<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Belajar</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/tag/belajar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description>Catatan Kecil Tentang Komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 May 2010 03:59:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Speech&#8230;Siapa takut?</title>
		<link>http://lutviah.net/2008/09/09/speechsiapa-takut/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2008/09/09/speechsiapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 09:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[Speech]]></category>
		<category><![CDATA[Tips dan Trik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2008/09/giuliani-speech.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-142" title="giuliani-speech" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2008/09/giuliani-speech-281x300.jpg" alt="" width="181" height="203" /></a>ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , tetapi modal yang harus kita persiapkan pertama kali adalah mental kita sendiri. Dalam hal public speaking, yang harus kita taklukan bukanlah materi yang kita sampaikan, melainkan para audience supaya tertarik dengan pidato kita. Jangan sampai gugup, takut, apalagi ribut ketika berbicara di depan, anggaplah kita sedang bercerita, berdiskusi dan saling berbagi inspirasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-141"></span>Aku jadi teringat dengan pengalaman pertamaku ikut lomba pidato, saat itu aku sangat gugup dan takut tak bisa menyampaikan pidato dengan baik. Berulang kali aku talar teks pidatoku tiada henti. Sampai pada saatnya aku tampil, ternyata aku belum bisa menguasai mentalku dengan baik. Kalimat demi kalimat aku ucapkan dengan lancar dan tertata, tapi menjelang akhir pidato, aku sedikit tersendat karena lupa. Padahal tadinya sudah aku hafal hingga diluar kepala (<span style="text-decoration: line-through;">ilang donk</span> ? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ). Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan hanya karena aku gugup! Masalah mental tersebut ternyata sangat berpengaruh demi menunjang kemampuan kita berpublic speaking. Persiapan yang matang, hafalan materi, semuanya bisa musnah jika kita tidak dapat menjaga mental kita dengan baik.Bagaimana bersikap di depan orang banyak, berbicara dan body language kita semua ditentukan dari sebaik apa mental kita.</p>
<p>Untuk melatih kepekaan berbicara, aku sering mendengarkan pidato-pidato orang lain. Duduk manis di bangku penonton dan menyimak pidato orang lain ternyata membuat kita semakin peka dalam berbicara. Dengan menempatkan diri sebagai pendengar, kita akan tahu apa yang audience rasakan ketika menyimak sebuah pidato. Ada yang tidur bahkan kabur jika pidato yang disampaikan oleh sang pembicara itu boring dan terkesan garing <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Sebaliknya, jika pidatonya yang disampaikan bagus tentu kita akan tertarik dan terbawa hanyut dalam setiap kalimat yang ia ucapkan. Nah itu dia! Belajarlah dari hal tersebut. Berbicaralah dengan sebaik mungkin, dan tempatkan diri kita bukan hanya sebagai speaker tapi juga sebagai audience sehingga pidato kita akan lebih indah dan penuh makna <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Materi yang bagus bukanlah kunci untuk menjadikan sebuah pidato itu juga bagus. Kunci yang terpenting sebenarnya adalah kunci yang dipegang oleh speaker itu sendiri. Jika kita sudah bisa menguasai jiwa, raga dan materi yang akan kita sampaikan, pasti pidato kitapun akan terdengar lebih natural dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Misalnya ketika kita berpidato di depan anak-anak SMA, cukup dengan menyampaikan motivasi, tukar pengalaman dan sharing pengetahuan, pidato kita pasti akan mereka cerna dengan baik jika kita menyampaikannya dengan sempurna. Kesempurnaan pidato bukan dilihat dari seberapa bagusnya materi yang disampaikan, melainkan dari sejauh mana pidato itu terserap oleh audience yang menyimaknya. Meskipun materi yang disampaikan itu ecek-ecek dan terkesan becek, yang penting kan bisa membuat audience termehek-mehek. Lebih bagus kan? <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenarnya, yang pertama kali harus dimiliki seorang speaker atau pembicara adalah keberanian. Keberanian untuk maju, tampil, dan berbicara di depan orang banyak. Memang sih,sifat-sifat tersebut tidak mudah kita miliki.Kita dapat melatihnya dengan melakukan hal-hal kecil.Seperti berdiskusi, bercerita, hingga <span style="text-decoration: line-through;">bergosip-gosip ria</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Jika kita sudah bisa mendominasi dalam berbicara dan berdiskusi, sedikit demi sedikit sifat-sifat tersebut akan tertanam dalam diri kita. Tidak akan ada lagi perasaan gugup dan gerogi ketika berbicara di depan banyak orang. Kita akan merasa lebih tenang dan nyaman dalam menyampaikan materi-materi yang kita sampaikan.</p>
<p>Tidak ada yang perlu kita takutkan dalam berpidato. Jika materi sudah siap, kita tinggal mengatur nafas dan mental kita untuk maju ke depan. Berbicaralah senyaman, setegas, dan sebagus yang kita bisa. Semua yang kita ungkapkan dan dan bicarakan kita sesuaikan dengan style bicara kita sendiri. Tak perlu memaksa tegas dan garang,padahal aslinya lemah gemulai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Performance yang memaksa dan tidak natural akan terkesan buruk dan tidak akan menarik di mata audience. Karena itu, jadilah diri sendiri, dan teriaklah dengan kencang, &#8220;Speech&#8230;Siapa takut?&#8221; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2008/09/09/speechsiapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debate Skill Untuk Pemula</title>
		<link>http://lutviah.net/2008/09/07/debate-skill-untuk-pemula/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2008/09/07/debate-skill-untuk-pemula/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 20:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Debat]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Bergelut di dunia perdebatan membuat aku memiliki keberanian lebih dalam hal public speaking. Sudah 2 tahun lebih semenjak aku memasuki dunia SMA aku dikenalkan dengan &#8220;English Debating Championship&#8221; di berbagai ajang lomba. Bagiku debat adalah suatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Karena itu, ditulisan ini akan aku share beberapa pengalamanku dan rahasia-rahasia suksesku dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2008/09/15_debate_lg.jpg"><img class="size-full wp-image-63 alignright" title="15_debate_lg" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2008/09/15_debate_lg.jpg" alt="" width="253" height="170" /></a>Bergelut di dunia perdebatan membuat aku memiliki keberanian lebih dalam hal public speaking. Sudah 2 tahun lebih semenjak aku memasuki dunia SMA aku dikenalkan dengan &#8220;English Debating Championship&#8221; di berbagai ajang lomba. Bagiku debat adalah suatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Karena itu, ditulisan ini akan aku share beberapa pengalamanku dan rahasia-rahasia suksesku dalam berdebat-debat ria <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Debat adalah kegiatan adu argumentasi, adu suara, dan adu kemampuan berbicara. Pada debat-debat kompetitif biasanya sudah disediakan peraturan-peraturan bagi para pesertanya. Bagaimana menyampaikan argumentasi, mematahkan argumentasi lawan, struktur perdebatan dan tema yang akan dibahas. Jadi, kita tidak asal bicara atau berdebat seenaknya. Semua aspek yang kita tunjukan ketika debat berlangsung dinilai sepenuhnya oleh dewan juri. Jika kita melontarkan kata-kata kasar atau menghujat maka bersiap-siaplah mendapat potongan nilai dari sang dewan juri <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Biasanya nilai yang akan dikurangi adalah nilai manner. Makanya, berbicaralah dengan sesopan dan setegas mungkin tanpa mencaci atau memaki apalagi memutilasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span id="more-62"></span>Sejujurnya, ketegasan dan kegarangan dalam debat bukanlah hal yang mutlak untuk menjadi pemenang. Dengan berbicara lemah gemulaipun kita dapat memenangkan hati juri. Bukan dengan rayuan gombal, gomse*, apalagi gobang* <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , tapi dengan memainkan nada suara agar terdengar meyakinkan dan dapat mempengaruhi orang lain sehingga percaya dengan apa yang kita ucapkan. Yang terpenting adalah, jadilah diri sendiri ketika berbicara. Tak perlu berpura-pura garang atau lembut saat menyampaikan argumentasi. Karena jika kita memaksa, performance kita malah akan terlihat kaku dan kurang meyakinkan.</p>
<p>Aku jadi teringat dengan pengalaman debatku beberapa tahun ini. Selama bergentayangan dalam dunia perdebatan SMA dan SMK, aku sudah sering melihat bermacam-macam debater. Ada yang garang, lembut, jayus bahkan terkesan jablay <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Semua yang aku temui aku jadikan sebagai bahan belajar. Pun begitu, aku tetap tidak menghilangkan karakter bicaraku yang lembut, lebay, dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Mengadopsi karakter berbicara orang lain sah-sah saja, apalagi bagi para pemula. Karakter tersebut dapat kita mix dengan karakter bicara kita yang asli. Misalnya karakter bicara kita yang lembut kita komposisikan dengan kegarangan supaya gaya bicara kita bisa lebih terdengar tegas dan meyakinkan. Kadangakala, karakter bicara kita juga masih banyak kekurangan. Makanya, kita harus belajar dan berlatih lebih banyak.</p>
<p>Ketika berdebat, banyak tantangan yang kita hadapi. Seperti motion yang tidak kita kuasai, kekurangan argumentasi, kehilangan ide, sampai personal attack dari opposite team. Memang sih, personal attack dalam debat edukasi tidak diperbolehkan. Tapi tetap saja, kadang-kadang masih ada saja peserta yang bersikap seperti itu untuk menjatuhkan mental lawan. Untuk menghadapi hal-hal semacam itu, kita harus memiliki pertahanan mental yang kuat. Bersikaplah seperti biasa, anggap saja ledekan-ledekan tersebut hanyalah semilir angin yang berlalu pergi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Jika berani, ledekan-ledekan tersebut juga dapat kita tangkis dan kita buat musnah <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  , misalnya dengan cara menambahkan argumentasi atau dengan meyakinkan juri bahwa argumentasi yang kita sampaikan itu tidak salah dan paling benar. Jangan sampai hanya karena dicerca sedikit oleh lawan bicara, kita langsing down dan speechless. Seorang debater bukan hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tapi juga fisik dan mental yang kuat dan sehat. Mengapa demikian? Karena fisik yang tegap dan pandangan mata yang tajam juga bisa menjatuhkan lawan.</p>
<p>Sampaikanlah argumentasi kita dengan seyakin mungkin, anggaplah apa yang kita ucapkan adalah yang paling benar dan jangan ragu sedikitpun. Meskipun sebenarnya argumentasi kita kurang akurat dan menjauhi kebenaran <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Teguhlah dengan positioning kita, meskipun sebenarnya kita tidak setuju dengan hal tersebut. Misalnya ketika kita menghadapi motion &#8220;Pemerintah harus menghapus Ujian Nasional&#8221; dan kita ada dalam posisi Affirmative, maka apapun yang terjadi kita harus setuju dan yakin dengan hal itu, meskipun sebenarnya hati kita bertentangan dengan motion tersebut. Karena keyakinan dari diri sendiri adalah modal awal untuk menjadi debater yang handal. Chayo debater-debater Indonesia! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Gobang* = Gombal Banget</p>
<p>Gomse* = Gombal sekali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2008/09/07/debate-skill-untuk-pemula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengkritisi Budaya Belajar Kita</title>
		<link>http://lutviah.net/2008/09/05/mengkritisi-budaya-belajar-kita/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2008/09/05/mengkritisi-budaya-belajar-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 04:20:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini aku tulis setelah berdiskusi dengan beberapa rekan kantorku di tempat aku magang. Tadinya sih, kami hanya saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ketika di sekolah.
Tapi lama-lama, diskusi kami berlanjut tentang cara belajar dan diajar kami ketika menimba ilmu selama bertahun-tahun di bangku sekolah.Tulisan ini aku buat bukan semata-mata karena cara belajarku sudah bagus dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" title="Study" src="http://catatanvia.files.wordpress.com/2008/09/10096901.jpg" alt="" width="202" height="183" />Artikel ini aku tulis setelah berdiskusi dengan beberapa rekan kantorku di tempat aku magang. Tadinya sih, kami hanya saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ketika di sekolah.</p>
<p>Tapi lama-lama, diskusi kami berlanjut tentang cara belajar dan diajar kami ketika menimba ilmu selama bertahun-tahun di bangku sekolah.Tulisan ini aku buat bukan semata-mata karena cara belajarku sudah bagus dan patut diteladani. Sama sekali bukan. Tulisan ini hanya sebagai bukti kesadaranku bahwa proses belajar yang sudah 11 tahun aku jalani ini sering kali sia-sia.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Sudah berapa bidang study yang kita pelajari? Matematika, Bahasa, IPA, IPS, dan beberapa mata pelajaran lain yang mungkin sudah kita lupa materinya apa. Sering kali, ketika kita belajar di sekolah, niatan kita hanya untuk mendapatkan nilai yang baik dan bisa lulus sekolah dengan hasil yang membanggakan. Karena itulah, banyak siswa-siswi yang menyontek ketika ujian dilaksanakan. Kita tidak pernah berfikir “Untuk apa ya saya belajar ini…?”, “Apa yang akan saya hasilkan jika mempelajari ini..?”, ”Dalam hal apa saya bisa mempraktekannya…?”, “Kelak saya bisa jadi apa kalau belajar ini…?”. Pernahkah anda memikirkannya? Jika pernah, sungguh saya ingin belajar dari anda!!</p>
<p>Memang sih, ada beberapa orang yang juga pernah memikirkannya. Tapi hanya sebatas berfikir, tanpa ada realisasi yang jelas. Sering kali kita hanya sekedar berfikir dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hati saja. Karena itu, jadilah masyarakat kita seperti sekarang ini. Orang-orang yang hanya belajar untuk mendapatkan gelar akademis, pekerjaan yang layak serta kebebasan financial dengan cara yang instan. Sehingga pelajar-pelajarpun terinfeksi oleh budaya semacam ini. Aksi contek-mencontek yang semakin marak, pembocoran soal ujian, dan hal-hal jelek lainnya.</p>
<p>Misalnya saja, suatu ketika temanku pernah bertanya pada guru matematika yang sedang mengajar dikelas. Saat itu materi yang sedang dibahas adalah persamaan dan pertidaksamaan linear. Ketika session pertanyaan, temanku bertanya “Di kehidupan sehari-hari persamaan linear itu kita aplikasikan dimana ya bu?”, dan guruku menjawab, “Kalian cari saja di buku, dimana saja biasanya persamaan linear itu diaplikasikan”. Gubrakkkk !! Aku tidak tahu apa maksud dari jawaban guruku itu. Entah itu karena dia ingin siswa-siswinya belajar mandiri atau memang karena dia tidak tahu. Yang jelas, saat itu aku dan temanku mencarinya dalam buku-buku matematika yang kami pelajari. Tapi pertanyaan kami sama sekali tidak ada yang membahas. Yang ada hanya pembahasan rumus dan contoh-contoh soal. Lalu siapa yang mesti kami pintai jawab?</p>
<p>Setelah kejadian itu, aku jadi semakin mengerti bahwa budaya semacam itu bukan hanya menginfeksi para pelajar saja, tapi guru-gurunya juga. Murid-murid belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, dan guru mengajar hanya untuk mendapatkan gaji dari pemerintah. Tidak ada lagi rasa ingin tahu dan kritisasi akan ilmu.</p>
<p>Kita terus berdoa dan berusaha, semoga budaya-budaya seperti ini akan segera lenyap dari dunia pendidikan Indonesia. Kalo tetep kaya gini, apa kata dunia??</p>
<p>Bravo Education, Bravo Indonesia!! <img class="wp-smiley" src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2008/09/05/mengkritisi-budaya-belajar-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
