Debate Skill Untuk Pemula
Bergelut di dunia perdebatan membuat aku memiliki keberanian lebih dalam hal public speaking. Sudah 2 tahun lebih semenjak aku memasuki dunia SMA aku dikenalkan dengan “English Debating Championship” di berbagai ajang lomba. Bagiku debat adalah suatu hal yang menyenangkan dan penuh tantangan. Karena itu, ditulisan ini akan aku share beberapa pengalamanku dan rahasia-rahasia suksesku dalam berdebat-debat ria
.
Debat adalah kegiatan adu argumentasi, adu suara, dan adu kemampuan berbicara. Pada debat-debat kompetitif biasanya sudah disediakan peraturan-peraturan bagi para pesertanya. Bagaimana menyampaikan argumentasi, mematahkan argumentasi lawan, struktur perdebatan dan tema yang akan dibahas. Jadi, kita tidak asal bicara atau berdebat seenaknya. Semua aspek yang kita tunjukan ketika debat berlangsung dinilai sepenuhnya oleh dewan juri. Jika kita melontarkan kata-kata kasar atau menghujat maka bersiap-siaplah mendapat potongan nilai dari sang dewan juri
. Biasanya nilai yang akan dikurangi adalah nilai manner. Makanya, berbicaralah dengan sesopan dan setegas mungkin tanpa mencaci atau memaki apalagi memutilasi
.
Sejujurnya, ketegasan dan kegarangan dalam debat bukanlah hal yang mutlak untuk menjadi pemenang. Dengan berbicara lemah gemulaipun kita dapat memenangkan hati juri. Bukan dengan rayuan gombal, gomse*, apalagi gobang*
, tapi dengan memainkan nada suara agar terdengar meyakinkan dan dapat mempengaruhi orang lain sehingga percaya dengan apa yang kita ucapkan. Yang terpenting adalah, jadilah diri sendiri ketika berbicara. Tak perlu berpura-pura garang atau lembut saat menyampaikan argumentasi. Karena jika kita memaksa, performance kita malah akan terlihat kaku dan kurang meyakinkan.
Aku jadi teringat dengan pengalaman debatku beberapa tahun ini. Selama bergentayangan dalam dunia perdebatan SMA dan SMK, aku sudah sering melihat bermacam-macam debater. Ada yang garang, lembut, jayus bahkan terkesan jablay
. Semua yang aku temui aku jadikan sebagai bahan belajar. Pun begitu, aku tetap tidak menghilangkan karakter bicaraku yang lembut, lebay, dan aduhai
. Mengadopsi karakter berbicara orang lain sah-sah saja, apalagi bagi para pemula. Karakter tersebut dapat kita mix dengan karakter bicara kita yang asli. Misalnya karakter bicara kita yang lembut kita komposisikan dengan kegarangan supaya gaya bicara kita bisa lebih terdengar tegas dan meyakinkan. Kadangakala, karakter bicara kita juga masih banyak kekurangan. Makanya, kita harus belajar dan berlatih lebih banyak.
Ketika berdebat, banyak tantangan yang kita hadapi. Seperti motion yang tidak kita kuasai, kekurangan argumentasi, kehilangan ide, sampai personal attack dari opposite team. Memang sih, personal attack dalam debat edukasi tidak diperbolehkan. Tapi tetap saja, kadang-kadang masih ada saja peserta yang bersikap seperti itu untuk menjatuhkan mental lawan. Untuk menghadapi hal-hal semacam itu, kita harus memiliki pertahanan mental yang kuat. Bersikaplah seperti biasa, anggap saja ledekan-ledekan tersebut hanyalah semilir angin yang berlalu pergi
. Jika berani, ledekan-ledekan tersebut juga dapat kita tangkis dan kita buat musnah
, misalnya dengan cara menambahkan argumentasi atau dengan meyakinkan juri bahwa argumentasi yang kita sampaikan itu tidak salah dan paling benar. Jangan sampai hanya karena dicerca sedikit oleh lawan bicara, kita langsing down dan speechless. Seorang debater bukan hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tapi juga fisik dan mental yang kuat dan sehat. Mengapa demikian? Karena fisik yang tegap dan pandangan mata yang tajam juga bisa menjatuhkan lawan.
Sampaikanlah argumentasi kita dengan seyakin mungkin, anggaplah apa yang kita ucapkan adalah yang paling benar dan jangan ragu sedikitpun. Meskipun sebenarnya argumentasi kita kurang akurat dan menjauhi kebenaran
. Teguhlah dengan positioning kita, meskipun sebenarnya kita tidak setuju dengan hal tersebut. Misalnya ketika kita menghadapi motion “Pemerintah harus menghapus Ujian Nasional” dan kita ada dalam posisi Affirmative, maka apapun yang terjadi kita harus setuju dan yakin dengan hal itu, meskipun sebenarnya hati kita bertentangan dengan motion tersebut. Karena keyakinan dari diri sendiri adalah modal awal untuk menjadi debater yang handal. Chayo debater-debater Indonesia!
.
Gobang* = Gombal Banget
Gomse* = Gombal sekali




Good Article, ayo semakin ditambah lagi kajian2 ilmiah, supaya nanti debat argumentasinya juga berdasarkan referensi ilmiah. Kalau mau lebih yahood lagi hafal alquran dan hadits serta paham tafsirnya. Insya Alloh akan menjadi debater yang tak terkalahkan dunia akhirat :))
salam perjuangan adikku
#yadisyahid: Sip pak, mohon doanya
Kalau boleh ikutan komentar, saya melihat karakter seorang perempuan perkasa bernama lutviah alias via alias pia alias iyut :), sudah mulai muncul di posting terakhir tentang debate skill ini. “Kekerasan intelektual” yang sering saya lakukan dengan meminta para “serdadu saya” untuk mencoba menulis dengan hati, dengan bahasa manusia yang baik dan benar dan membuat aliran artikel yang tidak dipaksakan, juga sudah terimplementasi dengan baik. Saya yakin, bulan Ramadhan, September 2008 ini, dunia menjadi saksi lahirnya seorang penulis besar di republik ini. Welcome to the jungle pi! Mudah-mudahan tetap dalam perdjoeangan
#Romi Satria Wahono: Makasih pak, ini semua juga berkat bapak
. I would be nothing without you. Mohon doa dan dan dukungannya ya pak 
wah kata-katanya via buat RSW dalam banget maknanya …hehehee….dukungan apa nih yang diminta ?
#yadisyahid: Semuanya pak, yang bisa bermanfaat buat pia. He is inspiring person for me…
saat S1 dulu saya pernah mengikuti EDS (English Debating Society), dibutuhkan 2 kemampuan sekaligus untuk menjadi english debater… kemampuan bahasa dan respon luar biasa cepat atas permalasahan (yang seringnya di luar koridor core competence kita). sip… tetep nulis.. salam buat pak romi (dosen saya di udinus)
bisa diklasifikasikan satu-satu nggak dukungannya….:)
#hamrowi: yup, bener banget. bahkan menurut saya bukan hanya 2 kemampuan yang harus dimiliki seorang debater, tapi 4. Respon cepat terhadap masalah, kemampuan bahasa, wawasan yang luas dan mental yang kuat. Karena debat kadang-kadang mempengaruhi emosi dan personality kita.
sip k, insya allah disampaikan
#yadisyahid: emm..banyak dukungan yang pia terima pak. ilmu dan semangat adalah dukungan terbaik yang pia terima
Ya itu adalah dukungan terbaik bagi perkembanganmu dari rsw…semoga tetap berada dijalur perjuangannya. Calon debater besar akan lahir dari negeri ini
Wiiih…keren nih blog…
English Debating ya…sempet tertarik sih..tapi gak sanggup…akhir aku milih TI deh..hehehe…
visit my blog ยป DuniaTI.com
#yadisyahid: Amiiin
#Thomas: Jalur TI juga bagus kok
Saya malah sebaliknya, maksud hati ingin masuk TI, karena salah memilih jurusan akhirnya “terjerumus” ke akuntansi 
jka anda pandai debat daftar aja jd caleg
[...] Debate Skill Untuk Pemula [...]
Debaters forever lah… haha
assalammualaikum it sounds good. your experiences seem to be similar to mine. when did you join any national debating contest or PKS?? l joined it twice in Bali 2005 and Jakarta 2006, when l was in vocational school. and some provincial debating contests. and in 2008 l went to Bali exactly at UNUDfor university debating champinship, yet l was so upset, the committe cheated all participants, they enlisted on the invitation letters that each institution should have one adjudicator, but in fact, she or he wasn’t involved to be that panelizer. and the result was the winner coming from UNUD. it seems to be unfair. we were really annoyed. maklum tuan rumah harus menang karena juri nya mahasiswa unud,so it isn’t surprising. and next june l and my friends will conduct a governor-cup debating contest for senior and vocational schools. it is my hp no : 081917007429. good luck and hope that we all are success.keep your debating.thanks and best regard Husnawadi, FPBS, IKIP Mataram.