<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 04:28:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Menelusuri Kreativitas Belanda di Indonesia</title>
		<link>http://lutviah.net/2012/05/13/menelusuri-kreativitas-belanda-di-indonesia/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2012/05/13/menelusuri-kreativitas-belanda-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 03:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetiblog]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Belanda berhasil masuk dalam jajaran 10 besar negara paling kreatif di dunia berdasarkan studi Martin Prosperity Institute tahun 2011[1]. Gak heran kan? Tengok saja warisan-warisan kreatifnya yang tersebar di nusantara. Jejak-jejak kreativitas Belanda dapat kita temukan pada bangunan, jalur transportasi, karya sastra, hingga kuliner. Bahkan hingga kini, peninggalan-peninggalan tersebut masih bisa dinikmati oleh masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/05/peninggalan-belanda1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-513" title="peninggalan belanda" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/05/peninggalan-belanda1.jpg" alt="" width="834" height="134" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Belanda berhasil masuk dalam jajaran 10 besar negara paling kreatif di dunia berdasarkan studi Martin Prosperity Institute tahun 2011<a href="#_ftn1">[1]</a></strong>. Gak heran kan? Tengok saja warisan-warisan kreatifnya yang tersebar di nusantara. Jejak-jejak kreativitas Belanda dapat kita temukan pada bangunan, jalur transportasi, karya sastra, hingga kuliner. Bahkan hingga kini, peninggalan-peninggalan tersebut masih bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia.</p>
<p>Gedung Sate di Bandung Jawa Barat contohnya. Gedung yang dulunya dikenal dengan nama <em>Gouvernements Bedrijven</em> (GB) ini dibangun oleh arsitek muda dari Belanda, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks, pada tahun 1924<a href="#_ftn2">[2]</a>. Gedung ini juga disebut sebagai <em>icon </em>kota Bandung karena bentuk ‘tusuk sate’nya yang unik dengan gaya arsitektur Indo-eropanya yang menarik. Selain Gedung Sate, masih banyak bangunan peninggalan Belanda lain yang hingga kini masih digunakan. Awetnya bangunan-bangunan tersebut membuktikan bahwa <strong>Belanda tak hanya mampu membuat arsitektur yang baik namun juga berkualitas tinggi.</strong></p>
<p>Selain bangunan, kreativitas Belanda di bidang transportasi juga menarik untuk ditelusuri. Sebut saja jalan raya Anyer-Panarukan sejauh 1000 Km yang dibangun Herman Willem Daendels pada tahun 1809-1810<a href="#_ftn3">[3]</a>. Hingga kini jalur tersebut masih digunakan oleh banyak orang bahkan sangat ramai saat menjelang hari lebaran. Selain itu, jalur kereta api yang membentang di seluruh Jawa dan Sumatera juga merupakan warisan Belanda yang kini telah diakuisi oleh PT Kereta Api Indonesia<a href="#_ftn4">[4]</a>. Meskipun jalur-jalur tersebut dibangun dengan keringat bangsa pribumi, ide Belanda untuk membangun jalur transportasi di Indonesia perlu diacungi jempol. Saat itu <strong>Belanda telah memulai pembangunan sarana transportasi meski dengan keterbatasan teknologi.</strong></p>
<p>Warisan kreativitas Belanda di Indonesia tak sampai disitu. Para penikmat sastra dan sejarah pasti tahu dengan novel ‘Max Havelaar’, sebuah karya monumental dari Eduard Douwes Dekker atau dikenal dengan sebutan Multatuli. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa dan ketidakadilan yang dilakukan para pejabat Indonesia dan Belanda di Lebak, Banten<a href="#_ftn5">[5]</a><em>. </em>Max Havelaar berisi pesan-pesan kemanusiaan yang tinggi sehingga diakui sebagai karya sastra dunia. Lebih dari itu, novel ini juga diapresiasi di Indonesia. Jauh di Desa Sobang Kabupaten Lebak, tepatnya di Kampung Ciseel, sebuah taman baca yang khusus membahas Max Havelaar bahkan didirikan dengan nama “Taman Baca Multatuli”<a href="#_ftn6">[6]</a>. Terbukti dalam karya sastra sekalipun, <strong>Belanda tidak hanya piawai dalam merangkai kata namun juga memuat pesan khusus yang mampu menggetarkan hati para pembacanya.</strong></p>
<p>Hal kecilpun tak luput dari kreativitas Belanda. Siapa sangka, <strong>banyak kuliner warisan Belanda yang dinikmati di Indonesia.</strong> Mulai dari lapis legit, <em>kaastengels</em>, hingga perkedel yang sering kita konsumsi sehari-hari. Perkedel atau dalam bahasa belanda disebut <em>Fracadel </em>ini sering disantap oleh para <em>meneer </em>Belanda pada masa kolonial<a href="#_ftn7">[7]</a>. Saat ini makanan tersebut bahkan bisa kita temui di warung-warung makan, atau dijadikan santapan di rumah.</p>
<p>Menelusuri kreativitas Belanda di Indonesia tentu tidak ada habisnya, mengingat Belanda dan Indonesia memiliki kedekatan selama ratusan tahun. Namun sekiranya pantaslah jika Belanda kita sebut sebagai <strong>“Bangsa Kreatif”</strong> atas semua peninggalannya di Indonesia. Terbukti, sejak dulu Belanda mampu menciptakan produk yang kreatif, berkualitas, sekaligus bermanfaat bagi banyak orang. Bangsa Belanda telah membuktikan bahwa dengan seluruh kreativitas yang dimiliki, mereka berhasil menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> http://www.businessinsider.com/most-creative-countries-in-the-world-2011-10#10-netherlands-7</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> http://dieka2501.web.id/2010/04/09/belanda-si-tukang-bangunan/</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> http://serbasejarah.blogspot.com/2011/07/sejarah-pembangunan-jalan-anyer-dan.html</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> http://www.ceritanet.com/142kereta.html</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> http://historia.co.id/?d=929</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> http://readingmultatuli.blogspot.com/p/tentang-kami.html</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> http://bandungfoodgallery.blogspot.com/2011/02/makanan-warisan-belanda.html</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2012/05/13/menelusuri-kreativitas-belanda-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hentikan Program Kakek-Kakek Narsis!</title>
		<link>http://lutviah.net/2012/04/29/hentikan-program-kakek-kakek-narsis/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2012/04/29/hentikan-program-kakek-kakek-narsis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 14:49:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Advokasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[pelecehan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan dan media]]></category>
		<category><![CDATA[remotivi]]></category>
		<category><![CDATA[Televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Perempuan bukan untuk dilecehkan di televisi &#8211; Remotivi Remotivi saat ini sedang melakukan advokasi menolak penayangan program acara &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; yang disiarkan Trans TV. Mungkin banyak orang yang heran, kenapa perlu ditolak? Bukankah acara ini ditayangkan setiap tengah malam dan memang merupakan acara khusus dewasa? Eiiitt, tunggu dulu. Meskipun program &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; ini ditayangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/04/nikita-mirzani-kkn-youtube-5613.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-440" title="stop kakek-kakek narsis" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/04/nikita-mirzani-kkn-youtube-5613.jpg" alt="" width="350" height="247" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>Perempuan bukan untuk dilecehkan di televisi &#8211; Remotivi</p></blockquote>
<p>Remotivi saat ini sedang melakukan advokasi menolak penayangan program acara &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; yang disiarkan Trans TV. Mungkin banyak orang yang heran, kenapa perlu ditolak? Bukankah acara ini ditayangkan setiap tengah malam dan memang merupakan acara khusus dewasa? Eiiitt, tunggu dulu. Meskipun program &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; ini ditayangkan tengah malam, bukan berarti urusan selesai. Sebagai khalayak, tentu kita perlu kritis dalam mengonsumsi tayangan-tayangan yang disiarkan televisi. Tayangan &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; tidak cukup hanya dipandang sebagai &#8220;program dewasa&#8221;, melainkan didalamnya juga terdapat masalah-masalah lain yang jauh lebih besar: <strong>PELECEHAN PEREMPUAN</strong></p>
<p>Remotivi melakukan kajian dan analisis terhadap tayangan ini untuk melihat masalah apa saja yang terjadi didalamnya. Hasilnya, saya pun agak terkejut. Ternyata tayangan &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; bukan hanya berdosa atas pelecehan perempuan, namun juga atas hal-hal lain. Menurut Remotivi, ada 6 hal yang menjadi masalah terbesar dalam tayangan ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><strong>Objektivikasi Tubuh Perempuan</strong></p>
<p>Tayangan KKN kami lihat merupakan tayangan yang dibangun dengan konsep relasi gender yang tidak setara. Meski memberi kesempatan pada banyak perempuan untuk menjadi bintang tamu, namun pada praktiknya tayangan ini bukan menghadirkan kualitas perempuan, malah justru menjadi etalase untuk memajang tubuh perempuan. Perempuan berpenampilan seksi (kami yakin ini bagian dari konsep tayangan) dijadikan sebagai bintang tamu, namun perempuan tidak banyak diberi kesempatan untuk berbicara. Sebaliknya, tiga pembawa acara yang kesemuanya lelaki menjadi komentator atas tubuh dan hobi para perempuan (tayangan ini banyak menjadikan hobi sebagai bahan diskusi). Sehingga yang terjadi adalah, perempuan dibicarakan dan lelaki sebagai pembicara.</p>
<p><strong>Stereotip Perempuan</strong></p>
<p>Pemosisian perempuan sebagai objek dalam tayangan ini, pada akhirnya berpotensi membangun sterotip negatif mengenai perempuan, atau pun menebalkan pandangan keliru yang sudah ada dalam masyarakat. Kegagalan tayangan ini untuk menghadirkan kualitas perempuan dengan utuh, dan mereduksinya menjadi sekadar tubuh, berpotensi membangun atau pun menebalkan stereotip perempuan sebagai objek seksual.</p>
<p><strong>Kekerasan verbal</strong></p>
<p>Pilihan kata dan penggunaan psiko-bahasa dalam tayangan ini kerap kali mengandung kekerasan terhadap perempuan. Sulit memang menemukannya satu per satu. Kekerasan verbal luput dari perhatian karena bersembunyi dalam humor atau pun bahkan pujian. Dalam tayangan ini bertebaran berbagai bentuk kekerasan dalam bahasa yang datang dari paradigma yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Salah satu contohnya adalah, pertanyaan pembawa acara yang pernah diajukan kepada bintang tamu perempuan, “Apa kesibukanmu selain cantik?”. Pertanyaan semacam ini tentu saja datang dari anggapan bahwa apa yang terpenting dari perempuan hanyalah menjadi cantik. Kegiatan utama perempuan adalah mempercantik diri, sehingga bila ada perempuan memiliki hobi di luar berdandan, ia akan menjadi nilai lebih untuk dibicarakan. Logika tersebut menggiring persepsi bahwa perempuan tak punya pendapat atau aktivitas lain yang sederajat dengan laki-laki, misalnya intelektualitasnya.</p>
<p><strong>Iklan anak</strong></p>
<p>KKN dengan segala masalahnya tersebut ternyata dimaksudkan juga untuk menjadi tayangan bagi anak dan remaja. Ini terjadi ketika KKN ditayangkan Pk. 23.00 WIB (sekarang dipindah menjadi Pk. 24.00 WIB). Hal ini dapat diindikasikan melalui beberapa iklan produk anak yang juga ikut mensponsori acara ini. Mereka yang bertanggung jawab terhadap penempatan iklan tersebut tentu saja telah memperhitungkan adanya potensi penonton anak. Bagi kami ini tentu mengkhawatirkan karena anak-anak akan tumbuh besar dengan kepala mereka yang penuh oleh cara pandang yang salah terhadap perempuan. Fakta ini harusnya menjadi perhatian KPI sebagai regulator, untuk melindungi publik anak dari program yang tidak ramah anak dan perempuan.</p>
<p><strong>Subordinasi perempuan</strong></p>
<p>Pelbagai hal yang telah kami uraikan di atas merupakan poin-poin yang muaranya ada pada persoalan subordinasi perempuan. Tayangan ini beroperasi dengan berbagai logika yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Kemasan tayangan yang seolah menunjukkan bentuk kemerdekaan ekspresi perempuan (pakaian, hobi, dan pekerjaan) yang tidak lagi terkungkung dalam ranah domestik, rupayanya tidak juga membebaskan perempuan dari rantai objektivikasi dan komodifikasi. Kehadiran perempuan dalam ruang publik masih juga ditempatkan dalam kerangka sebagai objek, tidak bedanya makanan dalam acara kuliner, atau pun museum dalam program wisata.</p>
<p><strong>Kontraproduktif terhadap upaya kesetaraan</strong></p>
<p>Pada akhirnya, kami menilai tayangan ini kontraproduktif terhadap upaya yang tengah dilakukan berbagai lapisan masyarakat untuk membangun relasi gender yang lebih adil. Bukannya mempertipis tembok budaya yang mengekang perempuan, representasi perempuan yang dihadirkannya justru mempertebal dan mereproduksi budaya yang mendiskriminasi perempuan.</p>
<p>-<a href="http://remotivi.or.id">Remotivi</a></p></blockquote>
<p><a href="http://remotivi.or.id"> </a></p>
<p>Alasan-alasan diatas jugalah yang mendorong banyak NGO, Komunitas, dan institusi lain untuk bergabung dalam gerakan ini. Saat ini setidaknya terdapat 30 lembaga dari 13 provinsi di Indonesia (salah satunya <a href="http://aliansiremajaindependen.org">Aliansi Remaja Independen</a>) yang mendukung penghentian terhadap program &#8220;Kakek-Kakek Narsis&#8221; ini. Dukungan ini tentu saja bukan semata dilakukan untuk membela kaum perempuan, namun juga atas niat dan semangat untuk memperjuangkan hak publik mendapatkan informasi yang baik dan layak dari ranah yang mereka miliki sendiri.</p>
<p>Saat ini serangkaian kegiatan advokasi telah dilakukan: berita di media-media massa telah disebar, aksi menggalang kekuatan bersama telah dilakukan, acara diskusi dan konferensi pun telah digelar. Namun hal itu tentu masih tidak cukup untuk menumbangkan kekuatan kapitalisme media yang sebegitu besarnya. Jadi, kamipun sangat membutuhkan bantuan kalian untuk turut mendukung kegiatan ini. <strong>Dukungan dapat diberikan dengan<span style="font-family: georgia,serif;"> mengadukan &#8220;Kakek-Kakek&#8221; Narsis pada KPI melalui situsnya (<a href="http://kpi.go.id/" target="_blank">kpi.go.id</a>), telepon (021-6340626), dan SMS (0812-13070000).</span></strong></p>
<p><span style="font-family: georgia,serif;">Sekecil apapun dukungan kalian, akan sangat membantu untuk gerakan ini. <strong>STOP TAYANGAN YANG MELECEHKAN PEREMPUAN!</strong><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2012/04/29/hentikan-program-kakek-kakek-narsis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Global Citizen Corps 2011&#8242;s Graduation Day</title>
		<link>http://lutviah.net/2012/03/20/global-citizen-corps-2011s-graduation-day/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2012/03/20/global-citizen-corps-2011s-graduation-day/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2012 10:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini kami bukan merayakan &#8220;kelulusan&#8221; melainkan setahun &#8220;kebersamaan&#8221;. Karenabagi kami, tak ada kata &#8220;lulus&#8221; untuk pekerjaan sosial. &#8211; @GCCIndonesia Tweet diatas adalah respon saya atas kelulusan Global Citizen Corps 2011 yang jatuh tanggal 18 Maret 2012 kemarin. Bagi saya, acara kelulusan di Denanta Kitchen kemarin merupakan sebuah moment spesial, dimana hampir semua GCC Leader [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Hari ini kami bukan merayakan &#8220;kelulusan&#8221; melainkan setahun &#8220;kebersamaan&#8221;. Karenabagi kami, tak ada kata &#8220;lulus&#8221; untuk pekerjaan sosial. &#8211; @GCCIndonesia</p></blockquote>
<p>Tweet diatas adalah respon saya atas kelulusan Global Citizen Corps 2011 yang jatuh tanggal 18 Maret 2012 kemarin. Bagi saya, acara kelulusan di Denanta Kitchen kemarin merupakan sebuah moment spesial, dimana hampir semua GCC Leader 2011 beserta para fasilitator berkumpul dan bersuka cita. Acara ini lebih berarti dari sekedar pembagian sertifikat kelulusan, melainkan juga pembangkit motivasi dan pengikat silaturahmi.</p>
<p>Hampir setahun yang lalu, saat saya dan teman-teman didaulat menjadi Global Citizen Corps Leader 2011. Kami yang berasal dari berbagai latar belakang, sama-sama menyatukan mimpi untuk membuat perubahan bagi dunia. Ada yang bergerak di isu kesehatan, lingkungan, kesetaraan gender, kesehatan reproduksi, dan isu-isu lain. Disini, kami berusaha membuat perubahan dengan cara kami masing masing dan dimulai dengan langkah terkecil.</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/03/GCC.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-391" title="GCC" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/03/GCC.jpg" alt="" width="404" height="404" /></a></p>
<p>Kami sadar, aksi-aksi yang kami lakukan setahun ini masih belum cukup untuk mengubah dunia. Namun seperti kata Dalai Lama, &#8220;<em>every journey always starts with a single step</em>&#8220;. Aksi-aksi kecil yang dilakukan terus menerus dan bersama-sama, pasti akan akan menghasilkan perubahan yang besar.</p>
<p>Ya, kami memang sudah dinyatakan &#8220;lulus&#8221;. Kami pun sudah menerima sertifikat kelulusan. Tapi bukan berarti, langkah dan aksi kami untuk membuah perubahan terhenti disini. Kami masih punya banyak pekerjaan rumah untuk melunasi janji: &#8220;I am the Change&#8221;, slogan yang selalu kami elu-elukan semasa training. Bagi kami, Global Citizen Corps Leader adalah <em>lifetime achievement</em> sekaligus <em>reminder</em> untuk terus bekerja dan berkontribusi bagi masyarakat. Seperti Mahatma Gandhi katakan, <em>&#8220;Be the change you wish to see in the world&#8221;. </em>Kami akan terus membawa perubahan seperti yang kami inginkan hadir di dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2012/03/20/global-citizen-corps-2011s-graduation-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Media dan Masyarakat</title>
		<link>http://lutviah.net/2012/01/30/perkembangan-media-dan-masyarakat/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2012/01/30/perkembangan-media-dan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 08:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Industri Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Media dan Budaya Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiologi Media]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Media]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Media dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya berkembang bersama-sama dan saling mempengaruhi satu sama lain. Perubahan media dari waktu ke waktu berjalan seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Kita dapat melihat perkembangan media dengan melihat juga perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu. Dimulai dari masyarakat pre-agrikultul, masyarakat agrikultur, masyarakat industri, dan masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_381" class="wp-caption alignleft" style="width: 277px"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/01/media-dan-masyarakat"><img class="size-medium wp-image-381" title="Media dan masyarakat" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2012/01/a6da482512fc0608d1926194a70f6d2a-300x225.jpg" alt="" width="267" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Source: http://www.rcc.int</p></div>
<p>Media dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya berkembang bersama-sama dan saling mempengaruhi satu sama lain. Perubahan media dari waktu ke waktu berjalan seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Kita dapat melihat perkembangan media dengan melihat juga perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu. Dimulai dari masyarakat pre-agrikultul, masyarakat agrikultur, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.</p>
<p><span id="more-380"></span>Peradaban manusia dimulai pada masa <em>preagricultural society, </em>dimana pada waktu itu orang-orang masih tinggal dalam kelompok-kelompok kecil dengan pekerjaan utamanya sebagai pemburu. Saat itu belum ada budaya baca tulis. Masyarakat saat itu masih bergantung pada kegiatan oral atau berbicara untuk menyampaikan pesan kepada orang lain dan menurunkan tradisinya dari generasi ke generasi. Tradisi oral tersebut kemudian melahirkan cerita-cerita legenda, puji-pujian, syair, dan lain-lain. Warisan-warisan tersebut hingga saat ini masih digunakan dalam budaya populer. Banyak dari cerita dan syair tersebut kini dijadikan film atau sekedar dongeng yang diceritakan kepada anak-anak kecil.</p>
<p>Setelah masa <em>preagricultural society, </em>masyarakat beralih ke masa <em>agricultural society. </em>Pada masa ini budaya baca tulis juga belum begitu berkembang. Masyarakat agrikultur masih belum literat dan masih bergantung pada tradisi oral. Komunikasipun menjadi sebuah pekerjaan. Untuk menyimpan  dan menyampaikan pesan, orang-orang pada waktu itu menggunakan jasa spesialis komunikasi yang memiliki kemampuan mengingat yang tinggi untuk merekam percakapan atau pesan-pesan yang mereka sampaikan.</p>
<p>Media massa yang pertama kali muncul pada masa <em>agricultural society </em> adalah <em>hand-copied book. </em>Namun oplah media massa ini masih sangat terbatas karena media massa saat itu dikuasai oleh kaum-kaum borjuis, orang-orang terpelajar, dan pendeta.  Oplah media massa juga masih terbatas karena belum ditemukan mesin percetakannnya.</p>
<p>Revolusi industri pada akhir abad ke-18 telah merubah banyak aspek dalam kehidupan manusia. Pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan secara manual mulai digantikan oleh mesin. Fenomena tersebut mengantarkan manusia pada masa <em>industrial society, </em>dimana masyarakat mulai menggunakan mesin untuk melakukan kegiatannya.</p>
<p>Perkembangan komunikasi pada masa <em>industrial sociey </em>ditandai dengan ditemukannya mesin  cetak oleh Gutenberg pada tahun 1455. Mesin cetak tersebut memudahkan produksi media massa sehingga percetakan oplah media massa menjadi lebih cepat dan mudah. Penemuan mesin cetak ini mendorong perkembangan media-media massa lainnya seperti film, radio, dan televisi.Perkembangan media massa ini pada akhirnya mendorong masyarakat untuk literat atau melek huruf.</p>
<p>Perkembangan industri media massa pada masa <em>industrial society </em>mengantarkan kita pada masa <em>information society. </em>Pada masa ini, hampir seluruh kegiatan ekonomi bergantung pada informasi. Setengah dari lapangan pekerjaan kini didominasi oleh pekerja informasi. Perkembangan informasi tersebut tidak terlepas dari peran komputer sebagai media dominan yang digunakan pada era <em>information society </em>saat ini.</p>
<p>Seiring perkembangan teknologi komunikasi, semua media komunikasi yang ada didigitalisasikan. Telepon, media cetak, film, rekaman tv kabel, dan penyiaran. Media-media tersebut mengalami digitalisasi dan konvergensi sehingga makin memudahkan kehidupan manusia.</p>
<p>Media merupakan bagian yang terpisahkan dari masyarakat informasi. Seluruh pekerjaan di dunia saat ini sangat bergantung pada media, baik media sebagai alat maupun konten medianya sendiri. Seluruh pekerjaan dibidang teknologi dan komunikasi merupakan bagian dari sektor ekonomi di bidang informasi.</p>
<p>Salah satu konsep klasik yang menekankan dominasi media dikemukakan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1982. Ia memperkenalkan model <em>Source-Message-Channel-Receiver </em>(SMCR), yaitu sebuah model yang mendeskripsikan pertukaran pesan dari sumber kepada penerima melalui <em>channel </em>yang kemudian menghasilkan<em> feedback.</em></p>
<p>Perkembangan teknologi komunikasi melahirkan tekno-kapitalisme. Tekno-kapitalisme merupakan kapitalisme versi baru yang didasarkan pada inovasi teknologi, kreativitas dan kekuatan korporat, misalnya konglomerasi media. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah saat ini terjadi keseimbangan kekuasaan dalam era <em>information society?</em></p>
<p>Pada kenyataannya, banyak terjadi ketidak seimbangan pada <em>information society </em>ini. Banyak perusahaan media yang mendominasi pasar sehingga terjadi keseragaman konten media dan monopoli media. Misalnya seperti perusahaan Microsoft yang mendominasi pasar komputer diseluruh dunia.</p>
<p>Selain tekno-kapitalisme, juga terjadi <em>digital divide </em>diantara masyarakat. <em>Digital divide </em> adalah gap akses internet diantara kelompok mayoritas dan minoritas serta kelompok kaya dan miskin (NTIA, 2004). Hal ini disebabkan mereka belum banyak memiliki akses dan keterampilan di bidang teknologi komunikasi yang memadai dibandingkan dengan kelompok mayoritas atau masyarakat kelas atas lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2012/01/30/perkembangan-media-dan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya dan ESC</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/08/23/saya-dan-esc/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/08/23/saya-dan-esc/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 02:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Haru. Mungkin kata itulah yang bisa menggambarkan perasaan saya saat datang ke acara buka puasa bersama anak-anak ESC hari sabtu, tanggal 20 Agustus 2011 kemarin. Rasa haru itu muncul mungkin karena jauh dalam hati saya, saya sangat merindukan masa-masa di sekolah, khususnya masa ketika saya bergabung dalam ESC. Bagi saya, ESC bukan hanya sekedar ekstrakurikuler, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Haru. Mungkin kata itulah yang bisa menggambarkan perasaan saya saat datang ke acara buka puasa bersama anak-anak ESC hari sabtu, tanggal 20 Agustus 2011 kemarin. Rasa haru itu muncul mungkin karena jauh dalam hati saya, saya sangat merindukan masa-masa di sekolah, khususnya masa ketika saya bergabung dalam ESC.</p>
<p>Bagi saya, ESC bukan hanya sekedar ekstrakurikuler, tapi juga rumah kedua bagi saya. Disana saya belajar, berlatih, dan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran hidup. ESC lebih dari sekedar ekstrakurikuler dalam bidang bahasa Inggris, karena disitu saya tidak hanya belajar bahasa, tapi juga belajar bekerja keras.</p>
<p><span id="more-375"></span><a href="../wp-content/uploads/2011/08/via-lks-smk-2008.jpg"><img class="aligncenter" title="Via-LKS SMK 2008" src="../wp-content/uploads/2011/08/%5ESoK-oWyeh%5E066-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tiga tahun bergabung disana tentu bukan waktu yang singkat. Banyak hal-hal dan pengalaman yang berbekas sekali dalam hati saya dan teman-teman. Rasanya masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana saya dan teman-teman berlatih setiap hari hingga sore demi mengikuti suatu kompetisi. Puluhan kompetisi mulai dari speech contest, debate championship, writing contest, dan lain lain kami ikuti ketika bergabung dalam ekstrakurikuler ini. Kamipun mengikuti perlombaan dimana-mana, mulai dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Tidak selalu menang memang, tapi dari pengalaman-pengalaman tersebut kami belajar dan terpupuk rasa persaudaraan yang dalam.</p>
<p>Ya, kami punya tim yang sangat solid pada waktu itu. Ada Mulyana, Khaeruddin, Te Neni, Kak Tito, dan beberapa kakak kelas yang sangat meng-support kami. Kami tidak mengenal senioritas, karena itulah kami sangat dekat dan kompak. Malah, pernah ketika  ada lomba Speech Contest tingkat Kabupaten Lebak, anggota ESC memborong 3 juara sekaligus. Saya juara 1, Mulyana juara 2, dan Te Neni juara 3. Entah ini kebetulan atau tidak, tapi yang jelas ini sangat membanggakan bagi sekolah, khususnya bagi ESC sendiri.</p>
<p>Bisa dibilang, ESC lah yang menumbuhkan keberanian, semangat, dan rasa percaya diri dalam diri saya. Dari pengalaman-pengalaman yang pernah saya dan teman-teman lewati, wawasan saya makin luas dan tumbuh semangat untuk terus mengembangkan diri. Tak heran, pun setelah 3 tahun pensiun dari ekskul ini, saya merasa tetap memiliki hubungan perasaan yang erat dengan ESC.</p>
<p>Saat kemarin buka puasa bersama adik-adik ESC di sekolah, saya ko merasa seperti déjà vu ya. Ya, déjà vu. Saya seperti kembali ke masa tiga tahun lalu, melihat diri saya sendiri yang sedang duduk menjadi anggota ESC. Apalagi ketika melihat-lihat lab bahasa (basecamp ESC) yang ternyata masih menyimpan piala dan file-file semasa saya dan teman-teman bergabung disana. Ah, ESC is so much memorable for me …</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/08/via-lks-banten-2008.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-377" title="via-lks-banten-2008" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/08/^SoK-oWyeh^063-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Oya, saya juga senang lho melihat anggota ESC yang ternyata cukup banyak. Tapi perlu diingat, seleksi alam tidak bisa dihindari. Lama-kelamaan juga akan terlihat siapa anak yang benar-benar berkomitmen dan siapa yang tidak. Bukannya mendoakan, tapi kita harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk bukan? Hal penting yang perlu diingat adalah, quantity is not everything. Pun nantinya anggota ESC berkurang, jangan patah semangat ya. Karena keberhasilan tidak selalu diukur dari kuantitas, tapi dari kualitas yang membanggakan.</p>
<p>Tulisan ini saya buat bukan untuk membanggakan diri, apalagi memuji diri sendiri. Lewat tulisan singkat ini, saya ingin berbagi sekaligus mencurahkan isi hati. Mengingat kemarin cukup banyak anak kelas satu yang notabene anggota baru, menanyakan “Seru gak sih gabung di ESC?” atau “Manfaatnya ikut ESC apa sih?”.  Semoga tulisan ini menjawab kegalauan kalian ya. Walaupun sebenarnya tulisan ini tidak akan cukup jika kalian tidak mencobanya sendiri. Saya sangat berharap adik-adik ESC sekarang bisa jauh lebih baik dari kami yang sudah lebih dulu pensiun.  Dan saya percaya, kalian pasti bisa! Sampai jumpa di event ESC selanjutnya ya. ESC, Bravo! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/08/23/saya-dan-esc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk Ikut OPREC ARI 2011</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/05/05/yuk-ikut-oprec-ari-2011/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/05/05/yuk-ikut-oprec-ari-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 13:58:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[ARI]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Buat kamu yang udah pernah baca catatan pengalamanku saat mengikuti Youth Camp ARI desember tahun lalu, pasti sedikit banyak sudah tahu what ARI really is. Disitu, kamu juga bisa lihat betapa menyenangkannya youth camp yang diadakan serta inisiasi dan gerakan apa aja yang dihasilkan. Nah, menginjak tahun 2011, ARI kembali mengadakan OPREC (Open Recruitment) untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/oprec-ari-2011.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-313" title="oprec ari 2011" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/224127_10150168643468381_583663380_6766701_1063664_n-212x300.jpg" alt="" width="212" height="300" /></a>Buat kamu yang udah pernah baca <a href="http://lutviah.net/2010/12/18/asyiknya-youth-camp-bareng-ari/">catatan pengalamanku</a> saat mengikuti Youth Camp ARI desember tahun lalu, pasti sedikit banyak sudah tahu <em>what ARI really is. </em>Disitu, kamu juga bisa lihat betapa menyenangkannya <em>youth camp </em>yang diadakan serta inisiasi dan gerakan apa aja yang dihasilkan.</p>
<p>Nah, menginjak tahun 2011, ARI kembali mengadakan OPREC (Open Recruitment) untuk kembali merangkul kawan-kawan remaja se-Indonesia agar ikut terlibat dalam gerakan-gerakan remaja. Apa saja sih kegiatan-kegiatannya? ini dia <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>E-Course tentang Seksualitas, Kesehatan dan Hak Reproduksi Remaja</strong></p>
<p>Kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari isu-isu terkait Seksualitas, Kesehatan dan Hak Reproduksi Remaja melalui pelatihan yang dilaksanakan via email. E-Course ini ditujukan sebagai persiapan bagi kamu untuk merencanakan kegiatan remaja yang akan kamu lakukan.</p>
<p><strong>5 Hari Pelatihan Advokat Remaja untuk Pendidikan Seksualitas Komprehensif</strong></p>
<p>Pelatihan ini diberikan kepada kamu untuk memperdalam informasi yang sudah kamu dapatkan pada E-Course. Selain itu kamu juga akan mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan seksualitas komprehensif serta kemampuan advokasi untuk hak-hak remaja.</p>
<p><strong>Pertemuan Nasional HIV dan AIDS 2011, Jogjakarta</strong></p>
<p>Jika terpilih sebagai anggota ARI, kamu berkesempatan untuk bisa menghadiri pertemuan nasional HIV dan AIDS di Jogjakarta pada bulan Oktober 2011. Pada pertemuan ini, ARI merupakan steering committee untuk forum remaja. Pada kesempatan ini, anggota ARI bersama dengan jaringan remaja nasional akan bersama-sama mengadvokasi isu-isu remaja terkait HIV dan AIDS.</p>
<p>Seluruh rangkaian kegiatan OPREC diatas akan dilaksanakan selama bulan Juni-Oktober 2011. Buat kamu yang tertarik mengikuti kegiatan ini bisa mengunduh form pendaftaran dibawah ini. Formulir pendaftaran dan CV paling lambat diterima sebelum tanggal 14 Mei 2011. <em>Don&#8217;t miss it and see you on Youth Camp ARI 2011! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/Formulir-Pendaftaran-OPREC-ARI-2011.doc"></a><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/Formulir-Pendaftaran-OPREC-ARI-2011.doc">Formulir Pendaftaran OPREC ARI 2011</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/05/05/yuk-ikut-oprec-ari-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penelitian itu Menyenangkan</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/05/03/penelitian-itu-menyenangkan/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/05/03/penelitian-itu-menyenangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 May 2011 19:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Paramadina Young Researcher]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Proposal Penelitian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian. Ya, sekarang aku sedang tertarik dengan kegiatan satu ini. Dimulai saat Bu Ika, dosenku saat semester 2, menawarkan mahasiswanya untuk membuat penelitian dalam rangka Konferensi Nasional yang diselenggarakan di kampus. Siapa yang mengirimkan paper disana akan langsung dapat nilai A tanpa perlu ikut UAS. Menarik! Selain dapat pelajaran baru, aku juga ga perlu susah-susah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/CIMG0063.jpg"><img class="size-medium wp-image-292 alignleft" title="Lutviah-Konferensi Nasional" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/CIMG0063-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Penelitian. Ya, sekarang aku sedang tertarik dengan kegiatan satu ini. Dimulai saat Bu Ika, dosenku saat semester 2, menawarkan mahasiswanya untuk membuat penelitian dalam rangka Konferensi Nasional yang diselenggarakan di kampus. Siapa yang mengirimkan paper disana akan langsung dapat nilai A tanpa perlu ikut UAS. Menarik! Selain dapat pelajaran baru, aku juga ga perlu susah-susah ikut UAS yang pasti bakal bikin pegel tangan karena kebanyakan nulis. Akhirnya, aku berkolaborasi dengan Bu Ika dan Pak Wahyu membuat penelitian dengan judul &#8220;Penggunaan Facebook oleh Mahasiswa dan Dosen Universitas Paramadina&#8221;.</p>
<p><span id="more-288"></span><em>Well, that was my first research</em>. Senang sekali rasanya melihat tulisan sendiri diterbitkan di Jurnal dan dibaca banyak orang. Bahagia sekali rasanya ketika karya sendiri dikutip dan dijadikan referensi dalam makalah ilmiah. <em>It&#8217;s very happy to see that i&#8217;m useful for others </em> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selang beberapa lama, aku dan dua kakak tingkatku, Kak Ismayanti dan Kak Agung, mengikuti Konferensi Nasional tentang Citizen Journalism di Universitas Terbuka. Ternyata, konferensi seperti itu menyenangkan <em>lho. </em>Banyak hal baru yang bisa dipelajari dan sangat menambah pengetahuan. Disana, bukan hanya kemampuan kognitif saja yang terasah, kemampuan afektif dan psikomotorik juga terlatih.</p>
<p>Aku sadar<em>, </em>belum banyak karya yang aku buat dan juga belum banyak konferensi yang aku ikuti. Itu salah satu kelemahan yang harus mulai aku perbaiki agar kelak bisa menjadi peneliti yang baik. Mimpi tanpa realisasi itu sama saja dengan omong kosong, kan &#8230;</p>
<p>Agak lama absen dalam membuat paper penelitian kadang membuat otak menumpul dan menumbuhkan rasa malas. Makanya, kemarin aku dan kedua temanku, Lutiana dan Kharisma, mengikuti Call for Paper yang dilaksanakan Universitas Airlangga, Surabaya. <em>Alhamdulillah,</em> abstrak yang kami kirimkan lolos 30 besar sehingga berhak untuk melakukan presentasi disana. <em>Yup, at the middle of May we will rock Surabaya, wish us luck ya! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><em>Oya, </em>sebulan yang lalu aku juga mengikuti Paramadina Young Researcher, sebuah program <em>training </em>penelitian yang diselenggarakan oleh kampusku. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diminta membuat proposal penelitian. Proposal penelitian yang lolos berhak mendapatkan dana penelitian dari kampus dengan didampingi mentor untuk membimbing penelitiannya.</p>
<p><em>Alhamdulillah </em>lagi, proposal penelitianku berjudul &#8220;Pengukuran Tingkat Literasi Media Berbasis Individual Competences Studi Kasus Universitas Paramadina&#8221; lolos sehingga penelitiannya dapat direalisasikan. <em>I&#8217;m very glad to get it, </em>tapi itu adalah amanah yang benar-benar harus dijaga. Ya, aku harus menyiapkan energi dan menyisihkan waktu supaya bisa menyelesaikannya tepat waktu.</p>
<p>Meneliti sepertinya menjadi hobi baru yang sedang aku geluti. Harapanku <em>sih </em>ini tidak hanya menjadi sekedar hobi, tapi menjadi sebuah profesi. Cita-citaku menjadi akademisi pasti akan sangat terbantu dengan &#8220;hobi baru&#8221; ku ini. Semoga jalanku oleh Allah dipermudah, dan aku bisa <em>istiqomah! </em>amin <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>ps: Bagi yang ingin melihat contoh proposal penelitianku, <em>just feel free to download it below ya! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </em></strong></p>
<p><strong><em><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/Lutviah-Proposal-Penelitian-PYR.pdf"> </a><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/Lutviah-Proposal-Penelitian-revisi-baru.pdf">Lutviah-Proposal Penelitian PYR</a></em></strong></p>
<p><strong><em><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/05/Lutviah-Presentasi-Proposal-Penelitian-PYR.pptx">Lutviah-Presentasi Proposal Penelitian PYR</a><br />
</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/05/03/penelitian-itu-menyenangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alangkah Lucunya Negeri Ini</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/04/12/alangkah-lucunya-negeri-ini/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/04/12/alangkah-lucunya-negeri-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 12:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Alangkah lucunya negeri ini. Kalimat itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa menggelikannya kondisi sosial dan media massa di negeri yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa ini. Fenomena seleb dadakan berkat video lipsync di Youtube membuktikan betapa low culture-nya masyarakat dan media massa kita ini. Menggelikan rasanya melihat sebuah tayangan video tak bermutu dan tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/04/Keong-racun-sinta-dan-jojo.jpg"><img class="size-medium wp-image-277 alignleft" title="Keong racun sinta dan jojo" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/04/Keong-racun-sinta-dan-jojo-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Alangkah lucunya negeri ini. Kalimat itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa menggelikannya kondisi sosial dan media massa di negeri yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa ini. Fenomena seleb dadakan berkat video lipsync di Youtube membuktikan betapa<em> low culture</em>-nya masyarakat dan media massa kita ini.</p>
<p>Menggelikan rasanya melihat sebuah tayangan video tak bermutu dan tak bermakna yang kemudian booming dan dipuja-puja banyak orang. Apa sih istimewanya nyanyi <em>lipsync</em> dengan joged-joged <em>gak</em> jelas? Mungkin itu lucu bagi sebagian orang, tapi aku rasa hal itu tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Tidak ada keunikan, tidak ada nilai estetika. Yang dipertontonkan hanya kekonyolan dan menjadi tertawaan banyak orang. Padahal di Youtube banyak penyanyi berbakat yang tidak tersentuh oleh media. Apa mungkin media di Indonesia hanya senang mengangkat <em>low issue</em>?</p>
<p><span id="more-276"></span>Hatiku sebenarnya sudah tertohok saat menyaksikan bagaimana Sinta dan Jojo tiba-tiba melejit berkat video <em>lipsync</em> mereka yang menyanyikan lagu Keong Racun. Okelah jika mereka diberitakan di media massa karena ketenaran mereka di Youtube. Namun yang sangat disayangkan adalah, media massa telah melakukan komodifikasi besar-besaran dan menayangkannya secara berlebihan. Mereka diperlihatkan bak <em>superstar</em> yang memiliki kemampuan segudang.</p>
<p>Tadinya aku pikir, kekonyolan ini hanya akan sampai disitu. Tapi ternyata, hal ini masih berlanjut dengan tenarnya video <em>lipsync</em> Briptu Norman, polisi asal gorontalo, yang menyanyikan lagu India. Dengan motif yang sama, juga dengan prosedur yang sama. Media kembali melakukan komodifikasi dan publikasi berlebihan yang membuat setiap orang geli dan muak karena saking seringnya berita itu disiarkan.</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/04/Briptu Norman"><img class="aligncenter size-full wp-image-278" title="Briptu Norman" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/04/Briptu_Norman_youtube584213@.jpg" alt="" width="260" height="194" /></a><br />
Tak hanya itu, perasaan aneh dan lucu juga datang akibat tingkah lembaga-lembaga tertentu yang juga ikut nimbrung dalam kekonyolan kolektif tersebut. Beberapa universitas berebut untuk memberikan beasiswa, memberikan hadiah, dan memanggilnya sebagai tamu undangan. Nilai plus apa yang sebenarnya mereka bawa selain kemampuan <em>lipsync</em> lagu? Aku rasa, siapapun bisa melakukan itu. Padahal diluar sana masih banyak orang-orang cerdas dan berprestasi yang sebenarnya lebih layak diperlakukan demikian.</p>
<p>Dalam hal ini, kekecewaanku datang dari dua hal. Pertama, kekecewaan pada media massa yang seringkali hanya mengangkat <em>low issue</em> yang sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat dan tidak mendidik khalayak. Kedua, kekecewaan kepada pemerintah dan lembaga-lembaga tertentu yang terlalu berlebihan dalam menanggapi hal ini dan malah menjadikannya sebagai ajang pencitraan. Sungguh menggelikan.</p>
<p>Aku sama sekali tidak bermaksud menyalahkan apa yang dilakukan oleh para pelaku video<em> lipsync</em> tersebut. Bagaimanapun, itu adalah hak mereka untuk berekspresi. Hanya saja, mereka harus menyadari bahwa sebenarnya mereka cuma dijadikan alat akumulasi kapital dan alat pencitraan. Mereka juga harus menyadari bahwa ketenaran yang mereka alami sekarang hanya bersifat sementara. Ketika mereka sudah tak lagi dinilai menarik, maka saat itulah mereka harus siap menyingkir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/04/12/alangkah-lucunya-negeri-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Flash Back dalam Pidato</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/04/12/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/04/12/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 01:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Public Speaking]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[Pidato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/sukarno4.jpg"><img class="size-medium wp-image-159 alignleft" title="sukarno4" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/sukarno4-300x202.jpg" alt="" width="251" height="169" /></a>Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak hal dan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita.</p>
<p>Begitu juga dalam pidato, ketika kita menyelipkan catatan sejarah di dalamnya maka pidato kitapun akan terasa lebih bermakna. Mengapa demikian? Karena sejarah merupakan sesuatu hal yang pernah terlewati oleh setiap manusia. Setiap orang memperoleh pengalaman dan pelajaran dari sejarah yang penah ia lewati atau ia dengar. Karena itu ketika kita menceritakan tentang suatu hal di masa lampau, maka para pendengarpun akan semakin tertarik dengan pidato kita. Karena saat itu mereka ikut mengingat, merasakan, dan membayangkan kejadian yang sedang kita ceritakan.</p>
<p><span id="more-158"></span>Seperti pengalamanku ketika mengikuti lomba pidato tingkat provinsi di UNTIRTA. Saat itu tema yang aku bawakan adalah &#8220;Peran pemerintah dalam menanggulangi bencana alam&#8221; . Saat itu aku sedikit stress karena persiapanku yang belum matang, apalagi dengan hafalan yang pas-pasan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Sadar akan keterbatasanku, maka aku mulai menyusun strategi bagaimana cara menyampaikan pidato dengan baik, minimal dari segi pronounciation dan body language. Ketika menemukan cerita bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia, aku mulai berfikir bahwa ini adalah timing yang tepat untuk memainkan suara. Ketika menceritakan tragedi tsunami, aku langsung berakting sedih, termehek-mehek, hingga berkaca-kaca <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Tadinya aku fikir gaya ini terlalu lebay, namun juri ternyata berfikiran lain. Akhirnya aku berhasil meraih juara pertama meskipun dengan perasaan aneh, kok bisa menang yah <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kenyataannya adalah, sejarah memang memberikan pengaruh khusus bagi setiap orang. Mengapa orang-orang bisa tertarik dengan tragedi tsunami yang aku ceritakan? Karena hal itu memang membekas di hati mereka, suatu kejadian yang membangkitkan rasa kemanusiaan bagi setiap orang. Ketika kita mengusungnya kembali ke hadapan mereka, maka para pendengar akan kembali terenyuh dan menyimak setiap kata yang kita ucapkan, apalagi jika dibawakan dengan gaya yang lebay dan aduhai <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Dengan kata lain, untuk membuat pidato kita lebih mengena di hati para pendengar alangkah baiknya jika kita menyisipkan sedikit catatan sejarah. Seperti sejarah kemerdekaan, kisah orang-orang sukses, dan sebagainya. Itu akan memberikan motivasi lebih kepada pendengar untuk bukan saja menyimak, tapi juga mengikuti apa yang kita ucapkan. Karena merekapun membutuhkan bukti, bukan sekedar basa-basi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/04/12/pentingnya-flash-back-dalam-pidato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/03/30/pengaruh-roman-romeo-dan-juliet-terhadap-film-dan-perilaku-masyarakat/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/03/30/pengaruh-roman-romeo-dan-juliet-terhadap-film-dan-perilaku-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 17:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media dan Budaya Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiologi Media]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Media Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Althusser]]></category>
		<category><![CDATA[Frankfurt School]]></category>
		<category><![CDATA[Gramsci]]></category>
		<category><![CDATA[hegemoni]]></category>
		<category><![CDATA[industri budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Media]]></category>
		<category><![CDATA[interpelasi]]></category>
		<category><![CDATA[intertekstual]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[strukturalis]]></category>
		<category><![CDATA[teori kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi. Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet.jpg"><img class="size-medium wp-image-270 alignleft" title="romeo-and-juliet" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet-300x296.jpg" alt="" width="238" height="234" /></a>Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.</p>
<p>Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.</p>
<p><span id="more-269"></span>Roman yang ditulis oleh Shakespeare ini telah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa di dunia dan ceritanya juga sudah sering diangkat kedalam film dan dipentaskan di teater-teater di seluruh dunia. Kisah tentang Romeo dan Juliet ini telah menjadi kisah turun temurun yang bertahan dari generasi-generasi. Hampir semua orang, baik tua maupun muda, sangat familiar dengan kisah dan kedua tokoh dalam roman tersebut. Saat mendengar kisah cinta yang penuh pengorbanan, pikiran kebanyakan orang akan tertuju pada kisah legendaris ini.</p>
<p>Melalui roman Romeo dan Juliet, Shakespeare telah melakukan apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni. Dimana melalui kisah cinta yang ia ceritakan, ia berhasil mendominasi pemikiran khalayak bahwa ketika seseorang jatuh cinta, ia harus memperjuangkan cintanya dengan cara apapun, sekalipun hal itu harus menyakiti dirinya sendiri. Ideologi itulah yang kemudian menghegemoni pemikiran dan perilaku khalayak yang selanjutnya mempengaruhi konten media, khususnya film-film drama.</p>
<p>Kisah Romeo dan Juliet sudah pernah difilmkan beberapa kali dan sangat legendaris. Kisah ini pertama kali difilmkan pada tahun 1968 yang dibintangi Leonard Whiting dan Olivia Hussey. Pada waktu itu, film ini juga memenangkan 2 kategori sekaligus dalam  ajang <em>Academy Awards</em>, yaitu <em>Best Cinematography</em> dan <em>Best Costume Design</em>. Selang beberapa tahun kemudian, kisah ini difilmkan kembali pada tahun 1996 yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio dan Claire Danes yang juga mendapatkan sambutan yang luar biasa. Di Indonesia sendiri, kisah Romeo dan Juliet juga pernah difilmkan pada tahun 2009 yang disutradarai Andibachtiar Yusuf dengan konsep yang berbeda. Dalam perkembangannya, kisah Romeo dan Juliet menjadi kisah cinta favorit yang tidak pernah hilang ditelan masa.</p>
<p>Disadari atau tidak, roman Romeo dan Juliet ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap dunia perfilman. Banyak film-film yang mengadaptasi kisah dan nilai-nilai yang ada dalam roman tersebut. Misalnya film drama Boys before Flowers dari Korea Selatan yang menceritakan perjuangan sepasang kekasih dalam mempertahankan cinta mereka meskipun tidak disetujui oleh orang tua. Film ini sedikit banyak telah mengadaptasi nilai-nilai yang ada dalam roman Romeo dan Juliet yang ditulis Shakespeare, bahwa cinta harus tetap diperjuangkan meskipun harus menentang kehendak orang tua dan menempatkan cinta diatas segala-galanya.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, ideologi-ideologi roman Romeo dan Juliet ini banyak diterapkan di sinetron-sintron, misalnya di FTV-FTV yang sering ditayangkan di SCTV. Mereka secara langsung maupun tidak langsung telah meminjam pemaknaan dari kisah Romeo dan Juliet dan menerapkannya dalam sinetron mereka.</p>
<p>Apa yang dilakukan film dan sinetron diatas merupakan intertekstualitas, sebuah istilah yang juga pernah diperkenalkan oleh Gramsci. Intertekstualitas merupakan cara yang dilakukan Gramsci dalam menganalisis fenomena hegemoni dalam kajian isi media dan <em>audience. </em>Gramsci mengatakan bahwa saat sebuah teks meminjam teks lain, ia juga meminjam makna dari teks tersebut. Artinya ketika film-film diatas meminjam nilai-nilai yang ada dalam kisah Romeo dan Juliet, mereka juga sebenarnya telah meminjam makna dari kisah itu sendiri. Sehingga ketika mereka melihat film tersebut, mereka seakan-akan melihat pantulan dan perasaan yang sama saat menyaksikan roman Romeo dan Juliet atau pantulan dari pemikiran mereka yang telah terhegemoni tentang konsep cinta dan pengorbanan.</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-271" title="romeo and juliet" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet1-206x300.jpg" alt="" width="206" height="300" /></a></p>
<p>Film Romeo Juliet merupakan salah satu contoh intertekstualitas yang dilakukan film Indonesia terhadap roman Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Jika dalam roman karya Shakespeare konflik yang terjadi dalam hubungan Romeo dan Juliet adalah konflik keluarga, maka dalam film ini konflik terjadi diantara dua kelompok fans sepak bola yang saling bermusuhan, yaitu PERSIJA Jakarta (Jakmania) dan PERSIB Bandung  (Viking). Alur cerita yang digambarkan dalam film ini relatif sama dengan roman Romeo dan Juliet yang asli, namun dimodifikasi sedemikian rupa dengan bentuk yang berbeda. Namun tetap saja, secara tidak langsung film ini telah meminjam pemaknaan dari roman Romeo dan Juliet yang asli.</p>
<p>Meskipun banyak film yang mengadaptasi nilai-nilai dalam kisah Romeo dan Juliet sebagai konsekuensi dari hegemoni yang terjadi, bukan berarti mereka terus-menerus mengadaptasi nilai-nilai tersebut secara penuh. Menurut Gramsci, hegemoni merupakan sebuah proses yang diperbaharui dan dimodifikasi secara terus menerus dan terus dipertahankan. Oleh karena itu, para pelaku media terus memodifikasi kisah Romeo dan Juliet ini kedalam berbagai bentuk untuk melanjutkan dan mempertahankan hegemoni ideologi yang telah ada sebelumnya.</p>
<p>Media sebagai distributor penyampaian ideologi-ideologi Shakespeare, merupakan apa yang disebut Althusser sebagai ISA (<em>ideological state apparatus). </em>Meskipun ideologi tersebut datang dari Shakespeare, media memfasilitasi ideologi tersebut sehingga dapat tertanam dalam diri banyak orang. Secara tidak sadar maupun tidak, khalayak yang menyaksikan tayangan-tayangan tersebut akan diajak oleh media untuk menyepakati ideologi-ideologi yang disampaikan melalui tayangan-tayangan yang diberikan. Dalam hal ini, media merupakan salah satu instrumen penting dalam penanaman ideologi.</p>
<p>Penyampaian ideologi yang dilakukan melalui film merupakan salah satu bentuk <em>struggle </em>untuk dapat melakukan hegemoni. Menurut Gramsci, <em>struggle </em>dari pemilik atau penyebar ideologi diperlukan untuk dapat menanamkan ideologi-ideologi tertentu dalam diri khalayak. Setelah dilakukan <em>struggle, </em>pada akhirnya akan tercipta kesepakatan diantara pelaku hegemoni dan khalayak yang terhegemoni untuk sama-sama menerima ideologi tersebut sebagai suatu sistem kepercayaan.</p>
<p>Selanjutnya, pemikiran Althusser yang cocok dalam menggambarkan fenomena yang terjadi pada khalayak saat menonton film Romeo dan Juliet adalah interpelasi. Interpelasi dapat diartikan sebagai mekanisme menarik perhatian yang menempatkan penonton sebagai subjek. Dalam film Romeo dan Juliet, Shakespeare tidak hanya menawarkan cerita, namun juga menghadirkan sekaligus memberi imaji yang selanjutnya akan termaterialisasi kepada khalayak. Pertama-tama, khalayak ditempatkan sebagai penonton film Romeo dan Juliet, dimana pada waktu itulah ia ter-interpelasi, terbujuk secara imajiner untuk menempati posisi subjek tertentu yaitu sebagai pencinta yang baik yang mempercayai bahwa cinta harus diperjuangkan. Interpelasi yang dilakukan secara terus menerus ini pada akhirnya akan mengakibatkan hegemoni, dimana khalayak menganggap ideologi tersebut memang sesuatu yang sebenarnya dan harus diikuti.</p>
<p>Sedikit banyak, ideologi “cinta harus berkorban” yang disampaikan Shakespeare dalam roman Romeo dan Juliet ini telah mempengaruhi pandangan banyak orang dalam melihat hubungan percintaan.  Mereka menganggap bahwa ketika mereka jatuh cinta, mereka harus memperjuangkan dan membuktikannya dengan cara apapun. Tak heran banyak terjadi kasus bunuh diri karena putus cinta, melawan orang tua untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan, dan perilaku mengharu-biru lainnya sebagai dampak dari hegemoni ideologi yang terjadi.</p>
<p><em>Consciousness </em>tersebut tidaklah datang begitu saja. Hal itu terbentuk melalui proses-proses tertentu yang dilakukan oleh media melalui tayangan-tayangan yang diberikan. Karena ideologi itu disampaikan secara terus menerus dan berlangsung sejak lama, media akhirnya membentuk <em>consciousness </em>tersebut dalam diri masyarakat. Mereka tidak lagi menyadari bahwa apa yang mereka percayai adalah hasil konstruksi, melainkan menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya.</p>
<p>Dengan demikian, fenomena roman Romeo dan Juliet ini dapat dikaitkan dengan konsep-konsep yang pernah diperkenalkan oleh Althusser (ISA dan interpelasi) dan Gramsci (hegemoni dan intertekstualitas). Roman Romeo dan Juliet telah melakukan hegemoni dengan menanamkan ideologi “cinta harus berkorban” kepada khalayak yang selanjutnya banyak diadopsi oleh film-film diseluruh dunia. Sementara itu, film-film yang memiliki ideologi yang sama seperti roman Romeo dan Juliet telah melakukan intertekstualitas dengan meminjam makna dari roman tersebut dan menempatkannya dalam film yang ia buat. Baik roman maupun film Romeo dan Juliet telah melakukan interpelasi dengan menjadikan khalayak sebagai subjek saat mengikuti cerita mereka. Dalam hal ini, media media memiliki peran yang sangat penting sebagai ISA (<em>Ideological State Apparatus), </em> yakni sebagai instrumen yang membantu menanamkan ideologi tersebut dalam diri khalayak.</p>
<p><em>Versi PDF dapat didownload<a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/Lutviah-Implikasi-Roman-Romeo-dan-Juliet-terhadap-Media-dan-Masyarakat.pdf"> disini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/03/30/pengaruh-roman-romeo-dan-juliet-terhadap-film-dan-perilaku-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

