Posts tagged ‘Media’

April 29th, 2012

Hentikan Program Kakek-Kakek Narsis!

by via

 

Perempuan bukan untuk dilecehkan di televisi – Remotivi

Remotivi saat ini sedang melakukan advokasi menolak penayangan program acara “Kakek-Kakek Narsis” yang disiarkan Trans TV. Mungkin banyak orang yang heran, kenapa perlu ditolak? Bukankah acara ini ditayangkan setiap tengah malam dan memang merupakan acara khusus dewasa? Eiiitt, tunggu dulu. Meskipun program “Kakek-Kakek Narsis” ini ditayangkan tengah malam, bukan berarti urusan selesai. Sebagai khalayak, tentu kita perlu kritis dalam mengonsumsi tayangan-tayangan yang disiarkan televisi. Tayangan “Kakek-Kakek Narsis” tidak cukup hanya dipandang sebagai “program dewasa”, melainkan didalamnya juga terdapat masalah-masalah lain yang jauh lebih besar: PELECEHAN PEREMPUAN

Remotivi melakukan kajian dan analisis terhadap tayangan ini untuk melihat masalah apa saja yang terjadi didalamnya. Hasilnya, saya pun agak terkejut. Ternyata tayangan “Kakek-Kakek Narsis” bukan hanya berdosa atas pelecehan perempuan, namun juga atas hal-hal lain. Menurut Remotivi, ada 6 hal yang menjadi masalah terbesar dalam tayangan ini:

 

Objektivikasi Tubuh Perempuan

Tayangan KKN kami lihat merupakan tayangan yang dibangun dengan konsep relasi gender yang tidak setara. Meski memberi kesempatan pada banyak perempuan untuk menjadi bintang tamu, namun pada praktiknya tayangan ini bukan menghadirkan kualitas perempuan, malah justru menjadi etalase untuk memajang tubuh perempuan. Perempuan berpenampilan seksi (kami yakin ini bagian dari konsep tayangan) dijadikan sebagai bintang tamu, namun perempuan tidak banyak diberi kesempatan untuk berbicara. Sebaliknya, tiga pembawa acara yang kesemuanya lelaki menjadi komentator atas tubuh dan hobi para perempuan (tayangan ini banyak menjadikan hobi sebagai bahan diskusi). Sehingga yang terjadi adalah, perempuan dibicarakan dan lelaki sebagai pembicara.

Stereotip Perempuan

Pemosisian perempuan sebagai objek dalam tayangan ini, pada akhirnya berpotensi membangun sterotip negatif mengenai perempuan, atau pun menebalkan pandangan keliru yang sudah ada dalam masyarakat. Kegagalan tayangan ini untuk menghadirkan kualitas perempuan dengan utuh, dan mereduksinya menjadi sekadar tubuh, berpotensi membangun atau pun menebalkan stereotip perempuan sebagai objek seksual.

Kekerasan verbal

Pilihan kata dan penggunaan psiko-bahasa dalam tayangan ini kerap kali mengandung kekerasan terhadap perempuan. Sulit memang menemukannya satu per satu. Kekerasan verbal luput dari perhatian karena bersembunyi dalam humor atau pun bahkan pujian. Dalam tayangan ini bertebaran berbagai bentuk kekerasan dalam bahasa yang datang dari paradigma yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Salah satu contohnya adalah, pertanyaan pembawa acara yang pernah diajukan kepada bintang tamu perempuan, “Apa kesibukanmu selain cantik?”. Pertanyaan semacam ini tentu saja datang dari anggapan bahwa apa yang terpenting dari perempuan hanyalah menjadi cantik. Kegiatan utama perempuan adalah mempercantik diri, sehingga bila ada perempuan memiliki hobi di luar berdandan, ia akan menjadi nilai lebih untuk dibicarakan. Logika tersebut menggiring persepsi bahwa perempuan tak punya pendapat atau aktivitas lain yang sederajat dengan laki-laki, misalnya intelektualitasnya.

Iklan anak

KKN dengan segala masalahnya tersebut ternyata dimaksudkan juga untuk menjadi tayangan bagi anak dan remaja. Ini terjadi ketika KKN ditayangkan Pk. 23.00 WIB (sekarang dipindah menjadi Pk. 24.00 WIB). Hal ini dapat diindikasikan melalui beberapa iklan produk anak yang juga ikut mensponsori acara ini. Mereka yang bertanggung jawab terhadap penempatan iklan tersebut tentu saja telah memperhitungkan adanya potensi penonton anak. Bagi kami ini tentu mengkhawatirkan karena anak-anak akan tumbuh besar dengan kepala mereka yang penuh oleh cara pandang yang salah terhadap perempuan. Fakta ini harusnya menjadi perhatian KPI sebagai regulator, untuk melindungi publik anak dari program yang tidak ramah anak dan perempuan.

Subordinasi perempuan

Pelbagai hal yang telah kami uraikan di atas merupakan poin-poin yang muaranya ada pada persoalan subordinasi perempuan. Tayangan ini beroperasi dengan berbagai logika yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Kemasan tayangan yang seolah menunjukkan bentuk kemerdekaan ekspresi perempuan (pakaian, hobi, dan pekerjaan) yang tidak lagi terkungkung dalam ranah domestik, rupayanya tidak juga membebaskan perempuan dari rantai objektivikasi dan komodifikasi. Kehadiran perempuan dalam ruang publik masih juga ditempatkan dalam kerangka sebagai objek, tidak bedanya makanan dalam acara kuliner, atau pun museum dalam program wisata.

Kontraproduktif terhadap upaya kesetaraan

Pada akhirnya, kami menilai tayangan ini kontraproduktif terhadap upaya yang tengah dilakukan berbagai lapisan masyarakat untuk membangun relasi gender yang lebih adil. Bukannya mempertipis tembok budaya yang mengekang perempuan, representasi perempuan yang dihadirkannya justru mempertebal dan mereproduksi budaya yang mendiskriminasi perempuan.

-Remotivi

Alasan-alasan diatas jugalah yang mendorong banyak NGO, Komunitas, dan institusi lain untuk bergabung dalam gerakan ini. Saat ini setidaknya terdapat 30 lembaga dari 13 provinsi di Indonesia (salah satunya Aliansi Remaja Independen) yang mendukung penghentian terhadap program “Kakek-Kakek Narsis” ini. Dukungan ini tentu saja bukan semata dilakukan untuk membela kaum perempuan, namun juga atas niat dan semangat untuk memperjuangkan hak publik mendapatkan informasi yang baik dan layak dari ranah yang mereka miliki sendiri.

Saat ini serangkaian kegiatan advokasi telah dilakukan: berita di media-media massa telah disebar, aksi menggalang kekuatan bersama telah dilakukan, acara diskusi dan konferensi pun telah digelar. Namun hal itu tentu masih tidak cukup untuk menumbangkan kekuatan kapitalisme media yang sebegitu besarnya. Jadi, kamipun sangat membutuhkan bantuan kalian untuk turut mendukung kegiatan ini. Dukungan dapat diberikan dengan mengadukan “Kakek-Kakek” Narsis pada KPI melalui situsnya (kpi.go.id), telepon (021-6340626), dan SMS (0812-13070000).

Sekecil apapun dukungan kalian, akan sangat membantu untuk gerakan ini. STOP TAYANGAN YANG MELECEHKAN PEREMPUAN!

January 30th, 2012

Perkembangan Media dan Masyarakat

by via

Source: http://www.rcc.int

Media dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya berkembang bersama-sama dan saling mempengaruhi satu sama lain. Perubahan media dari waktu ke waktu berjalan seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Kita dapat melihat perkembangan media dengan melihat juga perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu. Dimulai dari masyarakat pre-agrikultul, masyarakat agrikultur, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.

read more »

March 30th, 2011

Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat

by via

Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.

Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.

read more »

March 15th, 2011

Media Massa dan Institusi Politik

by via


Media massa merupakan alat yang paling strategis untuk melakukan penyebaran nilai, pembentukan opini, serta memediasi berbagai pihak dalam melakukan komunikasi. Karena alasan tersebut, media sangat gampang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang mengelilinginya, baik kepentingan publik, pemerintah, maupun institusi politik.

read more »

March 15th, 2011

Media Massa dan Propaganda Politik

by via

Media merupakan alat yang sangat strategis dan efektif untuk mempengaruhi khalayak. Oleh karena itu, tidak heran jika sejak dahulu banyak aktor politik yang memanfaatkan media untuk melakukan propaganda kepada masyarakat. Propaganda sendiri adalah rangkaian pesan yang disampaikan untuk mempengaruhi pendapat dan sikap masyarakat.

Di indonesia, propaganda dengan menggunakan media sudah dilakukan sejak masa kolonial. Pada saat pers mulai berkembang di Indonesia, pemerintah Belanda telah menguasai dan menggunakannya sebagai alat propaganda, salah satunya adalah melalui surat kabar Memorie Dex Nouvelles . Hal ini juga berlanjut pada masa penjajahan Jepang, dimana media-media yang dinilai membahayakan kepentingan mereka dicabut dari peredaran, khususnya media-media yang masih dipengaruhi oleh Belanda. Pada masa penjajahan ini, media massa hampir sepenuhnya dikuasai oleh para penjajah untuk melakukan propaganda kepada masyarakat.

Pasca kemerdekaan, media massa di Indonesia masih tetap saja digunakan sebagai media propaganda. Pada masa pemerintahan Soekarno, media massa digunakan untuk melegitimasi kekuasaanya. Ia memperkenalkan konsep ‘Guided Democracy’ yang mewajibkan media-media massa harus berada di bawah kontrol pemerintah, salah satunya adalah penyedia berita ANTARA. Pada masa ini, media massa khususnya radio digunakan oleh Sukarno sebagai alat untuk berorasi dan menyebarkan pengaruhnya kepada masyarakat.

Kekuasaan pemerintah terhadap media massa makin terasa pada masa orde baru, dimana semua media massa dan arus informasi berada dibawah kontrol pemerintah. Soeharto sebagai presiden saat itu membangun ikatan yang kuat antara pers dengan pemerintah, sehingga saat itu tidak ada kebebasan pers dan media massa sepenuhnya berada dibawah kontrol dan pengaruh pemerintah. Selain itu, hal tersebut makin diperparah dengan dikuasainya media massa oleh keluarga Soeharto. Dengan demikian, media massa menjadi sangat terkekang dan tidak bisa berkembang.

Media massa menjadi sangat efektif untuk melakukan propaganda karena media massa memiliki kemampuan mempengaruhi masyarakat yang tinggi. Media massa dapat digunakan untuk self marketing melalui berita dan informasi yang disiarkan, misalnya pada waktu kampanye politik. Melalui informasi-informasi di media sebelumnya telah dikonstruksi, masyarakat pada akhirnya akan terpengaruh oleh berita-berita tersebut dan mengikuti kehendak si pembuat medianya itu sendiri.

Media massa menentukan agenda publik, dan peran media adalah mendorong dukungan publik terhadap kepentingan-kepentingan tertentu yang mendominasi pemerintah dan masyarakat . Asumsi tersebut makin memperkuat pandangan bahwa media massa memang digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok-kelompok tertentu. Lebih dari itu, media massa juga menentukan agenda publik dan mengaturnya sedemikian rupa agar dapat berhasil mempengaruhi masyarakat sehingga dapat memenuhi kepentingan kelompok-kelompok tersebut.

Dalam menentukan keputusan politik, masyarakat akan selalu membutuhkan referensi. Berdasarkan kajian psikologi, norma dan pengaruh interpersonal memberikan pengaruh terhadap sikap seseorang . Hal ini jugalah yang kemudian dimanfaatkan oleh media ketika melakukan kegiatan propaganda. Melalui berita-berita yang disiarkan, media secara tidak langsung telah memberikan referensi kepada masyarakat untuk mempengaruhi keputusan politiknya. Semakin sering berita tersebut diberikan, maka akan semakin besar pengaruh yang akan didapatkan oleh masyarakat.

Selain itu, konsep mediated others juga digunakan dalam melakukan propaganda melalui media. Media seringkali menampilkan endorser atau model untuk memperkuat pesan-pesan yang disampaikannya. Endorser ini bisa berupa orang-orang biasa untuk merepresentasikan masyarakat pada umumnya atau orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat untuk dijadikan opinion leader agar dapat mempengaruhi persepsi khalayak. Teknik endorser merupakan teknik persuasif populer yang sudah banyak digunakan, khususnya dalam dunia periklanan. Dalam kaitannya dengan propaganda,  teknik ini juga banyak digunakan karena dapat mempengaruhi sisi psikis khalayak.

Persepsi dan nilai-nilai yang disampaikan oleh media massa sering kali dianggap sebagai persepsi masyarakat keseluruhan. Dalam masyarakat kontemporer, media massa seakan-akan merepresentasikan opini dan persepsi masyarakat secara umum . Oleh karena itu, banyak orang yang menggunakan informasi yang ada di media massa sebagai referensi karena informasi di media dianggap mewakili persepsi masyarakat. Karakteristik media massa tersebut menjadi sangat beresiko untuk dijadikan alat propaganda, karena bisa jadi pesan-pesan yang disampaikan media massa hanyalah hasil konstruksi dari pemiliki kepentingan-kepentingan tertentu dan sama sekali tidak mewakili persepsi masyarakat secara keseluruhan.

Sementara itu, fungsi media sebagai media informasi terlihat jelas pada saat terjadi krisis. Media massa menjadi alat penting dalam penyebaran informasi dan mengingatkan masyarakat akan kejadian-kejadian tertentu . Oleh karena itu, rating berita meningkat pada saat terjadi krisis karena setiap orang mengakses media untuk mendapatkan informasi dan konfirmasi tentang krisis yang sedang berlangsung.

Peningkatan akses terhadap media tersebut pada akhirnya akan berimplikasi terhadap peningkatan kepercayaan khalayak terhadap pesan-pesan yang disampaikan media. Dengan demikian, kekuatan media akan menjadi semakin kuat dalam mempengaruhi khalayak dan akan semakin efektif jika orang-orang yang memiliki kepentingan menggunakannya untuk melakukan propaganda-propaganda tertentu. Meskipun pada saat krisis media cenderung memiliki sumber-sumber berita yang terbatas, hal itu tetap tidak menutup kemungkinan akan dijadikannya media sebagai alat propaganda pada saat krisis berlangsung.

Tulisan ini merupakan rangkuman buku “The Psychology of Media and Politics” karya George Comstock, buku “Media Effect and Society” karya Elizabeth M Perse, buku “The Media and Political Change in Southeast Asia karya Jonathan Woodier, dan buku “The Media Effect: How The News Influences Politics and Government” karya Jim Willis. Versi PDF dapat didownload
disini.

February 18th, 2011

Media dan Politik di Indonesia

by via

Pada tahun 1918, Max Weber menjelaskan tentang konsep-konsep politik. Menurutnya, dalam konsep negara, politik adalah tentang mendapatkan dan kehilangan kekuasaan. Ia juga menambahkan bahwa politik berarti berusaha membagi kekuasaan dan berusaha mempengaruhi pembagian kekuasaan tersebut, baik kepada negara maupun kepada kelompok-kelompok yang ada didalamnya. Dalam konsep politiknya, weber menekankan aspek martabat politik dan ciri khas politik itu sendiri.

read more »

February 15th, 2011

Kellner: Perang Teori dan Studi Budaya

by via

Pada era 1960an terjadi perang sosial yang berkepanjangan dengan gerakan-gerakan sosial untuk membentuk budaya-budaya baru. Tahun 1960 juga merupakan era perang budaya diantara aliran liberal, konservatif, dan radikal untuk merekonstruksi sosial dan budaya berdasarkan agenda mereka. Dalam perkembangannya, perang sosial tersebut berlanjut dalam waktu yang lama.

Runtuhnya tembok berlin, jatuhnya kerajaan komunis Soviet, dan bubarnya Uni Soviet tadinya diduga akan mengakhiri masa masa sulit yang telah terjadi dalam sejarah. Namun kenyataannya, ternyata hal tersebut tidak juga membawa kestabilan dan kedamaian.  Yang terjadi adalah ledakan  perang nasional dan agama, dimana tidak ada kekuatan politik yang dapat menyelesaikannya.

Pasca Perang Dunia II terjadi polarisasi budaya, politik, dan ekonomi serta terjadi pembagian antara blok barat dan blok timur, sosialis komunis dan kapitalis liberalis. Polarisasi tersebut kemudian mendorong terjadinya perang teori dan ideologi diantara keduanya untuk menghegemoni negara-negara lain.

Peningkatan media massa pada tahun 1960an mendorong terjadinya kebebasan informasi, sehingga setiap orang dari belahan dunia manapun dapat mengakses informasi yang sama tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Akses informasi yang sangat tinggi mengakibatkan terjadinya fever, dimana masyarakat merasa bingung dan gagap melihat banyaknya teori dan informasi yang masuk. Dengan adanya ledakan teori tersebut, maka terjadilah perang teori (theory wars), dimana para teoritikus berusaha meyakinkan teorinya masing-masing bahwa teorinyalah yang paling relevan

Kemunculan teknologi baru pada akhir dekade secara langsung telah mengubah pola kehidupan masyarakat. Dengan adanya teknologi baru, banyak pekerjaan yang tergantikan, banyak tercipta lapangan kerja baru, serta adanya bentuk-bentuk komunikasi baru dan kemudahan pengaksesan infomasi.

Namun demikian, perlu kita sadari bahwa media baru dan teknologi sebenarnya memiliki efek yang kontradiktif dan ambigu. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai macam pilihan, kemungkinan otonomi budaya, dan kesempatan mengeksplorasi ide dan budaya yang lebih terbuka. Namun disisi lain, teknologi justru memungkinkan terjadinya pengawasan dan pengontrolan yang secara tidak langsung juga membatasi ruang gerak kita.

Media baru sebenarnya juga berjasa dalam membuat bentuk kontrol sosial baru yang lebih efisien, namun disisi lain juga dapat menyembunyikan praktek-praktek manipulasi dan indoktrinasi dengan lebih halus. Keberadaannya juga dapat melemahkan energi politik dan mengamankan masyarakat dari aksi politik massa.

Secara historis, budaya media merupakan budaya yang relatif masih baru. Setelah datangnya televisi pasca Perang Dunia II, budaya media menjadi kekuatan dominan dalam budaya, sosial, dan politik. Hal tersebut kemudian mendorong media massa lain untuk mengkolonialisasi masyarakat dan menjadi pusat dari sistem budaya dan komunikasi di Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya, seperti dijelaskanoleh Horkheimer dan Adorno (1972).

Perlu disadari, komersialisasi dan komodifikasi budaya memiliki beberapa konsekuensi penting. Pertama, adanya kepentingan ekonomi akan mendorong pemilik industri untuk memproduksi produk-produk populer dan menjual agar dapat menarik banyak massa. Dengan demikian akan terjadi produksi produk-produk media berstandar rendah yang tetap diterima masyarakat. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan, karena bertentangan dengan fungsi-fungsi media sebenarnya.

Saat ini budaya media merupakan budaya yang dominan. Budaya media telah menggantikan bentuk-bentuk high culture sebagai pusat atensi budaya yang berpengaruh terhadap banyak orang. Dalam hal literasi media, budaya oral dan visual juga telah menggantikan budaya buku yang berimplikasi terhadap tuntutan baru literasi media untuk menguasai media-media baru.

Budaya media telah menjadi kekuatan sosial yang kuat dengan media images dan unsur-unsur media yang menggantikan posisi institusi tradisional seperti keluarga sebagai juru nilai, rasa, dan pemikiran. Perubahan tersebut mengakibatkan munculnya model identifikasi baru dan merubah gaya hidup serta perilaku masyarakat.

Dalam tulisannya ini, Kellner menyebutkan banyak teori-teori yang berkaitan dengan studi budaya yang ia bahas. Teori-teori tersebut antara lain adalah teori post-modernisme, post-strukturialisme, marxisme, feminisme, positivisme, dan teori sosial. Selain itu Kellner juga banyak menyebutkan aliran-aliran masyarakat seperti aliran konservatif, radikal, dan lain-lain.

Kellner menekankan pentingnya teori dalam kehidupan seseorang. Ia menyebutkan, tidak ada persepsi yang dengan sempurna dapat melihat dan menginterpretasikan sesuatu, oleh karena itu kita harus melandasinya dengan asumsi-asumsi teoritis. Ia melihat bahwa teori merupakan alat untuk melihat dan mendiskusikan fenomena-fenomena, serta mencari solusi masalah. Teori juga dapat menjelaskan realitas sosial yang membantu seseorang untuk memahami dunia mereka.

Secara singkat, akan dijelaskan sedikit tentang teori-teori yang disebutkan Kellner dalam tulisannya:

  • Post-modernisme merupakan pengembangan dari modernisme, post-modernisme muncul karena modernisme dianggap tidak berhasil memperbaiki kehidupan manusia serta tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.
  • Post-strukturialisme membahas metode dan epistimologi budaya seperti diskursus bahasa dan simbol.
  • Marxisme merupakan perlawan terhadap paham kapitalisme yang membahas tentang konflik kaum borjuis dan kaum proletar.
  • Femisnisme merupakan sebuah gerakan yang memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
  • Positivisme merupakan teori yang menganggap sains sebagai alat untuk memahami semua fenomena yang terjadi di dunia.
  • Teori sosial memberikan gambaran besar yang memungkinkan seseorang untuk mengkonstektualisasikan pengalaman mereka dalam bidang sosial yang lebih luas.

Tulisan ini merupakan rangkuman Chapter 1: Theory Wars and Cultural Studies dalam buku Media Culture karya Douglas Kellner. Versi PDF dapat didownload disini.

February 12th, 2011

Publikasi Pulau Komodo Kurang Efektif

by via

Promosi Pulau Komodo telah dilakukan bertahun-tahun dan telah mengahabiskan dana milyaran rupiah. Namun sayangnya, hingga kini Pulau Komodo masih belum begitu dikenal dan peringkatnya di New7wonderspun belum memuaskan. Hal ini tentunya patut dipertanyakan, kemana saja dana milyaran rupiah yang habis untuk mempromosikan aset negara ini? Saya tidak bermaksud berspekulasi atau membuat isu korupsi disini. Hanya saya kira, sepertinya pemerintah khususnya Depbudpar kurang memiliki strategis yang bagus dalam melaksanakan program promosi ini.
read more »

Tags:
February 3rd, 2011

Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi

by via

Teknologi komunikasi telah dimulai sejak zaman dahulu. Mulai dari diciptakannya mesin cetak, pesawat telepon, hingga internet. Teknologi tersebut terus dikembangkan oleh para ilmuwan dan akan terus terjadi inovasi-inovasi baru. Teknologi komunikasi bukan hanya memberikan dampak di bidang ilmu pengetahuan, tapi juga di bidang komunikasi. Berikut ini sejarah dan dampak-dampak yang ditimbulkan sejak ditemukannya mesin cetak hingga internet.

read more »

January 14th, 2011

Media Massa: Film

by via

Industri film adalah industri yang tidak ada habisnya. Sebagai media massa, film digunakan sebagai media yang merefleksikan realitas, atau bahkan membentuk realitas. Cerita yang ditayangkan lewat film dapat berbentuk fiksi atau non fiksi. Lewat film, informasi dapat dikonsumsi dengan lebih mendalam karena film adalah media audio visual. Media ini banyak digemari banyak orang karena dapat dijadikan sebagai hiburan dan penyalur hobi.

read more »