<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lutviah.Net &#187; Pengantar Komunikasi</title>
	<atom:link href="http://lutviah.net/category/pengantar-komunikasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lutviah.net</link>
	<description>Catatan Kecil Tentang Komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 May 2010 03:59:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jangan Mau Terkena Teori Spiral of Silent!</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/09/teori-spiral-of-silent/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/09/teori-spiral-of-silent/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 06:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>
		<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spiral of Silent]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata   .
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/Lutviah-spiral-of-silent.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-450" title="Lutviah-spiral of silent" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/Lutviah-spiral-of-silent-300x219.jpg" alt="" width="190" height="139" /></a>Ketika kamu memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang banyak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berani mengemukakan pendapat, atau malah menyembunyikannya? Sebagai manusia, kita memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Tapi dalam teori spiral of silent, kita akan tahu bahwa ternyata suara mayoritas akan membungkam suara minoritas, hingga tak mampu berkata-kata <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p><span id="more-442"></span> Teori spiral of silent atau teori keheningan dikemukakan oleh Noelle Newmann. Teori ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang suatu isu. Tapi ternyata, setiap orang memiliki rasa takut mengemukakan pendapat mereka lho. Karena itu mereka mencari dukungan dari lingkungan dan media massa, agar mereka bisa lebih bebas mengekspresikan pendapat mereka, tanpa takut akan terisolasi.</p>
<p>Dalam teori ini, Noelle Newmann membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan mayoritas dan minoritas. Pandangan mayoritas percaya bahwa kelompok yang berada dalam pandangan tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam mengemukakan pendapat mereka. Sedangkan pandangan minoritas kebalikannya, mereka biasanya lebih berhati-hati dan diam dalam mengemukakan pendapatnya. Dan tahu ga sih, ternyata media massa lah yang menyuarakan suara mayoritas untuk membungkam suara minoritas. Nah lho, makin tersingkir deh <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Teori spiral of silent tidak akan terpisahkan dari yang namanya opini publik. Sebenarnya apa sih opini publik itu? Noelle Newmann mengatakan bahwa opini publik adalah sikap atau perilaku yang diekspresikan seseorang di depan publik untuk menghindari isolasi. Misalnya nih ya, menurutku Mandra itu orangnya cakeeep banget, tapi berhubung  satu indonesia bilang dia<span style="text-decoration: line-through;"> jelek</span>, akhirnya aku ngikut deh. Daripada dibilang<span style="text-decoration: line-through;"> berselera rendah</span>.. ups.. ini misalnya loh ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Noelle Newmann menjelaskan tiga asumsi tentang teori ini, yuk kita bahas satu satu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<ul>
<li> <strong>Suara mayoritas memegang kekuasaan terhadap suara minoritas. </strong>Seperti contoh tadi, karena takut terisolasi maka orang-orang yang ada dalam suara minoritas akan lebih memilih untuk diam.</li>
</ul>
<ul>
<li> <strong>Orang selalu menilai iklim dari opini publik.</strong> Artinya, setiap orang selalu melihat keadaan berdasarkan apa yang orang lain lakukan dan apa yang orang lain pikirkan. Misalnya ketika semua orang berpendapat bahwa menjadi ibu rumah tangga itu kewajiban, maka sadar ataupun tidak kita akan mengikutinya.</li>
</ul>
<ul>
<li> <strong>Perilaku publik dipengaruhi evaluasi opini publik.</strong> Saat pendapat kita mendapatkan dukungan, maka kita cenderung akan lebih berani mengekspresikannya. Begitu juga sebaliknya, saat pendapat kita tidak mendapat dukungan, maka kita akan cenderung diam. Koq kita jadi kelihatan cemen banget ya <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Teori spiral of silent memang mencerminkan sikap kebanyakan orang dalam mengemukakan pendapatnya. Tapi tentu saja itu bukan sikap yang baik kan, karena manusia jadi terlihat pengecut dan hanya terbawa arus media. Setiap manusia itu unik lho, karena itu jangan heran jika memiliki pendapat yang berbeda, dan jangan takut menyuarakan pendapat kita <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/09/teori-spiral-of-silent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Formula Lasswell</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/05/03/formula-lasswell/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/05/03/formula-lasswell/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 10:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar model komunikasi Lasswell? Kalo kamu mahasiswa komunikasi, kebangetan banget deh kalo gak tahu    Model komunikasi Lasswell atau sering disebut formula Lasswell ini sering diungkapkan dengan kalimat sederhana, “who says what in which channel to whom with what effect” = “siapa berkata apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa”. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lasswell.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-428" title="lasswell" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lasswell.jpg" alt="" width="92" height="107" /></a>Pernah dengar model komunikasi Lasswell? Kalo kamu mahasiswa komunikasi, kebangetan banget deh kalo gak tahu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />   Model komunikasi Lasswell atau sering disebut formula Lasswell ini sering diungkapkan dengan kalimat sederhana, “<em>who says what in which channel to whom with what effect</em>” = “siapa berkata apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa”. Masih bingung? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-420"></span></p>
<p>Model komunikasi ini dikemukakan oleh Harold Lasswell, seorang ahli politik Amerika Serikat pada tahun 1948. Meskipun sekilas seperti bentuk pertanyaan, tapi teori ini sangat terkenal dan merupakan cara sederhana untuk memahami proses komunikasi.</p>
<p>Dalam model komunikasi ini, Lasswell mengatakan bahwa dalam proses komunikasi, setidaknya ada 5 komponen yang terlibat, yaitu who (komunikator), what (pesan), channel (saluran/media), whom (komunikan), dan effect (efek).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-model-lasswell.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-421" title="lutviah-model lasswell" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/05/lutviah-model-lasswell.jpg" alt="" width="544" height="84" /></a></p>
<p>Model komunikasi ini dapat kita temukan di berbagai proses komunikasi antar manusia, misalnya mengobrol lewat telepon, sms, dan lain-lain. Selain itu, model komunikasi Laswell juga bisa kita gunakan dalam menjelaskan proses komunikasi massa. Misalnya saat kita menonton acara ala chef Farah Queen di televisi. Farah Queen, sebagai pembawa acara (komunikator) mempraktekan resep-resep masakan (pesan) kepada penonton (komunikan) lewat televisi (media) sehingga penonton jadi tertarik untuk mencoba masakan itu di rumah (efek).</p>
<p>Model komunikasi Lasswell ini hanya salah satu dari sekian banyak model komunikasi lho. Masih banyak lagi model-model komunikasi menurut para ahli lainnya.  Semoga bermanfaat <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/05/03/formula-lasswell/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Berkomunikasi?</title>
		<link>http://lutviah.net/2010/03/01/kenapa-kita-berkomunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2010/03/01/kenapa-kita-berkomunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 04:37:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[
Jangan pernah berharap kalau kita akan bisa terlepas dari yang namanya komunikasi.  Seumur hidup kita akan terus bergelut dengan hal ini. Tak peduli panas, hujan, maupun  badai, kita akan terus berkomunikasi   .Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii bahkan mengatakan bahwa komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti bernafas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/ngobrol1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-362" title="ngobrol1" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/ngobrol1-300x186.jpg" alt="" width="240" height="149" /></a>Jangan pernah berharap kalau kita akan bisa terlepas dari yang namanya komunikasi. <span> </span>Seumur hidup kita akan terus bergelut dengan hal ini. Tak peduli panas, hujan, maupun <span> </span>badai, kita akan terus berkomunikasi <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawaii bahkan mengatakan bahwa komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti bernafas. Sepenting itukah komunikasi bagi kita? Kenapa kita harus berkomunikasi? Seorang ahli komunikasi, Harold D. Lasswell mencoba menjawab pertanyaan ini. Ia menyebutkan 3 fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi. Penasaran? Baca terus yaa <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-351"></span><strong>Pertama, karena manusia memiliki hasrat untuk mengontrol lingkungannya.</strong> Dengan berkomunikasi, kita dapat melihat peluang, menyadari ancaman, mengetahui kejadian-kejadian, dan mengembangkan pengetahuan.Berita gempa bumi di Chili sebesar 8.8 SR disertai prediksi tsunami di kawasan Amerika tersebar di berbagai media diseluruh belahan dunia. Dengan melihat media tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi dan berjaga-jaga dari ancaman musibah yang mungkin akan terjadi. Disinilah proses komunikasi berperan, dimana informasi yang didapatkan seseorang dapat membantunya memahami lingkungan dan mengarahkan apa yang harus ia lakukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Kedua, karena manusia selalu berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan.</strong> Manusia diciptakan sebagai makhluk yang senantiasa ingin diterima dalam lingkungannya. Kita tidak ingin diintimidasi, ditolak, apalagi dijitak <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Untuk bisa membina hubungan dengan orang lain, kita pasti perlu berkomunikasi<span> </span>kan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Kalau hanya berdiam diri dan asik sendiri, bagaimana bisa kita berteman? <span> </span>Kita perlu berkomunikasi <span> </span>untuk mengutarakan perasaan, membina hubungan, dan diterima oleh lingkungan. Seperti saat pertama kali aku masuk Universitas. Tidak ada yang aku kenal dan tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Senjataku satu-satunya hanyalah mencoba berkenalan, melebarkan senyuman, dan mengajak berjabatan tangan. Memang tidak mudah, awalnya rasanya seperti orang asing. Namun dengan komunikasi yang ku lakukan terus menerus, akhirnya aku punya banyak teman dan diterima oleh lingkungan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Ketiga, karena manusia ingin melakukan transformasi warisan sosial.</strong> Pernah terfikir gak bagaimana suku sunda dapat mempertahankan tari jaipong? Bagaimana suku jawa mempertahankan bahasanya yang medok? Dan bagaimana norma-norma ketimuran bisa tetap eksis di Indonesia? Adat istiadat, budaya, norma, dan perilaku merupakan warisan manusia sejak zaman dahulu. Hal-hal tersebut bukan baru lahir kemarin sore lho, tapi sudah bertahan sejak bertahun-tahun yang lalu. Masyarakat dahulu mentransformasikannya kepada generasi-generasi selanjutnya melalui proses komunikasi. Ingat gak ketika kecil kita sering mendapat nasihat dari orang tua, kalau jalan jangan mendahului orang tua, menerima sesuatu harus dengan tangan kanan, dan lain-lain. Saat itulah orang tua kita sedang mentransformasi warisan sosial kepada kita, agar nilai-nilai itu bertahan. Tak hanya mereka lho, suatu saat kita juga pasti melakukannya. Karena sadar ataupun tidak, kita sangat perlu komunikasi<span> </span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2010/03/ngobrol.jpg"></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2010/03/01/kenapa-kita-berkomunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Bukan Sekedar Kata-kata</title>
		<link>http://lutviah.net/2009/12/27/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2009/12/27/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 10:59:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengantar Ikom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/12/body_language.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-307" title="body_language" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/12/body_language.jpg" alt="" width="166" height="136" /></a>Semua orang pasti pernah berkomunikasi. Mengobrol, menelpon, bersenda gurau, merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk komunikasi antar manusia. Tapi tahukah kita bahwa ternyata masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak disadari manusia? Jangan kira komunikasi hanya sekedar ngobrol sana sini dan ngomong basa basi. Ternyata, aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberi makna dan menyampaikan pesan-pesan tertentu. <em>Gak</em> percaya? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
<span id="more-306"></span>Banyak orang menganggap bahwa komunikasi nonverbal sama dengan bahasa tubuh. Anggapan tersebut tidak salah, karena komunikasi nonverbal memang terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktifitas-aktifitas fisik, seperti mengedipkan mata, melambaikan tangan, dan gerakan kepala.  Namun perlu kita ketahui, bahasa tubuh bukanlah satu-satunya bentuk komunikasi nonverbal. <em>Setting</em> komunikasi seperti ruang, waktu, dan pakaian yang dikenakan juga merupakan bentuk komunikasi nonverbal.<br />
Dalam pergaulan sehari-hari, kita pasti sering menggunakan bahasa tubuh. Tak hanya ketika berkomunikasi dengan orang lain namun juga sebagai bentuk pengekspresian diri. Saat berpidato, seorang orator sering kali menggerak-gerakkan tangan sebagai penekanan terhadap pidato yang disampaikannya. Saat bosan mendengarkan penjelasan dosen di kelas, para mahasiswa ada yang mengetuk-ngetuk meja , bahkan tidur dengan leluasa <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  . Itu berarti, aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh tubuh kita memiliki makna dan memberi pengaruh pada orang lain.</p>
<p>Saat pembuatan makalah komunikasi nonverbal kemarin, aku membuat survey kecil-kecilan tentang makna bahasa tubuh bagi mahasiswa Paramadina, khususnya jurusan Ilmu Komunikasi. Saat itu, ada temanku yang sedang berpangku tangan disudut ruangan kelas. Iseng-iseng aku tanya apa makna berpangku tangan yang sedang ia lakukan. Ia jawab bahwa ia sedang BT alias <em>Bosen Total</em>. Jawabannya memancing pendapat teman-temanku yang lain. Ada yang berpendapat bahwa berpangku tangan berarti sedang berfikir, fokus, melamun, menunggu, dan mengantuk. Menarik! Satu gerakan tubuh saja bisa bermakna ganda. Memang benar kata Knapp dan Hall, isyarat nonverbal jarang memiliki makna denotatif yang tunggal.</p>
<p>Pemaknaan sombol-simbol nonverbal bergantung pada latar belakang orang masing-masing. Masing-masing budaya, daerah, dan negara dapat memiliki pemaknaan berbeda terhadap simbol-simbol nonverbal tertentu. Masyarakat Indonesia terbiasa menganggukan kepala sebagai simbol &#8220;Iya&#8221; dan menggelengkan kepala sebagai simbol &#8220;Tidak&#8221;. Sebaliknya, masyarakat India terbiasa menggeleng sebagai simbol &#8220;Iya&#8221; dan mengangguk sebagai simbol &#8220;Tidak&#8221;. Makna manakah yang benar? Tentu keduanya benar. Tidak ada standar kebenaran yang pasti tentang bahasa tubuh manusia. Setiap orang memiliki style dan pemaknaan masing-masing terhadap bahasa tubuh yang dilakukan. Tidak ada aturan, apalagi kekangan. Karena itu sampai kapanpun kita menunggu, sampai kemanapun kita mencari, tidak akan ada satu kamuspun yang dapat menerjemahkan bahasa tubuh manusia <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita sering menganggap komunikasi verbal seperti ucapan lebih bermakna daripada bahasa tubuh. Padahal ternyata bahasa tubuh jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata yang kita ucapkan. Albert Mahrabian, seorang ahli komunikasi melakukan studi tentang kode-kode nonverbal. Hasil studi tersebut menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan orang terhadap pembicaraan adalah 7% bahasa verbal, 38% vokal suara, dan 55% ekspresi muka. Mencengangkan bukan? Ternyata kepercayaan seseorang lebih bergantung pada bahasa tubuh, bukan kalimat verbal yang diucapkan. Pentingnya bahasa tubuh ini sering dilukiskan dengan frase, &#8220;Bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakan&#8221; <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pada hakikatnya, baik simbol verbal maupun nonverbal sama-sama penting dalam kegiatan berkomunikasi. Tidak semua pesan dapat disampaikan secara verbal, dan tidak semua pesan dapat disampaikan secara nonverbal pula. Kedua bentuk komunikasi tersebut saling melengkapi agar menghasilkan informasi yang tepat dan akurat sesuai dengan keinginan komunikator dan komunikan. Sebagai pelaku komunikasi, tugas kita adalah menyeimbangkan kedua simbol tersebut agar komunikasi yang kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan tidak terjadi kesalah pahaman <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2009/12/27/komunikasi-bukan-sekedar-kata-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepsi = Inti Komunikasi</title>
		<link>http://lutviah.net/2009/11/10/persepsi-inti-komunikasi/</link>
		<comments>http://lutviah.net/2009/11/10/persepsi-inti-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 11:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>via</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengantar Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[pengantar Ikom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lutviah.net/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat &#8220;Perception is the core of communication&#8221; atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagi <a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/11/meeting-boss-01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-296" title="meeting-boss-01" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/11/meeting-boss-01.jpg" alt="" width="181" height="180" /></a>kamu yang pernah atau sedang mempelajari ilmu komunikasi, pasti pernah mendengar kalimat<em> &#8220;Perception is the core of communication&#8221;</em> atau persepsi adalah inti komunikasi. Selama ini kita mungkin menganggap bahwa persepsi adalah sebuah pendapat atau cara pandang. Hal itu memang benar, namun ternyata definisinya tidaklah sesimple itu. Aku harus membaca puluhan halaman dalam dua buku untuk dapat memahami makna dan manfaat persepsi dalam komunikasi. Ada apa dengan persepsi? Sepenting apakah itu sampai disebut sebagai inti komunikasi? Ikuti terus tulisan ini <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-295"></span>Banyak sekali ahli komunikasi yang menjelaskan tentang definisi persepsi. Seperti Brian Fellows, JOhn R. Wenburg dan William W. Wilmot, Joseph A. Devito, dan lain-lain. Yang intinya menjelaskan bahwa persepsi adalah proses penafsiran informasi yang ditangkap oleh panca indera yang selanjutnya menghasilkan cara pandang kita terhadap sesuatu. Misalnya ketika mata kita melihat seorang perempuan bertubuh langsing, putih, dan berambut lurus, maka kita akan mempersepsikan perempuan itu cantik.Persepsi bukan hanya menginterpretasikan objek-objek fisik, namun juga objek-objek sosial. Contoh lain misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang kita lihat sangat sombong dan menyebalkan, maka itu akan membuat kita membentuk persepsi buruk tentangnya,</p>
<p>Persepsi dikatakan inti komunikasi karena persepsi sangat mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, baik komunikasi intrapersonal maupun interpersonal.Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, misalnya berfikir, menulis, merenung, menggambar, dan lain-lain. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain atau kelompok, misalnya mengobrol lewat telpon, korespondensi, dan lain-lain. Persepsi atau cara pandang kita terhadap sesuatu akan menentukan jenis dan kualitas komunikasi yang kita lakukan. Misalnya, kita berhadapan dengan seseorang yang kita persepsikan baik, maka komunikasi yang kita lakukan dengannya pun akan baik pula. Begitu juga sebaliknya, jika kita mempersepsikan ia buruk, maka kita tidak akan berkomunikasi dengan baik dengannya.</p>
<p>Menurut kamu, cantik itu seperti apa? Jika kita menanyakan itu kepada banyak orang, jangan kaget jika jawabannya bermacam-macam. Mungkin ada yang menjawab cantik itu gendut, ramping, atau bahkan kurus kering <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Hal itu dikarenakan persepsi setiap orang atau kelompok dalam memandang suatu hal berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman, psikologis, dan kondisi faktual yang saat itu kita tangkap. Kecantikan menurut orang dayak adalah seseorang yang memakai banyak anting sampai daun telinganya menjuntai ke bawah. Menurut penduduk Fiji, kecantikan dilihat dari kemampuan reproduksi, yakni tubuh yang subur dan keturunan yang banyak. Berbeda dengan masyarakat modern di kota, kecantikan diartikan sebagai seorang wanita yang bertubuh ramping, putih, dan berambut lurus. Sesuatu diinterpretasikan  berbeda-beda oleh setiap orang dan kelompok, tergantung latar belakangnya masing-masing.</p>
<p>Lalu bagaimana persepsi itu terbentuk? Perceptual process atau proses persepsi meliputi 3 tahap, yaitu asensi, atensi, dan interpretasi.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/11/persepsi.jpg"><img class="size-full wp-image-297    aligncenter" title="persepsi" src="http://lutviah.net/wp-content/uploads/2009/11/persepsi.jpg" alt="" width="454" height="102" /></a></p>
<p>Sensasi adalah proses pengiriman pesan ke otak melalui panca indera, yaitu mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit. Panca indera adalah reseptor yang menghubungkan otak kita dengan lingkungan sekitar. Informasi yang kita tangkap dari proses melihat, mencium, mendengar, merasakan, dan meraba tersebut kita proses kembali untuk dapat menghasilkan persepsi terhadap sesuatu. Misalnya melihat pantai, mencium parfum, bersalaman dan mencicipi masakan.</p>
<p>Setelah informasi itu kita tangkap dan kita rekam dalam otak, kita masuk dalam tahap atensi. Atensi adalah suatu tahap dimana kita memperhatikan informasi yang telah ada sebelum kita menginterpretasikannya.Sebenarnya banyak sekali hal yang tertangkap oleh panca indera kita, namun tidak semuanya kita perhatikan. Setuju kan? Misalnya ketika kita mengobrol lewat telpon, informasi yang kita perhatikan hanyalah suara lawan bicara, meskipun saat itu kita juga sedang membaca koran atau sedang makan bakwan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  . Contoh lain misalnya, kita melihat sekumpulan orang berpakaian hitam, dan ada satu orang berpakaian putih. Mana yang kita perhatikan? Tentu yang berbaju putih kan <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .Hal itu terjadi karena kita hanya akan memperhatikan apa yang kita anggap paling bermakna bagi kita, paling berbeda, dan paling menarik perhatian.</p>
<p>Tahap terakhir adalah tahap interpretasi. Jika persepsi dikatakan sebagai inti komunikasi, maka interpretasi adalah inti dari persepsi. Mengapa demikian? Karena interpretasi adalah proses penafsiran informasi atau pemberian makna dari informasi yang telah kita tangkap dan kita perhatikan. Ketika mata kita melihat matahari terbenam di pantai kemudian kita perhatikan, maka secara tidak langsung kita akan menginterpretasikan pantai tersebut. Apakah menurut kita indah, biasa saja, atau bahkan jelek. Pendapat atau persepsi yang dihasilkan tentunya akan beragam, tergantung latar belakang kita masing-masing.</p>
<p>Sensasi, Atensi, dan interpretasi adalah tahapan-tahapan yang dilalui untuk menghasilkan persepsi. Semakin sama persepsi setiap orang, maka semakin efektif komunikasi yang dilakukan. Persepsi setiap orang akan sama jika mereka berasal dari latar belakang yang sama. Misalnya sama-sama orang desa, sama-sama orang jawa, atau sama-sama orang <span style="text-decoration: line-through;">gila</span> <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Persepsi-persepsi yang ada pada diri kita akan mempengaruhi proses komunikasi yang kita lakukan, karena itu berfikirlah positif dan obyektif dalam memandang sesuatu <img src='http://lutviah.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lutviah.net/2009/11/10/persepsi-inti-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
