Haru. Mungkin kata itulah yang bisa menggambarkan perasaan saya saat datang ke acara buka puasa bersama anak-anak ESC hari sabtu, tanggal 20 Agustus 2011 kemarin. Rasa haru itu muncul mungkin karena jauh dalam hati saya, saya sangat merindukan masa-masa di sekolah, khususnya masa ketika saya bergabung dalam ESC.
Bagi saya, ESC bukan hanya sekedar ekstrakurikuler, tapi juga rumah kedua bagi saya. Disana saya belajar, berlatih, dan mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran hidup. ESC lebih dari sekedar ekstrakurikuler dalam bidang bahasa Inggris, karena disitu saya tidak hanya belajar bahasa, tapi juga belajar bekerja keras.
Tiga tahun bergabung disana tentu bukan waktu yang singkat. Banyak hal-hal dan pengalaman yang berbekas sekali dalam hati saya dan teman-teman. Rasanya masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana saya dan teman-teman berlatih setiap hari hingga sore demi mengikuti suatu kompetisi. Puluhan kompetisi mulai dari speech contest, debate championship, writing contest, dan lain lain kami ikuti ketika bergabung dalam ekstrakurikuler ini. Kamipun mengikuti perlombaan dimana-mana, mulai dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Tidak selalu menang memang, tapi dari pengalaman-pengalaman tersebut kami belajar dan terpupuk rasa persaudaraan yang dalam.
Ya, kami punya tim yang sangat solid pada waktu itu. Ada Mulyana, Khaeruddin, Te Neni, Kak Tito, dan beberapa kakak kelas yang sangat meng-support kami. Kami tidak mengenal senioritas, karena itulah kami sangat dekat dan kompak. Malah, pernah ketika ada lomba Speech Contest tingkat Kabupaten Lebak, anggota ESC memborong 3 juara sekaligus. Saya juara 1, Mulyana juara 2, dan Te Neni juara 3. Entah ini kebetulan atau tidak, tapi yang jelas ini sangat membanggakan bagi sekolah, khususnya bagi ESC sendiri.
Bisa dibilang, ESC lah yang menumbuhkan keberanian, semangat, dan rasa percaya diri dalam diri saya. Dari pengalaman-pengalaman yang pernah saya dan teman-teman lewati, wawasan saya makin luas dan tumbuh semangat untuk terus mengembangkan diri. Tak heran, pun setelah 3 tahun pensiun dari ekskul ini, saya merasa tetap memiliki hubungan perasaan yang erat dengan ESC.
Saat kemarin buka puasa bersama adik-adik ESC di sekolah, saya ko merasa seperti déjà vu ya. Ya, déjà vu. Saya seperti kembali ke masa tiga tahun lalu, melihat diri saya sendiri yang sedang duduk menjadi anggota ESC. Apalagi ketika melihat-lihat lab bahasa (basecamp ESC) yang ternyata masih menyimpan piala dan file-file semasa saya dan teman-teman bergabung disana. Ah, ESC is so much memorable for me …
Oya, saya juga senang lho melihat anggota ESC yang ternyata cukup banyak. Tapi perlu diingat, seleksi alam tidak bisa dihindari. Lama-kelamaan juga akan terlihat siapa anak yang benar-benar berkomitmen dan siapa yang tidak. Bukannya mendoakan, tapi kita harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk bukan? Hal penting yang perlu diingat adalah, quantity is not everything. Pun nantinya anggota ESC berkurang, jangan patah semangat ya. Karena keberhasilan tidak selalu diukur dari kuantitas, tapi dari kualitas yang membanggakan.
Tulisan ini saya buat bukan untuk membanggakan diri, apalagi memuji diri sendiri. Lewat tulisan singkat ini, saya ingin berbagi sekaligus mencurahkan isi hati. Mengingat kemarin cukup banyak anak kelas satu yang notabene anggota baru, menanyakan “Seru gak sih gabung di ESC?” atau “Manfaatnya ikut ESC apa sih?”. Semoga tulisan ini menjawab kegalauan kalian ya. Walaupun sebenarnya tulisan ini tidak akan cukup jika kalian tidak mencobanya sendiri. Saya sangat berharap adik-adik ESC sekarang bisa jauh lebih baik dari kami yang sudah lebih dulu pensiun. Dan saya percaya, kalian pasti bisa! Sampai jumpa di event ESC selanjutnya ya. ESC, Bravo!






Tuesday, August 23rd, 2011, 2:07 am | 




