<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Pidato</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/tag/pidato/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 04:28:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Pentingnya Flash Back dalam Pidato</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/04/12/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/04/12/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 01:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/sukarno4.jpg"><img class="size-medium wp-image-159 alignleft" title="sukarno4" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/sukarno4-300x202.jpg" alt="" width="251" height="169" /></a>Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak hal dan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita.</p>
<p>Begitu juga dalam pidato, ketika kita menyelipkan catatan sejarah di dalamnya maka pidato kitapun akan terasa lebih bermakna. Mengapa demikian? Karena sejarah merupakan sesuatu hal yang pernah terlewati oleh setiap manusia. Setiap orang memperoleh pengalaman dan pelajaran dari sejarah yang penah ia lewati atau ia dengar. Karena itu ketika kita menceritakan tentang suatu hal di masa lampau, maka para pendengarpun akan semakin tertarik dengan pidato kita. Karena saat itu mereka ikut mengingat, merasakan, dan membayangkan kejadian yang sedang kita ceritakan.</p>
<p><span id="more-158"></span>Seperti pengalamanku ketika mengikuti lomba pidato tingkat provinsi di UNTIRTA. Saat itu tema yang aku bawakan adalah &#8220;Peran pemerintah dalam menanggulangi bencana alam&#8221; . Saat itu aku sedikit stress karena persiapanku yang belum matang, apalagi dengan hafalan yang pas-pasan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Sadar akan keterbatasanku, maka aku mulai menyusun strategi bagaimana cara menyampaikan pidato dengan baik, minimal dari segi pronounciation dan body language. Ketika menemukan cerita bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia, aku mulai berfikir bahwa ini adalah timing yang tepat untuk memainkan suara. Ketika menceritakan tragedi tsunami, aku langsung berakting sedih, termehek-mehek, hingga berkaca-kaca <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Tadinya aku fikir gaya ini terlalu lebay, namun juri ternyata berfikiran lain. Akhirnya aku berhasil meraih juara pertama meskipun dengan perasaan aneh, kok bisa menang yah <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kenyataannya adalah, sejarah memang memberikan pengaruh khusus bagi setiap orang. Mengapa orang-orang bisa tertarik dengan tragedi tsunami yang aku ceritakan? Karena hal itu memang membekas di hati mereka, suatu kejadian yang membangkitkan rasa kemanusiaan bagi setiap orang. Ketika kita mengusungnya kembali ke hadapan mereka, maka para pendengar akan kembali terenyuh dan menyimak setiap kata yang kita ucapkan, apalagi jika dibawakan dengan gaya yang lebay dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Dengan kata lain, untuk membuat pidato kita lebih mengena di hati para pendengar alangkah baiknya jika kita menyisipkan sedikit catatan sejarah. Seperti sejarah kemerdekaan, kisah orang-orang sukses, dan sebagainya. Itu akan memberikan motivasi lebih kepada pendengar untuk bukan saja menyimak, tapi juga mengikuti apa yang kita ucapkan. Karena merekapun membutuhkan bukti, bukan sekedar basa-basi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/04/12/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Speech, Siapa Takut?</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/12/speech-siapa-takut/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/12/speech-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 01:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan , tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/Peserta-Lomba-Pidato-Bahasa-Inggris-Tingkat-SMA.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-163" title="SAMSUNG DIGIMAX A503" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/Peserta-Lomba-Pidato-Bahasa-Inggris-Tingkat-SMA-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>Ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , tetapi modal yang harus kita persiapkan pertama kali adalah mental kita sendiri. Dalam hal public speaking, yang harus kita taklukan bukanlah materi yang kita sampaikan, melainkan para audience supaya tertarik dengan pidato kita. Jangan sampai gugup, takut, apalagi ribut ketika berbicara di depan, anggaplah kita sedang bercerita, berdiskusi dan saling berbagi inspirasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-162"></span>Aku jadi teringat dengan pengalaman pertamaku ikut lomba pidato, saat itu aku sangat gugup dan takut tak bisa menyampaikan pidato dengan baik. Berulang kali aku talar teks pidatoku tiada henti. Sampai pada saatnya aku tampil, ternyata aku belum bisa menguasai mentalku dengan baik. Kalimat demi kalimat aku ucapkan dengan lancar dan tertata, tapi menjelang akhir pidato, aku sedikit tersendat karena lupa. Padahal tadinya sudah aku hafal hingga diluar kepala (<span style="text-decoration: line-through;">ilang donk</span> ? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ). Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan hanya karena aku gugup! Masalah mental tersebut ternyata sangat berpengaruh demi menunjang kemampuan kita berpublic speaking. Persiapan yang matang, hafalan materi, semuanya bisa musnah jika kita tidak dapat menjaga mental kita dengan baik.Bagaimana bersikap di depan orang banyak, berbicara dan body language kita semua ditentukan dari sebaik apa mental kita.</p>
<p>Untuk melatih kepekaan berbicara, aku sering mendengarkan pidato-pidato orang lain. Duduk manis di bangku penonton dan menyimak pidato orang lain ternyata membuat kita semakin peka dalam berbicara. Dengan menempatkan diri sebagai pendengar, kita akan tahu apa yang audience rasakan ketika menyimak sebuah pidato. Ada yang tidur bahkan kabur jika pidato yang disampaikan oleh sang pembicara itu boring dan terkesan garing <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Sebaliknya, jika pidatonya yang disampaikan bagus tentu kita akan tertarik dan terbawa hanyut dalam setiap kalimat yang ia ucapkan. Nah itu dia! Belajarlah dari hal tersebut. Berbicaralah dengan sebaik mungkin, dan tempatkan diri kita bukan hanya sebagai speaker tapi juga sebagai audience sehingga pidato kita akan lebih indah dan penuh makna <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Materi yang bagus bukanlah kunci untuk menjadikan sebuah pidato itu juga bagus. Kunci yang terpenting sebenarnya adalah kunci yang dipegang oleh speaker itu sendiri. Jika kita sudah bisa menguasai jiwa, raga dan materi yang akan kita sampaikan, pasti pidato kitapun akan terdengar lebih natural dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Misalnya ketika kita berpidato di depan anak-anak SMA, cukup dengan menyampaikan motivasi, tukar pengalaman dan sharing pengetahuan, pidato kita pasti akan mereka cerna dengan baik jika kita menyampaikannya dengan sempurna. Kesempurnaan pidato bukan dilihat dari seberapa bagusnya materi yang disampaikan, melainkan dari sejauh mana pidato itu terserap oleh audience yang menyimaknya. Meskipun materi yang disampaikan itu ecek-ecek dan terkesan becek, yang penting kan bisa membuat audience termehek-mehek. Lebih bagus kan? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenarnya, yang pertama kali harus dimiliki seorang speaker atau pembicara adalah keberanian. Keberanian untuk maju, tampil, dan berbicara di depan orang banyak. Memang sih,sifat-sifat tersebut tidak mudah kita miliki.Kita dapat melatihnya dengan melakukan hal-hal kecil.Seperti berdiskusi, bercerita, hingga <span style="text-decoration: line-through;">bergosip-gosip ria</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Jika kita sudah bisa mendominasi dalam berbicara dan berdiskusi, sedikit demi sedikit sifat-sifat tersebut akan tertanam dalam diri kita. Tidak akan ada lagi perasaan gugup dan gerogi ketika berbicara di depan banyak orang. Kita akan merasa lebih tenang dan nyaman dalam menyampaikan materi-materi yang kita sampaikan.</p>
<p>Tidak ada yang perlu kita takutkan dalam berpidato. Jika materi sudah siap, kita tinggal mengatur nafas dan mental kita untuk maju ke depan Berbicaralah senyaman, setegas, dan sebagus yang kita bisa. Semua yang kita ungkapkan dan dan bicarakan kita sesuaikan dengan style bicara kita sendiri. Tak perlu memaksa tegas dan garang,padahal aslinya lemah gemulai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Performance yang memaksa dan tidak natural akan terkesan buruk dan tidak akan menarik di mata audience. Karena itu, jadilah diri sendiri, dan teriaklah dengan kencang, &#8220;Speech&#8230;Siapa takut?&#8221; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/12/speech-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Pidato dengan 3 V</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/02/15/sukses-pidato-dengan-3v/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/02/15/sukses-pidato-dengan-3v/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 01:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Setelah hampir 4 tahun berkelana dalam dunia pidato sekolah, aku masih belum mengerti betul tentang kiat-kiat khusus dalam berpidato. Akhirnya sembari blog walking kesana kesini, aku menemukan sebuah artikel dalam blog Pak Ronny tentang kiat-kiat sukses dalam marketing. Salah satunya adalah mengenai 3 V, yaitu Verbal, Vokal dan Visual. Meski pembahasannya tentang kiat-kiat dalam pemasaran, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/Obama-Tucson-Speech.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-168" title="Obama-Tucson-Speech" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/Obama-Tucson-Speech-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Setelah hampir 4 tahun berkelana dalam dunia pidato sekolah, aku masih belum mengerti betul tentang kiat-kiat khusus dalam berpidato. Akhirnya sembari blog walking kesana kesini, aku menemukan sebuah artikel dalam blog Pak Ronny tentang kiat-kiat sukses dalam marketing. Salah satunya adalah mengenai 3 V, yaitu Verbal, Vokal dan Visual. Meski pembahasannya tentang kiat-kiat dalam pemasaran, tapi tips-tips ini juga sangat bermanfaat bagi speaker-speaker pemula seperti kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span id="more-167"></span>Verbal atau pemilihan kata merupakan hal penting yang menentukan kesuksesan pidato seseorang. Tentunya sebelum berpidato, kita telah mempertimbangkan hal apa saja yang akan disampaikan, dimana kita akan berpidato, dan dihadapan siapa saja. Misalnya kita berpidato dalam acara perpisahan sekolah, tentu kata-katanya pun akan jauh berbeda dengan pidato dalam acara ulang tahun. Kita harus dapat memilih dan memilah dengan baik terhadap apa yang akan kita sampaikan.</p>
<p>Masalah yang sering timbul dalam pidato adalah lupa teks, disinilah kemampuan verbal kita sangat dibutuhkan. Jika kamu hanya mengandalkan hafalan saja, berdoalah semoga kamu tidak lupa. Kalau sampai hal itu terjadi, bersiaplah untuk dibicarakan orang atau ditertawakan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Perlu teman-teman ketahui, bahwa yang terpenting dalam sebuah pidato bukanlah kesesuaian teks dengan pidato yang disampaikan, tetapi pada penampilan dan ketenangan kita dalam menyampaikannya. Lupa teks juga bukan akhir dari segalanya lho, gantilah kalimat-kalimat tersebut dengan kalimat-kalimat kita sendiri, asalkan tidak keluar dari topik yang dibicarakan. Jika masih tidak bisa, abaikan kalimat-kalimat tersebut dan langsung loncat pada kalimat-kalimat selanjutnya. Setidaknya itu lebih baik daripada kita terbata-bata didepan umum <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Trik tersebut juga pernah terpaksa aku lakukan ketika mengikuti Speech Contest Tk. Provinsi. Di tengah-tengah pidato, aku lupa satu paragraf dan langsung meloncat pada paragraf berikutnya. Deg degan, takut dan malu bercampuk aduk ketika pengumuman 5 besar yang akan maju pada babak selanjutnya. Alhamdulillah aku masuk <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , meskipun tadinya aku hopeless duluan karena lupa tadi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Pada saat interview, aku menjawab semua pertanya juri dan menjelaskan tentang hal-hal yang belum aku sampaikan. Alhasil, aku berhasil meraih juara pertama, what a wonderful moment <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Karena itu, jangan pernah menyerah dengan lupa, percayalah bahwa pasti ada kemudahan jika kita berusaha <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Intonasi atau vocal seseorang berpengaruh besar terhadap pesan yang kita sampaikan. Lewat vocal, kita akan mengetahui bagaimana keadaan sang pembicara. Apakah ia sedang marah, sedih, atau bahagia. Begitu juga dengan pidato, jika kita memiliki kemampuan vokal yang baik, tentu pidato kita akan terasa lebih mengesankan dan lebih bermakna <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Misalnya intonasi tinggi ketika memberi semangat, intonasi rendah ketika menyampaikan hal duka, dan alunan-alunan suara lainnya sehingga audience dapat terbawa dalam suasana pidato yang kita ciptakan. Terbayang gak sih kalo kita berpidato dengan intonasi yang datar-datar saja, pasti audience sudah kebosanan, ketiduran dan rasanya ingin berteriak, &#8220;woyy.. udahan&#8221;  <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Jika kita ingin membuat audience tertarik dengan pidato kita, maka tugas kita adalah membuat pidato kita menarik. Keberhasilan pidato bukan hanya dinilai dari content atau isinya saja, tapi juga dari bagaimana cara kita menyampaikannya. Percuma tow kita ngomong sampai berbusa-busa tapi tidak ada yang mendengarkan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Pernah liat film Mr. Bean? Film komedi legendaris yang punya jutaan penggemar. Mr. Bean mampu memvisualisasikan dirinya sehingga menjadi tontonan yang menarik tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ini berarti bahwa penyampaian pesan kepada seseorang bukan hanya melalui kemampuan verbal tapi juga bisa dari kemampuan visual. Visual atau yang biasa kita sebut body language juga merupakan hal penting dalam proses komunikasi. Coba saja bayangkan kalau kita tampil berpidato dengan hanya berdiri mematung di depan audience tanpa bergerak sedikitpun, apa kata dunia? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Body language yang dapat kita tampilkan dalam pidato meliputi banyak hal. Bisa dengan eye contact, gerakan tangan, mimik wajah, dan lain-lain. Tidak perlu lebay, yang penting aduhai. Gerakan-gerakan tersebut dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya ketika berpidato, kita harus memandang semua audience. Pandangan kita jangan sampai terlihat kosong. Kita harus terlihat seperti benar-benar memperhatikan mereka, dengan begitu audience juga akan tertarik dan ikut memperhatikan penampilan kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Dengan body language, pidato kita akan terasa lebih hidup dan lebih ekspresif.</p>
<p>Aku jadi teringat pengalaman pertamaku mengikuti Speech contest semasa SMP. Berbekal selembar teks pidato buatan kakakku berjudul &#8220;Teenager&#8217;s Life&#8221; dan latihan berminggu minggu disekolah, akhirnya aku memberanikan diri mengikuti Lomba Pidato Bahasa Inggris Tk. Kabupaten. Selama 2 minggu aku tak henti-hentinya aku berlatih. Di rumah, di sekolah, di perjalanan, dan dimana saja <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , sampai-sampai aku hafal semua intonasi dan body language yang kakak dan guruku ajarkan. Tapi ternyata itu semua hanya mengantarkanku pada juara ke-2, karena di tengah pidato ada kalimat yang terputus karena aku lupa saking gugupnya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Hal itu menjadi pelajaran berharga bagiku, bahwa dalam berpidato yang terpenting bukanlah hafalan, tapi kesatuan verbal, vocal dan visual yang harmonis dan natural <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Setelah kejadian itu, aku mulai belajar berpidato dengan &#8220;jujur&#8221;. Tanpa hafalan yang berlebihan, tapi lebih kepada penguasaan materi, permainan vokal dan pengaturan body language yang natural dan tidak dibuat-buat. Dengan begitu, kita tidak perlu takut lagi dengan lupa teks atau masalah yang lainnya. Karena sebelum masalah itu datang, kita telah mempersiapkan solusinya. seperti kata pepatah , sedia payung sebelum hujan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Mari kita satukan kemampuan verbal, vokal dan visual dalam satu harmonisasi pidato yang kita sampaikan. Selamat berpidato <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/02/15/sukses-pidato-dengan-3v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

