karena saat itu mereka ikut mengingat, merasakan, dan membayangkan kejadian yang sedang kita ceritakan.</p>
<p><span id="more-262"></span>Seperti pengalamanku ketika mengikuti lomba pidato tingkat provinsi di UNTIRTA. Saat itu tema yang aku bawakan adalah &#8220;Peran pemerintah dalam menanggulangi bencana alam&#8221; . Saat itu aku sedikit stress karena persiapanku yang belum matang, apalagi dengan hafalan yang pas-pasan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Sadar akan keterbatasanku, maka aku mulai menyusun strategi bagaimana cara menyampaikan pidato dengan baik, minimal dari segi pronounciation dan body language. Ketika menemukan cerita bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia, aku mulai berfikir bahwa ini adalah timing yang tepat untuk memainkan suara. Ketika menceritakan tragedi tsunami, aku langsung berakting sedih, termehek-mehek, hingga berkaca-kaca <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Tadinya aku fikir gaya ini terlalu lebay, namun juri ternyata berfikiran lain. Akhirnya aku berhasil meraih juara pertama meskipun dengan perasaan aneh, kok bisa menang yah <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kenyataannya adalah, sejarah memang memberikan pengaruh khusus bagi setiap orang. Mengapa orang-orang bisa tertarik dengan tragedi tsunami yang aku ceritakan? Karena hal itu memang membekas di hati mereka, suatu kejadian yang membangkitkan rasa kemanusiaan bagi setiap orang. Ketika kita mengusungnya kembali ke hadapan mereka, maka para pendengar akan kembali terenyuh dan menyimak setiap kata yang kita ucapkan, apalagi jika dibawakan dengan gaya yang lebay dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Dengan kata lain, untuk membuat pidato kita lebih mengena di hati para pendengar alangkah baiknya jika kita menyisipkan sedikit catatan sejarah. Seperti sejarah kemerdekaan, kisah orang-orang sukses, dan sebagainya. Itu akan memberikan motivasi lebih kepada pendengar untuk bukan saja menyimak, tapi juga mengikuti apa yang kita ucapkan. Karena merekapun membutuhkan bukti, bukan sekedar basa-basi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2009/05/05/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Speech&#8230;Siapa takut?</title>
		<link>http://lutviah.net/2008/09/09/speechsiapa-takut/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2008/09/09/speechsiapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 09:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[Speech]]></category>
		<category><![CDATA[Tips dan Trik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2008/09/giuliani-speech.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-142" title="giuliani-speech" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2008/09/giuliani-speech-281x300.jpg" alt="" width="181" height="203" /></a>ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , tetapi modal yang harus kita persiapkan pertama kali adalah mental kita sendiri. Dalam hal public speaking, yang harus kita taklukan bukanlah materi yang kita sampaikan, melainkan para audience supaya tertarik dengan pidato kita. Jangan sampai gugup, takut, apalagi ribut ketika berbicara di depan, anggaplah kita sedang bercerita, berdiskusi dan saling berbagi inspirasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-141"></span>Aku jadi teringat dengan pengalaman pertamaku ikut lomba pidato, saat itu aku sangat gugup dan takut tak bisa menyampaikan pidato dengan baik. Berulang kali aku talar teks pidatoku tiada henti. Sampai pada saatnya aku tampil, ternyata aku belum bisa menguasai mentalku dengan baik. Kalimat demi kalimat aku ucapkan dengan lancar dan tertata, tapi menjelang akhir pidato, aku sedikit tersendat karena lupa. Padahal tadinya sudah aku hafal hingga diluar kepala (<span style="text-decoration: line-through;">ilang donk</span> ? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ). Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan hanya karena aku gugup! Masalah mental tersebut ternyata sangat berpengaruh demi menunjang kemampuan kita berpublic speaking. Persiapan yang matang, hafalan materi, semuanya bisa musnah jika kita tidak dapat menjaga mental kita dengan baik.Bagaimana bersikap di depan orang banyak, berbicara dan body language kita semua ditentukan dari sebaik apa mental kita.</p>
<p>Untuk melatih kepekaan berbicara, aku sering mendengarkan pidato-pidato orang lain. Duduk manis di bangku penonton dan menyimak pidato orang lain ternyata membuat kita semakin peka dalam berbicara. Dengan menempatkan diri sebagai pendengar, kita akan tahu apa yang audience rasakan ketika menyimak sebuah pidato. Ada yang tidur bahkan kabur jika pidato yang disampaikan oleh sang pembicara itu boring dan terkesan garing <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Sebaliknya, jika pidatonya yang disampaikan bagus tentu kita akan tertarik dan terbawa hanyut dalam setiap kalimat yang ia ucapkan. Nah itu dia! Belajarlah dari hal tersebut. Berbicaralah dengan sebaik mungkin, dan tempatkan diri kita bukan hanya sebagai speaker tapi juga sebagai audience sehingga pidato kita akan lebih indah dan penuh makna <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Materi yang bagus bukanlah kunci untuk menjadikan sebuah pidato itu juga bagus. Kunci yang terpenting sebenarnya adalah kunci yang dipegang oleh speaker itu sendiri. Jika kita sudah bisa menguasai jiwa, raga dan materi yang akan kita sampaikan, pasti pidato kitapun akan terdengar lebih natural dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Misalnya ketika kita berpidato di depan anak-anak SMA, cukup dengan menyampaikan motivasi, tukar pengalaman dan sharing pengetahuan, pidato kita pasti akan mereka cerna dengan baik jika kita menyampaikannya dengan sempurna. Kesempurnaan pidato bukan dilihat dari seberapa bagusnya materi yang disampaikan, melainkan dari sejauh mana pidato itu terserap oleh audience yang menyimaknya. Meskipun materi yang disampaikan itu ecek-ecek dan terkesan becek, yang penting kan bisa membuat audience termehek-mehek. Lebih bagus kan? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenarnya, yang pertama kali harus dimiliki seorang speaker atau pembicara adalah keberanian. Keberanian untuk maju, tampil, dan berbicara di depan orang banyak. Memang sih,sifat-sifat tersebut tidak mudah kita miliki.Kita dapat melatihnya dengan melakukan hal-hal kecil.Seperti berdiskusi, bercerita, hingga <span style="text-decoration: line-through;">bergosip-gosip ria</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Jika kita sudah bisa mendominasi dalam berbicara dan berdiskusi, sedikit demi sedikit sifat-sifat tersebut akan tertanam dalam diri kita. Tidak akan ada lagi perasaan gugup dan gerogi ketika berbicara di depan banyak orang. Kita akan merasa lebih tenang dan nyaman dalam menyampaikan materi-materi yang kita sampaikan.</p>
<p>Tidak ada yang perlu kita takutkan dalam berpidato. Jika materi sudah siap, kita tinggal mengatur nafas dan mental kita untuk maju ke depan. Berbicaralah senyaman, setegas, dan sebagus yang kita bisa. Semua yang kita ungkapkan dan dan bicarakan kita sesuaikan dengan style bicara kita sendiri. Tak perlu memaksa tegas dan garang,padahal aslinya lemah gemulai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Performance yang memaksa dan tidak natural akan terkesan buruk dan tidak akan menarik di mata audience. Karena itu, jadilah diri sendiri, dan teriaklah dengan kencang, &#8220;Speech&#8230;Siapa takut?&#8221; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2008/09/09/speechsiapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
