Speech…Siapa takut?
ketika pertama kali diminta pembina OSIS SMP untuk mengikuti lomba English Speech Contest, aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku persiapkan. Tadinya aku fikir, teks pidato dan menghafal saja sudah cukup, tapi ternyata tidak! Banyak hal yang harus dikuasai untuk menjadi speaker yang baik. Bukan modal bacaan, hafalan, apalagi modal kecantikan
, tetapi modal yang harus kita persiapkan pertama kali adalah mental kita sendiri. Dalam hal public speaking, yang harus kita taklukan bukanlah materi yang kita sampaikan, melainkan para audience supaya tertarik dengan pidato kita. Jangan sampai gugup, takut, apalagi ribut ketika berbicara di depan, anggaplah kita sedang bercerita, berdiskusi dan saling berbagi inspirasi
Aku jadi teringat dengan pengalaman pertamaku ikut lomba pidato, saat itu aku sangat gugup dan takut tak bisa menyampaikan pidato dengan baik. Berulang kali aku talar teks pidatoku tiada henti. Sampai pada saatnya aku tampil, ternyata aku belum bisa menguasai mentalku dengan baik. Kalimat demi kalimat aku ucapkan dengan lancar dan tertata, tapi menjelang akhir pidato, aku sedikit tersendat karena lupa. Padahal tadinya sudah aku hafal hingga diluar kepala (ilang donk ?
). Mengapa demikian? Tak lain dan tak bukan hanya karena aku gugup! Masalah mental tersebut ternyata sangat berpengaruh demi menunjang kemampuan kita berpublic speaking. Persiapan yang matang, hafalan materi, semuanya bisa musnah jika kita tidak dapat menjaga mental kita dengan baik.Bagaimana bersikap di depan orang banyak, berbicara dan body language kita semua ditentukan dari sebaik apa mental kita.
Untuk melatih kepekaan berbicara, aku sering mendengarkan pidato-pidato orang lain. Duduk manis di bangku penonton dan menyimak pidato orang lain ternyata membuat kita semakin peka dalam berbicara. Dengan menempatkan diri sebagai pendengar, kita akan tahu apa yang audience rasakan ketika menyimak sebuah pidato. Ada yang tidur bahkan kabur jika pidato yang disampaikan oleh sang pembicara itu boring dan terkesan garing
.Sebaliknya, jika pidatonya yang disampaikan bagus tentu kita akan tertarik dan terbawa hanyut dalam setiap kalimat yang ia ucapkan. Nah itu dia! Belajarlah dari hal tersebut. Berbicaralah dengan sebaik mungkin, dan tempatkan diri kita bukan hanya sebagai speaker tapi juga sebagai audience sehingga pidato kita akan lebih indah dan penuh makna
Materi yang bagus bukanlah kunci untuk menjadikan sebuah pidato itu juga bagus. Kunci yang terpenting sebenarnya adalah kunci yang dipegang oleh speaker itu sendiri. Jika kita sudah bisa menguasai jiwa, raga dan materi yang akan kita sampaikan, pasti pidato kitapun akan terdengar lebih natural dan aduhai
.
Misalnya ketika kita berpidato di depan anak-anak SMA, cukup dengan menyampaikan motivasi, tukar pengalaman dan sharing pengetahuan, pidato kita pasti akan mereka cerna dengan baik jika kita menyampaikannya dengan sempurna. Kesempurnaan pidato bukan dilihat dari seberapa bagusnya materi yang disampaikan, melainkan dari sejauh mana pidato itu terserap oleh audience yang menyimaknya. Meskipun materi yang disampaikan itu ecek-ecek dan terkesan becek, yang penting kan bisa membuat audience termehek-mehek. Lebih bagus kan?
Sebenarnya, yang pertama kali harus dimiliki seorang speaker atau pembicara adalah keberanian. Keberanian untuk maju, tampil, dan berbicara di depan orang banyak. Memang sih,sifat-sifat tersebut tidak mudah kita miliki.Kita dapat melatihnya dengan melakukan hal-hal kecil.Seperti berdiskusi, bercerita, hingga bergosip-gosip ria
. Jika kita sudah bisa mendominasi dalam berbicara dan berdiskusi, sedikit demi sedikit sifat-sifat tersebut akan tertanam dalam diri kita. Tidak akan ada lagi perasaan gugup dan gerogi ketika berbicara di depan banyak orang. Kita akan merasa lebih tenang dan nyaman dalam menyampaikan materi-materi yang kita sampaikan.
Tidak ada yang perlu kita takutkan dalam berpidato. Jika materi sudah siap, kita tinggal mengatur nafas dan mental kita untuk maju ke depan. Berbicaralah senyaman, setegas, dan sebagus yang kita bisa. Semua yang kita ungkapkan dan dan bicarakan kita sesuaikan dengan style bicara kita sendiri. Tak perlu memaksa tegas dan garang,padahal aslinya lemah gemulai
. Performance yang memaksa dan tidak natural akan terkesan buruk dan tidak akan menarik di mata audience. Karena itu, jadilah diri sendiri, dan teriaklah dengan kencang, “Speech…Siapa takut?” ![]()




setuju… ternyata model - model maupun tips - tips yang dibuat oleh banyak penulis dan sempat saya baca, kurang mengenai inti permasalahan “mengapa sulit untuk berpidato”. eee…. ternyata faktornya adalah diri mental kita sendiri (betul yang disampaikan saudari lutvia). Langkah - langkah yang paling simpel dan sangat penting ketika saya memulai berpidato adalah
1. menganggap bahwa audiens itu juga manusia seperti kita (setidaknya memiliki kemampuan tidak jauh dengan kita), bukan kerumunan manusia planet….
2. panggung merupakan salahsatu ajang dimana kita bisa menjadi sangat dikagumi atau sebaliknya. Dan hanya ada satu pilihan disini… “pidato kita harus yang terbaik”. Untuk itu hanya ada satu pilihan,yaitu “berani”
3. persiapan materi pidato. persiapan materi pidato itu sangat krusial. (meskipun memang nantinya tidak berwujud bahan bacaan pada saat kita pidato) Jadi persiapkan….
…sayangnya konsep ini saya temukan pada saat saya menginjak semester VI di perkuliahan… (tidak seperti penulis, yang sudah memiliki konsep yang matang sejak dini….)
keep fighting…. istiqamah dalam PERDJOEANGAN…
salam buat temen2 di brainmatics … salam kenal…
#hamrowi: yup, bener banget. Aku setuju dengan langkah-langkah berpidato ala Kak hamrowi, simple dan incredible
Cocok buat dijadikan bahan belajar
Iya kak, insya allah nanti disampaikan
ada banyak kisah sukses seseorang menjadi orator handal. Sukarno, dalam bukunya dibawah bendera revolusi, mengawali karir oratornya dengan banyak membaca. Emanuel Todd, futurist terkemuka asal prancis, mendahuluinya dengan banyak berdiskusi. sedang John F. Kennedy, belajarnya dengan banyak memperhatikan sejarah2 orator sebelumnya seperti kisah George Washington, curchill, rosevelt dsbnya, sedang Obama, kandidat presiden USA 2009, mengawali karir oratornya dengan banyak berlatih, hal yang sama dilakukan binden, wakil presidennya.
lebih dari itu, kakak sendiri lebih cenderung, memadukan cara kelima tokoh itu jauh lebih bijak.
so, majulah Via, maju terus ya pia. jadilah orator ummat yang handal ya iyut. Moga Allah memberikan kemudahan selalu.
i love speech! hehehe
salam kenal teh via yang manis