Media dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya berkembang bersama-sama dan saling mempengaruhi satu sama lain. Perubahan media dari waktu ke waktu berjalan seiring dengan berkembangnya peradaban manusia. Kita dapat melihat perkembangan media dengan melihat juga perkembangan peradaban manusia dari waktu ke waktu. Dimulai dari masyarakat pre-agrikultul, masyarakat agrikultur, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.
Saya dan ESC
Haru. Mungkin kata itulah yang bisa menggambarkan perasaan saya saat datang ke acara buka puasa bersama anak-anak ESC hari sabtu, tanggal 20 Agustus 2011 kemarin. Rasa haru itu muncul mungkin karena jauh dalam hati saya, saya sangat merindukan masa-masa di sekolah, khususnya masa ketika saya bergabung dalam ESC.
Bagi saya, ESC bukan hanya sekedar ekstrakurikuler, tapi juga rumah kedua bagi saya. Disana saya belajar, berlatih, dan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran hidup. ESC lebih dari sekedar ekstrakurikuler dalam bidang bahasa Inggris, karena disitu saya tidak hanya belajar bahasa, tapi juga belajar bekerja keras.
Tiga tahun bergabung disana tentu bukan waktu yang singkat. Banyak hal-hal dan pengalaman yang berbekas sekali dalam hati saya dan teman-teman. Rasanya masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana saya dan teman-teman berlatih setiap hari hingga sore demi mengikuti suatu kompetisi. Puluhan kompetisi mulai dari speech contest, debate championship, writing contest, dan lain lain kami ikuti ketika bergabung dalam ekstrakurikuler ini. Kamipun mengikuti perlombaan dimana-mana, mulai dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Tidak selalu menang memang, tapi dari pengalaman-pengalaman tersebut kami belajar dan terpupuk rasa persaudaraan yang dalam.
Ya, kami punya tim yang sangat solid pada waktu itu. Ada Mulyana, Khaeruddin, Te Neni, Kak Tito, dan beberapa kakak kelas yang sangat meng-support kami. Kami tidak mengenal senioritas, karena itulah kami sangat dekat dan kompak. Malah, pernah ketika ada lomba Speech Contest tingkat Kabupaten Lebak, anggota ESC memborong 3 juara sekaligus. Saya juara 1, Mulyana juara 2, dan Te Neni juara 3. Entah ini kebetulan atau tidak, tapi yang jelas ini sangat membanggakan bagi sekolah, khususnya bagi ESC sendiri.
Bisa dibilang, ESC lah yang menumbuhkan keberanian, semangat, dan rasa percaya diri dalam diri saya. Dari pengalaman-pengalaman yang pernah saya dan teman-teman lewati, wawasan saya makin luas dan tumbuh semangat untuk terus mengembangkan diri. Tak heran, pun setelah 3 tahun pensiun dari ekskul ini, saya merasa tetap memiliki hubungan perasaan yang erat dengan ESC.
Saat kemarin buka puasa bersama adik-adik ESC di sekolah, saya ko merasa seperti déjà vu ya. Ya, déjà vu. Saya seperti kembali ke masa tiga tahun lalu, melihat diri saya sendiri yang sedang duduk menjadi anggota ESC. Apalagi ketika melihat-lihat lab bahasa (basecamp ESC) yang ternyata masih menyimpan piala dan file-file semasa saya dan teman-teman bergabung disana. Ah, ESC is so much memorable for me …
Oya, saya juga senang lho melihat anggota ESC yang ternyata cukup banyak. Tapi perlu diingat, seleksi alam tidak bisa dihindari. Lama-kelamaan juga akan terlihat siapa anak yang benar-benar berkomitmen dan siapa yang tidak. Bukannya mendoakan, tapi kita harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk bukan? Hal penting yang perlu diingat adalah, quantity is not everything. Pun nantinya anggota ESC berkurang, jangan patah semangat ya. Karena keberhasilan tidak selalu diukur dari kuantitas, tapi dari kualitas yang membanggakan.
Tulisan ini saya buat bukan untuk membanggakan diri, apalagi memuji diri sendiri. Lewat tulisan singkat ini, saya ingin berbagi sekaligus mencurahkan isi hati. Mengingat kemarin cukup banyak anak kelas satu yang notabene anggota baru, menanyakan “Seru gak sih gabung di ESC?” atau “Manfaatnya ikut ESC apa sih?”. Semoga tulisan ini menjawab kegalauan kalian ya. Walaupun sebenarnya tulisan ini tidak akan cukup jika kalian tidak mencobanya sendiri. Saya sangat berharap adik-adik ESC sekarang bisa jauh lebih baik dari kami yang sudah lebih dulu pensiun. Dan saya percaya, kalian pasti bisa! Sampai jumpa di event ESC selanjutnya ya. ESC, Bravo!
Selamat Datang Semester 5
Ah, rasanya tangan saya masih kaku menulis kata semester lima. Sedikit rasa tidak percaya, rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di Universitas Paramadina, mengikuti Grha Mahardika Paramadina (semacam Ospek), berkenalan dengan teman-teman di Jakarta, dan tinggal satu atap bersama dengan 31 teman Paramadina Fellowship lainnya. Rasanya baru kemarin juga, saya belajar tentang Pengantar Ilmu Komunikasi, dan mendapat lembaran transkrip IPK. Waktu terasa berjalan begitu cepat ya …
Tulisan saya ini sejujurnya bukan hal yang biasa. Sejak pertama kuliah, saya tidak pernah membuat tulisan seperti ini. Entah karena malas, atau memang tidak ada hal spesial yang ingin saya ceritakan. Tapi semester ini, ada sesuatu hal yang benar-benar mengusik pikiran saya. Pertama, diri saya sedang ditegur oleh yang Diatas lewat IPS (Indeks Prestasi Semester) saya yang terjun bebas semester ini. Bukannya sok iyeh, tapi turun nilai sebesar 0,3 bagi saya agak menyesakkan hati. Tapi saya sih sudah ikhlas, saya sadar itu memang sepenuhnya berasal dari kesalahan saya. Salah saya yang kurang bisa membagi waktu, salah saya yang kurang mampu multitasking, dan salah saya yang kehilangan fokus karena banyaknya kegiatan ekstrakurikuler.
Hal yang kedua yang mengusik perasaan saya adalah kegalauan akademis. Kesibukkan pada kegiatan ekstrakurikuler membuat kuliah saya agak terbengkalai dan agak mengurangi semangat saya untuk belajar. Ini tentunya sangat berbahaya, mengingat kondisi saya yang sudah memasuki semester lima. Semester lima bukan waktunya lagi untuk bersantai ria apalagi berleha-leha, secara skripsi sebentar lagi sudah didepan mata. Kegiatan ekstrakurikuler memang penting, saya sadari itu. Darisanalah saya belajar untuk bersosialisasi dan berorganisasi dengan lebih baik. Tapi saya juga jangan sampai lupa, bahwa kewajiban kuliah harus saya penuhi dengan baik.
Tulisan ini sebenarnya ditujukan untuk diri saya sendiri. Untuk mengingatkan saya akan tujuan dan mimpi yang pernah saya rancang ketika awal memasuki perkuliahan. Jangan sampai godaan-godaan dalam proses belajar ini membelokkan saya dari tujuan tersebut. Saya ingin lulus kuliah dengan baik, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan bekerja sesuai dengan yang saya inginkan. Setidaknya, saya tidak membuat orang tua dan para donor yang telah membiayai saya kuliah tidak kecewa atau menyesal pernah menyekolahkan saya. Mimpi saya pun sebenarnya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin sukses. Dan sukses bagi saya, adalah ketika diri saya bisa bermanfaat banyak bagi orang lain.
Untuk mewujudkannya, saya mengultimatum diri saya untuk belajar lebih keras dan bersemangat, menjalin networking dengan lebih baik dan selalu memperbaiki diri dari hari ke hari. Terdengar agak klasik memang, tapi setidaknya saya sudah mencoba dan mudah-mudahan tertancap di kepala
. Selamat datang semester lima, semester ini HARUS JAUH LEBIH BAIK dari semester kemarin!
Yuk Ikut OPREC ARI 2011
Buat kamu yang udah pernah baca catatan pengalamanku saat mengikuti Youth Camp ARI desember tahun lalu, pasti sedikit banyak sudah tahu what ARI really is. Disitu, kamu juga bisa lihat betapa menyenangkannya youth camp yang diadakan serta inisiasi dan gerakan apa aja yang dihasilkan.
Nah, menginjak tahun 2011, ARI kembali mengadakan OPREC (Open Recruitment) untuk kembali merangkul kawan-kawan remaja se-Indonesia agar ikut terlibat dalam gerakan-gerakan remaja. Apa saja sih kegiatan-kegiatannya? ini dia
E-Course tentang Seksualitas, Kesehatan dan Hak Reproduksi Remaja
Kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari isu-isu terkait Seksualitas, Kesehatan dan Hak Reproduksi Remaja melalui pelatihan yang dilaksanakan via email. E-Course ini ditujukan sebagai persiapan bagi kamu untuk merencanakan kegiatan remaja yang akan kamu lakukan.
5 Hari Pelatihan Advokat Remaja untuk Pendidikan Seksualitas Komprehensif
Pelatihan ini diberikan kepada kamu untuk memperdalam informasi yang sudah kamu dapatkan pada E-Course. Selain itu kamu juga akan mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan seksualitas komprehensif serta kemampuan advokasi untuk hak-hak remaja.
Pertemuan Nasional HIV dan AIDS 2011, Jogjakarta
Jika terpilih sebagai anggota ARI, kamu berkesempatan untuk bisa menghadiri pertemuan nasional HIV dan AIDS di Jogjakarta pada bulan Oktober 2011. Pada pertemuan ini, ARI merupakan steering committee untuk forum remaja. Pada kesempatan ini, anggota ARI bersama dengan jaringan remaja nasional akan bersama-sama mengadvokasi isu-isu remaja terkait HIV dan AIDS.
Seluruh rangkaian kegiatan OPREC diatas akan dilaksanakan selama bulan Juni-Oktober 2011. Buat kamu yang tertarik mengikuti kegiatan ini bisa mengunduh form pendaftaran dibawah ini. Formulir pendaftaran dan CV paling lambat diterima sebelum tanggal 14 Mei 2011. Don’t miss it and see you on Youth Camp ARI 2011!
Penelitian itu Menyenangkan
Penelitian. Ya, sekarang aku sedang tertarik dengan kegiatan satu ini. Dimulai saat Bu Ika, dosenku saat semester 2, menawarkan mahasiswanya untuk membuat penelitian dalam rangka Konferensi Nasional yang diselenggarakan di kampus. Siapa yang mengirimkan paper disana akan langsung dapat nilai A tanpa perlu ikut UAS. Menarik! Selain dapat pelajaran baru, aku juga ga perlu susah-susah ikut UAS yang pasti bakal bikin pegel tangan karena kebanyakan nulis. Akhirnya, aku berkolaborasi dengan Bu Ika dan Pak Wahyu membuat penelitian dengan judul “Penggunaan Facebook oleh Mahasiswa dan Dosen Universitas Paramadina”.
Well, that was my first research. Senang sekali rasanya melihat tulisan sendiri diterbitkan di Jurnal dan dibaca banyak orang. Bahagia sekali rasanya ketika karya sendiri dikutip dan dijadikan referensi dalam makalah ilmiah. It’s very happy to see that i’m useful for others
Selang beberapa lama, aku dan dua kakak tingkatku, Kak Ismayanti dan Kak Agung, mengikuti Konferensi Nasional tentang Citizen Journalism di Universitas Terbuka. Ternyata, konferensi seperti itu menyenangkan lho. Banyak hal baru yang bisa dipelajari dan sangat menambah pengetahuan. Disana, bukan hanya kemampuan kognitif saja yang terasah, kemampuan afektif dan psikomotorik juga terlatih.
Aku sadar, belum banyak karya yang aku buat dan juga belum banyak konferensi yang aku ikuti. Itu salah satu kelemahan yang harus mulai aku perbaiki agar kelak bisa menjadi peneliti yang baik. Mimpi tanpa realisasi itu sama saja dengan omong kosong, kan …
Agak lama absen dalam membuat paper penelitian kadang membuat otak menumpul dan menumbuhkan rasa malas. Makanya, kemarin aku dan kedua temanku, Lutiana dan Kharisma, mengikuti Call for Paper yang dilaksanakan Universitas Airlangga, Surabaya. Alhamdulillah, abstrak yang kami kirimkan lolos 30 besar sehingga berhak untuk melakukan presentasi disana. Yup, at the middle of May we will rock Surabaya, wish us luck ya!
Oya, sebulan yang lalu aku juga mengikuti Paramadina Young Researcher, sebuah program training penelitian yang diselenggarakan oleh kampusku. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diminta membuat proposal penelitian. Proposal penelitian yang lolos berhak mendapatkan dana penelitian dari kampus dengan didampingi mentor untuk membimbing penelitiannya.
Alhamdulillah lagi, proposal penelitianku berjudul “Pengukuran Tingkat Literasi Media Berbasis Individual Competences Studi Kasus Universitas Paramadina” lolos sehingga penelitiannya dapat direalisasikan. I’m very glad to get it, tapi itu adalah amanah yang benar-benar harus dijaga. Ya, aku harus menyiapkan energi dan menyisihkan waktu supaya bisa menyelesaikannya tepat waktu.
Meneliti sepertinya menjadi hobi baru yang sedang aku geluti. Harapanku sih ini tidak hanya menjadi sekedar hobi, tapi menjadi sebuah profesi. Cita-citaku menjadi akademisi pasti akan sangat terbantu dengan “hobi baru” ku ini. Semoga jalanku oleh Allah dipermudah, dan aku bisa istiqomah! amin
ps: Bagi yang ingin melihat contoh proposal penelitianku, just feel free to download it below ya!
Pentingnya Flash Back dalam Pidato
Ada sebuah kalimat yang sering aku dengar di sekolah, yaitu bangsa yang hebat adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Awalnya kalimat itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Bukankah sebagai manusia kita seharusnya menatap masa depan? Tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa dalam kalimat tersebut tersimpan makna yang dalam, yaitu sejarah dapat mengajari kita banyak hal dan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita.
Pengaruh Roman Romeo dan Juliet terhadap Film dan Perilaku Masyarakat
Romeo dan Juliet. Siapa yang tak tahu kisah romantis nan dramatis ini. Kisah legendaris ini ditulis oleh William Shakespeare, sastrawan asal Inggris, yang terinspirasi dari penulis asal Italia pada abad ke-16, Luigi da Porta,. Menurut pengakuannya, kisah cinta Romeo dan Juliet merupakan kisah nyata yang memang pernah benar-benar terjadi.
Kisah Romeo dan Juliet bercerita tentang kisah sepasang kekasih, Romeo dan Juliet, yang berasal dari keluarga yang saling bermusuhan, yaitu keluarga Capulets dan Mountage. Kedua keluarga tersebut sudah bermusuhan secara turun temurun dan bersitegang sejak lama. Alhasil, hubungan cinta keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan penuh dengan konflik. Dalam kisah ini, Shakespeare secara tidak langsung menanamkan ideologi bahwa cinta itu penuh pengorbanan dan harus diperjuangkan. Dimana seseorang harus mau berkorban jika ingin disebut sebagai seorang “pencinta” yang baik.
Roman yang ditulis oleh Shakespeare ini telah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa di dunia dan ceritanya juga sudah sering diangkat kedalam film dan dipentaskan di teater-teater di seluruh dunia. Kisah tentang Romeo dan Juliet ini telah menjadi kisah turun temurun yang bertahan dari generasi-generasi. Hampir semua orang, baik tua maupun muda, sangat familiar dengan kisah dan kedua tokoh dalam roman tersebut. Saat mendengar kisah cinta yang penuh pengorbanan, pikiran kebanyakan orang akan tertuju pada kisah legendaris ini.
Melalui roman Romeo dan Juliet, Shakespeare telah melakukan apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni. Dimana melalui kisah cinta yang ia ceritakan, ia berhasil mendominasi pemikiran khalayak bahwa ketika seseorang jatuh cinta, ia harus memperjuangkan cintanya dengan cara apapun, sekalipun hal itu harus menyakiti dirinya sendiri. Ideologi itulah yang kemudian menghegemoni pemikiran dan perilaku khalayak yang selanjutnya mempengaruhi konten media, khususnya film-film drama.
Kisah Romeo dan Juliet sudah pernah difilmkan beberapa kali dan sangat legendaris. Kisah ini pertama kali difilmkan pada tahun 1968 yang dibintangi Leonard Whiting dan Olivia Hussey. Pada waktu itu, film ini juga memenangkan 2 kategori sekaligus dalam ajang Academy Awards, yaitu Best Cinematography dan Best Costume Design. Selang beberapa tahun kemudian, kisah ini difilmkan kembali pada tahun 1996 yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio dan Claire Danes yang juga mendapatkan sambutan yang luar biasa. Di Indonesia sendiri, kisah Romeo dan Juliet juga pernah difilmkan pada tahun 2009 yang disutradarai Andibachtiar Yusuf dengan konsep yang berbeda. Dalam perkembangannya, kisah Romeo dan Juliet menjadi kisah cinta favorit yang tidak pernah hilang ditelan masa.
Disadari atau tidak, roman Romeo dan Juliet ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap dunia perfilman. Banyak film-film yang mengadaptasi kisah dan nilai-nilai yang ada dalam roman tersebut. Misalnya film drama Boys before Flowers dari Korea Selatan yang menceritakan perjuangan sepasang kekasih dalam mempertahankan cinta mereka meskipun tidak disetujui oleh orang tua. Film ini sedikit banyak telah mengadaptasi nilai-nilai yang ada dalam roman Romeo dan Juliet yang ditulis Shakespeare, bahwa cinta harus tetap diperjuangkan meskipun harus menentang kehendak orang tua dan menempatkan cinta diatas segala-galanya.
Di Indonesia sendiri, ideologi-ideologi roman Romeo dan Juliet ini banyak diterapkan di sinetron-sintron, misalnya di FTV-FTV yang sering ditayangkan di SCTV. Mereka secara langsung maupun tidak langsung telah meminjam pemaknaan dari kisah Romeo dan Juliet dan menerapkannya dalam sinetron mereka.
Apa yang dilakukan film dan sinetron diatas merupakan intertekstualitas, sebuah istilah yang juga pernah diperkenalkan oleh Gramsci. Intertekstualitas merupakan cara yang dilakukan Gramsci dalam menganalisis fenomena hegemoni dalam kajian isi media dan audience. Gramsci mengatakan bahwa saat sebuah teks meminjam teks lain, ia juga meminjam makna dari teks tersebut. Artinya ketika film-film diatas meminjam nilai-nilai yang ada dalam kisah Romeo dan Juliet, mereka juga sebenarnya telah meminjam makna dari kisah itu sendiri. Sehingga ketika mereka melihat film tersebut, mereka seakan-akan melihat pantulan dan perasaan yang sama saat menyaksikan roman Romeo dan Juliet atau pantulan dari pemikiran mereka yang telah terhegemoni tentang konsep cinta dan pengorbanan.
Film Romeo Juliet merupakan salah satu contoh intertekstualitas yang dilakukan film Indonesia terhadap roman Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Jika dalam roman karya Shakespeare konflik yang terjadi dalam hubungan Romeo dan Juliet adalah konflik keluarga, maka dalam film ini konflik terjadi diantara dua kelompok fans sepak bola yang saling bermusuhan, yaitu PERSIJA Jakarta (Jakmania) dan PERSIB Bandung (Viking). Alur cerita yang digambarkan dalam film ini relatif sama dengan roman Romeo dan Juliet yang asli, namun dimodifikasi sedemikian rupa dengan bentuk yang berbeda. Namun tetap saja, secara tidak langsung film ini telah meminjam pemaknaan dari roman Romeo dan Juliet yang asli.
Meskipun banyak film yang mengadaptasi nilai-nilai dalam kisah Romeo dan Juliet sebagai konsekuensi dari hegemoni yang terjadi, bukan berarti mereka terus-menerus mengadaptasi nilai-nilai tersebut secara penuh. Menurut Gramsci, hegemoni merupakan sebuah proses yang diperbaharui dan dimodifikasi secara terus menerus dan terus dipertahankan. Oleh karena itu, para pelaku media terus memodifikasi kisah Romeo dan Juliet ini kedalam berbagai bentuk untuk melanjutkan dan mempertahankan hegemoni ideologi yang telah ada sebelumnya.
Media sebagai distributor penyampaian ideologi-ideologi Shakespeare, merupakan apa yang disebut Althusser sebagai ISA (ideological state apparatus). Meskipun ideologi tersebut datang dari Shakespeare, media memfasilitasi ideologi tersebut sehingga dapat tertanam dalam diri banyak orang. Secara tidak sadar maupun tidak, khalayak yang menyaksikan tayangan-tayangan tersebut akan diajak oleh media untuk menyepakati ideologi-ideologi yang disampaikan melalui tayangan-tayangan yang diberikan. Dalam hal ini, media merupakan salah satu instrumen penting dalam penanaman ideologi.
Penyampaian ideologi yang dilakukan melalui film merupakan salah satu bentuk struggle untuk dapat melakukan hegemoni. Menurut Gramsci, struggle dari pemilik atau penyebar ideologi diperlukan untuk dapat menanamkan ideologi-ideologi tertentu dalam diri khalayak. Setelah dilakukan struggle, pada akhirnya akan tercipta kesepakatan diantara pelaku hegemoni dan khalayak yang terhegemoni untuk sama-sama menerima ideologi tersebut sebagai suatu sistem kepercayaan.
Selanjutnya, pemikiran Althusser yang cocok dalam menggambarkan fenomena yang terjadi pada khalayak saat menonton film Romeo dan Juliet adalah interpelasi. Interpelasi dapat diartikan sebagai mekanisme menarik perhatian yang menempatkan penonton sebagai subjek. Dalam film Romeo dan Juliet, Shakespeare tidak hanya menawarkan cerita, namun juga menghadirkan sekaligus memberi imaji yang selanjutnya akan termaterialisasi kepada khalayak. Pertama-tama, khalayak ditempatkan sebagai penonton film Romeo dan Juliet, dimana pada waktu itulah ia ter-interpelasi, terbujuk secara imajiner untuk menempati posisi subjek tertentu yaitu sebagai pencinta yang baik yang mempercayai bahwa cinta harus diperjuangkan. Interpelasi yang dilakukan secara terus menerus ini pada akhirnya akan mengakibatkan hegemoni, dimana khalayak menganggap ideologi tersebut memang sesuatu yang sebenarnya dan harus diikuti.
Sedikit banyak, ideologi “cinta harus berkorban” yang disampaikan Shakespeare dalam roman Romeo dan Juliet ini telah mempengaruhi pandangan banyak orang dalam melihat hubungan percintaan. Mereka menganggap bahwa ketika mereka jatuh cinta, mereka harus memperjuangkan dan membuktikannya dengan cara apapun. Tak heran banyak terjadi kasus bunuh diri karena putus cinta, melawan orang tua untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan, dan perilaku mengharu-biru lainnya sebagai dampak dari hegemoni ideologi yang terjadi.
Consciousness tersebut tidaklah datang begitu saja. Hal itu terbentuk melalui proses-proses tertentu yang dilakukan oleh media melalui tayangan-tayangan yang diberikan. Karena ideologi itu disampaikan secara terus menerus dan berlangsung sejak lama, media akhirnya membentuk consciousness tersebut dalam diri masyarakat. Mereka tidak lagi menyadari bahwa apa yang mereka percayai adalah hasil konstruksi, melainkan menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya.
Dengan demikian, fenomena roman Romeo dan Juliet ini dapat dikaitkan dengan konsep-konsep yang pernah diperkenalkan oleh Althusser (ISA dan interpelasi) dan Gramsci (hegemoni dan intertekstualitas). Roman Romeo dan Juliet telah melakukan hegemoni dengan menanamkan ideologi “cinta harus berkorban” kepada khalayak yang selanjutnya banyak diadopsi oleh film-film diseluruh dunia. Sementara itu, film-film yang memiliki ideologi yang sama seperti roman Romeo dan Juliet telah melakukan intertekstualitas dengan meminjam makna dari roman tersebut dan menempatkannya dalam film yang ia buat. Baik roman maupun film Romeo dan Juliet telah melakukan interpelasi dengan menjadikan khalayak sebagai subjek saat mengikuti cerita mereka. Dalam hal ini, media media memiliki peran yang sangat penting sebagai ISA (Ideological State Apparatus), yakni sebagai instrumen yang membantu menanamkan ideologi tersebut dalam diri khalayak.
Versi PDF dapat didownload disini
Media Massa dan Institusi Politik

Media massa merupakan alat yang paling strategis untuk melakukan penyebaran nilai, pembentukan opini, serta memediasi berbagai pihak dalam melakukan komunikasi. Karena alasan tersebut, media sangat gampang dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang mengelilinginya, baik kepentingan publik, pemerintah, maupun institusi politik.
Institusi politik adalah tempat lahirnya ideologi-ideologi politik dan aktor-aktor politik yang kemudian ditempatkan dalam organisasi pemerintahan untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah. Untuk dapat memahami institusi politik, kita dapat menggunakan tiga pendekatan institusionalisme, yaitu institusionalisme sosiologis, institusionalisme historis, dan institusionalisme politik.
Institusionalisme sosiologis memandang bahwa negara dan politisi membentuk perspektif budaya dalam organisasi dan politiknya sendiri. Dasar pendekatan institusionalisme sosiologis adalah teori budaya. Oleh karenanya, pendekatan ini fokus pada penyebaran ide dan bentuk-bentuk budaya, sebagaimana organisasi mencari legitimasi. Berbeda dengan institusionalisme sosiologis, institusionalisme historis mengacu pada catatan sejarah. Institusionalisme historis menempatkan analisis sejarah dan penelitian-penelitian lain dalam memahami fenomena institusinya. Sedangkan institusionalisme politik berusaha menunjukkan kekuatan yang jelas serta menekankan peran kausal institusi politik terhadap proses dan hasil politik .
Secara singkat media memiliki dua peran . Pertama, media dapat mempengaruhi kebijakan institusi. Kedua, media dapat dijadikan sebagai katalis atau penetral manakala terjadi konflik perubahan institusional. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa media sangat berperan penting bagi institusi politik.
Baik institusi politik, pemerintah, maupun kekuatan kekuasaan lain pasti akan selalu memiliki kepentingan terhadap media massa. Hal ini tidak dapat dihindari, karena media adalah alat yang paling efektif untuk melakukan hegemoni dan mempengaruhi masyarakat. Padahal disisi lain, media massa harus dijaga independensinya sebagai salah satu pilar demokrasi.
Pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah, jika memang media massa akan selalu dipengaruhi kepentingan, maka sejauh manakah intervensi pihak pihak tertentu khususnya institusi politk dalam mempengaruhi industri media? Hingga saat ini hal tersebut masih menjadi perdebatan. Belum ada yang dapat memastikan dan mengukur intervensi institusi politik pada media. Yang pasti adalah, intervensi terbesar pasti akan media dapatkan dari pemiliknya. Sehingga dapat diprediksi bahwa jika pemiliknya merupakan bagian dari institusi politik, maka kepentingan institusi politik juga pasti akan mempengaruhi industri media yang dimilikinya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa media tidak dapat sepenuhnya independen. Meskipun media dituntut untuk bebas dari tekanan, mau tidak mau media akan selalu dipengaruhi oleh intervensi pihak-pihak lain, baik pemerintah, pemilik, maupun institusi politik tertentu.
Dalam kaitannya dengan institusi politik, media memiliki relasi yang kuat sebagai alat untuk menyebarkan ideologi-ideologi politis dan merangkul massa untuk mendapatkan kekuasaan. Sehingga tidak mengherankan banyak institusi politik yang berebutan menguasai media, karena menguasai media berarti menguasai masyarakat.
Selain untuk memenuhi kepentingan institusi politik, media massa juga berperan dalam perubahan dan pembangunan institusional. Untuk dapat melakukan perubahan institusional, diperlukan sebuah alat untuk mentransformasi informasi dan nilai-nilai kepada masyarakat. Media merupakan alat yang paling tepat. Karena disamping media memiliki kemampuan untuk mengumpulkan massa, media juga memiliki kemampuan untuk mentransformasi nilai-nilai sehingga kemudian dapat merubah persepsi dan opini publik .
Tulisan ini merupakan rangkuman dari buku “Handbook of Politics” karya Kevin L Teicht dan J. Craig Jenkins dan buku “Media, Development, and Institutional Change” karya Christopher J Coyne dan Peter T. Leeson. Versi PDF dapat didownload disini.
Media Massa dan Demokrasi
Sistem pemerintahan demokrasi seringkali diagung-agungkan karena ideologinya yang menempatkan publik sebagai prioritas. Ideologi demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” menjadi jargon yang seakan-akan memperlihatkan kekuasaan publik dalam mengatur pemerintahan. Dalam demokrasi ini, media massa atau jurnalisme memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan sistem demokrasi. Bahkan jurnalisme juga dianggap sebagai pilar keempat demokrasi.
Media dan demokrasi merupakan hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya telah melewati sejarah yang panjang dan saling berkesinambungan satu sama lain sejak zaman feodal hingga saat ini. Media massa tanpa adanya demokrasi akan mengalami kemandegan, karena media massa dapat bersuara manakala difasilitasi oleh sistem demokrasi. Begitu juga sebaliknya, demokrasi akan terlihat sinarnya manakala difasilitasi oleh media massa.
Demokrasi baru dapat dikatakan berhasil ketika masyarakat well informed dalam memberikan aspirasi politiknya. Artinya, masyarakat harus memiliki informasi yang cukup dalam menentukan keputusan politiknya dan bukan hanya asal pilih. Disinilah media massa berperan, yakni untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk membantu mereka menentukan pilihannya. Media massa bertanggung jawab memberikan informasi tentang para kandidat dari sisi yang paling objektif sehingga akan menyehatkan persaingan politik di pemerintahan.
Edmund Burke menyebut media massa sebagai pilar keempat demokrasi. Karena itu, media massa bertanggung jawab sebagai pengawas dan pengontrol para pemegang kekuasaan seperti pemerintah, para pemilik modal, dan institusi-institusi lain yang sekiranya berpotensi mempengaruhi masyarakat. Fungsi media massa tersebut seharusnya juga dapat meningkatkan kewaspadaan institusi-institusi tersebut dalam melakukan aktivitasnya, karena apa yang dilihat media juga akan dilihat masyarakat.
Media massa menjadi sangat penting dalam demokrasi karena media massa diharapkan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan pemerintah serta meningkatkan aspirasi politik masyarakat. Oleh karenanya, beberapa media massa menyiapkan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat seperti melalui surat pembaca. Hal ini juga menjadi semakin dimudahkan dengan perkembangan teknologi seperti internet yang makin memudahkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi politik. Namun masalahnya adalah, apakah sistem tersebut memang benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung demokrasi?aspirasi tesebut di-follow up oleh media?atau malah hanya sebagai formalitas dan dijadikan sampah? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pengelola media dalam perannya sebagai pilar keempat demokrasi.
Media massa memang berperan sebagai “marketplace of ideas”, yakni sebagai wadah aspirasi tiap orang sehingga mereka dapat berbicara dan berdebat melalui media massa. Namun hal ini juga perlu dipertanyakan keefektifannya, karena ditakutkan kebenaran yang terekonstruksi malah berdasarkan siapa yang dapat menyampaikan pandangannya dengan paling baik. Hal itu tentunya akan merugikan orang lain dan berpotensi menyisihkan kebenaran yang sebenarnya.
Berdasarkan hal tersebut, media juga seharusnya memanfaatkan kapasitasnya sebagai advokat dan partisipan sistem masyarakat dan pemerintahan. Disini, media massa tidak hanya menjadi alat pasif yang menjadi mediator komunikasi diantara berbagai pihak?pemerintah, politisi, dan masyarakat, melainkan juga memiliki kapasitas untuk memberikan pandangannya. Baik pandangan yang mendukung kelompok-kelompok tertentu, maupun tidak. Disini, media diperlakukan seperti masyarakat yang juga berhak menyampaikan aspirasi politik.
Secara ringkas, media massa atau jurnalisme dalam demokrasi memiliki tiga peran, yaitu (1) jurnalisme sebagai sumber informasi, (2) jurnalisme sebagai watchdog dan pilar keempat demokrasi, (3) jurnalisme sebagai mediator, (4) jurnalisme sebagai advokat. Keempat peran jurnalisme tersebut merupakan tanggung jawab para pengelola media yang harus dipenuhi dalam sistem pemerintahan demokrasi.
Empat peran jurnalisme diatas memperlihatkan betapa dalam demokrasi media massa terlihat sangat baik dan independen. Namun apakah memang benar seperti itu? Pada kenyataannya, bagaimanapun media massa tidak akan pernah independen. Bagaimanapun, media massa adalah sebuah industri yang memiliki kepentingan ekonomi serta membutuhkan subsidi dana yang besar, sehingga media massa pasti akan selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang menguasainya.
Sama dengan industri-industri lainnya, media massa memiliki kepentingan ekonomi dan kompetisi media yang sangat kuat sehingga membuat media selalu berusaha agar informasinya dapat menarik banyak massa. Hal inilah yang kemudian menimbulkan hyperadversarialism, dimana para jurnalis menjadi agresif dalam mengkritisi pemerintah agar mendapatkan berita yang kontroversial sehingga dapat menarik perhatian publik. Pada akhirnya, media massa tidak lagi mencari kebenaran realitas, melainkan jadi berlomba-lomba membuat spekulasi agar beritanya lebih menarik. Hyperadversarialism ini juga menempatkan berita politik seperti infotainment, karena selalu mengambil sisi dramatisasi dan konfrontasi politik yang terjadi. Alih-alih mendukung demokrasi, hal itu sebenarnya hanya digunakan media massa untuk kepentingan ekonomi.
Kebebasan pers dalam demokrasi juga sebenarnya patut dipertanyakan. Apakah pers atau media massa memang benar-benar bebas dari tekanan kelompok-kelompok tertentu atau malah sebenarnya ditekan tapi sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang kemudian juga menjadi olok-olok kritik marxian yang menyebut kebebasan pers sebagai ideological hoax, dimana sebenarnya pers atau media massa bagaimanapun tidak akan pernah terbebas dari penguasaan kaum borjuis. Kebebasan pers tersebut hanya dijadikan topeng untuk melakukan hegemoni dan mendukung industri medianya
Poin terpenting yang perlu dipahami adalah tidak akan pernah ada negara yang dapat mengaplikasikan demokrasi secara utuh, karena demokrasi sendiri bukan semata-mata lahir dari gerakan masyarakat melainkan juga didorong oleh elit-elit politik yang ada dibelakangnya. Dengan demikian, demokrasi tidak akan pernah berjalan sempurna, pasti akan selalu ada intervensi kelompok-kelompok tertentu yang mempengaruhinya. Begitu pula dengan media. Bagaimanapun media tidak akan pernah independen dan netral seutuhnya, media pasti akan selalu dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, baik kepentingan politik maupun ekonomi.
Tulisan ini merupakan rangkuman dari buku Kevin T Leicht, “Handbook of Politics” chapter 24: Democracy and Democratization, buku Katrin Voltmer, “Mass Media and Political Communication in New Democracies”, dan buku Karin Wahl Jorgensen, “Handbook of Journalism Studies” part 17: Journalism and Democracies.. Versi PDF dapat didownload disini.
Genealogi Kajian Budaya
Robert E. Babe memulai tulisannya tentang Genealogy of Cultural Studies dengan definisi-definisi tentang kajian budaya. Dalam tulisannya tersebut, ia tidak membahas tentang sejarah atau genealogi kajian budaya. Merujuk pertanyaan Blundell, Shepherd dan Taylor bahwa membicarakan sejarah kajian budaya merupakan hal yang cukup sulit . Oleh karena itu, kita hanya bisa merujuk pendapat-pendapat para ahli yang pemikirannya juga berasal dari para ahli kajian budaya terdahulu.
Para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda dalam melihat kajian budaya. Secara umum jika dilihat dari penjelasan Wikipedia, kajian budaya merupakan kombinasi dari ekonomi politik, komunikasi, sosiologi, teori sosial, teori literasi, teori media, kajian film dan video, antropologi budaya, filsafat, dan sejarah dalam melihat fenomena budaya dalam masyarakat .
Kajian budaya menjadi penting untuk diperbincangkan karena saat ini kita hidup di era budaya baru yang secara dramatis telah diubah oleh media global dan teknologi komputer. Oleh karena itu, kita membutuhkan kajian budaya untuk menganalisis kondisi ekonomi politik industri budaya saat ini, efek media baru dan teknologi, serta dampaknya terhadap masyarakat. Dalam tulisan ini, kita akan melihat kajian budaya ini dari dua sisi, yaitu dari sisi British Cultural Studies dan Critical Cultural Studies.
Critical cultural studies menekankan tentang adanya ketidak adilan dalam hubungan kekuasaan. Sandar dan Van Loon menyebutkan tiga karakteris critical cultural studies yang berkaitan dengan hubungan kekuasaan, yaitu:
- Critical cultural studies bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan kekuasaan mempengaruhi praktek-praktek budaya.
- Critical cultural studies bertujuan untuk memahami semua bentuk budaya serta menganalisa konteks sosial dan politik yang termanifestasi didalamnya.
- Critical cultural studies berkomitmen pada evaluasi moral masyarakat modern dan politik radikal, serta memahami dan merubah struktur dominasi khususnya dalam masyarakat kapitalis .
British cultural studies memberikan kita penjelasan untuk menganalisa situasi sosial yang sedang terjadi dan juga ikut mengembangkan teori kritis dan kajian budaya dengan cara-cara praktis. British cultural studies ini dimulai saat didirikan University of Birmingham Center for Contemporary Cultural Studies pada tahun 1963 yang menjelaskan berbagai perspektif tentang kajian budaya. Dalam kajiannya, mereka fokus pada hubungan saling mempengaruhi antara ideologi kelas, gender, ras, serta budaya media.
British cultural studies membicarakan tentang bagaimana masyarakat menggunakan media massa serta cara mereka dalam menginterpretasikan pesan-pesan yang ada didalamnya sebagai bentuk dari budaya media. Kajian ini menganalisa fakto-faktor apa saja yang membuat masyarakat merespon media dengan cara-cara yang berbeda-beda. British cultural studies juga merupakan kajian pertama yang membicarakan tentang efek media massa seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan efek bentuk-bentuk budaya populer lain.
Secara umum, perspektif British Cultural Studies memiliki beberapa kesamaan dengan perspektirf Frankfurt School. Pertama, terjadinya penurunan kesadaran revolusioner diantara kelas pekerja. Kedua, budaya media berperan dalam membentuk kelas pekerja menjadi masyarakat kapitalis. Ketiga, budaya media membentuk hegemoni kapitalis.
Richard Hoggart, salah satu tokoh British Cultural Studies memperkenalkan konsep The Uses of Literacy yang menekankan sisi kepemilikan media dan dan aspek-aspek produksi konten media, tidak hanya sisi konsumsi dan interpretasinya saja . Ia mengatakan bahwa media massa telah menggantikan budaya kelas tradisional, sehinggga mengurangi kesadaran kelas diantara masyarakat .
Sementara itu, Raymond Williams yang juga merupakan tokoh British Cultural Studies fokus pada pengalaman-pengalaman kelas pekerja dan aktivitas mereka dalam mengkonstruksi kebudayaan serta budaya kelas. Argumentasinya adalah klasifikasi kerja dalam budaya memiliki struktur gagasan kolektif. Hal ini dapat dilihat dari kelas-kelas yang ada dalam masyarakat dalam menentukan posisi maupun kelas dalam suatu pekerjaan. Ia memperkenalkan beberapa konsep tentang kajian budaya, yaitu culture and society, mass and class consciousness, economic determinism, dan technological (media) determinism.
Raymond Williams berpendapat bahwa kelas dominan secara kuat dapat mengontrol transmisi dan distribusi pesan dalam media. Selain itu, kehadiran base and superstucture dalam economic determinism juga berpengaruh dalam memunculkan homogenitas media. Dimana fokus base and superstructure adalah memberikan pengaruh yang tujuannya mengikat kaum proletar yang bisa dipekerjakan sesuai dengan keinginan dan kehendak para pemilik modal. Hal ini tentunya kemudian akan menciptakan hegemonitas oleh para pemilik modal terhadap para pekerja dan arus informasi yang berada dalam media yang dikuasainya.
Tulisan ini merupakan rangkuman buku “Cultural Studies and Political Economy” karya Robert E. Babe. Versi PDF dapat didownload disini.
















