<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Psikologi Komunikasi</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/category/psikologi-komunikasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 04:28:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/03/30/pengaruh-roman-romeo-dan-juliet-terhadap-film-dan-perilaku-masyarakat/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/03/30/pengaruh-roman-romeo-dan-juliet-terhadap-film-dan-perilaku-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 17:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media dan Budaya Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiologi Media]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Media Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Althusser]]></category>
		<category><![CDATA[Frankfurt School]]></category>
		<category><![CDATA[Gramsci]]></category>
		<category><![CDATA[hegemoni]]></category>
		<category><![CDATA[industri budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Industri Media]]></category>
		<category><![CDATA[interpelasi]]></category>
		<category><![CDATA[intertekstual]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Media Massa]]></category>
		<category><![CDATA[strukturalis]]></category>
		<category><![CDATA[teori kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi. Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet.jpg"><img class="size-medium wp-image-270 alignleft" title="romeo-and-juliet" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet-300x296.jpg" alt="" width="238" height="234" /></a>Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.</p>
<p>Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.</p>
<p><span id="more-269"></span>Roman yang ditulis oleh Shakespeare ini telah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa di dunia dan ceritanya juga sudah sering diangkat kedalam film dan dipentaskan di teater-teater di seluruh dunia. Kisah tentang Romeo dan Juliet ini telah menjadi kisah turun temurun yang bertahan dari generasi-generasi. Hampir semua orang, baik tua maupun muda, sangat familiar dengan kisah dan kedua tokoh dalam roman tersebut. Saat mendengar kisah cinta yang penuh pengorbanan, pikiran kebanyakan orang akan tertuju pada kisah legendaris ini.</p>
<p>Melalui roman Romeo dan Juliet, Shakespeare telah melakukan apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni. Dimana melalui kisah cinta yang ia ceritakan, ia berhasil mendominasi pemikiran khalayak bahwa ketika seseorang jatuh cinta, ia harus memperjuangkan cintanya dengan cara apapun, sekalipun hal itu harus menyakiti dirinya sendiri. Ideologi itulah yang kemudian menghegemoni pemikiran dan perilaku khalayak yang selanjutnya mempengaruhi konten media, khususnya film-film drama.</p>
<p>Kisah Romeo dan Juliet sudah pernah difilmkan beberapa kali dan sangat legendaris. Kisah ini pertama kali difilmkan pada tahun 1968 yang dibintangi Leonard Whiting dan Olivia Hussey. Pada waktu itu, film ini juga memenangkan 2 kategori sekaligus dalam  ajang <em>Academy Awards</em>, yaitu <em>Best Cinematography</em> dan <em>Best Costume Design</em>. Selang beberapa tahun kemudian, kisah ini difilmkan kembali pada tahun 1996 yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio dan Claire Danes yang juga mendapatkan sambutan yang luar biasa. Di Indonesia sendiri, kisah Romeo dan Juliet juga pernah difilmkan pada tahun 2009 yang disutradarai Andibachtiar Yusuf dengan konsep yang berbeda. Dalam perkembangannya, kisah Romeo dan Juliet menjadi kisah cinta favorit yang tidak pernah hilang ditelan masa.</p>
<p>Disadari atau tidak, roman Romeo dan Juliet ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap dunia perfilman. Banyak film-film yang mengadaptasi kisah dan nilai-nilai yang ada dalam roman tersebut. Misalnya film drama Boys before Flowers dari Korea Selatan yang menceritakan perjuangan sepasang kekasih dalam mempertahankan cinta mereka meskipun tidak disetujui oleh orang tua. Film ini sedikit banyak telah mengadaptasi nilai-nilai yang ada dalam roman Romeo dan Juliet yang ditulis Shakespeare, bahwa cinta harus tetap diperjuangkan meskipun harus menentang kehendak orang tua dan menempatkan cinta diatas segala-galanya.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, ideologi-ideologi roman Romeo dan Juliet ini banyak diterapkan di sinetron-sintron, misalnya di FTV-FTV yang sering ditayangkan di SCTV. Mereka secara langsung maupun tidak langsung telah meminjam pemaknaan dari kisah Romeo dan Juliet dan menerapkannya dalam sinetron mereka.</p>
<p>Apa yang dilakukan film dan sinetron diatas merupakan intertekstualitas, sebuah istilah yang juga pernah diperkenalkan oleh Gramsci. Intertekstualitas merupakan cara yang dilakukan Gramsci dalam menganalisis fenomena hegemoni dalam kajian isi media dan <em>audience. </em>Gramsci mengatakan bahwa saat sebuah teks meminjam teks lain, ia juga meminjam makna dari teks tersebut. Artinya ketika film-film diatas meminjam nilai-nilai yang ada dalam kisah Romeo dan Juliet, mereka juga sebenarnya telah meminjam makna dari kisah itu sendiri. Sehingga ketika mereka melihat film tersebut, mereka seakan-akan melihat pantulan dan perasaan yang sama saat menyaksikan roman Romeo dan Juliet atau pantulan dari pemikiran mereka yang telah terhegemoni tentang konsep cinta dan pengorbanan.</p>
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-271" title="romeo and juliet" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/romeo-and-juliet1-206x300.jpg" alt="" width="206" height="300" /></a></p>
<p>Film Romeo Juliet merupakan salah satu contoh intertekstualitas yang dilakukan film Indonesia terhadap roman Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Jika dalam roman karya Shakespeare konflik yang terjadi dalam hubungan Romeo dan Juliet adalah konflik keluarga, maka dalam film ini konflik terjadi diantara dua kelompok fans sepak bola yang saling bermusuhan, yaitu PERSIJA Jakarta (Jakmania) dan PERSIB Bandung  (Viking). Alur cerita yang digambarkan dalam film ini relatif sama dengan roman Romeo dan Juliet yang asli, namun dimodifikasi sedemikian rupa dengan bentuk yang berbeda. Namun tetap saja, secara tidak langsung film ini telah meminjam pemaknaan dari roman Romeo dan Juliet yang asli.</p>
<p>Meskipun banyak film yang mengadaptasi nilai-nilai dalam kisah Romeo dan Juliet sebagai konsekuensi dari hegemoni yang terjadi, bukan berarti mereka terus-menerus mengadaptasi nilai-nilai tersebut secara penuh. Menurut Gramsci, hegemoni merupakan sebuah proses yang diperbaharui dan dimodifikasi secara terus menerus dan terus dipertahankan. Oleh karena itu, para pelaku media terus memodifikasi kisah Romeo dan Juliet ini kedalam berbagai bentuk untuk melanjutkan dan mempertahankan hegemoni ideologi yang telah ada sebelumnya.</p>
<p>Media sebagai distributor penyampaian ideologi-ideologi Shakespeare, merupakan apa yang disebut Althusser sebagai ISA (<em>ideological state apparatus). </em>Meskipun ideologi tersebut datang dari Shakespeare, media memfasilitasi ideologi tersebut sehingga dapat tertanam dalam diri banyak orang. Secara tidak sadar maupun tidak, khalayak yang menyaksikan tayangan-tayangan tersebut akan diajak oleh media untuk menyepakati ideologi-ideologi yang disampaikan melalui tayangan-tayangan yang diberikan. Dalam hal ini, media merupakan salah satu instrumen penting dalam penanaman ideologi.</p>
<p>Penyampaian ideologi yang dilakukan melalui film merupakan salah satu bentuk <em>struggle </em>untuk dapat melakukan hegemoni. Menurut Gramsci, <em>struggle </em>dari pemilik atau penyebar ideologi diperlukan untuk dapat menanamkan ideologi-ideologi tertentu dalam diri khalayak. Setelah dilakukan <em>struggle, </em>pada akhirnya akan tercipta kesepakatan diantara pelaku hegemoni dan khalayak yang terhegemoni untuk sama-sama menerima ideologi tersebut sebagai suatu sistem kepercayaan.</p>
<p>Selanjutnya, pemikiran Althusser yang cocok dalam menggambarkan fenomena yang terjadi pada khalayak saat menonton film Romeo dan Juliet adalah interpelasi. Interpelasi dapat diartikan sebagai mekanisme menarik perhatian yang menempatkan penonton sebagai subjek. Dalam film Romeo dan Juliet, Shakespeare tidak hanya menawarkan cerita, namun juga menghadirkan sekaligus memberi imaji yang selanjutnya akan termaterialisasi kepada khalayak. Pertama-tama, khalayak ditempatkan sebagai penonton film Romeo dan Juliet, dimana pada waktu itulah ia ter-interpelasi, terbujuk secara imajiner untuk menempati posisi subjek tertentu yaitu sebagai pencinta yang baik yang mempercayai bahwa cinta harus diperjuangkan. Interpelasi yang dilakukan secara terus menerus ini pada akhirnya akan mengakibatkan hegemoni, dimana khalayak menganggap ideologi tersebut memang sesuatu yang sebenarnya dan harus diikuti.</p>
<p>Sedikit banyak, ideologi “cinta harus berkorban” yang disampaikan Shakespeare dalam roman Romeo dan Juliet ini telah mempengaruhi pandangan banyak orang dalam melihat hubungan percintaan.  Mereka menganggap bahwa ketika mereka jatuh cinta, mereka harus memperjuangkan dan membuktikannya dengan cara apapun. Tak heran banyak terjadi kasus bunuh diri karena putus cinta, melawan orang tua untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan, dan perilaku mengharu-biru lainnya sebagai dampak dari hegemoni ideologi yang terjadi.</p>
<p><em>Consciousness </em>tersebut tidaklah datang begitu saja. Hal itu terbentuk melalui proses-proses tertentu yang dilakukan oleh media melalui tayangan-tayangan yang diberikan. Karena ideologi itu disampaikan secara terus menerus dan berlangsung sejak lama, media akhirnya membentuk <em>consciousness </em>tersebut dalam diri masyarakat. Mereka tidak lagi menyadari bahwa apa yang mereka percayai adalah hasil konstruksi, melainkan menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya.</p>
<p>Dengan demikian, fenomena roman Romeo dan Juliet ini dapat dikaitkan dengan konsep-konsep yang pernah diperkenalkan oleh Althusser (ISA dan interpelasi) dan Gramsci (hegemoni dan intertekstualitas). Roman Romeo dan Juliet telah melakukan hegemoni dengan menanamkan ideologi “cinta harus berkorban” kepada khalayak yang selanjutnya banyak diadopsi oleh film-film diseluruh dunia. Sementara itu, film-film yang memiliki ideologi yang sama seperti roman Romeo dan Juliet telah melakukan intertekstualitas dengan meminjam makna dari roman tersebut dan menempatkannya dalam film yang ia buat. Baik roman maupun film Romeo dan Juliet telah melakukan interpelasi dengan menjadikan khalayak sebagai subjek saat mengikuti cerita mereka. Dalam hal ini, media media memiliki peran yang sangat penting sebagai ISA (<em>Ideological State Apparatus), </em> yakni sebagai instrumen yang membantu menanamkan ideologi tersebut dalam diri khalayak.</p>
<p><em>Versi PDF dapat didownload<a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/03/Lutviah-Implikasi-Roman-Romeo-dan-Juliet-terhadap-Media-dan-Masyarakat.pdf"> disini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/03/30/pengaruh-roman-romeo-dan-juliet-terhadap-film-dan-perilaku-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karakteristik Manusia Komunikan</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/02/04/karakteristik-manusia-komunikan/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/02/04/karakteristik-manusia-komunikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 18:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Seperti dalam tulisan sebelumnya, psikologi dan komunikasi adalah dua bidang ilmu yang memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Djalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa sebagai komunikan, manusia memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut dijelaskan dalam konsepsi psikologi tentang manusia, yaitu konsepsi psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Berikut ini hasil review [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti dalam tulisan sebelumnya, psikologi dan komunikasi adalah dua bidang ilmu yang memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Djalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan bahwa sebagai komunikan, manusia memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut dijelaskan dalam konsepsi psikologi tentang manusia, yaitu konsepsi psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Berikut ini hasil <em>review</em> saya tentang karakteristik manusia komunikan dari buku Psikologi Komunikasi karya Djalaludin Rakhmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Download: <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/12/Lutviah-Karakteristik-Manusia-Komunikan.pdf">Lutviah-Karakteristik Manusia Komunikan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/02/04/karakteristik-manusia-komunikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Komunikasi Intrapersonal</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/05/sistem-komunikasi-intrapersonal/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/05/sistem-komunikasi-intrapersonal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 18:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Intrapersonal]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan orang beranggapan bahwa proses komunikasi hanya bisa terjadi antarpersona atau lebih dari satu orang. Padahal kenyataannya, ternyata kita sebagai manusia tidak hanya melakukan komunikasi interpersonal namun juga komunikasi intrapersonal. Djalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa sistem komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Beliau juga menjelaskan bagaimana sistem-sistem tersebut bekerja dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kebanyakan orang beranggapan bahwa proses komunikasi hanya bisa terjadi antarpersona atau lebih dari satu orang. Padahal kenyataannya, ternyata kita sebagai manusia tidak hanya melakukan komunikasi interpersonal namun juga komunikasi intrapersonal. Djalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa sistem komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Beliau juga menjelaskan bagaimana sistem-sistem tersebut bekerja dan mempengaruhi seseorang. Berikut ini hasil <em>review </em>saya tentang Sistem Komunikasi Intrapersonal karya Djalaludin Rakhmat.</p>
<p style="text-align: justify;">Download: <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/12/Lutviah-Sistem-Komunikasi-Intrapersonal.pdf">Lutviah-Sistem Komunikasi Intrapersonal</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/05/sistem-komunikasi-intrapersonal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Psikologi dan Komunikasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2011/01/02/psikologi-dan-komunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2011/01/02/psikologi-dan-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 16:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Psikologi dan komunikasi sebenarnya merupakan dua kajian ilmu yang berbeda. Psikologi mempelajari tentang karakteristik dan kejiwaan manusia, sedangkan komunikasi mempelajari proses penyampaian informasi antar manusia. Baik mahasiswa psikologi maupun komunikasi pasti mendapatkan mata kuliah psikologi komunikasi, terutama pada semester-semester awal. Ada hubungan apa diantara psikologi dan komunikasi? Mengapa kedua ilmu tersebut selalu dikaitkan? Ikuti terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Psikologi  dan komunikasi sebenarnya merupakan dua kajian ilmu yang  berbeda.  Psikologi mempelajari tentang karakteristik dan kejiwaan  manusia,  sedangkan komunikasi mempelajari proses penyampaian informasi  antar  manusia. Baik mahasiswa psikologi maupun komunikasi pasti  mendapatkan  mata kuliah psikologi komunikasi, terutama pada  semester-semester awal.  Ada hubungan apa diantara psikologi dan  komunikasi? Mengapa kedua ilmu  tersebut selalu dikaitkan? Ikuti terus  tulisan ini <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /><span id="more-22"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Percaya   atau tidak, ilmu komunikasi sebenarnya dikembangkan oleh para ahli   psikologi. Kurt Lewin, Paul Lazarsfeld, dan Carl I. Hovland merupakan   para ahli psikologi yang kemudian mengembangkan ilmu komunikasi. Tak   heran kan jika banyak definisi-definisi komunikasi yang terpengaruhi   oleh unsur psikologi. Misalnya definisi Hovland, Janis, dan Kelly yang   menyebutkan bahwa “Komunikasi ada sebuah proses dimana seseorang   mengirimkan pesan (biasanya ucapan) untuk merubah kebiasaan orang lain   (pendengar)”. Dengan kata lain, komunikasi dapat merubah karakteristik,   kebiasaan, kejiwaan, bahkan perasaan orang lain lho <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /></p>
<p style="text-align: center;"><a href="../wp-content/uploads/2010/12/psikologi%20komunikasi"><img class="aligncenter" title="psikologi komunikasi" src="../wp-content/uploads/2010/12/gambar-iklan31.gif" alt="" width="287" height="207" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pernah dengar kalimat ini, psikologi mempengaruhi  komunikasi dan  komunikasi mempengaruhi psikologi? Kalimat tersebut pasti  udah ga asing  lagi di telinga para mahasiswa komunikasi dan psikologi. <em>Well</em>, kita baha satu-satu ya <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /> .</p>
<p style="text-align: justify;">Psikologi mempengaruhi komunikasi tentunya dapat  kita pahami dengan  mudah. Kondisi seseorang yang sedang senang, sedih,  atau marah pastinya  akan mempengaruhi tindakan komunikasinya. Gak  mungkin kan orang yang  sedang marah bisa tersenyum bahagia apalagi  tertawa gembira, nanti  malah disebut orang gila <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1254930727g" alt=":D" /> . Begitu juga dengan  orang yang cenderung pendiam, pemarah, atau  cerewet, kegiatan  komunikasinya pasti berbeda-beda. Orang yang pendiam  akan cenderung  menutup diri dan jarang berbicara, orang pemarah akan  terkesan ketus  saat berbicara, dan orang yang cerewet akan senang  berbicara tentang apapun, kapanpun, kepada siapapun, bahkan tentang hal  yang gak penting sekalipun <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1254930727g" alt=":D" /> .</p>
<p style="text-align: justify;">Komunikasi mempengaruhi psikologi dapat kita lihat  pada kasus Genie  di California pada tahun 1970. Sejak kecil, Genie  hampir tidak pernah  berkomunikasi. Sepanjang hari ia diikat oleh ayahnya  di sebuah kursi  dan tidak pernah diajak berbicara. Tiap kali Genie  menangis, maka si  ayah akan memukulinya. Sepanjang hidup, Genie hampir  tidak pernah  berbicara dan mendengar orang lain bercakap-cakap.  Jangankan untuk  mengutarakan perasaan, untuk mengerti perkataan orang  lainpun ia tidak  mampu. Akibatnya Genie tumbuh menjadi seseorang yang  autis dan  mengalami gangguan kejiwaan. Dari kasus Genie dapat kita  lihat, bahwa  komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting dalam  perkembangan  kepribadian manusia. Baik ataupun buruk komunikasi yang  dilakukan  seseorang akan mempengaruhi sisi psikologisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang terlihat kan hubungan antara komunikasi  dengan psikologi?  Kedua bidang ilmu tersebut saling mempengaruhi satu  sama lain. Karakter  kita akan mempengaruhi kegiatan komunikasi yang kita  lakukan, begitu  juga sebaliknya. Jadi, yuk kita berkomunikasi! Katakan  perasaanmu dan  bentuk kepribadianmu <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1254930727g" alt=";)" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2011/01/02/psikologi-dan-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Mau Terkena Spiral of Silent</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/08/11/jangan-mau-terkena-spiral-of-silent/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/08/11/jangan-mau-terkena-spiral-of-silent/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 15:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spiral of Silent]]></category>
		<category><![CDATA[Teori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata. Teori spiral of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/silent_mouth.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-144" title="silent_mouth" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/silent_mouth-300x194.jpg" alt="" width="300" height="194" /></a></p>
<p>Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata.</p>
<p><span id="more-143"></span>Teori spiral of silent atau teori keheningan dikemukakan oleh Noelle Newmann. Teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang suatu isu. Tapi ternyata, setiap orang memiliki rasa takut mengemukakan pendapat mereka lho. Karena itu mereka mencari dukungan dari lingkungan dan media massa, agar mereka bisa lebih bebas mengekspresikan pendapat mereka, tanpa takut akan terisolasi.</p>
<p>Dalam teori ini, Noelle Newmann membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan mayoritas dan minoritas. Pandangan mayoritas percaya bahwa kelompok yang berada dalam pandangan tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemukakan pendapat mereka. Sedangkan pandangan minoritas kebalikannya, mereka biasanya lebih berhati-hati dan diam dalam mengemukakan pendapatnya. Dan tahu ga sih, ternyata media massa lah yang menyuarakan suara mayoritas untuk membungkam suara minoritas. Nah lho, makin tersingkir deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Teori spiral of silent tidak akan terpisahkan dari yang namanya opini publik. Sebenarnya apa sih opini publik itu? Noelle Newmann mengatakan bahwa opini publik adalah sikap atau perilaku yang diekspresikan seseorang di depan publik untuk menghindari isolasi. Misalnya nih ya, menurutku Mandra itu orangnya cakeeep banget, tapi berhubung satu indonesia bilang dia<span style="text-decoration: line-through;"> jelek</span>, akhirnya aku ngikut deh. Daripada dibilang<span style="text-decoration: line-through;"> berselera rendah</span>.. ups.. ini misalnya loh ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Noelle Newmann menjelaskan tiga asumsi tentang teori ini, yuk kita bahas satu satu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<ul>
<li><strong>Suara mayoritas memegang      kekuasaan terhadap suara minoritas. </strong>Seperti contoh tadi, karena takut terisolasi maka      orang-orang yang ada dalam suara minoritas akan lebih memilih untuk diam.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Orang selalu menilai iklim dari      opini publik.</strong> Artinya, setiap orang selalu melihat keadaan berdasarkan apa yang orang      lain lakukan dan apa yang orang lain pikirkan. Misalnya ketika semua orang      berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu kewajiban, maka sadar      ataupun tidak kita akan mengikutinya.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Perilaku publik dipengaruhi      evaluasi opini publik.</strong> Saat pendapat kita mendapatkan dukungan, maka      kita cenderung akan lebih berani mengekspresikannya. Begitu juga      sebaliknya, saat pendapat kita tidak mendapat dukungan, maka kita akan      cenderung diam. Koq kita jadi kelihatan cemen banget ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Teori spiral of silent memang mencerminkan sikap kebanyakan orang dalam mengemukakan pendapatnya. Tapi tentu saja itu bukan sikap yang baik kan, karena manusia jadi terlihat pengecut dan hanya terbawa arus media. Setiap manusia itu unik lho, karena itu jangan heran jika memiliki pendapat yang berbeda, dan jangan takut menyuarakan pendapat kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 864px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><!--[if !mso]> <mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves>false</w:TrackMoves> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>IN</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>AR-SA</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:ApplyBreakingRules /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val="&#45;-" /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Corbel","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Corbel; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Corbel; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .<span><img src="file:///C:/Users/Lutviah/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="http://lutviah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" width="1" height="1" /></span>Teori spiral of silent atau teori keheningan dikemukakan oleh Noelle Newmann. Teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang suatu isu. Tapi ternyata, setiap orang memiliki rasa takut mengemukakan pendapat mereka lho. Karena itu mereka mencari dukungan dari lingkungan dan media massa, agar mereka bisa lebih bebas mengekspresikan pendapat mereka, tanpa takut akan terisolasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Dalam teori ini, Noelle Newmann membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan mayoritas dan minoritas. Pandangan mayoritas percaya bahwa kelompok yang berada dalam pandangan tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemukakan pendapat mereka. Sedangkan pandangan minoritas kebalikannya, mereka biasanya lebih berhati-hati dan diam dalam mengemukakan pendapatnya. Dan tahu ga sih, ternyata media massa lah yang menyuarakan suara mayoritas untuk membungkam suara minoritas. Nah lho, makin tersingkir deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Teori spiral of silent tidak akan terpisahkan dari yang namanya opini publik. Sebenarnya apa sih opini publik itu? Noelle Newmann mengatakan bahwa opini publik adalah sikap atau perilaku yang diekspresikan seseorang di depan publik untuk menghindari isolasi. Misalnya nih ya, menurutku Mandra itu orangnya cakeeep banget, tapi berhubung satu indonesia bilang dia jelek, akhirnya aku ngikut deh. Daripada dibilang berselera rendah.. ups.. ini misalnya loh ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Noelle Newmann menjelaskan tiga asumsi tentang teori ini, yuk kita bahas satu satu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Suara mayoritas memegang      kekuasaan terhadap suara minoritas. </span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Seperti contoh tadi, karena takut terisolasi maka      orang-orang yang ada dalam suara minoritas akan lebih memilih untuk diam.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Orang selalu menilai iklim dari      opini publik.</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"> Artinya, setiap orang selalu melihat keadaan berdasarkan apa yang orang      lain lakukan dan apa yang orang lain pikirkan. Misalnya ketika semua orang      berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu kewajiban, maka sadar      ataupun tidak kita akan mengikutinya.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Perilaku publik dipengaruhi      evaluasi opini publik.</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"> Saat pendapat kita mendapatkan dukungan, maka      kita cenderung akan lebih berani mengekspresikannya. Begitu juga      sebaliknya, saat pendapat kita tidak mendapat dukungan, maka kita akan      cenderung diam. Koq kita jadi kelihatan cemen banget ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;">Teori spiral of silent memang mencerminkan sikap kebanyakan orang dalam mengemukakan pendapatnya. Tapi tentu saja itu bukan sikap yang baik kan, karena manusia jadi terlihat pengecut dan hanya terbawa arus media. Setiap manusia itu unik lho, karena itu jangan heran jika memiliki pendapat yang berbeda, dan jangan takut menyuarakan pendapat kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p class="MsoNormal">
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/08/11/jangan-mau-terkena-spiral-of-silent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Bukan Sekedar Kata-kata</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/07/11/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/07/11/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 15:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi nonverbal]]></category>
		<category><![CDATA[pengantar komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2009/12/body_language.jpg"></a><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/body_language2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-147" title="A series &quot; Gestures of hands &quot;. A part 9" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2011/02/body_language2-300x300.jpg" alt="" width="223" height="223" /></a>Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan menyampaikan pesan-pesan tertentu. <em>Gak</em> percaya? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-146"></span>Banyak orang menganggap bahwa komunikasi nonverbal sama dengan bahasa tubuh. Anggapan tersebut tidak salah, karena komunikasi nonverbal memang terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas-aktifitas fisik, seperti mengedipkan mata, melambaikan tangan, dan gerakan kepala.  Namun perlu kita ketahui, bahasa tubuh bukanlah satu-satunya bentuk komunikasi nonverbal. <em>Setting</em> komunikasi seperti ruang, waktu, dan pakaian yang dikenakan juga merupakan bentuk komunikasi nonverbal.</p>
<p>Dalam pergaulan sehari-hari, kita pasti sering menggunakan bahasa tubuh. Tak hanya ketika berkomunikasi dengan orang lain namun juga sebagai bentuk pengekspresian diri. Saat berpidato, seorang orator sering kali menggerak-gerakkan tangan sebagai penekanan terhadap pidato yang disampaikannya. Saat bosan mendengarkan penjelasan dosen di kelas, para mahasiswa ada yang mengetuk-ngetuk meja , bahkan tidur dengan leluasa <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Itu berarti, aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh tubuh kita memiliki makna dan memberi pengaruh pada orang lain.</p>
<p>Saat pembuatan makalah komunikasi nonverbal kemarin, aku membuat survey kecil-kecilan tentang makna bahasa tubuh bagi mahasiswa Paramadina, khususnya jurusan Ilmu Komunikasi. Saat itu, ada temanku yang sedang berpangku tangan disudut ruangan kelas. Iseng-iseng aku tanya apa makna berpangku tangan yang sedang ia lakukan. Ia jawab bahwa ia sedang BT alias <em>Bosen Total</em>. Jawabannya memancing pendapat teman-temanku yang lain. Ada yang berpendapat bahwa berpangku tangan berarti sedang berfikir, fokus, melamun, menunggu, dan mengantuk. Menarik! Satu gerakan tubuh saja bisa bermakna ganda. Memang benar kata Knapp dan Hall, isyarat nonverbal jarang memiliki makna denotatif yang tunggal.</p>
<p>Pemaknaan sombol-simbol nonverbal bergantung pada latar belakang orang masing-masing. Masing-masing budaya, daerah, dan negara dapat memiliki pemaknaan berbeda terhadap simbol-simbol nonverbal tertentu. Masyarakat Indonesia terbiasa menganggukan kepala sebagai simbol &#8220;Iya&#8221; dan menggelengkan kepala sebagai simbol &#8220;Tidak&#8221;. Sebaliknya, masyarakat India terbiasa menggeleng sebagai simbol &#8220;Iya&#8221; dan mengangguk sebagai simbol &#8220;Tidak&#8221;. Makna manakah yang benar? Tentu keduanya benar. Tidak ada standar kebenaran yang pasti tentang bahasa tubuh manusia. Setiap orang memiliki style dan pemaknaan masing-masing terhadap bahasa tubuh yang dilakukan. Tidak ada aturan, apalagi kekangan. Karena itu sampai kapanpun kita menunggu, sampai kemanapun kita mencari, tidak akan ada satu kamuspun yang dapat menerjemahkan bahasa tubuh manusia <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita sering menganggap komunikasi verbal seperti ucapan lebih bermakna daripada bahasa tubuh. Padahal ternyata bahasa tubuh jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata yang kita ucapkan. Albert Mahrabian, seorang ahli komunikasi melakukan studi tentang kode-kode nonverbal. Hasil studi tersebut menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan orang terhadap pembicaraan adalah 7% bahasa verbal, 38% vokal suara, dan 55% ekspresi muka. Mencengangkan bukan? Ternyata kepercayaan seseorang lebih bergantung pada bahasa tubuh, bukan kalimat verbal yang diucapkan. Pentingnya bahasa tubuh ini sering dilukiskan dengan frase, &#8220;Bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakan&#8221; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pada hakikatnya, baik simbol verbal maupun nonverbal sama-sama penting dalam kegiatan berkomunikasi. Tidak semua pesan dapat disampaikan secara verbal, dan tidak semua pesan dapat disampaikan secara nonverbal pula. Kedua bentuk komunikasi tersebut saling melengkapi agar menghasilkan informasi yang tepat dan akurat sesuai dengan keinginan komunikator dan komunikan. Sebagai pelaku komunikasi, tugas kita adalah menyeimbangkan kedua simbol tersebut agar komunikasi yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan tidak terjadi kesalah pahaman <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/07/11/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepsi = Inti Komunikasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/06/11/persepsi-inti-komunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/06/11/persepsi-inti-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 16:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Persepsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat &#8220;Perception is the core of communication&#8221; atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2011/02/persepsi.jpg"><img class="alignleft" title="persepsi" src="../wp-content/uploads/2011/02/persepsi.jpg" alt="" width="300" height="283" /></a>Bagi kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat<em> &#8220;Perception is the core of communication&#8221;</em> atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku untuk dapat memahami makna dan manfaat persepsi dalam komunikasi. Ada apa dengan persepsi? Sepenting apakah itu sampai disebut sebagai inti komunikasi? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-149"></span>Banyak sekali ahli komunikasi yang menjelaskan tentang definisi persepsi. Seperti Brian Fellows, JOhn R. Wenburg dan William W. Wilmot, Joseph A. Devito, dan lain-lain. Yang intinya menjelaskan bahwa persepsi adalah proses penafsiran informasi yang ditangkap oleh panca indera yang selanjutnya menghasilkan cara pandang kita terhadap sesuatu. Misalnya ketika mata kita melihat seorang perempuan bertubuh langsing, putih, dan berambut lurus, maka kita akan mempersepsikan perempuan itu cantik.Persepsi bukan hanya menginterpretasikan objek-objek fisik, namun juga objek-objek sosial. Contoh lain misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang kita lihat sangat sombong dan menyebalkan, maka itu akan membuat kita membentuk persepsi buruk tentangnya,</p>
<p>Persepsi dikatakan inti komunikasi karena persepsi sangat mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, baik komunikasi intrapersonal maupun interpersonal.Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, misalnya berfikir, menulis, merenung, menggambar, dan lain-lain. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain atau kelompok, misalnya mengobrol lewat telpon, korespondensi, dan lain-lain. Persepsi atau cara pandang kita terhadap sesuatu akan menentukan jenis dan kualitas komunikasi yang kita lakukan. Misalnya, kita berhadapan dengan seseorang yang kita persepsikan baik, maka komunikasi yang kita lakukan dengannya pun akan baik pula. Begitu juga sebaliknya, jika kita mempersepsikan ia buruk, maka kita tidak akan berkomunikasi dengan baik dengannya.</p>
<p>Menurut kamu, cantik itu seperti apa? Jika kita menanyakan itu kepada banyak orang, jangan kaget jika jawabannya bermacam-macam. Mungkin ada yang menjawab cantik itu gendut, ramping, atau bahkan kurus kering <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Hal itu dikarenakan persepsi setiap orang atau kelompok dalam memandang suatu hal berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman, psikologis, dan kondisi faktual yang saat itu kita tangkap. Kecantikan menurut orang dayak adalah seseorang yang memakai banyak anting sampai daun telinganya menjuntai ke bawah. Menurut penduduk Fiji, kecantikan dilihat dari kemampuan reproduksi, yakni tubuh yang subur dan keturunan yang banyak. Berbeda dengan masyarakat modern di kota, kecantikan diartikan sebagai seorang wanita yang bertubuh ramping, putih, dan berambut lurus. Sesuatu diinterpretasikan  berbeda-beda oleh setiap orang dan kelompok, tergantung latar belakangnya masing-masing.</p>
<p>Lalu bagaimana persepsi itu terbentuk? Perceptual process atau proses persepsi meliputi 3 tahap, yaitu asensi, atensi, dan interpretasi.</p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2009/11/persepsi.jpg"></a></p>
<p>Sensasi adalah proses pengiriman pesan ke otak melalui panca indera, yaitu mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Panca indera adalah reseptor yang menghubungkan otak kita dengan lingkungan sekitar. Informasi yang kita tangkap dari proses melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba tersebut kita proses kembali untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap sesuatu. Misalnya melihat pantai, mencium parfum, bersalaman dan mencicipi masakan.</p>
<p>Setelah informasi itu kita tangkap dan kita rekam dalam otak, kita masuk dalam tahap atensi. Atensi adalah suatu tahap dimana kita memperhatikan informasi yang telah ada sebelum kita menginterpretasikannya.Sebenarnya banyak sekali hal yang tertangkap oleh panca indera kita, namun tidak semuanya kita perhatikan. Setuju kan? Misalnya ketika kita mengobrol lewat telpon, informasi yang kita perhatikan hanyalah suara lawan bicara, meskipun saat itu kita juga sedang membaca koran atau sedang makan bakwan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Contoh lain misalnya, kita melihat sekumpulan orang berpakaian hitam, dan ada satu orang berpakaian putih. Mana yang kita perhatikan? Tentu yang berbaju putih kan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .Hal itu terjadi karena kita hanya akan memperhatikan apa yang kita anggap paling bermakna bagi kita, paling berbeda, dan paling menarik perhatian.</p>
<p>Tahap terakhir adalah tahap interpretasi. Jika persepsi dikatakan sebagai inti komunikasi, maka interpretasi adalah inti dari persepsi. Mengapa demikian? Karena interpretasi adalah proses penafsiran informasi atau pemberian makna dari informasi yang telah kita tangkap dan kita perhatikan. Ketika mata kita melihat matahari terbenam di pantai kemudian kita perhatikan, maka secara tidak langsung kita akan menginterpretasikan pantai tersebut. Apakah menurut kita indah, biasa saja, atau bahkan jelek. Pendapat atau persepsi yang dihasilkan tentunya akan beragam, tergantung latar belakang kita masing-masing.</p>
<p>Sensasi, Atensi, dan interpretasi adalah tahapan-tahapan yang dilalui untuk menghasilkan persepsi. Semakin sama persepsi setiap orang, maka semakin efektif komunikasi yang dilakukan. Persepsi setiap orang akan sama jika mereka berasal dari latar belakang yang sama. Misalnya sama-sama orang desa, sama-sama orang jawa, atau sama-sama orang <span style="text-decoration: line-through;">gila</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Persepsi-persepsi yang ada pada diri kita akan mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, karena itu berfikirlah positif dan obyektif dalam memandang sesuatu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/06/11/persepsi-inti-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Berkomunikasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/12/kenapa-kita-berkomunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/12/kenapa-kita-berkomunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 00:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Teori dan Perspektif Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Interpersonal]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Jangan pernah berharap kalau kita akan bisa terlepas dari yang namanya komunikasi. Seumur hidup kita akan terus bergelut dengan hal ini. Tak peduli panas, hujan, maupun badai, kita akan terus berkomunikasi .Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii bahkan mengatakan bahwa komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti bernafas. Sepenting itukah komunikasi bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><a href="../wp-content/uploads/2011/02/ngobrol1.jpg"><img class="aligncenter" title="ngobrol1" src="../wp-content/uploads/2011/02/ngobrol1-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a></strong></p>
<p>Jangan pernah berharap kalau kita akan bisa terlepas dari yang namanya komunikasi. Seumur hidup kita akan terus bergelut dengan hal ini. Tak peduli panas, hujan, maupun badai, kita akan terus berkomunikasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii bahkan mengatakan bahwa komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti bernafas. Sepenting itukah komunikasi bagi kita? Kenapa kita harus berkomunikasi? Seorang ahli komunikasi, Harold D. Lasswell mencoba menjawab pertanyaan ini. Ia menyebutkan 3 fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi. Penasaran? Baca terus yaa <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-154"></span><strong>Pertama, karena manusia memiliki hasrat untuk mengontrol lingkungannya.</strong> Dengan berkomunikasi, kita dapat melihat peluang, menyadari ancaman, mengetahui kejadian-kejadian, dan mengembangkan pengetahuan.Berita gempa bumi di Chili sebesar 8.8 SR disertai prediksi tsunami di kawasan Amerika tersebar di berbagai media diseluruh belahan dunia. Dengan melihat media tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi dan berjaga-jaga dari ancaman musibah yang mungkin akan terjadi. Disinilah proses komunikasi berperan, dimana informasi yang didapatkan seseorang dapat membantunya memahami lingkungan dan mengarahkan apa yang harus ia lakukan.</p>
<p><strong>Kedua, karena manusia selalu berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan.</strong> Manusia diciptakan sebagai makhluk yang senantiasa ingin diterima dalam lingkungannya. Kita tidak ingin diintimidasi, ditolak, apalagi dijitak <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Untuk bisa membina hubungan dengan orang lain, kita pasti perlu berkomunikasi kan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Kalau hanya berdiam diri dan asik sendiri, bagaimana bisa kita berteman? Kita perlu berkomunikasi untuk mengutarakan perasaan, membina hubungan, dan diterima oleh lingkungan. Seperti saat pertama kali aku masuk Universitas. Tidak ada yang aku kenal dan tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Senjataku satu-satunya hanyalah mencoba berkenalan, melebarkan senyuman, dan mengajak berjabatan tangan. Memang tidak mudah, awalnya rasanya seperti orang asing. Namun dengan komunikasi yang ku lakukan terus menerus, akhirnya aku punya banyak teman dan diterima oleh lingkungan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><strong>Ketiga, karena manusia ingin melakukan transformasi warisan sosial.</strong> Pernah terfikir gak bagaimana suku sunda dapat mempertahankan tari jaipong? Bagaimana suku jawa mempertahankan bahasanya yang medok? Dan bagaimana norma-norma ketimuran bisa tetap eksis di Indonesia? Adat istiadat, budaya, norma, dan perilaku merupakan warisan manusia sejak zaman dahulu. Hal-hal tersebut bukan baru lahir kemarin sore lho, tapi sudah bertahan sejak bertahun-tahun yang lalu. Masyarakat dahulu mentransformasikannya kepada generasi-generasi selanjutnya melalui proses komunikasi. Ingat gak ketika kecil kita sering mendapat nasihat dari orang tua, kalau jalan jangan mendahului orang tua, menerima sesuatu harus dengan tangan kanan, dan lain-lain. Saat itulah orang tua kita sedang mentransformasi warisan sosial kepada kita, agar nilai-nilai itu bertahan. Tak hanya mereka lho, suatu saat kita juga pasti melakukannya. Karena sadar ataupun tidak, kita sangat perlu komunikasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/12/kenapa-kita-berkomunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

