Author Archive

May 13th, 2012

Menelusuri Kreativitas Belanda di Indonesia

by via

 

Belanda berhasil masuk dalam jajaran 10 besar negara paling kreatif di dunia berdasarkan studi Martin Prosperity Institute tahun 2011[1]. Gak heran kan? Tengok saja warisan-warisan kreatifnya yang tersebar di nusantara. Jejak-jejak kreativitas Belanda dapat kita temukan pada bangunan, jalur transportasi, karya sastra, hingga kuliner. Bahkan hingga kini, peninggalan-peninggalan tersebut masih bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Gedung Sate di Bandung Jawa Barat contohnya. Gedung yang dulunya dikenal dengan nama Gouvernements Bedrijven (GB) ini dibangun oleh arsitek muda dari Belanda, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks, pada tahun 1924[2]. Gedung ini juga disebut sebagai icon kota Bandung karena bentuk ‘tusuk sate’nya yang unik dengan gaya arsitektur Indo-eropanya yang menarik. Selain Gedung Sate, masih banyak bangunan peninggalan Belanda lain yang hingga kini masih digunakan. Awetnya bangunan-bangunan tersebut membuktikan bahwa Belanda tak hanya mampu membuat arsitektur yang baik namun juga berkualitas tinggi.

Selain bangunan, kreativitas Belanda di bidang transportasi juga menarik untuk ditelusuri. Sebut saja jalan raya Anyer-Panarukan sejauh 1000 Km yang dibangun Herman Willem Daendels pada tahun 1809-1810[3]. Hingga kini jalur tersebut masih digunakan oleh banyak orang bahkan sangat ramai saat menjelang hari lebaran. Selain itu, jalur kereta api yang membentang di seluruh Jawa dan Sumatera juga merupakan warisan Belanda yang kini telah diakuisi oleh PT Kereta Api Indonesia[4]. Meskipun jalur-jalur tersebut dibangun dengan keringat bangsa pribumi, ide Belanda untuk membangun jalur transportasi di Indonesia perlu diacungi jempol. Saat itu Belanda telah memulai pembangunan sarana transportasi meski dengan keterbatasan teknologi.

Warisan kreativitas Belanda di Indonesia tak sampai disitu. Para penikmat sastra dan sejarah pasti tahu dengan novel ‘Max Havelaar’, sebuah karya monumental dari Eduard Douwes Dekker atau dikenal dengan sebutan Multatuli. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa dan ketidakadilan yang dilakukan para pejabat Indonesia dan Belanda di Lebak, Banten[5]. Max Havelaar berisi pesan-pesan kemanusiaan yang tinggi sehingga diakui sebagai karya sastra dunia. Lebih dari itu, novel ini juga diapresiasi di Indonesia. Jauh di Desa Sobang Kabupaten Lebak, tepatnya di Kampung Ciseel, sebuah taman baca yang khusus membahas Max Havelaar bahkan didirikan dengan nama “Taman Baca Multatuli”[6]. Terbukti dalam karya sastra sekalipun, Belanda tidak hanya piawai dalam merangkai kata namun juga memuat pesan khusus yang mampu menggetarkan hati para pembacanya.

Hal kecilpun tak luput dari kreativitas Belanda. Siapa sangka, banyak kuliner warisan Belanda yang dinikmati di Indonesia. Mulai dari lapis legit, kaastengels, hingga perkedel yang sering kita konsumsi sehari-hari. Perkedel atau dalam bahasa belanda disebut Fracadel ini sering disantap oleh para meneer Belanda pada masa kolonial[7]. Saat ini makanan tersebut bahkan bisa kita temui di warung-warung makan, atau dijadikan santapan di rumah.

Menelusuri kreativitas Belanda di Indonesia tentu tidak ada habisnya, mengingat Belanda dan Indonesia memiliki kedekatan selama ratusan tahun. Namun sekiranya pantaslah jika Belanda kita sebut sebagai “Bangsa Kreatif” atas semua peninggalannya di Indonesia. Terbukti, sejak dulu Belanda mampu menciptakan produk yang kreatif, berkualitas, sekaligus bermanfaat bagi banyak orang. Bangsa Belanda telah membuktikan bahwa dengan seluruh kreativitas yang dimiliki, mereka berhasil menjadi bangsa yang diperhitungkan dunia.

 


[1] http://www.businessinsider.com/most-creative-countries-in-the-world-2011-10#10-netherlands-7

[2] http://dieka2501.web.id/2010/04/09/belanda-si-tukang-bangunan/

[3] http://serbasejarah.blogspot.com/2011/07/sejarah-pembangunan-jalan-anyer-dan.html

[4] http://www.ceritanet.com/142kereta.html

[5] http://historia.co.id/?d=929

[6] http://readingmultatuli.blogspot.com/p/tentang-kami.html

[7] http://bandungfoodgallery.blogspot.com/2011/02/makanan-warisan-belanda.html

April 29th, 2012

Hentikan Program Kakek-Kakek Narsis!

by via

 

Perempuan bukan untuk dilecehkan di televisi – Remotivi

Remotivi saat ini sedang melakukan advokasi menolak penayangan program acara “Kakek-Kakek Narsis” yang disiarkan Trans TV. Mungkin banyak orang yang heran, kenapa perlu ditolak? Bukankah acara ini ditayangkan setiap tengah malam dan memang merupakan acara khusus dewasa? Eiiitt, tunggu dulu. Meskipun program “Kakek-Kakek Narsis” ini ditayangkan tengah malam, bukan berarti urusan selesai. Sebagai khalayak, tentu kita perlu kritis dalam mengonsumsi tayangan-tayangan yang disiarkan televisi. Tayangan “Kakek-Kakek Narsis” tidak cukup hanya dipandang sebagai “program dewasa”, melainkan didalamnya juga terdapat masalah-masalah lain yang jauh lebih besar: PELECEHAN PEREMPUAN

Remotivi melakukan kajian dan analisis terhadap tayangan ini untuk melihat masalah apa saja yang terjadi didalamnya. Hasilnya, saya pun agak terkejut. Ternyata tayangan “Kakek-Kakek Narsis” bukan hanya berdosa atas pelecehan perempuan, namun juga atas hal-hal lain. Menurut Remotivi, ada 6 hal yang menjadi masalah terbesar dalam tayangan ini:

 

Objektivikasi Tubuh Perempuan

Tayangan KKN kami lihat merupakan tayangan yang dibangun dengan konsep relasi gender yang tidak setara. Meski memberi kesempatan pada banyak perempuan untuk menjadi bintang tamu, namun pada praktiknya tayangan ini bukan menghadirkan kualitas perempuan, malah justru menjadi etalase untuk memajang tubuh perempuan. Perempuan berpenampilan seksi (kami yakin ini bagian dari konsep tayangan) dijadikan sebagai bintang tamu, namun perempuan tidak banyak diberi kesempatan untuk berbicara. Sebaliknya, tiga pembawa acara yang kesemuanya lelaki menjadi komentator atas tubuh dan hobi para perempuan (tayangan ini banyak menjadikan hobi sebagai bahan diskusi). Sehingga yang terjadi adalah, perempuan dibicarakan dan lelaki sebagai pembicara.

Stereotip Perempuan

Pemosisian perempuan sebagai objek dalam tayangan ini, pada akhirnya berpotensi membangun sterotip negatif mengenai perempuan, atau pun menebalkan pandangan keliru yang sudah ada dalam masyarakat. Kegagalan tayangan ini untuk menghadirkan kualitas perempuan dengan utuh, dan mereduksinya menjadi sekadar tubuh, berpotensi membangun atau pun menebalkan stereotip perempuan sebagai objek seksual.

Kekerasan verbal

Pilihan kata dan penggunaan psiko-bahasa dalam tayangan ini kerap kali mengandung kekerasan terhadap perempuan. Sulit memang menemukannya satu per satu. Kekerasan verbal luput dari perhatian karena bersembunyi dalam humor atau pun bahkan pujian. Dalam tayangan ini bertebaran berbagai bentuk kekerasan dalam bahasa yang datang dari paradigma yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Salah satu contohnya adalah, pertanyaan pembawa acara yang pernah diajukan kepada bintang tamu perempuan, “Apa kesibukanmu selain cantik?”. Pertanyaan semacam ini tentu saja datang dari anggapan bahwa apa yang terpenting dari perempuan hanyalah menjadi cantik. Kegiatan utama perempuan adalah mempercantik diri, sehingga bila ada perempuan memiliki hobi di luar berdandan, ia akan menjadi nilai lebih untuk dibicarakan. Logika tersebut menggiring persepsi bahwa perempuan tak punya pendapat atau aktivitas lain yang sederajat dengan laki-laki, misalnya intelektualitasnya.

Iklan anak

KKN dengan segala masalahnya tersebut ternyata dimaksudkan juga untuk menjadi tayangan bagi anak dan remaja. Ini terjadi ketika KKN ditayangkan Pk. 23.00 WIB (sekarang dipindah menjadi Pk. 24.00 WIB). Hal ini dapat diindikasikan melalui beberapa iklan produk anak yang juga ikut mensponsori acara ini. Mereka yang bertanggung jawab terhadap penempatan iklan tersebut tentu saja telah memperhitungkan adanya potensi penonton anak. Bagi kami ini tentu mengkhawatirkan karena anak-anak akan tumbuh besar dengan kepala mereka yang penuh oleh cara pandang yang salah terhadap perempuan. Fakta ini harusnya menjadi perhatian KPI sebagai regulator, untuk melindungi publik anak dari program yang tidak ramah anak dan perempuan.

Subordinasi perempuan

Pelbagai hal yang telah kami uraikan di atas merupakan poin-poin yang muaranya ada pada persoalan subordinasi perempuan. Tayangan ini beroperasi dengan berbagai logika yang menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua. Kemasan tayangan yang seolah menunjukkan bentuk kemerdekaan ekspresi perempuan (pakaian, hobi, dan pekerjaan) yang tidak lagi terkungkung dalam ranah domestik, rupayanya tidak juga membebaskan perempuan dari rantai objektivikasi dan komodifikasi. Kehadiran perempuan dalam ruang publik masih juga ditempatkan dalam kerangka sebagai objek, tidak bedanya makanan dalam acara kuliner, atau pun museum dalam program wisata.

Kontraproduktif terhadap upaya kesetaraan

Pada akhirnya, kami menilai tayangan ini kontraproduktif terhadap upaya yang tengah dilakukan berbagai lapisan masyarakat untuk membangun relasi gender yang lebih adil. Bukannya mempertipis tembok budaya yang mengekang perempuan, representasi perempuan yang dihadirkannya justru mempertebal dan mereproduksi budaya yang mendiskriminasi perempuan.

-Remotivi

Alasan-alasan diatas jugalah yang mendorong banyak NGO, Komunitas, dan institusi lain untuk bergabung dalam gerakan ini. Saat ini setidaknya terdapat 30 lembaga dari 13 provinsi di Indonesia (salah satunya Aliansi Remaja Independen) yang mendukung penghentian terhadap program “Kakek-Kakek Narsis” ini. Dukungan ini tentu saja bukan semata dilakukan untuk membela kaum perempuan, namun juga atas niat dan semangat untuk memperjuangkan hak publik mendapatkan informasi yang baik dan layak dari ranah yang mereka miliki sendiri.

Saat ini serangkaian kegiatan advokasi telah dilakukan: berita di media-media massa telah disebar, aksi menggalang kekuatan bersama telah dilakukan, acara diskusi dan konferensi pun telah digelar. Namun hal itu tentu masih tidak cukup untuk menumbangkan kekuatan kapitalisme media yang sebegitu besarnya. Jadi, kamipun sangat membutuhkan bantuan kalian untuk turut mendukung kegiatan ini. Dukungan dapat diberikan dengan mengadukan “Kakek-Kakek” Narsis pada KPI melalui situsnya (kpi.go.id), telepon (021-6340626), dan SMS (0812-13070000).

Sekecil apapun dukungan kalian, akan sangat membantu untuk gerakan ini. STOP TAYANGAN YANG MELECEHKAN PEREMPUAN!

March 20th, 2012

Global Citizen Corps 2011′s Graduation Day

by via

Hari ini kami bukan merayakan “kelulusan” melainkan setahun “kebersamaan”. Karenabagi kami, tak ada kata “lulus” untuk pekerjaan sosial. – @GCCIndonesia

Tweet diatas adalah respon saya atas kelulusan Global Citizen Corps 2011 yang jatuh tanggal 18 Maret 2012 kemarin. Bagi saya, acara kelulusan di Denanta Kitchen kemarin merupakan sebuah moment spesial, dimana hampir semua GCC Leader 2011 beserta para fasilitator berkumpul dan bersuka cita. Acara ini lebih berarti dari sekedar pembagian sertifikat kelulusan, melainkan juga pembangkit motivasi dan pengikat silaturahmi.

Hampir setahun yang lalu, saat saya dan teman-teman didaulat menjadi Global Citizen Corps Leader 2011. Kami yang berasal dari berbagai latar belakang, sama-sama menyatukan mimpi untuk membuat perubahan bagi dunia. Ada yang bergerak di isu kesehatan, lingkungan, kesetaraan gender, kesehatan reproduksi, dan isu-isu lain. Disini, kami berusaha membuat perubahan dengan cara kami masing masing dan dimulai dengan langkah terkecil.

Kami sadar, aksi-aksi yang kami lakukan setahun ini masih belum cukup untuk mengubah dunia. Namun seperti kata Dalai Lama, “every journey always starts with a single step“. Aksi-aksi kecil yang dilakukan terus menerus dan bersama-sama, pasti akan akan menghasilkan perubahan yang besar.

Ya, kami memang sudah dinyatakan “lulus”. Kami pun sudah menerima sertifikat kelulusan. Tapi bukan berarti, langkah dan aksi kami untuk membuah perubahan terhenti disini. Kami masih punya banyak pekerjaan rumah untuk melunasi janji: “I am the Change”, slogan yang selalu kami elu-elukan semasa training. Bagi kami, Global Citizen Corps Leader adalah lifetime achievement sekaligus reminder untuk terus bekerja dan berkontribusi bagi masyarakat. Seperti Mahatma Gandhi katakan, “Be the change you wish to see in the world”. Kami akan terus membawa perubahan seperti yang kami inginkan hadir di dunia.

 

January 30th, 2012

Perkembangan Media dan Masyarakat

by via

Source: http://www.rcc.int

Media dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya berkembang bersama-sama dan saling mempengaruhi satu sama lain. Perubahan media dari waktu ke waktu berjalan seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Kita dapat melihat perkembangan media dengan melihat juga perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu. Dimulai dari masyarakat pre-agrikultul, masyarakat agrikultur, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.

read more »

August 23rd, 2011

Saya dan ESC

by via

Haru. Mungkin kata itulah yang bisa menggambarkan perasaan saya saat datang ke acara buka puasa bersama anak-anak ESC hari sabtu, tanggal 20 Agustus 2011 kemarin. Rasa haru itu muncul mungkin karena jauh dalam hati saya, saya sangat merindukan masa-masa di sekolah, khususnya masa ketika saya bergabung dalam ESC.

Bagi saya, ESC bukan hanya sekedar ekstrakurikuler, tapi juga rumah kedua bagi saya. Disana saya belajar, berlatih, dan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran hidup. ESC lebih dari sekedar ekstrakurikuler dalam bidang bahasa Inggris, karena disitu saya tidak hanya belajar bahasa, tapi juga belajar bekerja keras.

read more »

May 5th, 2011

Yuk Ikut OPREC ARI 2011

by via

Buat kamu yang udah pernah baca catatan pengalamanku saat mengikuti Youth Camp ARI desember tahun lalu, pasti sedikit banyak sudah tahu what ARI really is. Disitu, kamu juga bisa lihat betapa menyenangkannya youth camp yang diadakan serta inisiasi dan gerakan apa aja yang dihasilkan.

Nah, menginjak tahun 2011, ARI kembali mengadakan OPREC (Open Recruitment) untuk kembali merangkul kawan-kawan remaja se-Indonesia agar ikut terlibat dalam gerakan-gerakan remaja. Apa saja sih kegiatan-kegiatannya? ini dia ;)

E-Course tentang Seksualitas, Kesehatan dan Hak Reproduksi Remaja

Kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari isu-isu terkait Seksualitas, Kesehatan dan Hak Reproduksi Remaja melalui pelatihan yang dilaksanakan via email. E-Course ini ditujukan sebagai persiapan bagi kamu untuk merencanakan kegiatan remaja yang akan kamu lakukan.

5 Hari Pelatihan Advokat Remaja untuk Pendidikan Seksualitas Komprehensif

Pelatihan ini diberikan kepada kamu untuk memperdalam informasi yang sudah kamu dapatkan pada E-Course. Selain itu kamu juga akan mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan seksualitas komprehensif serta kemampuan advokasi untuk hak-hak remaja.

Pertemuan Nasional HIV dan AIDS 2011, Jogjakarta

Jika terpilih sebagai anggota ARI, kamu berkesempatan untuk bisa menghadiri pertemuan nasional HIV dan AIDS di Jogjakarta pada bulan Oktober 2011. Pada pertemuan ini, ARI merupakan steering committee untuk forum remaja. Pada kesempatan ini, anggota ARI bersama dengan jaringan remaja nasional akan bersama-sama mengadvokasi isu-isu remaja terkait HIV dan AIDS.

Seluruh rangkaian kegiatan OPREC diatas akan dilaksanakan selama bulan Juni-Oktober 2011. Buat kamu yang tertarik mengikuti kegiatan ini bisa mengunduh form pendaftaran dibawah ini. Formulir pendaftaran dan CV paling lambat diterima sebelum tanggal 14 Mei 2011. Don’t miss it and see you on Youth Camp ARI 2011! ;)

Formulir Pendaftaran OPREC ARI 2011

May 3rd, 2011

Penelitian itu Menyenangkan

by via

Penelitian. Ya, sekarang aku sedang tertarik dengan kegiatan satu ini. Dimulai saat Bu Ika, dosenku saat semester 2, menawarkan mahasiswanya untuk membuat penelitian dalam rangka Konferensi Nasional yang diselenggarakan di kampus. Siapa yang mengirimkan paper disana akan langsung dapat nilai A tanpa perlu ikut UAS. Menarik! Selain dapat pelajaran baru, aku juga ga perlu susah-susah ikut UAS yang pasti bakal bikin pegel tangan karena kebanyakan nulis. Akhirnya, aku berkolaborasi dengan Bu Ika dan Pak Wahyu membuat penelitian dengan judul “Penggunaan Facebook oleh Mahasiswa dan Dosen Universitas Paramadina”.

read more »

April 12th, 2011

Alangkah Lucunya Negeri Ini

by via

Alangkah lucunya negeri ini. Kalimat itu sepertinya cocok untuk menggambarkan betapa menggelikannya kondisi sosial dan media massa di negeri yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa ini. Fenomena seleb dadakan berkat video lipsync di Youtube membuktikan betapa low culture-nya masyarakat dan media massa kita ini.

Menggelikan rasanya melihat sebuah tayangan video tak bermutu dan tak bermakna yang kemudian booming dan dipuja-puja banyak orang. Apa sih istimewanya nyanyi lipsync dengan joged-joged gak jelas? Mungkin itu lucu bagi sebagian orang, tapi aku rasa hal itu tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Tidak ada keunikan, tidak ada nilai estetika. Yang dipertontonkan hanya kekonyolan dan menjadi tertawaan banyak orang. Padahal di Youtube banyak penyanyi berbakat yang tidak tersentuh oleh media. Apa mungkin media di Indonesia hanya senang mengangkat low issue?

read more »

April 12th, 2011

Pentingnya Flash Back dalam Pidato

by via

Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak hal dan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita.

Begitu juga dalam pidato, ketika kita menyelipkan catatan sejarah di dalamnya maka pidato kitapun akan terasa lebih bermakna. Mengapa demikian? Karena sejarah merupakan sesuatu hal yang pernah terlewati oleh setiap manusia. Setiap orang memperoleh pengalaman dan pelajaran dari sejarah yang penah ia lewati atau ia dengar. Karena itu ketika kita menceritakan tentang suatu hal di masa lampau, maka para pendengarpun akan semakin tertarik dengan pidato kita. Karena saat itu mereka ikut mengingat, merasakan, dan membayangkan kejadian yang sedang kita ceritakan.

read more »

March 30th, 2011

Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat

by via

Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini.  Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet  merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.

Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.

read more »