<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Komunikasi</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/tag/komunikasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 04:28:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Media Massa dan Demokrasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/03/15/media-massa-dan-demokrasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/03/15/media-massa-dan-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 15:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Media dan Sistem Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Media Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan media]]></category>
		<category><![CDATA[sistem poltik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Sistem pemerintahan demokrasi seringkali diagung-agungkan karena ideologinya yang menempatkan publik sebagai prioritas. Ideologi demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” menjadi jargon yang seakan-akan memperlihatkan kekuasaan publik dalam mengatur pemerintahan. Dalam demokrasi ini, media massa atau jurnalisme memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan sistem demokrasi. Bahkan jurnalisme juga dianggap sebagai pilar keempat demokrasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/democracy.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-259" title="democracy" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/meinungsfreiheit_democracy-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p>Sistem pemerintahan demokrasi seringkali diagung-agungkan karena ideologinya yang menempatkan publik sebagai prioritas. Ideologi demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” menjadi jargon yang seakan-akan memperlihatkan kekuasaan publik dalam mengatur pemerintahan. Dalam demokrasi ini, media massa atau jurnalisme memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan sistem demokrasi. Bahkan jurnalisme juga dianggap sebagai pilar keempat demokrasi.</p>
<p>Media dan demokrasi merupakan hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya telah melewati sejarah yang panjang dan saling berkesinambungan satu sama lain sejak zaman feodal hingga saat ini. Media massa tanpa adanya demokrasi akan mengalami kemandegan, karena media massa dapat bersuara manakala difasilitasi oleh sistem demokrasi. Begitu juga sebaliknya, demokrasi akan terlihat sinarnya manakala difasilitasi oleh media massa.</p>
<p>Demokrasi baru dapat dikatakan berhasil ketika masyarakat <em>well informed </em>dalam memberikan aspirasi politiknya. Artinya, masyarakat harus memiliki informasi yang cukup  dalam menentukan keputusan politiknya dan bukan hanya asal pilih. Disinilah media massa berperan, yakni untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk membantu mereka menentukan pilihannya. Media massa bertanggung jawab memberikan informasi tentang para kandidat dari sisi yang paling objektif sehingga akan menyehatkan persaingan politik di pemerintahan.</p>
<p>Edmund Burke menyebut media massa sebagai pilar keempat demokrasi. Karena itu, media massa bertanggung jawab sebagai pengawas dan pengontrol para pemegang kekuasaan seperti pemerintah, para pemilik modal, dan institusi-institusi lain yang sekiranya berpotensi mempengaruhi masyarakat. Fungsi media massa tersebut seharusnya juga dapat meningkatkan kewaspadaan institusi-institusi tersebut dalam melakukan aktivitasnya, karena apa yang dilihat media juga akan dilihat masyarakat.</p>
<p>Media massa menjadi sangat penting dalam demokrasi karena media massa diharapkan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah serta meningkatkan aspirasi politik masyarakat. Oleh karenanya, beberapa media massa menyiapkan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat seperti melalui surat pembaca. Hal ini juga menjadi semakin dimudahkan dengan perkembangan teknologi seperti internet yang makin memudahkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi politik. Namun masalahnya adalah, apakah sistem tersebut memang benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung demokrasi?aspirasi tesebut di-<em>follow up </em>oleh media?atau malah hanya sebagai formalitas dan dijadikan sampah? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pengelola media dalam perannya sebagai pilar keempat demokrasi.</p>
<p>Media massa memang berperan sebagai <em>“marketplace of ideas”, </em>yakni sebagai wadah aspirasi tiap orang sehingga mereka dapat berbicara dan berdebat melalui media massa. Namun hal ini juga perlu dipertanyakan keefektifannya, karena ditakutkan kebenaran yang terekonstruksi malah berdasarkan siapa yang dapat menyampaikan pandangannya dengan paling baik. Hal itu tentunya akan merugikan orang lain dan berpotensi menyisihkan kebenaran yang sebenarnya.</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut, media juga seharusnya memanfaatkan kapasitasnya sebagai advokat dan partisipan sistem masyarakat dan pemerintahan. Disini, media massa tidak hanya menjadi alat pasif yang menjadi mediator komunikasi diantara berbagai pihak?pemerintah, politisi, dan masyarakat, melainkan juga  memiliki kapasitas untuk memberikan pandangannya. Baik pandangan yang mendukung kelompok-kelompok tertentu, maupun tidak. Disini, media diperlakukan seperti masyarakat yang juga berhak menyampaikan aspirasi politik.</p>
<p>Secara ringkas, media massa atau jurnalisme dalam demokrasi memiliki tiga peran, yaitu (1) jurnalisme sebagai sumber informasi, (2) jurnalisme sebagai <em>watchdog </em>dan pilar keempat demokrasi, (3) jurnalisme sebagai mediator, (4) jurnalisme sebagai advokat. Keempat peran jurnalisme tersebut merupakan tanggung jawab para pengelola media yang harus dipenuhi dalam sistem pemerintahan demokrasi.</p>
<p>Empat peran jurnalisme diatas memperlihatkan betapa dalam demokrasi media massa terlihat sangat baik dan independen. Namun apakah memang benar seperti itu? Pada kenyataannya, bagaimanapun media massa tidak akan pernah independen. Bagaimanapun, media massa adalah sebuah industri yang memiliki kepentingan ekonomi serta membutuhkan subsidi dana yang besar, sehingga media massa pasti akan selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang menguasainya.</p>
<p>Sama dengan industri-industri lainnya, media massa memiliki kepentingan ekonomi dan kompetisi media yang sangat kuat sehingga membuat media selalu berusaha agar informasinya dapat menarik banyak massa. Hal inilah yang kemudian menimbulkan <em>hyperadversarialism, </em>dimana para jurnalis menjadi agresif dalam mengkritisi pemerintah agar mendapatkan berita yang kontroversial sehingga dapat menarik perhatian publik. Pada akhirnya, media massa tidak lagi mencari kebenaran realitas, melainkan jadi berlomba-lomba membuat spekulasi agar beritanya lebih menarik. <em>Hyperadversarialism </em>ini juga menempatkan berita politik seperti <em>infotainment, </em>karena selalu mengambil sisi dramatisasi dan konfrontasi politik yang terjadi. Alih-alih mendukung demokrasi, hal itu sebenarnya hanya digunakan media massa untuk kepentingan ekonomi.</p>
<p>Kebebasan pers dalam demokrasi juga sebenarnya patut  dipertanyakan. Apakah pers atau media massa memang benar-benar bebas dari tekanan kelompok-kelompok tertentu atau malah sebenarnya ditekan tapi sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang kemudian juga menjadi olok-olok kritik marxian yang menyebut kebebasan pers sebagai <em>ideological hoax, </em>dimana sebenarnya pers atau media massa bagaimanapun tidak akan pernah terbebas dari penguasaan kaum borjuis. Kebebasan pers tersebut hanya dijadikan topeng untuk melakukan hegemoni dan mendukung industri medianya</p>
<p>Poin terpenting yang perlu dipahami adalah tidak akan pernah ada negara yang dapat mengaplikasikan demokrasi secara utuh, karena demokrasi sendiri bukan semata-mata lahir dari gerakan masyarakat melainkan juga didorong oleh elit-elit politik yang ada dibelakangnya. Dengan demikian, demokrasi tidak akan pernah berjalan sempurna, pasti akan selalu ada intervensi kelompok-kelompok tertentu yang mempengaruhinya. Begitu pula dengan media. Bagaimanapun media tidak akan pernah independen dan netral seutuhnya, media pasti akan selalu dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, baik kepentingan politik maupun ekonomi.</p>
<p><em><em>Tulisan ini merupakan rangkuman </em>dari buku Kevin T Leicht, “Handbook of Politics” chapter 24: Democracy and Democratization, buku Katrin Voltmer, “Mass Media and Political Communication in New Democracies”, dan buku Karin Wahl Jorgensen, “Handbook of Journalism Studies” part 17: Journalism and Democracies.<em>. Versi  PDF dapat didownload <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/Lutviah-Media-Massa-dan-Demokrasi.pdf">disini.</a><br />
</em></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/03/15/media-massa-dan-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Manusia Komunikan</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/02/04/karakteristik-manusia-komunikan/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/02/04/karakteristik-manusia-komunikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 18:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Seperti dalam tulisan sebelumnya, psikologi dan komunikasi adalah dua bidang ilmu yang memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Djalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa sebagai komunikan, manusia memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut dijelaskan dalam konsepsi psikologi tentang manusia, yaitu konsepsi psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Berikut ini hasil review [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti dalam tulisan sebelumnya, psikologi dan komunikasi adalah dua bidang ilmu yang memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Djalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa sebagai komunikan, manusia memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut dijelaskan dalam konsepsi psikologi tentang manusia, yaitu konsepsi psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Berikut ini hasil <em>review</em> saya tentang karakteristik manusia komunikan dari buku Psikologi Komunikasi karya Djalaludin Rakhmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Download: <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/12/Lutviah-Karakteristik-Manusia-Komunikan.pdf">Lutviah-Karakteristik Manusia Komunikan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/02/04/karakteristik-manusia-komunikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Massa: Majalah</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-majalah/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-majalah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 15:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Media]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai salah satu media cetak, majalah memiliki perannya sendiri sebagai media massa. Dibeberapa sisi majalah memang memiliki karakteristik yang agak sama dengan koran. Namun begitu, majalah tetap memiliki ciri khas yang membedakan ia dengan media massa lainnya. Sejak ditemukan pada tahun 1741, majalah telah melakukan berbagai perkembangan baik dari sisi teknologi maupun dari sisi konten. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai salah satu media cetak, majalah memiliki perannya sendiri sebagai media massa. Dibeberapa sisi majalah memang memiliki karakteristik yang agak sama dengan koran. Namun begitu, majalah tetap memiliki ciri khas yang membedakan ia dengan media massa lainnya. Sejak ditemukan pada tahun 1741, majalah telah melakukan berbagai perkembangan baik dari sisi teknologi maupun dari sisi konten. Hal inilah yang kemudian membuat media ini tetap bertahan ditengah perkembangan teknologi dan industri media saat ini.<br />
<span id="more-93"></span></p>
<p>Sejarah majalah berawal pada tahun 1741 saat Benjamin Franklin dan Andrew Bradford menerbitkan majalah pertama di Amerika. Franklin mendirikan General Magazine dan Bradford mendirikan American Magazine. Kemudian pada tahun 1865, diterbitkan majalah politik pertama, The Nation. Tahun 1893, Samuel A. McClure menerbitkan McCluer’s Magazine, yaitu majalah pertama yang mengedepankan jurnalisme investigasi. Tahun 1923, diterbitkan majalah Time, yang merupakan majalah pertama yang berisi berita-berita umum. Pada tahun 1993, majalah mulai menerbitkan edisinya lewat internet, salah satunya adalah majalah Newsweek. Kemudian pada tahun 2005, didirikan majalah online pertama, Slate. Saat ini, majalah tidak hanya diterbitkan secara offline, namun juga secara online. Bahkan ada beberapa majalah yang terbit secara online.</p>
<p>Menurut Siti Karlina dalam bukunya Komunikas Massa, majalah memiliki beberapa karakteristik khusus, yaitu:</p>
<p>1.    Berita disajikan secara mendalam<br />
2.    Nilai aktualitasnya lebih lama sesuai dengan frekuensi terbitnya<br />
3.    Lebih banyak menampilkan foto<br />
4.    Cover atau sampul majalah menjadi daya tarik utama</p>
<p>Majalah merupakan media cetak yang contentnya mengarah pada advertising, meskipun tidak secara penuh berisikan advertising, pada saat ini majalah telah memiliki segmentasi audiens nya sendiri. Seperti para penyuka otomotif tentunya akan cenderung membaca majalah otomotif,dan tidak tertarik untuk membaca majalah yang memiliki segmentasi audiens lainnya.</p>
<p>Kelebihan yang dimiliki oleh majalah dibandingkan radio dan televisi, ialah dikarenakan majalah merupakan media cetak,oleh sebab itu majalah bersifat timeless, tidak menuntut audiens untuk tergesa-gesa dalam mengnkonsumsi pesannya. Kelebihan lainnya, audiens lebih focus dalam menangkap dan menginterpretasikan informasi yang disampaikan oleh majalah.</p>
<p>Kekurangan majalah bila dikomparasikan dengan dua media elektronik televisi dan radio dalam segi aktualitasnya, dimana radio merupakan yang paling unggul dalam aktualitasnya menyampaikan pesan, dan televisi yang juga dengan keunggulannya (audio visual) dalam transmisi pesan yang dimilikinya. Hal tersebut berkaitan dengan proses produksi dari ketiga media tersebut, radio yang dalam prosesnya lebih sederhana dibandingkan televisi dan majalah.</p>
<p>Pola pengguna Majalah memiliki tingkat kedalaman intensitas yang lebih dalam lagi, dibandingkan radio yang dapat didengar bersamaan dengan aktivitas lain, dan televisi yang melibatkan beberapa indera sehingga menuntut ke fokusan dalam mengkonsumsinya, tingkat kedalaman majalah ditandai dengan sensasi dan proses mengkonsumsinya. Dibutuhkan waktu yang cukup untuk dapat membaca dan menerima pesan yang terdapat dalam majalah, sehingga pola penggunaannya pun saat ini lebih cenderung pada segmentasi atau spesifikasi content majalahnya. Bagi orang-orang yang menyukai dunia fashion tentunya akan cenderung menyukai majalah fashion, begitupun dengan orang-orang yang menyukai dunia otomotif akan lebih memilih majalah yang banyak memuat  otomotif, sehingga hal tersebut dapat berimpact pada penggunaan majalah itu sendiri, siapakah yang akan membaca dan menggunakan majalah tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-majalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Massa: Televisi</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-televisi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 13:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Hingga saat ini televisi masih menjadi &#8220;juara bertahan&#8221; sebagai media massa yang paling banyak digunakan, khususnya di Indonesia. Pemakaian televisi sudah menjadi budaya dan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Tak heran, meskipun saat ini program-program televisi sudah tidak menarik lagi, eksistensi media ini tetap bertahan. Sebagai salah satu &#8220;sesepuh&#8221; media massa, televisi masih tetap tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hingga saat ini televisi masih menjadi &#8220;juara bertahan&#8221; sebagai media massa yang paling banyak digunakan, khususnya di Indonesia. Pemakaian televisi sudah menjadi budaya dan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Tak heran, meskipun saat ini program-program televisi sudah tidak menarik lagi, eksistensi media ini tetap bertahan. Sebagai salah satu &#8220;sesepuh&#8221; media massa, televisi masih tetap tetap eksis dan tidak kehilangan penonton setianya.<br />
<span id="more-88"></span></p>
<p>Dipatenkannya “teropong elektrik” oleh Paul Nipkow pada tahun 1920-an menjadi dasar perkembangan televisi. Kata televisi pertama kali muncul pada tahun 1907 dalam majalah Scientific American. Pada tahun 1939, NBC melakukan siaran pertama yang menampilkan Presiden Franklin D. Roosevelt dalam acara World’s Fair di kota New York. Kemudian pada tahun 1947, dilakukan siaran berita pertama kali yakni NBC dan CBS. Tahun 1962, Telstar I mengirimkan siaran translantik pertama melalui satelit. Tahun 1973, televisi mulai menampilkan siaran langsung. Tahun 2006, kongres Amerika menyetujui undang-undang yang mengharuskan penyiar televisi utnuk beralih sepenuhnya pada sinyal high definition digital  pada tanggal 17 Februari 2009. Saat ini, terdapat lebih dari 500 saluran televisi diseluruh dunia yang disampaikan baik melalui udara, kabel, dan satelit yang memungkinkan terjadinya globalisasi.</p>
<p>Seperti media lainnya, televisi juga memiliki beberapa karakteristik. Drs. Jony Arman menyebutkan bahwa televisi setidaknya memiliki 8 karakteristik teknis, yaitu:</p>
<ol>
<li>Fine detail, media televisi kurang mampu menampilkan detail (seluk beluk) suatu objek dengan sempurna seperti yang dimiliki media film</li>
<li> Area lost, gambar yang terlihat dalam layar televisi adalah kira-kira 80% dari gambar yang diambil kamera karena kurang lebih 20% dari area yang terlihat kamera hilang oleh proses elektronik</li>
<li>Size information, media televisi tidak dapat menampilkan gambar suatu objek dengan ukuran sebenarnya</li>
<li> Third dimension, gambar yang dihasilkan memiliki kecenderungan kesan dua dimensi, yaitu dimensi panjang dan lebar</li>
<li>Distraction, ketidak sesuaian bentuk antara objek dengan hasil tayangan pada televisi karena adanya gangguan teknis</li>
<li>Opposition, timbulnya efek psikologis sebagai akibat dari pengambilan gambar yang kurang teliti</li>
<li>Tins, warna pada televisi berubah-ubah, sehingga sulit untuk menentukan warna asli</li>
<li> Setting, latar atau tempat dimana peristiwa itu terjadi</li>
</ol>
<p>Televisi merupakan media massa yang mana dalam perkembangannya cukup complex dan signifikan. Televisi menyajikan banyak aspek yang dapat dinikmati oleh manusia, selain suara dan gambar, televisi juga memberikan kemudahan manusia dalam melihat informasi secara nyata lewat gambar, sehingga membawa manusia dalam pengetahuan baru di sebuah program tertentu. Sebagai media massa, televisi memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:</p>
<ol>
<li>Teknologi nya yang telah menggunakan gambar dan suara, sehingga dapat memberikan kejelasan sebuah informasi yang terdapat di media televisi. Akhir-akhir ini pun muncul kabel tv, yang dengan mudah kita dapat menentukan apa yang ingin kita tonton begitupun dengan perkembangannya dalam digital tv. Dibandingkan dengan radio dan majalah yang dalam teknologinya dianggap lebih menarik.</li>
<li>Sistem produksi yang cukup rumit dalam memproduksi sebuah pesan untuk disampaikan pada khalayak, dibandingkan radio dan majalah.</li>
<li>Pendistribusian pesannya kepada khalayak tidak seaktual radio, dikarenakan proses produksinya yang complex begitu halnya dengan majalah dalam pendistribusiannya yang cukup memakan waktu, dikarenakan perbedaan jenis antara elektronik dengan cetak.</li>
</ol>
<p>Pola penggunaan televisi jauh lebih dibutuhkan intensitas indera dalam mengkonsumsinya. Bila radio dapat didengar bersamaan dengan aktivitas lain, tidak begitu dengan televisi, karena sifatnya yang audio visual sehingga lebih banyak indera yang dilibatkan, dan dibutuhkan konsentrasi atau intensitas tinggi dalam  menangkap pesan. Orang-orang menghabiskan waktu menonton TV meningkat secara konsisten setiap tahun sejak tahun 1950, pada masa keemasannya. Dikarenakan televisi memiliki keunggulan dalam penyajian pesannya yaitu audio visual, sehingga orang-orang tertarik Karena pesan yang ditransmisikan televisi lebih atraktive dibandingkan radio ataupun majalah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Massa: Radio</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-radi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-radi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 12:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan perkembangan teknologi dan media massa, radio masih menunjukkan eksistensinya. Meskipun keberadaannya sudah mulai tergeser oleh media lain seperti televisi dan internet, hingga saat ini industri radio masih terus tumbuh dan masih memiliki pendengar setia. Hal ini tentunya cukup membanggakan, mengingat usia radio yang sudah sangat tua sejak ditemukan pada tahun 1899. Sejarah kemunculan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seiring dengan perkembangan teknologi dan media massa, radio masih menunjukkan eksistensinya. Meskipun keberadaannya sudah mulai tergeser oleh media lain seperti televisi dan internet, hingga saat ini industri radio masih terus tumbuh dan masih memiliki pendengar setia. Hal ini tentunya cukup membanggakan, mengingat usia radio yang sudah sangat tua sejak ditemukan pada tahun 1899.</p>
<p><span id="more-83"></span>Sejarah kemunculan radio dimulai pada tahun 1899 saat Guglielmo Marconi menggunakan radio nirkabel untuk menyiarkan pertandingan the American’s Cup Race. Tahun 1907, Lee De Forest memperkenalkan audion tube, alat yang menyempurnakan sistem penerimaan signal radio menjadi lebih jernih. Kemudian untuk pertama kalinya Fessenden memancarkan siaran suara dan musik pada tahun yang sama. Tahun 1920, didirikan radio komersial pertama yang bernama stasiun KDKA di Pittsburgh. Tahun 1934, dibentuk Federal Communication Commission utnuk mengawasi penyiaran. Tahun 1936, Amstrong mendaftarkan frequency modulation (FM). Tahun 1970, pemerintah Amerika mendirikan radio publik, National Public Radio (NPR), sebagai alternatif terhadap radio komersial. Tahun 1996, dikeluarkan UU Telekomunikasi yang mendorong konsolidasi industri radio. Tahun 2001, Sirrius Satellite Radio dan XM memperkenalkan pelayanan radio digital satelit. Saat ini, industri radio telah terkonsolidasi dalam kelompok-kelompok besar dan membagi khalayak menjadi lebih spesifik sebagai akibat munculnya radio digital, radio satelit, dan radio internet.</p>
<p>Eksistensi radio hingga saat ini tidak terlepas dari karakteris-karakteristiknya yang mampu membuat penggunanya bertahan. Menurut D. Cary dalam bukunya The Radio and Television Commercial, karakteristik radio yaitu:</p>
<ol>
<li>Radio terdapat dimana-mana</li>
<li>Radio bersifat memilih</li>
<li>Radio bersifat ekonomis</li>
<li>Radio bersifat cepat</li>
<li>Radio bersifat partisipatif</li>
</ol>
<p>Radio merupakan Media massa yang dalam pentransimisan pesannya hanya melalui suara. Khalayak diberikan ruang untuk “theater of mind”dalam menginterpretasikan pesan yang disampaikan oleh radio. Berikut ini kelebihan dan kekurang yang dimiliki radio:</p>
<ol>
<li>Dalam segi teknologi radio memang terlebih dahulu diciptakan dalam mentransmisikan pesan Massa dibandingkan televisi. Namun radio hanya menyajikan suara-suara saja kepada khalayak, sedangkan televisi telah berhasil mengambil alih khalayak radio dengan teknologi gambarnya tersebut.</li>
<li>Dalam system produksinya radio terbilang cukup mudah, tidak serumit televisi, atau bahkan majalah, mengingat sistem produksi media siaran (Televisi) dan media cetak (Majalah) tentunya memiliki perbedaan yang signifikan dalam system produksinya.</li>
<li>Pendistribusian pesannya yang sangat actual dibandingkan televisi dan majalah, berkaitan dengan system produksinya yang sederhana.</li>
</ol>
<p>Pola penggunaan radio merujuk pada sifat radio yang dapat digunakan dengan praktis tanpa harus melibatkan banyak indera dalam menangkap pesan. Pesan yang ditransmisikan melalui radio dapat didengar bersamaan dengan melakukan aktivitas lain. Oleh sebab itu, radio dapat didengar dimana saja dengan bersamaan melakukan aktivitas lain, seperti di mobil, ruang tidur, atau bahkan dapur. Radio banyak didengar orang pada saat mereka bekerja dan berkendara di dalam mobil. Pengiklan seperti para diler mobil menggunakan kekhususan ini dalam mengetahui target pendengar, sehingga penyampaian pesan mereka sesuai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/14/media-massa-radi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Komunikasi Intrapersonal</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/05/sistem-komunikasi-intrapersonal/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/05/sistem-komunikasi-intrapersonal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 18:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Intrapersonal]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan orang beranggapan bahwa proses komunikasi hanya bisa terjadi antarpersona atau lebih dari satu orang. Padahal kenyataannya, ternyata kita sebagai manusia tidak hanya melakukan komunikasi interpersonal namun juga komunikasi intrapersonal. Djalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa sistem komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Beliau juga menjelaskan bagaimana sistem-sistem tersebut bekerja dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kebanyakan orang beranggapan bahwa proses komunikasi hanya bisa terjadi antarpersona atau lebih dari satu orang. Padahal kenyataannya, ternyata kita sebagai manusia tidak hanya melakukan komunikasi interpersonal namun juga komunikasi intrapersonal. Djalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa sistem komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Beliau juga menjelaskan bagaimana sistem-sistem tersebut bekerja dan mempengaruhi seseorang. Berikut ini hasil <em>review </em>saya tentang Sistem Komunikasi Intrapersonal karya Djalaludin Rakhmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Download: <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/12/Lutviah-Sistem-Komunikasi-Intrapersonal.pdf">Lutviah-Sistem Komunikasi Intrapersonal</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/05/sistem-komunikasi-intrapersonal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikologi dan Komunikasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/02/psikologi-dan-komunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/02/psikologi-dan-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 16:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Psikologi dan komunikasi sebenarnya merupakan dua kajian ilmu yang berbeda. Psikologi mempelajari tentang karakteristik dan kejiwaan manusia, sedangkan komunikasi mempelajari proses penyampaian informasi antar manusia. Baik mahasiswa psikologi maupun komunikasi pasti mendapatkan mata kuliah psikologi komunikasi, terutama pada semester-semester awal. Ada hubungan apa diantara psikologi dan komunikasi? Mengapa kedua ilmu tersebut selalu dikaitkan? Ikuti terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Psikologi  dan komunikasi sebenarnya merupakan dua kajian ilmu yang  berbeda.  Psikologi mempelajari tentang karakteristik dan kejiwaan  manusia,  sedangkan komunikasi mempelajari proses penyampaian informasi  antar  manusia. Baik mahasiswa psikologi maupun komunikasi pasti  mendapatkan  mata kuliah psikologi komunikasi, terutama pada  semester-semester awal.  Ada hubungan apa diantara psikologi dan  komunikasi? Mengapa kedua ilmu  tersebut selalu dikaitkan? Ikuti terus  tulisan ini <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /><span id="more-22"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Percaya   atau tidak, ilmu komunikasi sebenarnya dikembangkan oleh para ahli   psikologi. Kurt Lewin, Paul Lazarsfeld, dan Carl I. Hovland merupakan   para ahli psikologi yang kemudian mengembangkan ilmu komunikasi. Tak   heran kan jika banyak definisi-definisi komunikasi yang terpengaruhi   oleh unsur psikologi. Misalnya definisi Hovland, Janis, dan Kelly yang   menyebutkan bahwa “Komunikasi ada sebuah proses dimana seseorang   mengirimkan pesan (biasanya ucapan) untuk merubah kebiasaan orang lain   (pendengar)”. Dengan kata lain, komunikasi dapat merubah karakteristik,   kebiasaan, kejiwaan, bahkan perasaan orang lain lho <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /></p>
<p style="text-align: center;"><a href="../wp-content/uploads/2010/12/psikologi%20komunikasi"><img class="aligncenter" title="psikologi komunikasi" src="../wp-content/uploads/2010/12/gambar-iklan31.gif" alt="" width="287" height="207" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pernah dengar kalimat ini, psikologi mempengaruhi  komunikasi dan  komunikasi mempengaruhi psikologi? Kalimat tersebut pasti  udah ga asing  lagi di telinga para mahasiswa komunikasi dan psikologi. <em>Well</em>, kita baha satu-satu ya <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /> .</p>
<p style="text-align: justify;">Psikologi mempengaruhi komunikasi tentunya dapat  kita pahami dengan  mudah. Kondisi seseorang yang sedang senang, sedih,  atau marah pastinya  akan mempengaruhi tindakan komunikasinya. Gak  mungkin kan orang yang  sedang marah bisa tersenyum bahagia apalagi  tertawa gembira, nanti  malah disebut orang gila <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1254930727g" alt=":D" /> . Begitu juga dengan  orang yang cenderung pendiam, pemarah, atau  cerewet, kegiatan  komunikasinya pasti berbeda-beda. Orang yang pendiam  akan cenderung  menutup diri dan jarang berbicara, orang pemarah akan  terkesan ketus  saat berbicara, dan orang yang cerewet akan senang  berbicara tentang apapun, kapanpun, kepada siapapun, bahkan tentang hal  yang gak penting sekalipun <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1254930727g" alt=":D" /> .</p>
<p style="text-align: justify;">Komunikasi mempengaruhi psikologi dapat kita lihat  pada kasus Genie  di California pada tahun 1970. Sejak kecil, Genie  hampir tidak pernah  berkomunikasi. Sepanjang hari ia diikat oleh ayahnya  di sebuah kursi  dan tidak pernah diajak berbicara. Tiap kali Genie  menangis, maka si  ayah akan memukulinya. Sepanjang hidup, Genie hampir  tidak pernah  berbicara dan mendengar orang lain bercakap-cakap.  Jangankan untuk  mengutarakan perasaan, untuk mengerti perkataan orang  lainpun ia tidak  mampu. Akibatnya Genie tumbuh menjadi seseorang yang  autis dan  mengalami gangguan kejiwaan. Dari kasus Genie dapat kita  lihat, bahwa  komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam  perkembangan  kepribadian manusia. Baik ataupun buruk komunikasi yang  dilakukan  seseorang akan mempengaruhi sisi psikologisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang terlihat kan hubungan antara komunikasi  dengan psikologi?  Kedua bidang ilmu tersebut saling mempengaruhi satu  sama lain. Karakter  kita akan mempengaruhi kegiatan komunikasi yang kita  lakukan, begitu  juga sebaliknya. Jadi, yuk kita berkomunikasi! Katakan  perasaanmu dan  bentuk kepribadianmu <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/02/psikologi-dan-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Mau Terkena Spiral of Silent</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/08/11/jangan-mau-terkena-spiral-of-silent/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/08/11/jangan-mau-terkena-spiral-of-silent/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 15:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spiral of Silent]]></category>
		<category><![CDATA[Teori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata. Teori spiral of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/silent_mouth.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-144" title="silent_mouth" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/silent_mouth-300x194.jpg" alt="" width="300" height="194" /></a></p>
<p>Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata.</p>
<p><span id="more-143"></span>Teori spiral of silent atau teori keheningan dikemukakan oleh Noelle Newmann. Teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang suatu isu. Tapi ternyata, setiap orang memiliki rasa takut mengemukakan pendapat mereka lho. Karena itu mereka mencari dukungan dari lingkungan dan media massa, agar mereka bisa lebih bebas mengekspresikan pendapat mereka, tanpa takut akan terisolasi.</p>
<p>Dalam teori ini, Noelle Newmann membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan mayoritas dan minoritas. Pandangan mayoritas percaya bahwa kelompok yang berada dalam pandangan tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemukakan pendapat mereka. Sedangkan pandangan minoritas kebalikannya, mereka biasanya lebih berhati-hati dan diam dalam mengemukakan pendapatnya. Dan tahu ga sih, ternyata media massa lah yang menyuarakan suara mayoritas untuk membungkam suara minoritas. Nah lho, makin tersingkir deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Teori spiral of silent tidak akan terpisahkan dari yang namanya opini publik. Sebenarnya apa sih opini publik itu? Noelle Newmann mengatakan bahwa opini publik adalah sikap atau perilaku yang diekspresikan seseorang di depan publik untuk menghindari isolasi. Misalnya nih ya, menurutku Mandra itu orangnya cakeeep banget, tapi berhubung satu indonesia bilang dia<span style="text-decoration: line-through;"> jelek</span>, akhirnya aku ngikut deh. Daripada dibilang<span style="text-decoration: line-through;"> berselera rendah</span>.. ups.. ini misalnya loh ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Noelle Newmann menjelaskan tiga asumsi tentang teori ini, yuk kita bahas satu satu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<ul>
<li><strong>Suara mayoritas memegang      kekuasaan terhadap suara minoritas. </strong>Seperti contoh tadi, karena takut terisolasi maka      orang-orang yang ada dalam suara minoritas akan lebih memilih untuk diam.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Orang selalu menilai iklim dari      opini publik.</strong> Artinya, setiap orang selalu melihat keadaan berdasarkan apa yang orang      lain lakukan dan apa yang orang lain pikirkan. Misalnya ketika semua orang      berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu kewajiban, maka sadar      ataupun tidak kita akan mengikutinya.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Perilaku publik dipengaruhi      evaluasi opini publik.</strong> Saat pendapat kita mendapatkan dukungan, maka      kita cenderung akan lebih berani mengekspresikannya. Begitu juga      sebaliknya, saat pendapat kita tidak mendapat dukungan, maka kita akan      cenderung diam. Koq kita jadi kelihatan cemen banget ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Teori spiral of silent memang mencerminkan sikap kebanyakan orang dalam mengemukakan pendapatnya. Tapi tentu saja itu bukan sikap yang baik kan, karena manusia jadi terlihat pengecut dan hanya terbawa arus media. Setiap manusia itu unik lho, karena itu jangan heran jika memiliki pendapat yang berbeda, dan jangan takut menyuarakan pendapat kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 864px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><!--[if !mso]> <mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves>false</w:TrackMoves> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>IN</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>AR-SA</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:ApplyBreakingRules /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val="&#45;-" /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Corbel","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Corbel; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Corbel; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .<span><img src="file:///C:/Users/Lutviah/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="http://lutviah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" width="1" height="1" /></span>Teori spiral of silent atau teori keheningan dikemukakan oleh Noelle Newmann. Teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang suatu isu. Tapi ternyata, setiap orang memiliki rasa takut mengemukakan pendapat mereka lho. Karena itu mereka mencari dukungan dari lingkungan dan media massa, agar mereka bisa lebih bebas mengekspresikan pendapat mereka, tanpa takut akan terisolasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Dalam teori ini, Noelle Newmann membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan mayoritas dan minoritas. Pandangan mayoritas percaya bahwa kelompok yang berada dalam pandangan tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemukakan pendapat mereka. Sedangkan pandangan minoritas kebalikannya, mereka biasanya lebih berhati-hati dan diam dalam mengemukakan pendapatnya. Dan tahu ga sih, ternyata media massa lah yang menyuarakan suara mayoritas untuk membungkam suara minoritas. Nah lho, makin tersingkir deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Teori spiral of silent tidak akan terpisahkan dari yang namanya opini publik. Sebenarnya apa sih opini publik itu? Noelle Newmann mengatakan bahwa opini publik adalah sikap atau perilaku yang diekspresikan seseorang di depan publik untuk menghindari isolasi. Misalnya nih ya, menurutku Mandra itu orangnya cakeeep banget, tapi berhubung satu indonesia bilang dia jelek, akhirnya aku ngikut deh. Daripada dibilang berselera rendah.. ups.. ini misalnya loh ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Noelle Newmann menjelaskan tiga asumsi tentang teori ini, yuk kita bahas satu satu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Suara mayoritas memegang      kekuasaan terhadap suara minoritas. </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Seperti contoh tadi, karena takut terisolasi maka      orang-orang yang ada dalam suara minoritas akan lebih memilih untuk diam.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Orang selalu menilai iklim dari      opini publik.</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"> Artinya, setiap orang selalu melihat keadaan berdasarkan apa yang orang      lain lakukan dan apa yang orang lain pikirkan. Misalnya ketika semua orang      berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu kewajiban, maka sadar      ataupun tidak kita akan mengikutinya.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Perilaku publik dipengaruhi      evaluasi opini publik.</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"> Saat pendapat kita mendapatkan dukungan, maka      kita cenderung akan lebih berani mengekspresikannya. Begitu juga      sebaliknya, saat pendapat kita tidak mendapat dukungan, maka kita akan      cenderung diam. Koq kita jadi kelihatan cemen banget ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Teori spiral of silent memang mencerminkan sikap kebanyakan orang dalam mengemukakan pendapatnya. Tapi tentu saja itu bukan sikap yang baik kan, karena manusia jadi terlihat pengecut dan hanya terbawa arus media. Setiap manusia itu unik lho, karena itu jangan heran jika memiliki pendapat yang berbeda, dan jangan takut menyuarakan pendapat kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/08/11/jangan-mau-terkena-spiral-of-silent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Bukan Sekedar Kata-kata</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/07/11/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/07/11/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 15:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi nonverbal]]></category>
		<category><![CDATA[pengantar komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2009/12/body_language.jpg"></a><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/body_language2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-147" title="A series &quot; Gestures of hands &quot;. A part 9" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/body_language2-300x300.jpg" alt="" width="223" height="223" /></a>Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan menyampaikan pesan-pesan tertentu. <em>Gak</em> percaya? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-146"></span>Banyak orang menganggap bahwa komunikasi nonverbal sama dengan bahasa tubuh. Anggapan tersebut tidak salah, karena komunikasi nonverbal memang terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas-aktifitas fisik, seperti mengedipkan mata, melambaikan tangan, dan gerakan kepala.  Namun perlu kita ketahui, bahasa tubuh bukanlah satu-satunya bentuk komunikasi nonverbal. <em>Setting</em> komunikasi seperti ruang, waktu, dan pakaian yang dikenakan juga merupakan bentuk komunikasi nonverbal.</p>
<p>Dalam pergaulan sehari-hari, kita pasti sering menggunakan bahasa tubuh. Tak hanya ketika berkomunikasi dengan orang lain namun juga sebagai bentuk pengekspresian diri. Saat berpidato, seorang orator sering kali menggerak-gerakkan tangan sebagai penekanan terhadap pidato yang disampaikannya. Saat bosan mendengarkan penjelasan dosen di kelas, para mahasiswa ada yang mengetuk-ngetuk meja , bahkan tidur dengan leluasa <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Itu berarti, aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh tubuh kita memiliki makna dan memberi pengaruh pada orang lain.</p>
<p>Saat pembuatan makalah komunikasi nonverbal kemarin, aku membuat survey kecil-kecilan tentang makna bahasa tubuh bagi mahasiswa Paramadina, khususnya jurusan Ilmu Komunikasi. Saat itu, ada temanku yang sedang berpangku tangan disudut ruangan kelas. Iseng-iseng aku tanya apa makna berpangku tangan yang sedang ia lakukan. Ia jawab bahwa ia sedang BT alias <em>Bosen Total</em>. Jawabannya memancing pendapat teman-temanku yang lain. Ada yang berpendapat bahwa berpangku tangan berarti sedang berfikir, fokus, melamun, menunggu, dan mengantuk. Menarik! Satu gerakan tubuh saja bisa bermakna ganda. Memang benar kata Knapp dan Hall, isyarat nonverbal jarang memiliki makna denotatif yang tunggal.</p>
<p>Pemaknaan sombol-simbol nonverbal bergantung pada latar belakang orang masing-masing. Masing-masing budaya, daerah, dan negara dapat memiliki pemaknaan berbeda terhadap simbol-simbol nonverbal tertentu. Masyarakat Indonesia terbiasa menganggukan kepala sebagai simbol &#8220;Iya&#8221; dan menggelengkan kepala sebagai simbol &#8220;Tidak&#8221;. Sebaliknya, masyarakat India terbiasa menggeleng sebagai simbol &#8220;Iya&#8221; dan mengangguk sebagai simbol &#8220;Tidak&#8221;. Makna manakah yang benar? Tentu keduanya benar. Tidak ada standar kebenaran yang pasti tentang bahasa tubuh manusia. Setiap orang memiliki style dan pemaknaan masing-masing terhadap bahasa tubuh yang dilakukan. Tidak ada aturan, apalagi kekangan. Karena itu sampai kapanpun kita menunggu, sampai kemanapun kita mencari, tidak akan ada satu kamuspun yang dapat menerjemahkan bahasa tubuh manusia <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita sering menganggap komunikasi verbal seperti ucapan lebih bermakna daripada bahasa tubuh. Padahal ternyata bahasa tubuh jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata yang kita ucapkan. Albert Mahrabian, seorang ahli komunikasi melakukan studi tentang kode-kode nonverbal. Hasil studi tersebut menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan orang terhadap pembicaraan adalah 7% bahasa verbal, 38% vokal suara, dan 55% ekspresi muka. Mencengangkan bukan? Ternyata kepercayaan seseorang lebih bergantung pada bahasa tubuh, bukan kalimat verbal yang diucapkan. Pentingnya bahasa tubuh ini sering dilukiskan dengan frase, &#8220;Bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakan&#8221; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pada hakikatnya, baik simbol verbal maupun nonverbal sama-sama penting dalam kegiatan berkomunikasi. Tidak semua pesan dapat disampaikan secara verbal, dan tidak semua pesan dapat disampaikan secara nonverbal pula. Kedua bentuk komunikasi tersebut saling melengkapi agar menghasilkan informasi yang tepat dan akurat sesuai dengan keinginan komunikator dan komunikan. Sebagai pelaku komunikasi, tugas kita adalah menyeimbangkan kedua simbol tersebut agar komunikasi yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan tidak terjadi kesalah pahaman <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/07/11/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepsi = Inti Komunikasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/06/11/persepsi-inti-komunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/06/11/persepsi-inti-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 16:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat &#8220;Perception is the core of communication&#8221; atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2011/02/persepsi.jpg"><img class="alignleft" title="persepsi" src="../wp-content/uploads/2011/02/persepsi.jpg" alt="" width="300" height="283" /></a>Bagi kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat<em> &#8220;Perception is the core of communication&#8221;</em> atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku untuk dapat memahami makna dan manfaat persepsi dalam komunikasi. Ada apa dengan persepsi? Sepenting apakah itu sampai disebut sebagai inti komunikasi? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-149"></span>Banyak sekali ahli komunikasi yang menjelaskan tentang definisi persepsi. Seperti Brian Fellows, JOhn R. Wenburg dan William W. Wilmot, Joseph A. Devito, dan lain-lain. Yang intinya menjelaskan bahwa persepsi adalah proses penafsiran informasi yang ditangkap oleh panca indera yang selanjutnya menghasilkan cara pandang kita terhadap sesuatu. Misalnya ketika mata kita melihat seorang perempuan bertubuh langsing, putih, dan berambut lurus, maka kita akan mempersepsikan perempuan itu cantik.Persepsi bukan hanya menginterpretasikan objek-objek fisik, namun juga objek-objek sosial. Contoh lain misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang kita lihat sangat sombong dan menyebalkan, maka itu akan membuat kita membentuk persepsi buruk tentangnya,</p>
<p>Persepsi dikatakan inti komunikasi karena persepsi sangat mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, baik komunikasi intrapersonal maupun interpersonal.Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, misalnya berfikir, menulis, merenung, menggambar, dan lain-lain. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain atau kelompok, misalnya mengobrol lewat telpon, korespondensi, dan lain-lain. Persepsi atau cara pandang kita terhadap sesuatu akan menentukan jenis dan kualitas komunikasi yang kita lakukan. Misalnya, kita berhadapan dengan seseorang yang kita persepsikan baik, maka komunikasi yang kita lakukan dengannya pun akan baik pula. Begitu juga sebaliknya, jika kita mempersepsikan ia buruk, maka kita tidak akan berkomunikasi dengan baik dengannya.</p>
<p>Menurut kamu, cantik itu seperti apa? Jika kita menanyakan itu kepada banyak orang, jangan kaget jika jawabannya bermacam-macam. Mungkin ada yang menjawab cantik itu gendut, ramping, atau bahkan kurus kering <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Hal itu dikarenakan persepsi setiap orang atau kelompok dalam memandang suatu hal berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman, psikologis, dan kondisi faktual yang saat itu kita tangkap. Kecantikan menurut orang dayak adalah seseorang yang memakai banyak anting sampai daun telinganya menjuntai ke bawah. Menurut penduduk Fiji, kecantikan dilihat dari kemampuan reproduksi, yakni tubuh yang subur dan keturunan yang banyak. Berbeda dengan masyarakat modern di kota, kecantikan diartikan sebagai seorang wanita yang bertubuh ramping, putih, dan berambut lurus. Sesuatu diinterpretasikan  berbeda-beda oleh setiap orang dan kelompok, tergantung latar belakangnya masing-masing.</p>
<p>Lalu bagaimana persepsi itu terbentuk? Perceptual process atau proses persepsi meliputi 3 tahap, yaitu asensi, atensi, dan interpretasi.</p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2009/11/persepsi.jpg"></a></p>
<p>Sensasi adalah proses pengiriman pesan ke otak melalui panca indera, yaitu mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Panca indera adalah reseptor yang menghubungkan otak kita dengan lingkungan sekitar. Informasi yang kita tangkap dari proses melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba tersebut kita proses kembali untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap sesuatu. Misalnya melihat pantai, mencium parfum, bersalaman dan mencicipi masakan.</p>
<p>Setelah informasi itu kita tangkap dan kita rekam dalam otak, kita masuk dalam tahap atensi. Atensi adalah suatu tahap dimana kita memperhatikan informasi yang telah ada sebelum kita menginterpretasikannya.Sebenarnya banyak sekali hal yang tertangkap oleh panca indera kita, namun tidak semuanya kita perhatikan. Setuju kan? Misalnya ketika kita mengobrol lewat telpon, informasi yang kita perhatikan hanyalah suara lawan bicara, meskipun saat itu kita juga sedang membaca koran atau sedang makan bakwan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Contoh lain misalnya, kita melihat sekumpulan orang berpakaian hitam, dan ada satu orang berpakaian putih. Mana yang kita perhatikan? Tentu yang berbaju putih kan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .Hal itu terjadi karena kita hanya akan memperhatikan apa yang kita anggap paling bermakna bagi kita, paling berbeda, dan paling menarik perhatian.</p>
<p>Tahap terakhir adalah tahap interpretasi. Jika persepsi dikatakan sebagai inti komunikasi, maka interpretasi adalah inti dari persepsi. Mengapa demikian? Karena interpretasi adalah proses penafsiran informasi atau pemberian makna dari informasi yang telah kita tangkap dan kita perhatikan. Ketika mata kita melihat matahari terbenam di pantai kemudian kita perhatikan, maka secara tidak langsung kita akan menginterpretasikan pantai tersebut. Apakah menurut kita indah, biasa saja, atau bahkan jelek. Pendapat atau persepsi yang dihasilkan tentunya akan beragam, tergantung latar belakang kita masing-masing.</p>
<p>Sensasi, Atensi, dan interpretasi adalah tahapan-tahapan yang dilalui untuk menghasilkan persepsi. Semakin sama persepsi setiap orang, maka semakin efektif komunikasi yang dilakukan. Persepsi setiap orang akan sama jika mereka berasal dari latar belakang yang sama. Misalnya sama-sama orang desa, sama-sama orang jawa, atau sama-sama orang <span style="text-decoration: line-through;">gila</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Persepsi-persepsi yang ada pada diri kita akan mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, karena itu berfikirlah positif dan obyektif dalam memandang sesuatu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/06/11/persepsi-inti-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

