Archive for ‘Teori Media Kontemporer’

March 30th, 2011

Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat

by via

Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.

Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.

read more »

March 15th, 2011

Media Massa dan Institusi Politik

by via


Media massa merupakan alat yang paling strategis untuk melakukan penyebaran nilai, pembentukan opini, serta memediasi berbagai pihak dalam melakukan komunikasi. Karena alasan tersebut, media sangat gampang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang mengelilinginya, baik kepentingan publik, pemerintah, maupun institusi politik.

read more »

March 15th, 2011

Media Massa dan Demokrasi

by via

Sistem pemerintahan demokrasi seringkali diagung-agungkan karena ideologinya yang menempatkan publik sebagai prioritas. Ideologi demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” menjadi jargon yang seakan-akan memperlihatkan kekuasaan publik dalam mengatur pemerintahan. Dalam demokrasi ini, media massa atau jurnalisme memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan sistem demokrasi. Bahkan jurnalisme juga dianggap sebagai pilar keempat demokrasi.

Media dan demokrasi merupakan hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya telah melewati sejarah yang panjang dan saling berkesinambungan satu sama lain sejak zaman feodal hingga saat ini. Media massa tanpa adanya demokrasi akan mengalami kemandegan, karena media massa dapat bersuara manakala difasilitasi oleh sistem demokrasi. Begitu juga sebaliknya, demokrasi akan terlihat sinarnya manakala difasilitasi oleh media massa.

Demokrasi baru dapat dikatakan berhasil ketika masyarakat well informed dalam memberikan aspirasi politiknya. Artinya, masyarakat harus memiliki informasi yang cukup  dalam menentukan keputusan politiknya dan bukan hanya asal pilih. Disinilah media massa berperan, yakni untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk membantu mereka menentukan pilihannya. Media massa bertanggung jawab memberikan informasi tentang para kandidat dari sisi yang paling objektif sehingga akan menyehatkan persaingan politik di pemerintahan.

Edmund Burke menyebut media massa sebagai pilar keempat demokrasi. Karena itu, media massa bertanggung jawab sebagai pengawas dan pengontrol para pemegang kekuasaan seperti pemerintah, para pemilik modal, dan institusi-institusi lain yang sekiranya berpotensi mempengaruhi masyarakat. Fungsi media massa tersebut seharusnya juga dapat meningkatkan kewaspadaan institusi-institusi tersebut dalam melakukan aktivitasnya, karena apa yang dilihat media juga akan dilihat masyarakat.

Media massa menjadi sangat penting dalam demokrasi karena media massa diharapkan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah serta meningkatkan aspirasi politik masyarakat. Oleh karenanya, beberapa media massa menyiapkan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat seperti melalui surat pembaca. Hal ini juga menjadi semakin dimudahkan dengan perkembangan teknologi seperti internet yang makin memudahkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi politik. Namun masalahnya adalah, apakah sistem tersebut memang benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung demokrasi?aspirasi tesebut di-follow up oleh media?atau malah hanya sebagai formalitas dan dijadikan sampah? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pengelola media dalam perannya sebagai pilar keempat demokrasi.

Media massa memang berperan sebagai “marketplace of ideas”, yakni sebagai wadah aspirasi tiap orang sehingga mereka dapat berbicara dan berdebat melalui media massa. Namun hal ini juga perlu dipertanyakan keefektifannya, karena ditakutkan kebenaran yang terekonstruksi malah berdasarkan siapa yang dapat menyampaikan pandangannya dengan paling baik. Hal itu tentunya akan merugikan orang lain dan berpotensi menyisihkan kebenaran yang sebenarnya.

Berdasarkan hal tersebut, media juga seharusnya memanfaatkan kapasitasnya sebagai advokat dan partisipan sistem masyarakat dan pemerintahan. Disini, media massa tidak hanya menjadi alat pasif yang menjadi mediator komunikasi diantara berbagai pihak?pemerintah, politisi, dan masyarakat, melainkan juga  memiliki kapasitas untuk memberikan pandangannya. Baik pandangan yang mendukung kelompok-kelompok tertentu, maupun tidak. Disini, media diperlakukan seperti masyarakat yang juga berhak menyampaikan aspirasi politik.

Secara ringkas, media massa atau jurnalisme dalam demokrasi memiliki tiga peran, yaitu (1) jurnalisme sebagai sumber informasi, (2) jurnalisme sebagai watchdog dan pilar keempat demokrasi, (3) jurnalisme sebagai mediator, (4) jurnalisme sebagai advokat. Keempat peran jurnalisme tersebut merupakan tanggung jawab para pengelola media yang harus dipenuhi dalam sistem pemerintahan demokrasi.

Empat peran jurnalisme diatas memperlihatkan betapa dalam demokrasi media massa terlihat sangat baik dan independen. Namun apakah memang benar seperti itu? Pada kenyataannya, bagaimanapun media massa tidak akan pernah independen. Bagaimanapun, media massa adalah sebuah industri yang memiliki kepentingan ekonomi serta membutuhkan subsidi dana yang besar, sehingga media massa pasti akan selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang menguasainya.

Sama dengan industri-industri lainnya, media massa memiliki kepentingan ekonomi dan kompetisi media yang sangat kuat sehingga membuat media selalu berusaha agar informasinya dapat menarik banyak massa. Hal inilah yang kemudian menimbulkan hyperadversarialism, dimana para jurnalis menjadi agresif dalam mengkritisi pemerintah agar mendapatkan berita yang kontroversial sehingga dapat menarik perhatian publik. Pada akhirnya, media massa tidak lagi mencari kebenaran realitas, melainkan jadi berlomba-lomba membuat spekulasi agar beritanya lebih menarik. Hyperadversarialism ini juga menempatkan berita politik seperti infotainment, karena selalu mengambil sisi dramatisasi dan konfrontasi politik yang terjadi. Alih-alih mendukung demokrasi, hal itu sebenarnya hanya digunakan media massa untuk kepentingan ekonomi.

Kebebasan pers dalam demokrasi juga sebenarnya patut  dipertanyakan. Apakah pers atau media massa memang benar-benar bebas dari tekanan kelompok-kelompok tertentu atau malah sebenarnya ditekan tapi sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang kemudian juga menjadi olok-olok kritik marxian yang menyebut kebebasan pers sebagai ideological hoax, dimana sebenarnya pers atau media massa bagaimanapun tidak akan pernah terbebas dari penguasaan kaum borjuis. Kebebasan pers tersebut hanya dijadikan topeng untuk melakukan hegemoni dan mendukung industri medianya

Poin terpenting yang perlu dipahami adalah tidak akan pernah ada negara yang dapat mengaplikasikan demokrasi secara utuh, karena demokrasi sendiri bukan semata-mata lahir dari gerakan masyarakat melainkan juga didorong oleh elit-elit politik yang ada dibelakangnya. Dengan demikian, demokrasi tidak akan pernah berjalan sempurna, pasti akan selalu ada intervensi kelompok-kelompok tertentu yang mempengaruhinya. Begitu pula dengan media. Bagaimanapun media tidak akan pernah independen dan netral seutuhnya, media pasti akan selalu dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, baik kepentingan politik maupun ekonomi.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari buku Kevin T Leicht, “Handbook of Politics” chapter 24: Democracy and Democratization, buku Katrin Voltmer, “Mass Media and Political Communication in New Democracies”, dan buku Karin Wahl Jorgensen, “Handbook of Journalism Studies” part 17: Journalism and Democracies.. Versi PDF dapat didownload disini.

March 15th, 2011

Media Massa dan Propaganda Politik

by via

Media merupakan alat yang sangat strategis dan efektif untuk mempengaruhi khalayak. Oleh karena itu, tidak heran jika sejak dahulu banyak aktor politik yang memanfaatkan media untuk melakukan propaganda kepada masyarakat. Propaganda sendiri adalah rangkaian pesan yang disampaikan untuk mempengaruhi pendapat dan sikap masyarakat.

Di indonesia, propaganda dengan menggunakan media sudah dilakukan sejak masa kolonial. Pada saat pers mulai berkembang di Indonesia, pemerintah Belanda telah menguasai dan menggunakannya sebagai alat propaganda, salah satunya adalah melalui surat kabar Memorie Dex Nouvelles . Hal ini juga berlanjut pada masa penjajahan Jepang, dimana media-media yang dinilai membahayakan kepentingan mereka dicabut dari peredaran, khususnya media-media yang masih dipengaruhi oleh Belanda. Pada masa penjajahan ini, media massa hampir sepenuhnya dikuasai oleh para penjajah untuk melakukan propaganda kepada masyarakat.

Pasca kemerdekaan, media massa di Indonesia masih tetap saja digunakan sebagai media propaganda. Pada masa pemerintahan Soekarno, media massa digunakan untuk melegitimasi kekuasaanya. Ia memperkenalkan konsep ‘Guided Democracy’ yang mewajibkan media-media massa harus berada di bawah kontrol pemerintah, salah satunya adalah penyedia berita ANTARA. Pada masa ini, media massa khususnya radio digunakan oleh Sukarno sebagai alat untuk berorasi dan menyebarkan pengaruhnya kepada masyarakat.

Kekuasaan pemerintah terhadap media massa makin terasa pada masa orde baru, dimana semua media massa dan arus informasi berada dibawah kontrol pemerintah. Soeharto sebagai presiden saat itu membangun ikatan yang kuat antara pers dengan pemerintah, sehingga saat itu tidak ada kebebasan pers dan media massa sepenuhnya berada dibawah kontrol dan pengaruh pemerintah. Selain itu, hal tersebut makin diperparah dengan dikuasainya media massa oleh keluarga Soeharto. Dengan demikian, media massa menjadi sangat terkekang dan tidak bisa berkembang.

Media massa menjadi sangat efektif untuk melakukan propaganda karena media massa memiliki kemampuan mempengaruhi masyarakat yang tinggi. Media massa dapat digunakan untuk self marketing melalui berita dan informasi yang disiarkan, misalnya pada waktu kampanye politik. Melalui informasi-informasi di media sebelumnya telah dikonstruksi, masyarakat pada akhirnya akan terpengaruh oleh berita-berita tersebut dan mengikuti kehendak si pembuat medianya itu sendiri.

Media massa menentukan agenda publik, dan peran media adalah mendorong dukungan publik terhadap kepentingan-kepentingan tertentu yang mendominasi pemerintah dan masyarakat . Asumsi tersebut makin memperkuat pandangan bahwa media massa memang digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok-kelompok tertentu. Lebih dari itu, media massa juga menentukan agenda publik dan mengaturnya sedemikian rupa agar dapat berhasil mempengaruhi masyarakat sehingga dapat memenuhi kepentingan kelompok-kelompok tersebut.

Dalam menentukan keputusan politik, masyarakat akan selalu membutuhkan referensi. Berdasarkan kajian psikologi, norma dan pengaruh interpersonal memberikan pengaruh terhadap sikap seseorang . Hal ini jugalah yang kemudian dimanfaatkan oleh media ketika melakukan kegiatan propaganda. Melalui berita-berita yang disiarkan, media secara tidak langsung telah memberikan referensi kepada masyarakat untuk mempengaruhi keputusan politiknya. Semakin sering berita tersebut diberikan, maka akan semakin besar pengaruh yang akan didapatkan oleh masyarakat.

Selain itu, konsep mediated others juga digunakan dalam melakukan propaganda melalui media. Media seringkali menampilkan endorser atau model untuk memperkuat pesan-pesan yang disampaikannya. Endorser ini bisa berupa orang-orang biasa untuk merepresentasikan masyarakat pada umumnya atau orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat untuk dijadikan opinion leader agar dapat mempengaruhi persepsi khalayak. Teknik endorser merupakan teknik persuasif populer yang sudah banyak digunakan, khususnya dalam dunia periklanan. Dalam kaitannya dengan propaganda,  teknik ini juga banyak digunakan karena dapat mempengaruhi sisi psikis khalayak.

Persepsi dan nilai-nilai yang disampaikan oleh media massa sering kali dianggap sebagai persepsi masyarakat keseluruhan. Dalam masyarakat kontemporer, media massa seakan-akan merepresentasikan opini dan persepsi masyarakat secara umum . Oleh karena itu, banyak orang yang menggunakan informasi yang ada di media massa sebagai referensi karena informasi di media dianggap mewakili persepsi masyarakat. Karakteristik media massa tersebut menjadi sangat beresiko untuk dijadikan alat propaganda, karena bisa jadi pesan-pesan yang disampaikan media massa hanyalah hasil konstruksi dari pemiliki kepentingan-kepentingan tertentu dan sama sekali tidak mewakili persepsi masyarakat secara keseluruhan.

Sementara itu, fungsi media sebagai media informasi terlihat jelas pada saat terjadi krisis. Media massa menjadi alat penting dalam penyebaran informasi dan mengingatkan masyarakat akan kejadian-kejadian tertentu . Oleh karena itu, rating berita meningkat pada saat terjadi krisis karena setiap orang mengakses media untuk mendapatkan informasi dan konfirmasi tentang krisis yang sedang berlangsung.

Peningkatan akses terhadap media tersebut pada akhirnya akan berimplikasi terhadap peningkatan kepercayaan khalayak terhadap pesan-pesan yang disampaikan media. Dengan demikian, kekuatan media akan menjadi semakin kuat dalam mempengaruhi khalayak dan akan semakin efektif jika orang-orang yang memiliki kepentingan menggunakannya untuk melakukan propaganda-propaganda tertentu. Meskipun pada saat krisis media cenderung memiliki sumber-sumber berita yang terbatas, hal itu tetap tidak menutup kemungkinan akan dijadikannya media sebagai alat propaganda pada saat krisis berlangsung.

Tulisan ini merupakan rangkuman buku “The Psychology of Media and Politics” karya George Comstock, buku “Media Effect and Society” karya Elizabeth M Perse, buku “The Media and Political Change in Southeast Asia karya Jonathan Woodier, dan buku “The Media Effect: How The News Influences Politics and Government” karya Jim Willis. Versi PDF dapat didownload
disini.

February 18th, 2011

Media dan Politik di Indonesia

by via

Pada tahun 1918, Max Weber menjelaskan tentang konsep-konsep politik. Menurutnya, dalam konsep negara, politik adalah tentang mendapatkan dan kehilangan kekuasaan. Ia juga menambahkan bahwa politik berarti berusaha membagi kekuasaan dan berusaha mempengaruhi pembagian kekuasaan tersebut, baik kepada negara maupun kepada kelompok-kelompok yang ada didalamnya. Dalam konsep politiknya, weber menekankan aspek martabat politik dan ciri khas politik itu sendiri.

read more »

February 15th, 2011

Kellner: Perang Teori dan Studi Budaya

by via

Pada era 1960an terjadi perang sosial yang berkepanjangan dengan gerakan-gerakan sosial untuk membentuk budaya-budaya baru. Tahun 1960 juga merupakan era perang budaya diantara aliran liberal, konservatif, dan radikal untuk merekonstruksi sosial dan budaya berdasarkan agenda mereka. Dalam perkembangannya, perang sosial tersebut berlanjut dalam waktu yang lama.

Runtuhnya tembok berlin, jatuhnya kerajaan komunis Soviet, dan bubarnya Uni Soviet tadinya diduga akan mengakhiri masa masa sulit yang telah terjadi dalam sejarah. Namun kenyataannya, ternyata hal tersebut tidak juga membawa kestabilan dan kedamaian.  Yang terjadi adalah ledakan  perang nasional dan agama, dimana tidak ada kekuatan politik yang dapat menyelesaikannya.

Pasca Perang Dunia II terjadi polarisasi budaya, politik, dan ekonomi serta terjadi pembagian antara blok barat dan blok timur, sosialis komunis dan kapitalis liberalis. Polarisasi tersebut kemudian mendorong terjadinya perang teori dan ideologi diantara keduanya untuk menghegemoni negara-negara lain.

Peningkatan media massa pada tahun 1960an mendorong terjadinya kebebasan informasi, sehingga setiap orang dari belahan dunia manapun dapat mengakses informasi yang sama tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Akses informasi yang sangat tinggi mengakibatkan terjadinya fever, dimana masyarakat merasa bingung dan gagap melihat banyaknya teori dan informasi yang masuk. Dengan adanya ledakan teori tersebut, maka terjadilah perang teori (theory wars), dimana para teoritikus berusaha meyakinkan teorinya masing-masing bahwa teorinyalah yang paling relevan

Kemunculan teknologi baru pada akhir dekade secara langsung telah mengubah pola kehidupan masyarakat. Dengan adanya teknologi baru, banyak pekerjaan yang tergantikan, banyak tercipta lapangan kerja baru, serta adanya bentuk-bentuk komunikasi baru dan kemudahan pengaksesan infomasi.

Namun demikian, perlu kita sadari bahwa media baru dan teknologi sebenarnya memiliki efek yang kontradiktif dan ambigu. Di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai macam pilihan, kemungkinan otonomi budaya, dan kesempatan mengeksplorasi ide dan budaya yang lebih terbuka. Namun disisi lain, teknologi justru memungkinkan terjadinya pengawasan dan pengontrolan yang secara tidak langsung juga membatasi ruang gerak kita.

Media baru sebenarnya juga berjasa dalam membuat bentuk kontrol sosial baru yang lebih efisien, namun disisi lain juga dapat menyembunyikan praktek-praktek manipulasi dan indoktrinasi dengan lebih halus. Keberadaannya juga dapat melemahkan energi politik dan mengamankan masyarakat dari aksi politik massa.

Secara historis, budaya media merupakan budaya yang relatif masih baru. Setelah datangnya televisi pasca Perang Dunia II, budaya media menjadi kekuatan dominan dalam budaya, sosial, dan politik. Hal tersebut kemudian mendorong media massa lain untuk mengkolonialisasi masyarakat dan menjadi pusat dari sistem budaya dan komunikasi di Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya, seperti dijelaskanoleh Horkheimer dan Adorno (1972).

Perlu disadari, komersialisasi dan komodifikasi budaya memiliki beberapa konsekuensi penting. Pertama, adanya kepentingan ekonomi akan mendorong pemilik industri untuk memproduksi produk-produk populer dan menjual agar dapat menarik banyak massa. Dengan demikian akan terjadi produksi produk-produk media berstandar rendah yang tetap diterima masyarakat. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan, karena bertentangan dengan fungsi-fungsi media sebenarnya.

Saat ini budaya media merupakan budaya yang dominan. Budaya media telah menggantikan bentuk-bentuk high culture sebagai pusat atensi budaya yang berpengaruh terhadap banyak orang. Dalam hal literasi media, budaya oral dan visual juga telah menggantikan budaya buku yang berimplikasi terhadap tuntutan baru literasi media untuk menguasai media-media baru.

Budaya media telah menjadi kekuatan sosial yang kuat dengan media images dan unsur-unsur media yang menggantikan posisi institusi tradisional seperti keluarga sebagai juru nilai, rasa, dan pemikiran. Perubahan tersebut mengakibatkan munculnya model identifikasi baru dan merubah gaya hidup serta perilaku masyarakat.

Dalam tulisannya ini, Kellner menyebutkan banyak teori-teori yang berkaitan dengan studi budaya yang ia bahas. Teori-teori tersebut antara lain adalah teori post-modernisme, post-strukturialisme, marxisme, feminisme, positivisme, dan teori sosial. Selain itu Kellner juga banyak menyebutkan aliran-aliran masyarakat seperti aliran konservatif, radikal, dan lain-lain.

Kellner menekankan pentingnya teori dalam kehidupan seseorang. Ia menyebutkan, tidak ada persepsi yang dengan sempurna dapat melihat dan menginterpretasikan sesuatu, oleh karena itu kita harus melandasinya dengan asumsi-asumsi teoritis. Ia melihat bahwa teori merupakan alat untuk melihat dan mendiskusikan fenomena-fenomena, serta mencari solusi masalah. Teori juga dapat menjelaskan realitas sosial yang membantu seseorang untuk memahami dunia mereka.

Secara singkat, akan dijelaskan sedikit tentang teori-teori yang disebutkan Kellner dalam tulisannya:

  • Post-modernisme merupakan pengembangan dari modernisme, post-modernisme muncul karena modernisme dianggap tidak berhasil memperbaiki kehidupan manusia serta tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.
  • Post-strukturialisme membahas metode dan epistimologi budaya seperti diskursus bahasa dan simbol.
  • Marxisme merupakan perlawan terhadap paham kapitalisme yang membahas tentang konflik kaum borjuis dan kaum proletar.
  • Femisnisme merupakan sebuah gerakan yang memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
  • Positivisme merupakan teori yang menganggap sains sebagai alat untuk memahami semua fenomena yang terjadi di dunia.
  • Teori sosial memberikan gambaran besar yang memungkinkan seseorang untuk mengkonstektualisasikan pengalaman mereka dalam bidang sosial yang lebih luas.

Tulisan ini merupakan rangkuman Chapter 1: Theory Wars and Cultural Studies dalam buku Media Culture karya Douglas Kellner. Versi PDF dapat didownload disini.

February 7th, 2011

Media Baru, Apa dan Bagaimana

by via

Kemunculan media baru memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan manusia. Media baru secara langsung telah merubah pola kehidupan masyarakat, budaya, cara berfikir, dan hampir segala aspek dalam kehidupan manusia. Perkembangan media ini mendapatkan tanggapan yang beragam, ada yang pro dan ada yang kontra. Tanggapan tersebut sah-sah saja dikeluarkan sepanjang kita memahami betul apa dan bagaimana media baru itu sendiri. read more »

February 3rd, 2011

Dampak Perkembangan Teknologi Komunikasi

by via

Teknologi komunikasi telah dimulai sejak zaman dahulu. Mulai dari diciptakannya mesin cetak, pesawat telepon, hingga internet. Teknologi tersebut terus dikembangkan oleh para ilmuwan dan akan terus terjadi inovasi-inovasi baru. Teknologi komunikasi bukan hanya memberikan dampak di bidang ilmu pengetahuan, tapi juga di bidang komunikasi. Berikut ini sejarah dan dampak-dampak yang ditimbulkan sejak ditemukannya mesin cetak hingga internet.

read more »

January 1st, 2011

Media Baru sebagai Teknologi Budaya

by via

Pemikiran dualistik yang sering kali muncul dalam menanggapi keberadaan media adalah anggapan bahwa media adalah hal yang baik atau buruk. Kebanyakan orang hanya membingkai persepsi media dalam dua sisi, tanpa memberi kemungkinan lain.

read more »