Sukses Pidato dengan 3 V

Setelah hampir 4 tahun berkelana dalam dunia pidato sekolah, aku masih belum mengerti betul tentang kiat-kiat khusus dalam berpidato. Akhirnya sembari blog walking kesana kesini, aku menemukan sebuah artikel dalam blog Pak Ronny tentang kiat-kiat sukses dalam marketing. Salah satunya adalah mengenai 3 V, yaitu Verbal, Vokal dan Visual. Meski pembahasannya tentang kiat-kiat dalam pemasaran, tapi tips-tips ini juga sangat bermanfaat bagi speaker-speaker pemula seperti kita ;) .

Verbal atau pemilihan kata merupakan hal penting yang menentukan kesuksesan pidato seseorang. Tentunya sebelum berpidato, kita telah mempertimbangkan hal apa saja yang akan disampaikan, dimana kita akan berpidato, dan dihadapan siapa saja. Misalnya kita berpidato dalam acara perpisahan sekolah, tentu kata-katanya pun akan jauh berbeda dengan pidato dalam acara ulang tahun. Kita harus dapat memilih dan memilah dengan baik terhadap apa yang akan kita sampaikan.

(more…)

Debat Parlemen Australasia

Bagi kamu yang pernah mengenal debat khususnya di SMK, pasti sudah sering mendengar jenis format debat yang satu ini. Dari tahun ke tahun, dalam kompetisi debat di LKS (Lomba Kompetisi Siswa) selalu menggunakan format debat ini. Sebenarnya sih, terdapat beberapa jenis format debat, seperti american style, british, dan lain-lain. Tetapi selama berkeliaran di dunia perdebatan sekolah, format debat inilah yang peling sering aku gunakan ;) .  Sistem atau format debat ini sendiri diadopsi dari format debat yang ada di Parlemen Australia.

Dalam format debat australasia terdapat 2 pihak yang saling mendebat, yaitu Tim Afirmatif (Pihak Pemerintah) dan Tim Negatif (Pihak Oposisi). Masing-masing tim berusaha meyakinkan Dewan Juri (Parlemen) dengan menyampaikan argumentasinya dengan jelas, tegas, dan culas ;) . Seperti terdapat dalam tulisanku sebelumnya, bahwa banyak hal yang dapat kita lakukan untuk meyakinkan dewan juri. Tak perlu dengan nada yang cepat atau suara yang seperti kilat, cukup dengan penyampaian argumentasi yang jelas dan nada suara yang pas, kita sudah bisa memenangkan hati juri. Dengan catatan, materi atau argumentasi yang kita sampaikan berbobot dengan fakta yang tidak asal comot ;) .

(more…)

Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu

Aku benar-benar menangis. Setelah terpana dengan buku “Aku terlahir 500 gr dan Buta” karya Miyuki Inoue, hari ini aku membaca buku karangan ibunya yang menceritakan perjuangan hidupnya dalam membesarkan dan mendidik Miyuki. “Hiduplah anakku, Ibu mendampingimu” adalah buku yang menjawab semua kisah yang Miyuki ceritakan dalam bukunya terdahulu. Jika di buku Miyuki kita menyaksikan lika liku kehidupannya  yang penuh perjuangan untuk bisa tetap hidup, maka di buku ini kita menyaksikan bagaimana kasih sayang tulus mengalir dari seorang ibu, baik dalam bentuk pelukan, ciuman, maupun omelan. Kedua buku itu memperlihatkan kolaborasi indah antara kasih sayang seorang ibu dan anaknya.

Perjalanan Rangkasbitung- Jakarta benar-benar tak terasa dengan membaca halaman demi halaman buku ini. Tak terasa, aku sering kali menangis, tertawa, dan merenung ketika membacanya. Tanpa kusadari, ternyata banyak yang memperhatikan ;) mungkin mereka aneh karena aku menangis, tertawa, lalu senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan mereka menyangka aku gila, amnesia, atau insomnia ;) . Ah, tapi aku tak peduli, yang penting buku ini harus selesai kubaca, harus ada sesuatu yang aku dapat, dan akan aku tulis disini.

(more…)

Speech…Siapa takut?

ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan ;) , tetapi modal yang harus kita persiapkan pertama kali adalah mental kita sendiri. Dalam hal public speaking, yang harus kita taklukan bukanlah materi yang kita sampaikan, melainkan para audience supaya tertarik dengan pidato kita. Jangan sampai gugup, takut, apalagi ribut ketika berbicara di depan, anggaplah kita sedang bercerita, berdiskusi dan saling berbagi inspirasi ;)

(more…)

Debate Skill Untuk Pemula

Bergelut di dunia perdebatan membuat aku memiliki keberanian lebih dalam hal public speaking. Sudah 2 tahun lebih semenjak aku memasuki dunia SMA aku dikenalkan dengan “English Debating Championship” di berbagai ajang lomba. Bagiku debat adalah suatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Karena itu, ditulisan ini akan aku share beberapa pengalamanku dan rahasia-rahasia suksesku dalam berdebat-debat ria ;) .

Debat adalah kegiatan adu argumentasi, adu suara, dan adu kemampuan berbicara. Pada debat-debat kompetitif biasanya sudah disediakan peraturan-peraturan bagi para pesertanya. Bagaimana menyampaikan argumentasi, mematahkan argumentasi lawan, struktur perdebatan dan tema yang akan dibahas. Jadi, kita tidak asal bicara atau berdebat seenaknya. Semua aspek yang kita tunjukan ketika debat berlangsung dinilai sepenuhnya oleh dewan juri. Jika kita melontarkan kata-kata kasar atau menghujat maka bersiap-siaplah mendapat potongan nilai dari sang dewan juri ;) . Biasanya nilai yang akan dikurangi adalah nilai manner. Makanya, berbicaralah dengan sesopan dan setegas mungkin tanpa mencaci atau memaki apalagi memutilasi :) .

(more…)

Mengikat Makna

Membaca bagi sebagian orang mungkin adalah sesuatu yang membosankan dan menjemukan. Sama dengan fikiranku sebelum membaca buku ini, “Mengikat Makna” buah karya penulis terkenal Hernowo. Buku ini secara langsung menyadarkan kita akan makna membaca. Tak hanya itu, Hernowo juga mengajarkan kita untuk mengikat ilmu yang kita dapat dengan menuliskannya. Sebuah kolaborasi yang tidak pernah aku fikirkan sebelumnya. Membaca dan menulis yang mungkin bagi sebagian orang apalagi pelajar mungkin adalah suatu hal yang biasa. Membuat karangan, membaca buku pelajaran, membaca novel atau teenlit, berlalu begitu saja tanpa manfaat yang dapat kita raih. Buku bagi sebagian orang hanyalah sebuah bacaan yang monoton dan tidak mengandung makna. Begitu juga bagiku, bahkan aku pernah berfikir, daripada membeli sebuah buku dan membacanya, lebih baik dipake shopping (biasalah anak muda ;) ) Tapi buku ini sekali lagi meruntuhkan semua pendapat itu.

(more…)

Jurus Untuk Jadi Cewek Kredibel

Semua orang pasti pernah berbicara, diskusi tentang pelajaran sekolah, mengobrol dengan keluarga, atau bergosip-gosip ria bersama teman-teman.Tapi apakah pembicaraan kita bermanfaat untuk orang lain? Sudahkah lidah kita ini kita pergunakan dengan baik? Untuk saling menasihati, berdiskusi, berkata hal-hal yang baik, atau hanya sekedar bergosip seperti wanita-wanita pada umumnya? ;) Maaf, aku tidak bermaksud menjudge bahwa wanita adalah si tukang gosip (aku juga ngerasa kesindir donk, aku kan juga cewek;) ). Tapi memang pada kenyataannya, wanita lebih banyak bicara daripada kaum pria. Dalam sehari, wanita bisa berbicara lebih dari 20.000 kata, 13.000 lebih banyak daripada pria. Tapi mengapa justru lelaki yang lebih mendominasi pasar kerja? sebagai komunikator misalnya. Padahal, jika wanita lebih meningkatkan kecerdasan berbicaranya, tentu wanita akan lebih expert daripada lelaki. Karena, wanita menggunakan lebih banyak sel otak untuk bicara daripada pria. Bahkan, menurut Dr. Brizendine, wanita memiliki 8 jalur “jalan raya” super untuk memproses emosi, sedangkan pria hanya mempunyai sebuah “jalan kecil”, sehingga pria lebih tertinggal dalam berhubungan dengan emosi daripada wanita. Karena itu, percayalah bahwa wanita memiliki potensi yang besar untuk menjadi pembicara yang sukses.

(more…)

Mengkritisi Budaya Belajar Kita

Artikel ini aku tulis setelah berdiskusi dengan beberapa rekan kantorku di tempat aku magang. Tadinya sih, kami hanya saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ketika di sekolah.

Tapi lama-lama, diskusi kami berlanjut tentang cara belajar dan diajar kami ketika menimba ilmu selama bertahun-tahun di bangku sekolah.Tulisan ini aku buat bukan semata-mata karena cara belajarku sudah bagus dan patut diteladani. Sama sekali bukan. Tulisan ini hanya sebagai bukti kesadaranku bahwa proses belajar yang sudah 11 tahun aku jalani ini sering kali sia-sia.

(more…)

Aku Terlahir 500 Gr dan Buta

Miyuki Inoue. Seorang gadis jepang yang tidak beruntung. Ia buta, cacat, dan tidak mempunyai keluarga yang lengkap. Ia bersama ibunya Michiyo Inoue, berjuang mengarungi hidup yang begitu sulit dan penuh cobaan. Hingga akhirnya mereka dapat memetik hasil dari kerja kerasnya selama ini.

Ketika membaca buku ini, kadang aku berfikir, apakah benar ini kisah nyata? Apakah benar ada ibu yang setegar ini? Apakah mungkin ada anak cacat sesemangat ini? Tapi ini benar-benar kisah nyata, sebuah kehidupan di negeri Jepang, Provinsi Fukuoka.

Aku benar-benar terhanyut ketika membacanya. Kadang aku tertawa, kaget, bahkan menagis ketika halaman demi halaman selesai aku baca. Bahasa buku ini begitu ringan, mirip sebuah buku harian. Rasanya seperti membaca curhat (curahan hati) dari seseorang. Kita dipaksa untuk mendengarkan, dan merasakan apa yang dialami oleh penulis saat itu.

Di halaman pertama buku ini, kita akan menemukan beberapa dokumentasi kehidupan Miyuki semasa kecil hingga dewasa. Sesuatu yang jarang dilihat pada buku-buku pada umumnya. Kita diajak untuk mengenal dan mengetahui terlebih dahulu seperti apa sosok Miyuki Inoue sebenarnya.

(more…)

Bismillah, ini tentang Cinta

Ini adalah novel paling tebal yang pernah aku baca. Jumlah halamannya sekitar 455 halaman. Namun begitu, novel ini sama sekali tidak membuat para pembacanya jenuh untuk membaca halaman demi halaman cerita dalam novel ini. Bahkan membuat aku penasaran dan sulit berhenti, kecuali jika ada hal yang penting.

Novel ini bercerita tentang seorang murid SMA bernama Haydar beserta 2 orang gadis yang kemudian menjadi takdirnya, Salma dan Lexa. Sebuah cinta segitiga yang dialami anak-anak remaja namun berakhir dengan indah.

Jika kita membaca sekilas alur cerintanya, pasti kita akan berfikir bahwa novel ini mirip dengan novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy. Tapi tidak sepenuhnya. Karena ketika membacanya kita akan menemukan banyak hal yang berbeda. Kita tidak akan menemukan sosok seperti Fahri yang sangat sempurna dan sangat taat. Melainkan sosok Haydar Ali Said seorang anak SMA yang masih nakal, anak band, humoris namun tetap religius. Kemiripan akan kita temukan pada sosok pemeran wanita, Lexa dan Salma. Salma mirip denga sosok Aisha, dan Lexa mirip dengan Maria. Namun tetap saja ada hal yang berbeda, Misalnya latar belakang Lexa yang berasal dari keluarga yang berantakan. Perbedaan lain juga kita temukan pada setting cerita yang bertempat di Kota Semarang, berbeda dengan novel Ayat-ayat Cinta yang bernafaskan timur tengah.

(more…)