Perempuan bukan untuk dilecehkan di televisi – Remotivi
Remotivi saat ini sedang melakukan advokasi menolak penayangan program acara “Kakek-Kakek Narsis” yang disiarkan Trans TV. Mungkin banyak orang yang heran, kenapa perlu ditolak? Bukankah acara ini ditayangkan setiap tengah malam dan memang merupakan acara khusus dewasa? Eiiitt, tunggu dulu. Meskipun program “Kakek-Kakek Narsis” ini ditayangkan tengah malam, bukan berarti urusan selesai. Sebagai khalayak, tentu kita perlu kritis dalam mengonsumsi tayangan-tayangan yang disiarkan televisi. Tayangan “Kakek-Kakek Narsis” tidak cukup hanya dipandang sebagai “program dewasa”, melainkan didalamnya juga terdapat masalah-masalah lain yang jauh lebih besar: PELECEHAN PEREMPUAN
Remotivi melakukan kajian dan analisis terhadap tayangan ini untuk melihat masalah apa saja yang terjadi didalamnya. Hasilnya, saya pun agak terkejut. Ternyata tayangan “Kakek-Kakek Narsis” bukan hanya berdosa atas pelecehan perempuan, namun juga atas hal-hal lain. Menurut Remotivi, ada 6 hal yang menjadi masalah terbesar dalam tayangan ini:
Objektivikasi Tubuh Perempuan
Tayangan KKN kami lihat merupakan tayangan yang dibangun dengan konsep relasi gender yang tidak setara. Meski memberi kesempatan pada banyak perempuan untuk menjadi bintang tamu, namun pada praktiknya tayangan ini bukan menghadirkan kualitas perempuan, malah justru menjadi etalase untuk memajang tubuh perempuan. Perempuan berpenampilan seksi (kami yakin ini bagian dari konsep tayangan) dijadikan sebagai bintang tamu, namun perempuan tidak banyak diberi kesempatan untuk berbicara. Sebaliknya, tiga pembawa acara yang kesemuanya lelaki menjadi komentator atas tubuh dan hobi para perempuan (tayangan ini banyak menjadikan hobi sebagai bahan diskusi). Sehingga yang terjadi adalah, perempuan dibicarakan dan lelaki sebagai pembicara.
Stereotip Perempuan
Pemosisian perempuan sebagai objek dalam tayangan ini, pada akhirnya berpotensi membangun sterotip negatif mengenai perempuan, atau pun menebalkan pandangan keliru yang sudah ada dalam masyarakat. Kegagalan tayangan ini untuk menghadirkan kualitas perempuan dengan utuh, dan mereduksinya menjadi sekadar tubuh, berpotensi membangun atau pun menebalkan stereotip perempuan sebagai objek seksual.
Kekerasan verbal
Pilihan kata dan penggunaan psiko-bahasa dalam tayangan ini kerap kali mengandung kekerasan terhadap perempuan. Sulit memang menemukannya satu per satu. Kekerasan verbal luput dari perhatian karena bersembunyi dalam humor atau pun bahkan pujian. Dalam tayangan ini bertebaran berbagai bentuk kekerasan dalam bahasa yang datang dari paradigma yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Salah satu contohnya adalah, pertanyaan pembawa acara yang pernah diajukan kepada bintang tamu perempuan, “Apa kesibukanmu selain cantik?”. Pertanyaan semacam ini tentu saja datang dari anggapan bahwa apa yang terpenting dari perempuan hanyalah menjadi cantik. Kegiatan utama perempuan adalah mempercantik diri, sehingga bila ada perempuan memiliki hobi di luar berdandan, ia akan menjadi nilai lebih untuk dibicarakan. Logika tersebut menggiring persepsi bahwa perempuan tak punya pendapat atau aktivitas lain yang sederajat dengan laki-laki, misalnya intelektualitasnya.
Iklan anak
KKN dengan segala masalahnya tersebut ternyata dimaksudkan juga untuk menjadi tayangan bagi anak dan remaja. Ini terjadi ketika KKN ditayangkan Pk. 23.00 WIB (sekarang dipindah menjadi Pk. 24.00 WIB). Hal ini dapat diindikasikan melalui beberapa iklan produk anak yang juga ikut mensponsori acara ini. Mereka yang bertanggung jawab terhadap penempatan iklan tersebut tentu saja telah memperhitungkan adanya potensi penonton anak. Bagi kami ini tentu mengkhawatirkan karena anak-anak akan tumbuh besar dengan kepala mereka yang penuh oleh cara pandang yang salah terhadap perempuan. Fakta ini harusnya menjadi perhatian KPI sebagai regulator, untuk melindungi publik anak dari program yang tidak ramah anak dan perempuan.
Subordinasi perempuan
Pelbagai hal yang telah kami uraikan di atas merupakan poin-poin yang muaranya ada pada persoalan subordinasi perempuan. Tayangan ini beroperasi dengan berbagai logika yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Kemasan tayangan yang seolah menunjukkan bentuk kemerdekaan ekspresi perempuan (pakaian, hobi, dan pekerjaan) yang tidak lagi terkungkung dalam ranah domestik, rupayanya tidak juga membebaskan perempuan dari rantai objektivikasi dan komodifikasi. Kehadiran perempuan dalam ruang publik masih juga ditempatkan dalam kerangka sebagai objek, tidak bedanya makanan dalam acara kuliner, atau pun museum dalam program wisata.
Kontraproduktif terhadap upaya kesetaraan
Pada akhirnya, kami menilai tayangan ini kontraproduktif terhadap upaya yang tengah dilakukan berbagai lapisan masyarakat untuk membangun relasi gender yang lebih adil. Bukannya mempertipis tembok budaya yang mengekang perempuan, representasi perempuan yang dihadirkannya justru mempertebal dan mereproduksi budaya yang mendiskriminasi perempuan.
Alasan-alasan diatas jugalah yang mendorong banyak NGO, Komunitas, dan institusi lain untuk bergabung dalam gerakan ini. Saat ini setidaknya terdapat 30 lembaga dari 13 provinsi di Indonesia (salah satunya Aliansi Remaja Independen) yang mendukung penghentian terhadap program “Kakek-Kakek Narsis” ini. Dukungan ini tentu saja bukan semata dilakukan untuk membela kaum perempuan, namun juga atas niat dan semangat untuk memperjuangkan hak publik mendapatkan informasi yang baik dan layak dari ranah yang mereka miliki sendiri.
Saat ini serangkaian kegiatan advokasi telah dilakukan: berita di media-media massa telah disebar, aksi menggalang kekuatan bersama telah dilakukan, acara diskusi dan konferensi pun telah digelar. Namun hal itu tentu masih tidak cukup untuk menumbangkan kekuatan kapitalisme media yang sebegitu besarnya. Jadi, kamipun sangat membutuhkan bantuan kalian untuk turut mendukung kegiatan ini. Dukungan dapat diberikan dengan mengadukan “Kakek-Kakek” Narsis pada KPI melalui situsnya (kpi.go.id), telepon (021-6340626), dan SMS (0812-13070000).
Sekecil apapun dukungan kalian, akan sangat membantu untuk gerakan ini. STOP TAYANGAN YANG MELECEHKAN PEREMPUAN!















