Posts tagged ‘cultural studies’

March 15th, 2011

Genealogi Kajian Budaya

by via

Robert E. Babe memulai tulisannya tentang Genealogy of Cultural Studies dengan definisi-definisi tentang kajian budaya. Dalam tulisannya tersebut, ia tidak membahas tentang sejarah atau genealogi kajian budaya. Merujuk pertanyaan Blundell, Shepherd dan Taylor bahwa membicarakan sejarah kajian budaya merupakan hal yang cukup sulit . Oleh karena itu, kita hanya bisa merujuk pendapat-pendapat para ahli yang pemikirannya juga berasal dari para ahli kajian budaya terdahulu.

Para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam melihat kajian budaya. Secara umum jika dilihat dari penjelasan Wikipedia, kajian budaya merupakan kombinasi dari ekonomi politik, komunikasi, sosiologi, teori sosial, teori literasi, teori media, kajian film dan video, antropologi budaya, filsafat, dan sejarah dalam melihat fenomena budaya dalam masyarakat .

Kajian budaya menjadi penting untuk diperbincangkan karena saat ini kita hidup di era budaya baru yang secara dramatis telah diubah oleh media global dan teknologi komputer. Oleh karena itu, kita membutuhkan kajian budaya untuk menganalisis kondisi ekonomi politik industri budaya saat ini, efek media baru dan teknologi, serta dampaknya terhadap masyarakat. Dalam tulisan ini, kita akan melihat kajian budaya ini dari dua sisi, yaitu dari sisi British Cultural Studies dan Critical Cultural Studies.

Critical cultural studies menekankan tentang adanya ketidak adilan dalam hubungan kekuasaan. Sandar dan Van Loon menyebutkan tiga karakteris critical cultural studies yang berkaitan dengan hubungan kekuasaan, yaitu:

  1. Critical cultural studies bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan kekuasaan mempengaruhi praktek-praktek budaya.
  2. Critical cultural studies bertujuan untuk memahami semua bentuk budaya serta menganalisa konteks sosial dan politik yang termanifestasi didalamnya.
  3. Critical cultural studies berkomitmen pada evaluasi moral  masyarakat modern dan politik radikal, serta memahami dan merubah struktur dominasi khususnya dalam masyarakat kapitalis .

British cultural studies memberikan kita penjelasan untuk menganalisa situasi sosial yang sedang terjadi dan juga ikut mengembangkan teori kritis dan kajian budaya dengan cara-cara praktis. British cultural studies ini dimulai saat didirikan University of Birmingham Center for Contemporary Cultural Studies pada tahun 1963 yang menjelaskan berbagai perspektif tentang kajian budaya. Dalam kajiannya, mereka fokus pada hubungan saling mempengaruhi antara ideologi kelas, gender, ras, serta budaya media.

British cultural studies membicarakan tentang bagaimana masyarakat menggunakan media massa serta cara mereka dalam menginterpretasikan pesan-pesan yang ada didalamnya sebagai bentuk dari budaya media. Kajian ini menganalisa fakto-faktor apa saja yang membuat masyarakat merespon media dengan cara-cara yang berbeda-beda. British cultural studies juga merupakan kajian pertama yang membicarakan tentang efek media massa seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan efek bentuk-bentuk budaya populer lain.

Secara umum, perspektif British Cultural Studies memiliki beberapa kesamaan dengan perspektirf Frankfurt School. Pertama, terjadinya penurunan kesadaran revolusioner diantara kelas pekerja. Kedua, budaya media berperan dalam membentuk kelas pekerja menjadi masyarakat kapitalis. Ketiga, budaya media membentuk hegemoni kapitalis.

Richard Hoggart, salah satu tokoh British Cultural Studies  memperkenalkan konsep The Uses of Literacy yang menekankan sisi kepemilikan media dan dan aspek-aspek produksi konten media, tidak hanya sisi konsumsi dan interpretasinya saja . Ia mengatakan bahwa media massa telah menggantikan budaya kelas tradisional, sehinggga mengurangi kesadaran kelas diantara masyarakat .

Sementara itu, Raymond Williams yang juga merupakan tokoh British Cultural Studies fokus pada pengalaman-pengalaman kelas pekerja dan aktivitas mereka dalam mengkonstruksi kebudayaan serta budaya kelas. Argumentasinya adalah klasifikasi kerja dalam budaya memiliki struktur gagasan kolektif. Hal ini dapat dilihat dari kelas-kelas yang ada dalam masyarakat dalam menentukan posisi maupun kelas dalam suatu pekerjaan. Ia memperkenalkan beberapa konsep tentang kajian budaya, yaitu culture and society, mass and class consciousness, economic determinism, dan technological (media) determinism.

Raymond Williams berpendapat bahwa kelas dominan secara kuat dapat mengontrol transmisi dan distribusi pesan dalam media. Selain itu, kehadiran base and superstucture dalam economic determinism juga berpengaruh dalam memunculkan homogenitas media. Dimana fokus base and superstructure adalah memberikan pengaruh yang tujuannya mengikat kaum proletar yang bisa dipekerjakan sesuai dengan keinginan dan kehendak para pemilik modal. Hal ini tentunya kemudian akan menciptakan hegemonitas oleh para pemilik modal terhadap para pekerja dan arus informasi yang berada dalam media yang dikuasainya.

Tulisan ini merupakan rangkuman buku “Cultural Studies and Political Economy” karya Robert E. Babe. Versi PDF dapat didownload disini.