<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/tag/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 08:26:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Bismillah, Ini tentang Cinta</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/12/11/bismillah-ini-tentang-cinta/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/12/11/bismillah-ini-tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 15:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah novel paling tebal yang pernah aku baca. Jumlah halamannya sekitar 455 halaman. Namun begitu, novel ini sama sekali tidak membuat para pembacanya jenuh untuk membaca halaman demi halaman cerita dalam novel ini. Bahkan membuat aku penasaran dan sulit berhenti, kecuali jika ada hal yang penting.Novel ini bercerita tentang seorang murid SMA bernama Haydar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/Bismillah...Ini-Tentang-Cinta.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-130" title="Bismillah...Ini Tentang Cinta" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/Bismillah...Ini-Tentang-Cinta.jpg" alt="" width="171" height="255" /></a>Ini adalah novel paling tebal yang pernah aku baca. Jumlah halamannya sekitar 455 halaman. Namun begitu, novel ini sama sekali tidak membuat para pembacanya jenuh untuk membaca halaman demi halaman cerita dalam novel ini. Bahkan membuat aku penasaran dan sulit berhenti, kecuali jika ada hal yang penting.Novel ini bercerita tentang seorang murid SMA bernama Haydar beserta 2 orang gadis yang kemudian menjadi takdirnya, Salma dan Lexa. Sebuah cinta segitiga yang dialami anak-anak remaja namun berakhir dengan indah.</p>
<p><span id="more-129"></span>Jika kita membaca sekilas alur cerintanya, pasti kita akan berfikir bahwa novel ini mirip dengan novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy. Tapi tidak sepenuhnya. Karena ketika membacanya kita akan menemukan banyak hal yang berbeda. Kita tidak akan menemukan sosok seperti Fahri yang sangat sempurna dan sangat taat. Melainkan sosok Haydar Ali Said seorang anak SMA yang masih nakal, anak band, humoris namun tetap religius. Kemiripan akan kita temukan pada sosok pemeran wanita, Lexa dan Salma. Salma mirip denga sosok Aisha, dan Lexa mirip dengan Maria. Namun tetap saja ada hal yang berbeda, Misalnya latar belakang Lexa yang berasal dari keluarga yang berantakan. Perbedaan lain juga kita temukan pada setting cerita yang bertempat di Kota Semarang, berbeda dengan novel Ayat-ayat Cinta yang bernafaskan timur tengah.</p>
<p>Aku mendapatkan banyak sekali pelajaran dari novel ini, sampai aku lupa dan harus mengingat-ngingatnya dulu. Penulis menyisipkan banyak sekali pesan moral melalui alur cerita yang kadang kala lucu dan menyentuh, hingga pembacanya menitikkan air mata, termasuk aku.</p>
<p>Pertama, tentang kebaktian seorang anak kepada ibunya. Pada bab 19, halaman 253. Ketika sebuah puisi dalam jam pelajaran bahasa inggris menyadarkan Haydar akan arti seorang ibu. Bagaimana seorang anak sering lupa akan keberadaan ibunya dan lebih mementingkan teman-temannya, bahkan pacarnya daripada ibunya sendiri. Saat itu juga Haydar menyiapkan sebuah kado ulang tahun untuk ibunya, walaupun uang itu akan ia gunakan untuk mengganti handphonenya yang telah rusak. Sesuatu yang jarang seorang anak lakukan pada ibunya.</p>
<p>Kedua, tentang kerja keras. Sebenarnya Haydar bukan berasal dari keluarga yang miskin. Tapi hanya karena ia ingin belajar bekerja keras dan meringankan beban ibunya yang sudah menjanda, ia bekerja sebagai loper Koran sebelum ia berangkat sekolah. Begitu juga dengan hobinya menulis. Walaupun tulisan yang ia kirimkan selalu ditolak, ia tetap tidak menyerah walaupun ia sampai jatuh sakit. Ia hanya yakin akan sebuah kata bijak yang ia tempel di kamarnya, bahwa &#8220;Akan ada satu keberhasilan diantara seribu kegagalan&#8221;. Walaupun akhirnya ia sempat merasa putus asa, saat itulah ia mendapatkan keberhasilan ketika novelnya dijadikan cerbung dalam sebuah Koran lokal. Sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak mudah menyerah untuk menggapai cita-cita dan terus berusaha.</p>
<p>Ketiga, tentang arti sebuah persahabatan. Penulis menyajikan sebuah cerita persahabatan yang konyol dan menyentuh. Sebuah cerita persahabatan yang indah kala SMA. Novel ini mengajarkan kita bagaimana mengikat tali persahabatan sesama teman. Misalnya dengan saling memberi kado saat ulang tahun, dan surprise-surprise lainnya. Ketika Haydar terluka dan ingin balas dendam, teman-temannya tidak sungkan membantunya, bahkan ketika mereka harus masuk bui bersama, mereka tidak saling menyalahkan tapi saling berpelukan dan memberi semangat. Disinilah kita belajar ikhlas, saling menerima, dan setia kawan. That’s a beautiful friendship… <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Keempat, tentang bagaimana seharusnya seseorang menyingkapi cinta. Ketika Haydar sangat mencintai Salma, ia hanya bisa melihatnya dari jauh dan mencoba menjaganya semampu yang ia bisa, tanpa berharap apapun untuk menjaga kesucian cintanya. Begitu juga dengan Salma dan Lexa yang sama-sama mencintai Haydar, mereka tetap mampu menjaga hati mereka dari cinta yang belum saatnya. Disini kita diajarkan bagaimana seharusnya menyingkapi cinta yang sesungguhnya, dengan sebenar-benarnya. Agar cinta yang kita jalani menjadi cinta yang berkah dan berpahala.</p>
<p>Kelima, tentang semangat untuk tidak menyerah pada takdir. Lexa adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang berantakan. Ayahnya telah meninggalkannya sejak ia kecil. Masa lalunya pun suram. Ia sering disakiti dan dianiaya oleh ayahnya. Tapi itu tak membuatnya berkecil hati. Ia tetap bisa menjadi juara di berbagai mata lomba, bahkan menjadi juara umum. Dari situlah kita belajar untuk tidak menyerah pada takdir dan tetap survive dengan mengembangkan potensi yang kita miliki, walau sepahit apapun cobaan menerpa kita. Kita tetap bisa menjadi bintang, seterang bintang yang menyinari gelapnya malam &#8230;</p>
<p>Terakhir, tentang keikhlasan. Ada sebuah kalimat yang bagiku sangat menyentuh. Ketika Lexa akhirnya diperkosa dan berbicara dengan Haydar sambil terisak, Haydar berkata <em>“Please, jangan bunuh aku dengan dengan kata-kata itu. Aku sakit mendengarnya. Hentikanlah kata-kata itu. Kamu masih bersih, suci….seperti bulir salju yang masih turun. Seperti mutiara yang belum tersentuh. Seperti mata air paling bening di hutan yang paling dalam. Kamu masih suci. Kamu masih Putri Saljuku…”</em>. Bahkan seketika itu juga Haydar melamar Lexa yang masih terbaring di Rumah Sakit. (<span style="text-decoration: line-through;">So Sweeettt banget ga sih</span>..) Sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan oleh laki-laki lain. Tapi disini, kita belajar ikhlas. Dari Haydar yang menerima Lexa apa adanya, dan dari Lexa yang rela berbagi suami dengan Salma yang sama-sama mencintai Haydar. Kenyataan memang tak selamanya manis, selalu terselip kepahitan didalamnya. Dan disanalah kita belajar arti keikhlasan…</p>
<p>Setidaknya, keenam hal itulah yang aku pelajari dari novel ini. Sama seperti jumlah rukun iman yang biasa aku hafal semasa TK. Setiap pelajaran itu aku dapat melalui alur cerita yang lucu, unik dan menyentuh.</p>
<p>Selain itu, novel ini juga bisa dijadikan ajang berlatih bahasa inggris dan bahasa jawa dalam beberapa dialog disertai dengan artinya. Sehingga pembaca tidak kesulitan untuk mengikuti alur cerita. Novel ini juga banyak berisi guyonan-guyonan yang terkesan nakal tapi menyegarkan. Misalnya kata boksi (bokong seksi) dan boby (<span style="text-decoration: line-through;">bokong biadab</span>) yang dibalut dalam dialog yang konyol dan mengundang tawa pembaca.</p>
<p>Penulis juga pandai menyembunyikan the real story dan membuat teka-teki sehingga membuat pembaca penasaran dan semakin ingin membaca. Misalnya ketika Haydar dilarikan ke Rumah Sakit setelah ditusuk oleh Ariel Cs, penulis hanya menyebutkan bahwa yang menyelamatkan Haydar adalah seorang laki-laki. Hal inilah yang membuat pembaca bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki itu. Dan setelah bercerita kesana kemari, barulah penulis menyingkap cerita yang sebenarnya dengan sejelas-jelasnya.</p>
<p>Walaupun novel ini punya beberapa kesamaan dengan AAC, tapi novel ini juga tetap mempunyai ciri khas. Yaitu pada kemasan ceritanya yang masih remaja banget, namun tetap tidak meninggalkan sisi agamisnya. Sehingga cocok dibaca oleh pecinta novel remaja. Lain halnya dengan novel AAC yang terkesan lebih dewasa dan sangat religius.</p>
<p>Akan sangat sulit jika harus membandingkan dua novel yang sama hebatnya. “Ayat-ayat Cinta” karya Habiburrahman El-Shirazy dan “Bismillah, ini tentang cinta” karya Ali Imron El-Shirazy. Apalagi mereka berdua kakak beradik. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan yang hebat untuk memikat para pembaca novelnya.</p>
<p>Jika dinilai dari segi alur cerita, aku lebih menyukai karya kang Ali, karena terkesan kocak dan lebih menghibur. Sedangkan kalau dinilai dari segi agama dan kedewasaan, maka novel Ayat-ayat Cintalah yang lebih unggul. Jadi menurutku tidak ada yang lebih buruk dan lebih jelek diantara keduanya. Karena masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Dan yang jelas, I like this novel so much!! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/12/11/bismillah-ini-tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Entrok, Sebuah Permulaan</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/12/11/entrok-sebuah-permulaan/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/12/11/entrok-sebuah-permulaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 14:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Entrok]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang saya rasakan ketika membaca novel karya Okky Madasari ini adalah perasaan ingin meledak. Bagaimana tidak, hati saya teriris ketika menyaksikan kekejaman pemerintah mengebiri kehidupan rakyat, hati saya muak melihat para penjilat yang tega memfitnah seseorang yang tidak bersalah, hati saya menangis menyaksikan betapa tidak harmonisnya kehidupan keluarga. Sungguh, novel Entrok berhasil mengaduk-ngaduk perasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/entrok.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-120" title="entrok" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/entrok-500x500-300x300.jpg" alt="" width="218" height="218" /></a>Apa yang saya rasakan ketika membaca novel karya Okky Madasari ini adalah perasaan ingin meledak. Bagaimana tidak, hati saya teriris ketika menyaksikan kekejaman pemerintah mengebiri kehidupan rakyat, hati saya muak melihat para penjilat yang tega memfitnah seseorang yang tidak bersalah, hati saya menangis menyaksikan betapa tidak harmonisnya kehidupan keluarga. Sungguh, novel Entrok berhasil mengaduk-ngaduk perasaan saya.<br />
<span id="more-119"></span></p>
<p>Melalui tokoh Sumarni, penulis bercerita tentang bagaimana seorang perempuan berjuang merubah nasib dan terbebas dari jeratan kemiskinan. Berawal dari keinginannya untuk memiliki Entrok (Bra), Sumarni memulai perjuangan panjangnya untuk meraih kemerdekaan finansial. Apapun ia lakukan untuk dapat meraih mimpi-mimpinya. Mulai dari melawan tradisi dengan menjadi kuli di Pasar Ngranget, bakulan keliling kampung, hingga menjadi rentenir yang menjadi sumber gunjingan masyarakat. Melalui tokoh Sumarni, penulis seakan-akan meniupkan semangat kepada para pembacanya untuk mau merangkai mimpi dan berusaha meraihnya.</p>
<p>Beda Sumarni, beda pula denga Rahayu. Lewat tokoh Rahayu, penulis menghadirkan sosok perempuan modern dan berpendidikan. Rahayu adalah putri Sumarni. Meskipun demikian, mereka sangat berbeda dan seringkali bertengkar karena perbedaan prinsip dan keyakinan. Saat beranjak dewasa, Rahayu merantau ke Jogjakarta untuk kuliah. Disana ia bertemu dengan Amri, lelaki beristri yang kemudian menjadi suaminya. Akibatnya, ia kembali bersitegang dengan ibunya hingga bertahun-tahun. Rahayu juga menjadi korban kekejaman pemerintah. Ia dipenjara akibat ikut memperjuangkan hak-hak korban gusuran. Lewat Rahayu, penulis mengajarkan para pembacanya tentang idealisme, keikhlasan, dan bangkit dari keterpurukan.</p>
<p>Apa yang digambarkan penulis tentang orde baru mendekati kondisi nyata pada zaman itu. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana pemerintahan otoriter dan diktator begitu kuat dan  mendiskreditkan hak-hak rakyat. Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi pada zaman itu dimana posisi rakyat sangat lemah dan matinya demokrasi di Indonesia. Selain itu, budaya kolektivisme yang digambarkan dalam novel tersebut juga sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indonesia.</p>
<p>Topik-topik yang penulis angkat dalam novel ini sebenarnya adalah rezim orde baru, toleransi, feminisme, kebudayaan, dan kepercayaan. Topik ini merupakan topik-topik yang menarik, mengingat isu-isu tersebut masih ada dalam kehidupan bangsa Indonesia.</p>
<p>Namun demikian, judul Entrok menurut saya kurang cocok dengan novel ini, karena tidak menggambarkan isi novel secara keseluruhan. Kisah entrok hanya terdapat pada awal cerita dan tidak dibahas lagi dalam cerita-cerita selanjutnya. Kisah tentang perjuangan dan ketertindasan perempuan pada zaman orde baru kurang cocok rasanya jika direpresentasikan dengan judul Entrok.</p>
<p>Dari segi cerita, novel ini memiliki banyak kelebihan. Cerita dalam novel ini memberikan banyak pelajaran dan inspirasi bagi para pembacanya untuk memiliki kekuatan dalam menghadapi hidup.  Melalui Sumarni, pembaca dapat belajar tentang perjuangan dalam meraih mimpi dan ketegaran dalam menghadapi berbagai cobaan dan penderitaan dalam hidup. Melalui Rahayu, para pembaca dapat belajar tentang idealisme, bagaimana seorang manusia harus memiliki prinsip dalam hidup. Meskipun alur kehidupan mereka tidak berjalan dengan mulus dan tidak happy ending,  para pembaca dapat belajar banyak dari kisah mereka.</p>
<p>Alur cerita dalam novel ini juga menarik dengan menggilir subyek cerita antara Sumarni dan Rahayu. Akhir cerita yang disampaikan pada bab pertama juga memberikan kesan unik terhadap novel ini. Pilihan kata yang menarik dan penggunaan bahasa jawa juga membuat cerita ini lebih terasa real bagi para pembacanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/12/11/entrok-sebuah-permulaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/09/11/hiduplah-anakku-ibu-mendampingimu/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/09/11/hiduplah-anakku-ibu-mendampingimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 15:39:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Aku benar-benar menangis. Setelah terpana dengan buku Aku Terlahir 500Gr dan Buta karya Miyuki Inoue, hari ini aku membaca buku karangan ibunya yang menceritakan perjuangan hidupnya dalam membesarkan dan mendidik Miyuki. Aku Terlahir 500Gr dan Buta adalah buku yang menjawab semua kisah yang Miyuki ceritakan dalam bukunya terdahulu. Jika di buku Miyuki kita menyaksikan lika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/hiduplah-anakku-ibu-mendampingimu-michiyo-inoue.jpg"><img class="size-medium wp-image-141 alignleft" title="hiduplah-anakku-ibu-mendampingimu-michiyo-inoue" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/hiduplah-anakku-ibu-mendampingimu-michiyo-inoue-198x300.jpg" alt="" width="198" height="300" /></a>Aku benar-benar menangis. Setelah terpana dengan buku Aku Terlahir 500Gr dan Buta karya Miyuki Inoue, hari ini aku membaca buku karangan ibunya yang menceritakan perjuangan hidupnya dalam membesarkan dan mendidik Miyuki. Aku Terlahir 500Gr dan Buta adalah buku yang menjawab semua kisah yang Miyuki ceritakan dalam bukunya terdahulu. Jika di buku Miyuki kita menyaksikan lika liku kehidupannya  yang penuh perjuangan untuk bisa tetap hidup, maka di buku ini kita menyaksikan bagaimana kasih sayang tulus mengalir dari seorang ibu, baik dalam bentuk pelukan, ciuman, maupun omelan. Kedua buku itu memperlihatkan kolaborasi indah antara kasih sayang seorang ibu dan anaknya.Perjalanan Rangkasbitung- Jakarta benar-benar tak terasa dengan membaca halaman demi halaman buku ini. Tak terasa, aku sering kali menangis, tertawa, dan merenung ketika membacanya. Tanpa kusadari, ternyata banyak yang memperhatikan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  mungkin mereka aneh karena aku menangis, tertawa, lalu senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan mereka menyangka aku gila, amnesia, atau insomnia <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Ah, tapi aku tak peduli, yang penting buku ini harus selesai kubaca, harus ada sesuatu yang aku dapat, dan akan aku tulis disini.</p>
<p><span id="more-140"></span>Dalam bukunya, Michiyo Inoue menceritakan ketegarannya dalam menjalani hidupnya yang kalut dan penuh kabut <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Menjalani kehidupan keras sejak kecil, ditinggal orang tua, ditinggal mati calon suami, hingga melahirkan anak cacat (<span style="text-decoration: line-through;">Sungguh malang nasibmu bu</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  ) membuat ia lebih tegar dan kuat dalam menjalani hari-hari bersama anak semata wayangnya. Sebagai single parent, ia berhasil membesarkan dan mendidik Miyuki dengan baik, memberinya semangat, hingga menjadikan anaknya menjadi sesukses sekarang. Begitu banyak yang ia korbankan untuk anaknya, kasih ibu memang tak terhingga ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika membaca buku Miyuki, aku seperti mendengar suara hati anak-anak yang diperlakukan cuek oleh ibunya. Rasa marah, kesal dan sebal bercampur menjadi satu. Dan di buku ini, semua rasa itu terjawab sudah. Lewat kata-kata penuh perasaan dan ungkapan kasih sayang yang tersembunyi dibalik sikap ibunya yang keras dan ganas, ternyata tersimpan sejuta kasih, cinta dan sayang untuk anaknya. Semua yang ia lakukan tak lain dan tak bukan hanya untuk menjadikan anaknya madiri, kuat dan hebat.</p>
<p>Ketika membaca buku ini, aku seperti berkaca pada kehidupanku sendiri. Ibuku yang dingin, cuek, dan seperti tidak memperhatikanku. Kadang –kadang aku juga berfikir, apa ibu tidak sayang padaku? Tapi ternyata tidak! Michiyo Inoue meruntuhkan semua fikiran jelekku. Ternyata, dibalik sikapnya yang acuh, cuek, dingin dan terkadang nyebelin itu menyimpan sejuta kasih sayang untukku. Aku mengerti bahwa semua perlakuannya padaku tak lain agar aku bisa mandiri dan bisa berdiri sendiri. Aku dapat merasakan kehangatan kasih sayangnya lewat doa yang selalu ia panjatkan untukku, tangisnya ketika lama tak bertemu, dan tatapan matanya ketika aku jatuh sakit. Sungguh, banyak sekali hal kecil yang aku lewatkan untuk merasakan lembut kasihnya. Maafkan aku, bu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/09/11/hiduplah-anakku-ibu-mendampingimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Terlahir 500Gr dan Buta</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/09/11/aku-terlahir-500gr-dan-buta/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/09/11/aku-terlahir-500gr-dan-buta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 15:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Miyuki Inoue. Seorang gadis jepang yang tidak beruntung. Ia buta, cacat, dan tidak mempunyai keluarga yang lengkap. Ia bersama ibunya Michiyo Inoue, berjuang mengarungi hidup yang begitu sulit dan penuh cobaan. Hingga akhirnya mereka dapat memetik hasil dari kerja kerasnya selama ini. Ketika membaca buku ini, kadang aku berfikir, apakah benar ini kisah nyata? Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/n1164759772_30077899_6909.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-126" title="n1164759772_30077899_6909" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/n1164759772_30077899_6909-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a>Miyuki Inoue. Seorang gadis jepang yang tidak beruntung. Ia buta, cacat, dan tidak mempunyai keluarga yang lengkap. Ia bersama ibunya Michiyo Inoue, berjuang mengarungi hidup yang begitu sulit dan penuh cobaan. Hingga akhirnya mereka dapat memetik hasil dari kerja kerasnya selama ini.</p>
<p>Ketika membaca buku ini, kadang aku berfikir, apakah benar ini kisah nyata? Apakah benar ada ibu yang setegar ini? Apakah mungkin ada anak cacat sesemangat ini? Tapi ini benar-benar kisah nyata, sebuah kehidupan di negeri Jepang, Provinsi Fukuoka. Aku benar-benar terhanyut ketika membacanya. Kadang aku tertawa, kaget, bahkan menagis ketika halaman demi halaman selesai aku baca. Bahasa buku ini begitu ringan, mirip sebuah buku harian. Rasanya seperti membaca curhat (curahan hati) dari seseorang. Kita dipaksa untuk mendengarkan, dan merasakan apa yang dialami oleh penulis saat itu.</p>
<p><span id="more-124"></span>Di halaman pertama buku ini, kita akan menemukan beberapa dokumentasi kehidupan Miyuki semasa kecil hingga dewasa. Sesuatu yang jarang dilihat pada buku-buku pada umumnya. Kita diajak untuk mengenal dan mengetahui terlebih dahulu seperti apa sosok Miyuki Inoue sebenarnya.</p>
<p>Ny.Michiyo Inoue berjuang sendiri ketika mengandung dan melahirkan Miyuki. Karena sang ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan saat perjalanan dinas ke Hiroshima. Apalagi saat itu, keluarga ayah Miyuki sama sekali tidak peduli dengannya, yang saat itu memang sudah tidak setuju dengan hubungaan mereka. Sedangkan beliau juga sama-sekali tidak punya sanak saudara. Sehingga ia harus berusaha sendiri. Hanya sendiri.</p>
<p>Penderitaan tak hanya sampai disitu. Michiyo junior lahir prematur, ia terlahir ketika usia kandungannya baru menginjak 20 minggu. Sehingga tubuh Miyuki menjadi sangat lemah dan terkena banyak penyakit. Ketika lahir, beratnya hanya 500gr, dan buta. Bahkan dokter memprediksi bahwa umur Miyuki hanya beberapa hari saja.</p>
<p>Entah apa yang dirasakan Ny. Michiyo saat itu. Ia hanya sendiri dan harus menanggung beban hidup yang begitu beratnya. Ia tidak dapat memeluk erat tubuh buah hatinya. Karena anaknya begitu lemah, Miyuki harus berada dalam incubator selama 7 bulan. Ia hanya dapat menggenggam tangan kecil anaknya, yang hanya sebesar korek api. Ia menggenggam tangan mungil anaknya seraya berkata, “Miyuki, kau harus berjuang”.</p>
<p>Hari demi hari, Ny. Michiyo berusaha untuk tetap tegar dan kuat, meskipun didera berbagai kekhawatiran. Ketika dokter menyatakan bahwa Miyuki buta total, ia tetap berdiri dengan keyakinannya. Miyuki harus tetap hidup.</p>
<p>Penantian panjang usai. Miyuki keluar dari Rumah Sakit setelah berbulan-bulan berada dalam incubator. Akhirnya ia dapat merasakan pelukan hangat ibunya. Sambil bekerja, Ny. Michiyo merawat Miyuki yang begitu lemah dan buta. Ia bekerja membuat boks makanan, membuka restoran, dan bekerja di sebuah perusahaan. Ia berganti-ganti pekerjaan sesuai dengan kebutuhannya merawat Miyuki. Pun begitu, ia tetap menyempatkan waktu menemani Miyuki, mengajarinya banyak hal, atau mengajaknya bermain di taman.</p>
<p>Miyuki sudah mulai besar. Ia sudah bisa berjalan dan berbicara. Kemudian ia dimasukkan ke TK Megumi. Lalu SLB Fukuoka Program Sekolah Dasar, SLB Fukuoka Program Sekolah Menengah Pertama, dan SLB Fukuoka Program Sekolah Menengah Atas.<br />
Kekuatan cerita ini terlihat dari ketegaran dan kekerasan Ny. Michiyo dalam membesarkan dan mendidik Miyuki hingga ia menjadi gadis yang kuat. Pun begitu, Miyuki juga terlihat seperti anak yang pemalas, pemberontak, dan cengeng. Begitu banyak cerita lucu, unik dan mengharukan dalam kisah ibu dan anak ini. Sangat menarik.</p>
<p>Misalnya cerita ketika Miyuki menderita sakit lambung misterius selama hampir 1 tahun. Saat itu, Miyuki menjadi mudah jengkel dan marah. Seperti biasa, ibunya selalu marah-marah jika Miyuki tidak belajar. Sepanjang perjalan pulang hingga sampai kerumah, Ibunya selalu marah-marah dan menasihatinya dengan keras. Hingga akhirnya Miyuki jengkel dan berkata,”Perutku sakit, aku mau bunuh diri saja!”. Tanpa disangka, ibu menarik kepala Miyuki dan mencekiknya seraya berkata “Kalau kamu ingin mati, sini, biar ibu saja yang membunuhmu!”. Miyuki berteriak kesakitan dan mohon ampun, dan akhirnya berkata,”Aku tidak jadi ingin mati”. Saat itu ia berfikir, “Ibuku seperti setan”.</p>
<p>Ya, begitulah cara Ny. Michiyo membesarkan Miyuki-Chan. Sangat keras. Ia tidak pernah mengajarkan sesuatu pada anaknya sebelum Miyuki berusaha. Ia selalu memperlakukan Miyuki seperti orang normal. Ia berharap, anaknya akan menjadi gadis yang tegar dan kuat. Ia selalu mengajarkan pada anaknya, “Kalau kamu mau berusaha, Kamu pasti bisa”.</p>
<p>Aku jadi teringat masa kecilku dulu. Seringkali aku menangis dan mengancam akan kabur dari rumah. Tapi mamahku tak pernah bergeming. Ia malah bilang, “Ya sudah, pergi saja sana, toh anak masih banyak”. Saat itu aku berfikir, ibu macam ini, masa anak mau kabur dibiarkan saja. Akhirnya aku kabur ke belakang rumah. Mamah sama sekali tak mencariku. Hari mulai gelap, akhirnya aku kembali kerumah. Malu aku. Bahkan setiap kali ada teman yang mengerjaiku, mamah tidak penah marah dan membiarkanku. Ia hanya berkata,”biarkan saja, dan bersabarlah”. Aneh kan. Tapi lama-kelamaan aku sadar, bahwa mamah seperti itu agar aku tidak menjadi anak yang manja dan penyabar. Ketika membaca buku ini, aku merasa kok mamah mirip Ibu Miyuki ya?</p>
<p>Ketegaran dan kesabaran Ny. Michiyo dalam membesarkan Miyuki membuahkan hasil. Miyuki tumbuh menjadi gadis yang tabah, optimis, dan semangat dalam menghadapi segala sesuatu. Ia berhasil memenangkan berbagai lomba mengarang hingga tingkat nasional, dengan hanya menceritakan kisah indahnya bersama ibunya tersayang.</p>
<p>Di buku ini, kita belajar pada Miyuki, bahwa kekurangan dan keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk berprestasi jika kita berusaha. Miyuki saja yang cacat dan buta, bisa membuat cerita yang begitu indah dan menyentuh. Padahal ia berusaha lebih keras dengan menulisnya menggunakan huruf braille. Sedangkan kita?</p>
<p>Allah telah menentukan nasib yang berbeda-beda untuk tiap hamba-Nya. Ada yang miskin, kaya, cacat, normal, dan banyak perbedaan lain. Itu semua tergantung bagaimana kita menghadapinya. Percayalah, Allah tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan kita. Terima kasih Miyuki, terima kasih karena telah menyadarkanku <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/09/11/aku-terlahir-500gr-dan-buta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengikat Makna</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/01/12/mengikat-makna/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/01/12/mengikat-makna/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 02:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Membaca bagi sebagian orang mungkin adalah sesuatu yang membosankan dan menjemukan. Sama dengan fikiranku sebelum membaca buku ini, “Mengikat Makna” buah karya penulis terkenal Hernowo. Buku ini secara langsung menyadarkan kita akan makna membaca. Tak hanya itu, Hernowo juga mengajarkan kita untuk mengikat ilmu yang kita dapat dengan menuliskannya. Sebuah kolaborasi yang tidak pernah aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/1608-Referensi_web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-172" title="1608-Referensi_web" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/1608-Referensi_web-194x300.jpg" alt="" width="194" height="300" /></a>Membaca bagi sebagian orang mungkin adalah sesuatu yang membosankan dan menjemukan. Sama dengan fikiranku sebelum membaca buku ini, “Mengikat Makna” buah karya penulis terkenal Hernowo. Buku ini secara langsung menyadarkan kita akan makna membaca. Tak hanya itu, Hernowo juga mengajarkan kita untuk mengikat ilmu yang kita dapat dengan menuliskannya. Sebuah kolaborasi yang tidak pernah aku fikirkan sebelumnya. Membaca dan menulis yang mungkin bagi sebagian orang apalagi pelajar mungkin adalah suatu hal yang biasa. Membuat karangan, membaca buku pelajaran, membaca novel atau teenlit, berlalu begitu saja tanpa manfaat yang dapat kita raih. Buku bagi sebagian orang hanyalah sebuah bacaan yang monoton dan tidak mengandung makna. Begitu juga bagiku, bahkan aku pernah berfikir, daripada membeli sebuah buku dan membacanya, lebih baik dipake shopping (<span style="text-decoration: line-through;">biasalah anak muda</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ) Tapi buku ini sekali lagi meruntuhkan semua pendapat itu.Ada sebuah kalimat dalam buku ini yang sebenarnya kita tahu tapi tak pernah kita renungkan<strong> “BUKU ADALAH HARTA KARUN ILMU”</strong>. Semua orang pasti pernah mendengar kalimat itu, tapi apakah pernah kita merenungkannya? Bukankah seseorang yang mendapatkan banyak harta karun akan menjadi kaya? Begitu juga dengan membaca. ketika kita mulai membaca banyak buku, itu berarti kita telah banyak menemukan harta karun. Dengan membaca, kita bisa berkenalan dengan Albert Einsten, mengetahui riwayat hidupnya, dan mempelajari ilmu-ilmunya. Dengan membaca, kita bisa masuk ke zaman perang dunia, merasakan ketegangan yang terjadi, dentuman bom atom dan kekacauan yang terjadi sepanjang kota Hiroshima dan Nagasaki. Dengan membaca, kita dapat berkeliling dunia. Kita dapat mengetahui berbagai daerah, beserta adat istiadatnya. (Asyik kan?). Begitu banyak jenis ilmu yang bisa kita dapatkan dari sebuah buku. Karena itu, Banyaklah membaca, dan bersiaplah menjadi orang kaya!! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-171"></span>Ketika kita telah mendapatkan harta karun yang kita cari, tentu kita harus menjaganya bukan? Agar tidak dicuri atau dirampok oleh pembajak. Begitu pula ilmu yang telah kita dapatkan dari membaca. Jika kita tidak mengikatnya, tentu ilmu itu akan dicuri oleh waktu. Bukankah manusia adalah tempat salah dan lupa? Karena itu, jangan sia-siakan ilmu yang telah kita peroleh dengan membiarkannya ditelan waktu. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Buku ini telah memberitahu kita sebuah kolaborasi hebat antara membaca dan menulis yang dapat merubah hidup kita.</p>
<p>Dengan membaca, kita telah melewati sungai-sungai ilmu dan menyelaminya. Kita akan belajar lebih sabar, dengan membaca halaman demi halaman dan mengikat maknanya. Kita akan menjadi lebih fokus, karena kita dilatih memfokuskan mata, sel-sel otak dan perasaan kita ketika membaca (kecuali jika kita membacanya asal-asalan). Dengan membaca, kita akan lebih bijak menghadapi segala sesuatu dengan ilmu yang telah kita genggam. Bahkan Dr. Edward Coffey menyebutkan bahwa membaca buku yang dilakukan secara rutin dapat mencegah seseorang terkena Demensia (Rusaknya jaringan sel otak). Ajaib bukan? Sebuah buku dapat merubah segalanya.</p>
<p>Pada buku ini, kita juga diajarkan untuk menulis. Ya, menulis. Sebuah proses mengikat makna. Dalam buku ini tertulis bahwa menulis dapat membantu seseorang untuk mengenali diri, mengenali pikiran, perasaan, dan apapun yang bergejolak dalam diri. Ketika menulis, kita diharuskan untuk menyatukan pikiran, hati dan tangan kita untuk menuliskan apa yang kita inginkan. Entah itu menulis sebuah karangan, buku harian, puisi, dan lain-lain. Dalam proses itulah kita dapat mengenali diri kita sendiri. Seperti apa jalan pikiran dan perasaan kita. Akan ada perasaan takjub terhadap diri kita sendiri setelah kita berhasil membuat sebuah tulisan. Dan ingin rasanya berteriak “WOW…AKU BISA!!!” <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Secara langsung, buku ini mengajarkan kita untuk menulis dengan karya-karya resensi buku yang menarik dari para remaja. Hernowo telah berhasil menyemangati para pembacanya terutama remaja untuk aktif membaca dan menulis dengan cara yang fun. Selain itu, disini juga terdapat langkah-langkah mudah membaca dan menulis yang membuat diri kita lebih bermakna. Sungguh buku yang sangat pantas untuk dibaca. Terima kasih untuk Pak Romi yang telah memperkenalkan buku ini padaku. THIS BOOK CHANGES MY LIFE!! Thanks a bunch!!! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/01/12/mengikat-makna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

