Posts tagged ‘Komunikasi’

March 15th, 2011

Media Massa dan Demokrasi

by via

Sistem pemerintahan demokrasi seringkali diagung-agungkan karena ideologinya yang menempatkan publik sebagai prioritas. Ideologi demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” menjadi jargon yang seakan-akan memperlihatkan kekuasaan publik dalam mengatur pemerintahan. Dalam demokrasi ini, media massa atau jurnalisme memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan sistem demokrasi. Bahkan jurnalisme juga dianggap sebagai pilar keempat demokrasi.

Media dan demokrasi merupakan hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya telah melewati sejarah yang panjang dan saling berkesinambungan satu sama lain sejak zaman feodal hingga saat ini. Media massa tanpa adanya demokrasi akan mengalami kemandegan, karena media massa dapat bersuara manakala difasilitasi oleh sistem demokrasi. Begitu juga sebaliknya, demokrasi akan terlihat sinarnya manakala difasilitasi oleh media massa.

Demokrasi baru dapat dikatakan berhasil ketika masyarakat well informed dalam memberikan aspirasi politiknya. Artinya, masyarakat harus memiliki informasi yang cukup  dalam menentukan keputusan politiknya dan bukan hanya asal pilih. Disinilah media massa berperan, yakni untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk membantu mereka menentukan pilihannya. Media massa bertanggung jawab memberikan informasi tentang para kandidat dari sisi yang paling objektif sehingga akan menyehatkan persaingan politik di pemerintahan.

Edmund Burke menyebut media massa sebagai pilar keempat demokrasi. Karena itu, media massa bertanggung jawab sebagai pengawas dan pengontrol para pemegang kekuasaan seperti pemerintah, para pemilik modal, dan institusi-institusi lain yang sekiranya berpotensi mempengaruhi masyarakat. Fungsi media massa tersebut seharusnya juga dapat meningkatkan kewaspadaan institusi-institusi tersebut dalam melakukan aktivitasnya, karena apa yang dilihat media juga akan dilihat masyarakat.

Media massa menjadi sangat penting dalam demokrasi karena media massa diharapkan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah serta meningkatkan aspirasi politik masyarakat. Oleh karenanya, beberapa media massa menyiapkan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat seperti melalui surat pembaca. Hal ini juga menjadi semakin dimudahkan dengan perkembangan teknologi seperti internet yang makin memudahkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi politik. Namun masalahnya adalah, apakah sistem tersebut memang benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung demokrasi?aspirasi tesebut di-follow up oleh media?atau malah hanya sebagai formalitas dan dijadikan sampah? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pengelola media dalam perannya sebagai pilar keempat demokrasi.

Media massa memang berperan sebagai “marketplace of ideas”, yakni sebagai wadah aspirasi tiap orang sehingga mereka dapat berbicara dan berdebat melalui media massa. Namun hal ini juga perlu dipertanyakan keefektifannya, karena ditakutkan kebenaran yang terekonstruksi malah berdasarkan siapa yang dapat menyampaikan pandangannya dengan paling baik. Hal itu tentunya akan merugikan orang lain dan berpotensi menyisihkan kebenaran yang sebenarnya.

Berdasarkan hal tersebut, media juga seharusnya memanfaatkan kapasitasnya sebagai advokat dan partisipan sistem masyarakat dan pemerintahan. Disini, media massa tidak hanya menjadi alat pasif yang menjadi mediator komunikasi diantara berbagai pihak?pemerintah, politisi, dan masyarakat, melainkan juga  memiliki kapasitas untuk memberikan pandangannya. Baik pandangan yang mendukung kelompok-kelompok tertentu, maupun tidak. Disini, media diperlakukan seperti masyarakat yang juga berhak menyampaikan aspirasi politik.

Secara ringkas, media massa atau jurnalisme dalam demokrasi memiliki tiga peran, yaitu (1) jurnalisme sebagai sumber informasi, (2) jurnalisme sebagai watchdog dan pilar keempat demokrasi, (3) jurnalisme sebagai mediator, (4) jurnalisme sebagai advokat. Keempat peran jurnalisme tersebut merupakan tanggung jawab para pengelola media yang harus dipenuhi dalam sistem pemerintahan demokrasi.

Empat peran jurnalisme diatas memperlihatkan betapa dalam demokrasi media massa terlihat sangat baik dan independen. Namun apakah memang benar seperti itu? Pada kenyataannya, bagaimanapun media massa tidak akan pernah independen. Bagaimanapun, media massa adalah sebuah industri yang memiliki kepentingan ekonomi serta membutuhkan subsidi dana yang besar, sehingga media massa pasti akan selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang menguasainya.

Sama dengan industri-industri lainnya, media massa memiliki kepentingan ekonomi dan kompetisi media yang sangat kuat sehingga membuat media selalu berusaha agar informasinya dapat menarik banyak massa. Hal inilah yang kemudian menimbulkan hyperadversarialism, dimana para jurnalis menjadi agresif dalam mengkritisi pemerintah agar mendapatkan berita yang kontroversial sehingga dapat menarik perhatian publik. Pada akhirnya, media massa tidak lagi mencari kebenaran realitas, melainkan jadi berlomba-lomba membuat spekulasi agar beritanya lebih menarik. Hyperadversarialism ini juga menempatkan berita politik seperti infotainment, karena selalu mengambil sisi dramatisasi dan konfrontasi politik yang terjadi. Alih-alih mendukung demokrasi, hal itu sebenarnya hanya digunakan media massa untuk kepentingan ekonomi.

Kebebasan pers dalam demokrasi juga sebenarnya patut  dipertanyakan. Apakah pers atau media massa memang benar-benar bebas dari tekanan kelompok-kelompok tertentu atau malah sebenarnya ditekan tapi sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang kemudian juga menjadi olok-olok kritik marxian yang menyebut kebebasan pers sebagai ideological hoax, dimana sebenarnya pers atau media massa bagaimanapun tidak akan pernah terbebas dari penguasaan kaum borjuis. Kebebasan pers tersebut hanya dijadikan topeng untuk melakukan hegemoni dan mendukung industri medianya

Poin terpenting yang perlu dipahami adalah tidak akan pernah ada negara yang dapat mengaplikasikan demokrasi secara utuh, karena demokrasi sendiri bukan semata-mata lahir dari gerakan masyarakat melainkan juga didorong oleh elit-elit politik yang ada dibelakangnya. Dengan demikian, demokrasi tidak akan pernah berjalan sempurna, pasti akan selalu ada intervensi kelompok-kelompok tertentu yang mempengaruhinya. Begitu pula dengan media. Bagaimanapun media tidak akan pernah independen dan netral seutuhnya, media pasti akan selalu dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, baik kepentingan politik maupun ekonomi.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari buku Kevin T Leicht, “Handbook of Politics” chapter 24: Democracy and Democratization, buku Katrin Voltmer, “Mass Media and Political Communication in New Democracies”, dan buku Karin Wahl Jorgensen, “Handbook of Journalism Studies” part 17: Journalism and Democracies.. Versi PDF dapat didownload disini.

February 4th, 2011

Karakteristik Manusia Komunikan

by via

Seperti dalam tulisan sebelumnya, psikologi dan komunikasi adalah dua bidang ilmu yang memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Djalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa sebagai komunikan, manusia memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut dijelaskan dalam konsepsi psikologi tentang manusia, yaitu konsepsi psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Berikut ini hasil review saya tentang karakteristik manusia komunikan dari buku Psikologi Komunikasi karya Djalaludin Rakhmat.

Download: Lutviah-Karakteristik Manusia Komunikan

January 14th, 2011

Media Massa: Majalah

by via

Sebagai salah satu media cetak, majalah memiliki perannya sendiri sebagai media massa. Dibeberapa sisi majalah memang memiliki karakteristik yang agak sama dengan koran. Namun begitu, majalah tetap memiliki ciri khas yang membedakan ia dengan media massa lainnya. Sejak ditemukan pada tahun 1741, majalah telah melakukan berbagai perkembangan baik dari sisi teknologi maupun dari sisi konten. Hal inilah yang kemudian membuat media ini tetap bertahan ditengah perkembangan teknologi dan industri media saat ini.
read more »

January 14th, 2011

Media Massa: Televisi

by via

Hingga saat ini televisi masih menjadi “juara bertahan” sebagai media massa yang paling banyak digunakan, khususnya di Indonesia. Pemakaian televisi sudah menjadi budaya dan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Tak heran, meskipun saat ini program-program televisi sudah tidak menarik lagi, eksistensi media ini tetap bertahan. Sebagai salah satu “sesepuh” media massa, televisi masih tetap tetap eksis dan tidak kehilangan penonton setianya.
read more »

January 14th, 2011

Media Massa: Radio

by via

Seiring dengan perkembangan teknologi dan media massa, radio masih menunjukkan eksistensinya. Meskipun keberadaannya sudah mulai tergeser oleh media lain seperti televisi dan internet, hingga saat ini industri radio masih terus tumbuh dan masih memiliki pendengar setia. Hal ini tentunya cukup membanggakan, mengingat usia radio yang sudah sangat tua sejak ditemukan pada tahun 1899.

read more »

January 5th, 2011

Sistem Komunikasi Intrapersonal

by via

Kebanyakan orang beranggapan bahwa proses komunikasi hanya bisa terjadi antarpersona atau lebih dari satu orang. Padahal kenyataannya, ternyata kita sebagai manusia tidak hanya melakukan komunikasi interpersonal namun juga komunikasi intrapersonal. Djalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa sistem komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Beliau juga menjelaskan bagaimana sistem-sistem tersebut bekerja dan mempengaruhi seseorang. Berikut ini hasil review saya tentang Sistem Komunikasi Intrapersonal karya Djalaludin Rakhmat.

Download: Lutviah-Sistem Komunikasi Intrapersonal

January 2nd, 2011

Psikologi dan Komunikasi

by via

Psikologi dan komunikasi sebenarnya merupakan dua kajian ilmu yang berbeda. Psikologi mempelajari tentang karakteristik dan kejiwaan manusia, sedangkan komunikasi mempelajari proses penyampaian informasi antar manusia. Baik mahasiswa psikologi maupun komunikasi pasti mendapatkan mata kuliah psikologi komunikasi, terutama pada semester-semester awal. Ada hubungan apa diantara psikologi dan komunikasi? Mengapa kedua ilmu tersebut selalu dikaitkan? Ikuti terus tulisan ini ;) read more »

August 11th, 2010

Jangan Mau Terkena Spiral of Silent

by via

Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata.

read more »

July 11th, 2010

Komunikasi Bukan Sekedar Kata-kata

by via

Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan menyampaikan pesan-pesan tertentu. Gak percaya? Ikuti terus tulisan ini ;)

read more »

June 11th, 2010

Persepsi = Inti Komunikasi

by via

Bagi kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat “Perception is the core of communication” atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku untuk dapat memahami makna dan manfaat persepsi dalam komunikasi. Ada apa dengan persepsi? Sepenting apakah itu sampai disebut sebagai inti komunikasi? Ikuti terus tulisan ini ;)

read more »