<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description>Catatan Kecil Tentang Komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 May 2010 03:59:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Asap Rokok itu Membunuhku</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/14/asap-rokok-itu-membunuhku/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/14/asap-rokok-itu-membunuhku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 04:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Tahan nafas lagi. Hal itulah yang aku lakukan saat naik angkutan umum  menuju kampusku di Paramadina, Mampang.  Bagaimana tidak, aku yang duduk di bangku tengah harus rela kekurangan oksigen karena dua orang disampingku merokok semua. Rasanya ingin sekali marah dan bilang, “Pak, please deh.. saya ingin bernafas dengan bebas!”. Tapi masalahnya, kebanyakan masyarakat Indonesia kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-no-smoking.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-453" title="lutviah-no smoking" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-no-smoking.jpg" alt="" width="168" height="168" /></a>Tahan nafas lagi. Hal itulah yang aku lakukan saat naik angkutan umum  menuju kampusku di Paramadina, Mampang.  Bagaimana tidak, aku yang duduk di bangku tengah harus rela kekurangan oksigen karena dua orang disampingku merokok semua. Rasanya ingin sekali marah dan bilang, “Pak, <em>please deh</em>.. saya ingin bernafas dengan bebas!”. Tapi masalahnya, kebanyakan masyarakat Indonesia kurang bisa menerima sikap sefrontal itu. Biasanya cukup dengan menutup mulut dan hidung, mereka sudah mengerti dan mematikan rokoknya. Tapi ini lain, mereka malah asyik merokok tanpa menghiraukan seisi metro mini yang sudah jengah dan asap rokok yang mengepul. Heran deh!</p>
<p><span id="more-452"></span></p>
<p>Aku memang termasuk orang yang alergi pada asap, apalagi asap rokok dan asap kendaraan. Kepalaku langsung pusing dan perutku gampang mual jika terlalu banyak menghirup kedua asap itu. Karena itulah, tiap kali bertemu dengan orang yang sedang merokok atau berjalan di jalan raya, aku selalu menutup mulut dan hidung. Selain alergi, kedua asap itu juga sangat berbahaya jika terlalu banyak masuk kedalam tubuh. Aku gak mau dong mengotori paru-paruku dengan asap-asap yang tidak beradab itu.</p>
<p>Aku selalu heran jika melihat orang-orang yang nyaman dan terkesan “biasa saja” saat menghirup asap rokok disekitar mereka. Apa mereka tidak tahu bahwa menjadi perokok pasif itu jauh lebih berbahaya daripada perokok aktif? Apalagi para perokok itu, kurasa mereka tak punya hati. Membagi-bagikan penyakit kepada orang lain dengan seenaknya. Kalau mau sakit, sakit sendiri dong, gak usah dibagi-bagi!</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-free-smoking.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-457" title="lutviah-free smoking" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-free-smoking.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Pernah suatu ketika aku naik angkutan umum dari Pancoran ke Mampang, ada seorang nenek-nenek yang duduk disamping pemuda yang merokok. Ia hanya diam dan seperti menikmati kepulan asap yang masuk ke dalam hidungnya. Jujur, rasanya aku miris sekali melihatnya. Bukan hanya pada pemuda itu yang merokok sembarangan, tapi juga pada si nenek yang sama sekali tidak sadar akan bahaya asap rokok yang masuk kedalam tubuh rapuhnya. Akhirnya aku sadar, bahwa ternyata kesalahan bukan hanya terletak pada perokok dan pemerintah saja, tapi juga masyarakat yang tidak sadar dan membiarkan hal ini terus terjadi.</p>
<p>Seperti kemarin saat aku naik kopaja menuju rumah saudaraku di Tebet. Saat itu penumpang sangat penuh ditambah lagi dengan kondisi jalan yang macet karena lampu merah. Aku sebenarnya sudah cukup menderita dengan kondisi mobil saat itu. Tapi ternyata penderitaanku belum berakhir, ada seorang bapak yang merokok ditengah-tengah para penumpang lainnya. Asapnya beterbangan di udara sehingga makin menambah sesak suasana disana. Beberapa orang didekatnya menutup hidung sambil mengernyitkan dahi, termasuk aku. Aku tahu pikiran mereka sama denganku: Sama-sama sebal dan ingin marah.</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-rokok-di-busway.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-462" title="lutviah-rokok di busway" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-rokok-di-busway-300x293.jpg" alt="" width="180" height="176" /></a>Namun ada hal  menarik yang terjadi saat aku naik metro mini dari TanahAbang ke Pancoran sekitar sebulan lalu. Saat itu belum terlalu banyak penumpang dan hanya aku satu-satunya perempuan disana. Pemuda dan bapak-bapak didalam metro mini itu sedang asyik bercanda sambil merokok dengan gembira. Seperti biasa, aku hanya diam sambil menutup mulut dan hidungku untuk meminimalisir masuknya asap rokok dan asap kendaraan kedalam hidungku. Kemudian ada salah-satu dari mereka melihat tingkahku dan berbicara, “Matiinlah rokoknya, kasihan tuh si eneng kagak bisa nafas” ucap bapak tersebut sambil tertawa. Tadinya aku fikir itu hanya candaan atau mungkin ejekan, tapi ternyata beneran lho. Satu-persatu dari mereka mulai mematikan rokoknya. <em>Amazing! </em>Jadi terharu aku rasanya. Ternyata masih ada orang baik ya di Jakarta &#8230; hehehe</p>
<p>Hampir setiap kali aku naik angkutan umum, selalu saja ada orang yang merokok dengan seenaknya. Bukan hanya merokok sembarangan, tapi juga membuang sampah rokok seenaknya. Apa mereka tidak memikirkan orang lain disekitarnya? Apa mereka tidak memperhatikan lingkungan? Apa mereka tidak sadar peraturan? Kenapa pemerintah membiarkan? Begitu banyak pertanyaan yang timbul dipikiranku setiap kali bertemu dengan masalah ini. Dan tentu saja, pertanyaanku itu tidak pernah menemukan jawabannya.</p>
<p>Kebiasaan merokok di kendaraan umum memang sudah dianggap wajar oleh sebagian masyarakat, khususnya bagi para perokok yang tidak bertanggung jawab. Peraturan pemerintah tentang larangan merokok di tempat umumpun sepertinya hanya dianggap angin lalu saja. Selain itu, pemberlakuan sanksi yang tidak tegas juga membuat mereka semakin bebas melanggar peraturan. Kolaborasi yang lengkap kan? Bagaimana peraturan bisa berjalan jika keduanya sama-sama tidak bertanggung jawab? Jangan-jangan benar kata teman-temanku, PERATURAN ITU ADA UNTUK DILANGGAR.</p>
<p>Setahuku, beberapa kota di Indonesia telah mengesahkan PERDA tentang larangan merokok di tempat umum. Misalnya PERDA Jakarta No. 2/2005, yaitu masyarakat dilarang merokok di tempat-tempat umum seperti mall, restoran, pasar, rumah sakit, taman, dan angkutan umum. Sanksinya juga berat lho, yaitu denda 50 juta atau penjara selama 6 bulan. Nah lho, serem banget kan? Tapi aneh seribu aneh, peraturan itu tidak berjalan dengan baik dan kebiasaan merokok sembarangan masih terus merajalela.</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-no-smiking-cartoon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-461" title="lutviah-no smiking cartoon" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-no-smiking-cartoon-300x272.jpg" alt="" width="180" height="163" /></a>Amerika Serikat mungkin dapat kita jadikan contoh bagaimana menangani permasalahan rokok di masyarakat. Di New York misalnya, setiap orang dilarang merokok disemua tempat umum dengan ancaman denda US $ 2,000. Ancaman sanksi ini tentunya bukan sanksi palsu seperti yang berlaku di Indonesia. Baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama menataati peraturan ini. Setiap pelaku pelanggaran benar-benar ditindak tegas oleh pemerintah sehingga meminimalisir pelanggaran yang terjadi. Sampai-sampai, para perokok harus rela <em>nangkring </em> di pintu belakang bar untuk merokok lho. Seandainya di Indonesia juga seperti itu &#8230;.</p>
<p>Di beberapa tempat seperti airport, restoran, atau mall, memang disediakan tempat khusus untuk merokok. Tapi bagaimana dengan angkutan umum? Bagaimana mungkin membuat ruangan khusus untuk merokok dalam kendaraan sempit nan bobrok itu? Bagiku, yang sebenarnya dibutuhkan adalah kesadaran dari semua pihak untuk sama-sama bergotong royong menjaga lingkungan. Bukan hanya bagi para perokok, tapi juga pemerintah dan masyarakat supaya saling mengingatkan.</p>
<p>Masalah yang dihadapi oleh pemerintah dalam menjalankan peraturan ini sebenarnya adalah birokrasi yang berbelit-belit. Sanksi yang tertulis dalam Perda tentunya bukan sanksi yang mudah direalisasikan, karena pelanggaran tersebut sudah termasuk tindak pidana. Mulai dari proses penangkapan, proses pengadilan, hingga penjatuhan hukuman. Menurutku, pemerintah seharusnya lebih tegas dan mempermudah pemberian sanksi kepada para pelanggar. Percuma saja kan ancaman hukuman yang besar jika tak pernah direalisasikan?</p>
<p>Sosialisasi kepada masyarakat juga harus lebih digalakkan agar masyarakat semakin sadar akan peraturan tersebut. Aku tahu, ini bukan hal yang mudah. Melihat mayoritas perokok di Indonesia berasal dari kalangan menengah ke bawah dan kurang berpendidikan, tentunya hal itu akan mendapat banyak penolakan dan tentangan dari mereka. Karena itulah, menurutku ini adalah PR semua orang untuk sama-sama berusaha saling mengingatkan dan mentaati peraturan yang ada.</p>
<p>Aku hanya berharap, masalah merokok sembarangan dapat segera terselesaikan. Aku ingin perjalananku dengan angkutan umum khas Indonesia ini dapat aku nikmati dengan agak menyenangkan. Cukuplah penderitaanku menikmati asap kendaraan Jakarta yang menyesakkan dan kondisi mobil yang memusingkan. <em>Please</em>, jangan ditambah lagi dengan kepulan asap rokok itu, karena itu bisa membunuhku &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/14/asap-rokok-itu-membunuhku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Mau Terkena Teori Spiral of Silent!</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/09/teori-spiral-of-silent/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/09/teori-spiral-of-silent/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 06:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spiral of Silent]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata   .
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/Lutviah-spiral-of-silent.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-450" title="Lutviah-spiral of silent" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/Lutviah-spiral-of-silent-300x219.jpg" alt="" width="190" height="139" /></a>Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span id="more-442"></span> Teori spiral of silent atau teori keheningan dikemukakan oleh Noelle Newmann. Teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang suatu isu. Tapi ternyata, setiap orang memiliki rasa takut mengemukakan pendapat mereka lho. Karena itu mereka mencari dukungan dari lingkungan dan media massa, agar mereka bisa lebih bebas mengekspresikan pendapat mereka, tanpa takut akan terisolasi.</p>
<p>Dalam teori ini, Noelle Newmann membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan mayoritas dan minoritas. Pandangan mayoritas percaya bahwa kelompok yang berada dalam pandangan tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemukakan pendapat mereka. Sedangkan pandangan minoritas kebalikannya, mereka biasanya lebih berhati-hati dan diam dalam mengemukakan pendapatnya. Dan tahu ga sih, ternyata media massa lah yang menyuarakan suara mayoritas untuk membungkam suara minoritas. Nah lho, makin tersingkir deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Teori spiral of silent tidak akan terpisahkan dari yang namanya opini publik. Sebenarnya apa sih opini publik itu? Noelle Newmann mengatakan bahwa opini publik adalah sikap atau perilaku yang diekspresikan seseorang di depan publik untuk menghindari isolasi. Misalnya nih ya, menurutku Mandra itu orangnya cakeeep banget, tapi berhubung  satu indonesia bilang dia<span style="text-decoration: line-through;"> jelek</span>, akhirnya aku ngikut deh. Daripada dibilang<span style="text-decoration: line-through;"> berselera rendah</span>.. ups.. ini misalnya loh ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Noelle Newmann menjelaskan tiga asumsi tentang teori ini, yuk kita bahas satu satu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<ul>
<li> <strong>Suara mayoritas memegang kekuasaan terhadap suara minoritas. </strong>Seperti contoh tadi, karena takut terisolasi maka orang-orang yang ada dalam suara minoritas akan lebih memilih untuk diam.</li>
</ul>
<ul>
<li> <strong>Orang selalu menilai iklim dari opini publik.</strong> Artinya, setiap orang selalu melihat keadaan berdasarkan apa yang orang lain lakukan dan apa yang orang lain pikirkan. Misalnya ketika semua orang berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu kewajiban, maka sadar ataupun tidak kita akan mengikutinya.</li>
</ul>
<ul>
<li> <strong>Perilaku publik dipengaruhi evaluasi opini publik.</strong> Saat pendapat kita mendapatkan dukungan, maka kita cenderung akan lebih berani mengekspresikannya. Begitu juga sebaliknya, saat pendapat kita tidak mendapat dukungan, maka kita akan cenderung diam. Koq kita jadi kelihatan cemen banget ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Teori spiral of silent memang mencerminkan sikap kebanyakan orang dalam mengemukakan pendapatnya. Tapi tentu saja itu bukan sikap yang baik kan, karena manusia jadi terlihat pengecut dan hanya terbawa arus media. Setiap manusia itu unik lho, karena itu jangan heran jika memiliki pendapat yang berbeda, dan jangan takut menyuarakan pendapat kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/09/teori-spiral-of-silent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/06/pelatihan-jurnalistik-mahasiswa/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/06/pelatihan-jurnalistik-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 00:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 4 dan 5 Mei kemarin, aku mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik dengan tema “Jurnalistik Berperspektif HAM, Gender, dan Demokrasi” yang diselenggarakan oleh Yayasan Jurnal Perempuan, majalah Change, dan Soegeng Sarjadi School of Government. Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari 7 universitas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tapi sayang seribu sayang, kegiatan yang dimulai sejak tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/jurnal.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-436" title="jurnal" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/jurnal-208x300.jpg" alt="" width="142" height="204" /></a>Tanggal 4 dan 5 Mei kemarin, aku mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik dengan tema “Jurnalistik Berperspektif HAM, Gender, dan Demokrasi” yang diselenggarakan oleh <a href="http://jurnalperempuan.com">Yayasan Jurnal Perempuan</a>, <a href="http://majalahchange.com">majalah Change</a>, dan <a href="http://sssg-indonesia.org">Soegeng Sarjadi School of Government</a>. Pelatihan ini diikuti oleh peserta dari 7 universitas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tapi sayang seribu sayang, kegiatan yang dimulai sejak tanggal 3 Mei ini baru aku ikuti keesokan harinya. Nah, akibat mengikuti pelatihan ini, aku jadi bolos kuliah <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Loh, koq malah seneng? Iya dong, karena ilmu yang aku dapat darisana sebanding dengan kelas kuliah yang aku korbankan, bahkan lebih <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .<br />
<span id="more-435"></span></p>
<p>Hari pertama, 3 Mei 2010, kegiatan tersebut membahas tentang dasar-dasar penulisan, management media massa, dan demokrasi. Tapi karena aku gak ikut, jadi gak bisa cerita banyak deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Tunggu kiriman materi dari panitianya dulu ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Hari kedua yang merupakan hari pertama aku disana, aku belajar tentang masalah Gender, HAM, dan teknis penulisan populer. Materi tentang Gender dibawakan oleh Mba Putri, dosen filsafat dari Universitas Indonesia. Darinya aku belajar banyak hal, bukan hanya belajar tentang feminisme, namun juga belajar lebih kritis mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya yang berbau gender. Darisitulah aku tahu, bahwa ternyata yang diperjuangkan oleh para feminis itu bukanlah penyamaan antara laki-laki dan perempuan, tapi hak mereka sebagai manusia. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu memang berbeda.</p>
<p>Setelah materi Gender, pelatihan ini dilanjutkan dengan materi HAM dan teknik penulisan populer. Materi HAM dibawakan oleh Pak Idaman, seorang aktivis HAM. Siapa sangka dibalik penampilannya yang agak “seram” dengan rambut gondrong dan jenggot lebat, ternyata ia sangat humoris dan gaul abis <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Lewat pelatihan ini aku jadi tahu bahwa ternyata pelaku pelanggaran HAM itu bukanlah individu tapi negara. Loh, koq bisa? Awalnya aku juga bingung, tapi setelah diskusi yang agak panjang, aku jadi<span style="text-decoration: line-through;"> tambah bingung</span> (loh??) <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Jadi ceritanya, 146 negara termasuk Indonesia telah menandatangani DUHAM (Deklarasi Umum HAM) dan berbagai konvensi-konvensi HAM. Sejak saat itulah, negara bertanggung jawab atas segala macam tindakan dan kejadian menyangkut hak asasi warga negaranya. Misalnya, Ani melakukan pembunuhan massal, tapi Ani dibiarkan bebas oleh negara. Berarti, Ani adalah pelaku tindak pidana, sedangkan negara adalah pelanggar HAM karena membiarkan Ani bebas. Begitu loh teman-teman <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Materi selanjutnya adalah Teknik Penulisan Populer yang dibawakan oleh Ahmad Arief, wartawan Kompas. Materi ini lebih banyak membahas tentang teknik-teknik penulisan dan <em>sharing</em> seputar dunia penulisan. Dan ternyata, banyak orang yang beranggapan bahwa menulis populer itu lebih sulit loh daripada menulis ilmiah. Kenapa? Karena target pembacanya yang lebih luas, bukan hanya kalangan tertentu. Ada satu hal yang menarik darinya, beberapa tahun ini ia memutuskan untuk tidak mempunyai TV di rumah agar lebih memotivasinya untuk membaca! OMG</p>
<p>Hari terakhir, 5 Mei 2010, materi yang aku dapat adalah Teknik Penyuntingan dan Jurnalisme Kampus dan Aktivisme. Teknik penyuntingan yang dibawakan oleh manager reporter majalah <a href="http://www.rollingstone.co.id/">Rolling Stone</a> ini membahas tentang teknik-teknik penulisan, observasi, dan penyuntingan artikel dalam majalah. Sedangkan pak Fadjroel Rahman membahas tentang gerakan mahasiswa sejak masa orde baru hingga sekarang. Lewat gayanya yang ngocol abis, ia memotivasi kita bahwa lewat media pers kampus, kita dapat berkembang dan meraih masa depan yang gemilang <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Akhirnya, pelatihan ini diakhiri dengan <em>sharing</em> seputar media kampus masing-masing. Darisana terlihat, bahwa ternyata banyak media kampus yang belum menerapkan perspektif demokrasi, gender, dan HAM dalam media kampus mereka. Ini adalah PR kita masing-masing, untuk mengembangkan ketiga perspektif tersebut dalam media kampus, agar lebih membumi dikalangan mahasiswa  <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/06/pelatihan-jurnalistik-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Formula Lasswell</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/03/formula-lasswell/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/03/formula-lasswell/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 10:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar model komunikasi Lasswell? Kalo kamu mahasiswa komunikasi, kebangetan banget deh kalo gak tahu    Model komunikasi Lasswell atau sering disebut formula Lasswell ini sering diungkapkan dengan kalimat sederhana, “who says what in which channel to whom with what effect” = “siapa berkata apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa”. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lasswell.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-428" title="lasswell" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lasswell.jpg" alt="" width="92" height="107" /></a>Pernah dengar model komunikasi Lasswell? Kalo kamu mahasiswa komunikasi, kebangetan banget deh kalo gak tahu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />   Model komunikasi Lasswell atau sering disebut formula Lasswell ini sering diungkapkan dengan kalimat sederhana, “<em>who says what in which channel to whom with what effect</em>” = “siapa berkata apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa”. Masih bingung? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-420"></span></p>
<p>Model komunikasi ini dikemukakan oleh Harold Lasswell, seorang ahli politik Amerika Serikat pada tahun 1948. Meskipun sekilas seperti bentuk pertanyaan, tapi teori ini sangat terkenal dan merupakan cara sederhana untuk memahami proses komunikasi.</p>
<p>Dalam model komunikasi ini, Lasswell mengatakan bahwa dalam proses komunikasi, setidaknya ada 5 komponen yang terlibat, yaitu who (komunikator), what (pesan), channel (saluran/media), whom (komunikan), dan effect (efek).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-model-lasswell.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-421" title="lutviah-model lasswell" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-model-lasswell.jpg" alt="" width="544" height="84" /></a></p>
<p>Model komunikasi ini dapat kita temukan di berbagai proses komunikasi antar manusia, misalnya mengobrol lewat telepon, sms, dan lain-lain. Selain itu, model komunikasi Laswell juga bisa kita gunakan dalam menjelaskan proses komunikasi massa. Misalnya saat kita menonton acara ala chef Farah Queen di televisi. Farah Queen, sebagai pembawa acara (komunikator) mempraktekan resep-resep masakan (pesan) kepada penonton (komunikan) lewat televisi (media) sehingga penonton jadi tertarik untuk mencoba masakan itu di rumah (efek).</p>
<p>Model komunikasi Lasswell ini hanya salah satu dari sekian banyak model komunikasi lho. Masih banyak lagi model-model komunikasi menurut para ahli lainnya.  Semoga bermanfaat <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/03/formula-lasswell/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpul Bareng Komunitas Belajar Kreatif</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/29/woots-belajar-kreatif/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/29/woots-belajar-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 15:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[
Tanggal 27 Maret kemarin menjadi hari yang spesial buatku   .Kenapa? Karena hari itu menjadi hari pertama bergabungnya aku dalam komunitas Belajar Kreatif yang dipelopori Mba Maydina dkk. Terpesona dengan e-magazine Lumbung Ide Belajar Kreatif, akhirnya aku mencoba datang ke acara Kumpul Bareng Komunitas Belajar Kreatif di Kota Tua   .
Petualangan kami diawali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/belajar-kreatif.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-400" style="float: right; border: 0px initial initial;" title="belajar kreatif" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/belajar-kreatif.jpg" alt="" width="200" height="111" /></a></p>
<p>Tanggal 27 Maret kemarin menjadi hari yang spesial buatku <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Kenapa? Karena hari itu menjadi hari pertama bergabungnya aku dalam komunitas <a href="http://www.facebook.com/BelajarKreatif">Belajar Kreatif</a> yang dipelopori <a href="http://www.facebook.com/maydina?ref=mf">Mba Maydina</a> dkk. Terpesona dengan e-magazine <a href="http://www.4shared.com/file/233996048/20b7b4bb/lumbung_ide_02_small.html">Lumbung Ide</a> Belajar Kreatif, akhirnya aku mencoba datang ke acara Kumpul Bareng Komunitas Belajar Kreatif di Kota Tua <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span id="more-399"></span><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/BI-1.jpg"></a><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/BI-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-408" style="float: left; border: 0px initial initial;" title="BI-1" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/BI-1-300x200.jpg" alt="" width="180" height="120" /></a>Petualangan kami diawali dengan berkumpul di Museum BI jam 10 pagi. Museum ini bukan museum biasa loh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Tidak seperti museum-museum lainnya yang terkesan tua dan hanya berisi pajangan-pajangan langka, museum BI ini terkesan lebih trendy, high tech, dan gak kolot sama sekali! Meskipun dari luar gedungnya terlihat tua (karena emang warisan VOC dan dipertahankan), tapi isinya pasti jauh dari yang kamu bayangkan! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />   Disana kita bisa bermain shadow game dengan cara menangkap koin hanya dengan bayangan, juga game-game high tech lain yang sedang dalam masa pengembangan. Ada museum uang, museum emas, meeting room, dan aneka pajangan yang pasti menarik buat diliat dan dijadiin background buat bernarsis ria <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<div id="_mcePaste">
<p>Setelah puas di museum BI, sekarang saatnya ke tujuan utama: Kota Tua! Matahari yang menyengat dan cuaca panas ternyata tidak menyurutkan warga jakarta untuk berholiday ria <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Hari itu Kota Tua terlihat cukup ramai oleh pengunjung, baik tua, muda, maupun anak-anak, semuanya berkumpul jadi satu sembari menikmati peninggalan-peninggalan masa penjajahan. Kamipun tak mau ketinggalan dong <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Setelah beristirahat sejenak di bawah pohon, kamipun mulai menyebar untuk hunting foto dan cari bahan untuk dijadikan tulisan sebagai dokumentasi pertemuan kali ini. Tema kali ini, mencari sisi lain Jakarta. Yuu  maree &#8230; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/kota-tua-afif1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-411" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; border: 0px initial initial;" title="kota tua-afif" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/kota-tua-afif1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<div id="_mcePaste">
<p>Karena jumlah creativers yang cukup banyak, akhirnya kami dibagi dalam 2 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 orang, aku masuk kelompok 2 <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Setelah shalat dan makan siang, kami menuju Museum Wayang dan Museum Seni Rupa. Di Museum Wayang, kamu bukan hanya bisa lihat koleksi wayang Indonesia lho, tapi juga ada wayang Malaysia,  wayang Inggris,dan lain-lain. Ongkosnya juga murah, cuma dua ribu rupiah <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Kalo di Museum Seni Rupa sih kami cuma ikut ngadem aja, udah kehabisan energi jalan-jalan seharian <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .Setelah itu, kami semua berkumpul di Museum Seni Rupa untuk setor tulisan dan share pengetahuan tentang dunia penulisan.  Disana kami saling sharing informasi, tips dan trik menulis asik,kenalan dengan creativers lain, dan tak lupa berfoto-foto ria <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="_mcePaste">Akhirnya, pertemuan kali ini ditutup dengan photo session di Sunda Kelapa. Tapi sayang seribu sayang, berhubung aku jadi panitia acara Earth Hour di kampus nanti malam, jadi mesti cepet pulang deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  . Tapi gapapa, apa yang telah aku dapatkan dalam pertemuan kali ini, menjadi pelajaran dan semangat berharga untuk hari-hariku selanjutnya. Well, see you on the next event Belajar Kreatif! <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/29/woots-belajar-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Radio dan Jurnalisme di Indonesia</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/17/perkembangan-radio-dan-jurnalisme-di-indonesia/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/17/perkembangan-radio-dan-jurnalisme-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 02:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyiaran Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Pernah terpikir bagaimana awalnya perkembangan teknologi radio yang kita gunakan saat ini? Pernah terbayang bagaimana perkembangan jurnalisme radio sehingga kita bisa mendapatkan informasi dari sana? Semua ada awalnya kawan! Teknologi radio dan jurnalisme di Indonesia mengalami perkembangan dari tahun ke tahun sejak  dahulu kala, bahkan sejak negara kita masih terkungkung dalam penjajahan. Menurut Krishna dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pernah terpikir bagaimana awalnya perkembangan teknologi radio yang kita gunakan saat ini? Pernah <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/via-radiojurnalisme.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-379" title="via-radiojurnalisme" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/via-radiojurnalisme-273x300.png" alt="" width="164" height="180" /></a>terbayang bagaimana perkembangan jurnalisme radio sehingga kita bisa mendapatkan informasi dari sana? Semua ada awalnya kawan! Teknologi radio dan jurnalisme di Indonesia mengalami perkembangan dari tahun ke tahun sejak  dahulu kala, bahkan sejak negara kita masih terkungkung dalam penjajahan. Menurut Krishna dan David Hill, siaran pertama di Indonesia dilakukan pada tahun 1911 di Sabang, yaitu berupa radio komunikasi Angkatan Laut. Begitupun dengan jurnalisme radio yang terus berkembang dan mengalami perubahan. Dimana jurnalisme radio berbeda dengan jurnalisme-jurnalisme lainnya, misalnya televisi. Sebagai tugas materi Penyiaran Kontemporer yang kedua, dibawah ini aku persembahkan paperku yang berjudul “Perkembangan Radio dan Jurnalisme di Indonesia”. Selamat menikmati <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/perkembangan-radio-dan-jurnalisme-di-indonesia.pdf">lutviah-perkembangan-radio-dan-jurnalisme-di-indonesia-penyiarankontemporer-17maret2010</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/17/perkembangan-radio-dan-jurnalisme-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Komunikasi Intrapersonal</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/17/sistem-komunikasi-intrapersonal/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/17/sistem-komunikasi-intrapersonal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 02:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Masih sama dengan postingan sebelumnya, postingan ini juga berisi tugas rangkumanku yang kedua yang berjudul “Sistem Komunikasi Intrapersonal”. Daripada nganggur di folder laptop, mending aku share pada kalian tho   . Setidaknya perjuanganku begadang semaleman buat ngerjain tugas ini terbayar sudah dengan aku sebarkan pada teman-temanku di dunia maya, semoga bermanfaat ya   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/via-sistem-komunikasi-intrapersonal.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-373" title="AX055372" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/via-sistem-komunikasi-intrapersonal-300x230.jpg" alt="" width="180" height="138" /></a>Masih sama dengan <a href="http://lutviah.net/2010/03/17/karakteristik-manusia-komunikan/">postingan sebelumnya</a>, postingan ini juga berisi tugas rangkumanku yang kedua yang berjudul “Sistem Komunikasi Intrapersonal”. Daripada nganggur di folder laptop, mending aku share pada kalian tho <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Setidaknya perjuanganku begadang semaleman buat ngerjain tugas ini terbayar sudah dengan aku sebarkan pada teman-temanku di dunia maya, semoga bermanfaat ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .<br />
Biar gak penasaran, aku jelaskan sedikit deh buat kalian <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Dokumen yang akan kalian download dibawah ini (kalau mau sih <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ) menjelaskan tentang bagaimana manusia memaknai pesan-pesan yang diterimanya. Sebagai makhluk sosial, kita tidak ada henti-hentinya kan menerima informasi. Baik dari berita di media, penjelasan dosen, diskusi dengan teman, atau sekedar ngegosip dengan kawan-kawan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Bagaimana kita memanage informasi-informasi tersebut? Pastinya ada prosesnya dong <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Penasaran? Download aja versi lengkapnya di link di bawah ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/sistem-komunikasi-intrapersonal.pdf">lutviah-sistem-komunikasi-intrapersonal-psikologikomunikasi-17maret2010</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/17/sistem-komunikasi-intrapersonal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biografi Penemu Radio</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/17/biografi-penemu-radio/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/17/biografi-penemu-radio/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 01:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyiaran Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa emang gak ada habis-habisnya ngerjain tugas! Kali ini dosenku Pak Farid memberiku tugas membuat biografi para penemu dan pengembang radio. Loh, koq nyambung-nyambung ke radio? Ya iyalah, secara pembahasan kita saat ini adalah materi Penyiaran Kontemporer. Disini aku membahas tentang 3 penemu dan pengembang radio, yaitu Guglielmo Marconi, Lee De Forest, dan Reginald A. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/images.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-370" title="images" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/images.jpg" alt="" width="152" height="157" /></a>Mahasiswa emang gak ada habis-habisnya ngerjain tugas! Kali ini dosenku Pak Farid memberiku tugas membuat biografi para penemu dan pengembang radio. Loh, koq nyambung-nyambung ke radio? Ya iyalah, secara pembahasan kita saat ini adalah materi Penyiaran Kontemporer. Disini aku membahas tentang 3 penemu dan pengembang radio, yaitu Guglielmo Marconi, Lee De Forest, dan Reginald A. Fessenden. Masing-masing dari mereka telah memberikan kontribusi pada perkembangan radio sehingga dapat kita nikmati seperti sekarang ini. Marconi adalah penemu gelombang elektromagnetik, De Forest adalah penemu tabung triode, dan Fessenden adalah penemu alternator, detektor, dan heterodin. Tanpa penemuan-penemuan mereka, mungkin saat ini kita tidak akan mengenal teknologi informasi. Ingin tahu lebih jauh tentang mereka? Download biografinya di link dibawah ini ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/biografi-penemu-radio.pdf">lutviah-biografi-penemu-radio-penyiarankontemporer-17maret2010</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/17/biografi-penemu-radio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Manusia Komunikan</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/17/karakteristik-manusia-komunikan/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/17/karakteristik-manusia-komunikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 01:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Bagi teman-teman yang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, pasti pernah berkutat dengan materi kuliah Psikologi Komunikasi. Nah, disini aku akan share tugas rangkuman pertamaku yang berjudul “Karakteristik  Manusia Komunikan”. Ini merupakan rangkuman  Bab II dari buku karya Drs. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi) yang diterbitkan PT Remaja Rosda Karya.

Sebagai bocoran, tulisan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagi teman-teman yang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, pasti pernah berkutat dengan materi kuliah <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/via-karakteristik-manusia-komunikan.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-365" title="via-karakteristik-manusia-komunikan" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/via-karakteristik-manusia-komunikan.jpg" alt="" width="173" height="209" /></a>Psikologi Komunikasi. Nah, disini aku akan share tugas rangkuman pertamaku yang berjudul “Karakteristik  Manusia Komunikan”. Ini merupakan rangkuman  Bab II dari buku karya Drs. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi) yang diterbitkan PT Remaja Rosda Karya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sebagai bocoran, tulisan ini berisi  tentang konsep-konsep psikologi manusia komunikan. Disini disebutkan empat pendekatan teori psikologi, yaitu psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Teori psikoanalisis melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Teori behaviorisme memandang manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh lingkungannya (Homo Mechanicus). Teori psikologi kognitif melihat manusia sebagai makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah informasi yang ia terima (Homo Sapiens). Dan yang terakhir, psikologi humanistis menggambarkan manusia sebagai pelaku yang aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens). Pastinya penjelasan diatas belum cukup kan? Buat kamu yang masih penasaran, silahkan download versi lengkapnya di link dibawah ini ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/karakteristik-manusia-komunikan.pdf">lutviah-karakteristik-manusia-komunikan-psikologikomunikasi-17maret2010</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/17/karakteristik-manusia-komunikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Berkomunikasi?</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/01/kenapa-kita-berkomunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/01/kenapa-kita-berkomunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 04:37:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[
Jangan pernah berharap kalau kita akan bisa terlepas dari yang namanya komunikasi.  Seumur hidup kita akan terus bergelut dengan hal ini. Tak peduli panas, hujan, maupun  badai, kita akan terus berkomunikasi   .Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii bahkan mengatakan bahwa komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti bernafas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/ngobrol1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-362" title="ngobrol1" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/ngobrol1-300x186.jpg" alt="" width="240" height="149" /></a>Jangan pernah berharap kalau kita akan bisa terlepas dari yang namanya komunikasi. <span> </span>Seumur hidup kita akan terus bergelut dengan hal ini. Tak peduli panas, hujan, maupun <span> </span>badai, kita akan terus berkomunikasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii bahkan mengatakan bahwa komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti bernafas. Sepenting itukah komunikasi bagi kita? Kenapa kita harus berkomunikasi? Seorang ahli komunikasi, Harold D. Lasswell mencoba menjawab pertanyaan ini. Ia menyebutkan 3 fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi. Penasaran? Baca terus yaa <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span><strong>Pertama, karena manusia memiliki hasrat untuk mengontrol lingkungannya.</strong> Dengan berkomunikasi, kita dapat melihat peluang, menyadari ancaman, mengetahui kejadian-kejadian, dan mengembangkan pengetahuan.Berita gempa bumi di Chili sebesar 8.8 SR disertai prediksi tsunami di kawasan Amerika tersebar di berbagai media diseluruh belahan dunia. Dengan melihat media tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi dan berjaga-jaga dari ancaman musibah yang mungkin akan terjadi. Disinilah proses komunikasi berperan, dimana informasi yang didapatkan seseorang dapat membantunya memahami lingkungan dan mengarahkan apa yang harus ia lakukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Kedua, karena manusia selalu berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan.</strong> Manusia diciptakan sebagai makhluk yang senantiasa ingin diterima dalam lingkungannya. Kita tidak ingin diintimidasi, ditolak, apalagi dijitak <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Untuk bisa membina hubungan dengan orang lain, kita pasti perlu berkomunikasi<span> </span>kan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Kalau hanya berdiam diri dan asik sendiri, bagaimana bisa kita berteman? <span> </span>Kita perlu berkomunikasi <span> </span>untuk mengutarakan perasaan, membina hubungan, dan diterima oleh lingkungan. Seperti saat pertama kali aku masuk Universitas. Tidak ada yang aku kenal dan tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Senjataku satu-satunya hanyalah mencoba berkenalan, melebarkan senyuman, dan mengajak berjabatan tangan. Memang tidak mudah, awalnya rasanya seperti orang asing. Namun dengan komunikasi yang ku lakukan terus menerus, akhirnya aku punya banyak teman dan diterima oleh lingkungan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Ketiga, karena manusia ingin melakukan transformasi warisan sosial.</strong> Pernah terfikir gak bagaimana suku sunda dapat mempertahankan tari jaipong? Bagaimana suku jawa mempertahankan bahasanya yang medok? Dan bagaimana norma-norma ketimuran bisa tetap eksis di Indonesia? Adat istiadat, budaya, norma, dan perilaku merupakan warisan manusia sejak zaman dahulu. Hal-hal tersebut bukan baru lahir kemarin sore lho, tapi sudah bertahan sejak bertahun-tahun yang lalu. Masyarakat dahulu mentransformasikannya kepada generasi-generasi selanjutnya melalui proses komunikasi. Ingat gak ketika kecil kita sering mendapat nasihat dari orang tua, kalau jalan jangan mendahului orang tua, menerima sesuatu harus dengan tangan kanan, dan lain-lain. Saat itulah orang tua kita sedang mentransformasi warisan sosial kepada kita, agar nilai-nilai itu bertahan. Tak hanya mereka lho, suatu saat kita juga pasti melakukannya. Karena sadar ataupun tidak, kita sangat perlu komunikasi<span> </span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/ngobrol.jpg"></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/01/kenapa-kita-berkomunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
