Mengkritisi Budaya Belajar Kita
Artikel ini aku tulis setelah berdiskusi dengan beberapa rekan kantorku di tempat aku magang. Tadinya sih, kami hanya saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ketika di sekolah.
Tapi lama-lama, diskusi kami berlanjut tentang cara belajar dan diajar kami ketika menimba ilmu selama bertahun-tahun di bangku sekolah.Tulisan ini aku buat bukan semata-mata karena cara belajarku sudah bagus dan patut diteladani. Sama sekali bukan. Tulisan ini hanya sebagai bukti kesadaranku bahwa proses belajar yang sudah 11 tahun aku jalani ini sering kali sia-sia.
Sudah berapa bidang study yang kita pelajari? Matematika, Bahasa, IPA, IPS, dan beberapa mata pelajaran lain yang mungkin sudah kita lupa materinya apa. Sering kali, ketika kita belajar di sekolah, niatan kita hanya untuk mendapatkan nilai yang baik dan bisa lulus sekolah dengan hasil yang membanggakan. Karena itulah, banyak siswa-siswi yang menyontek ketika ujian dilaksanakan. Kita tidak pernah berfikir “Untuk apa ya saya belajar ini…?”, “Apa yang akan saya hasilkan jika mempelajari ini..?”, ”Dalam hal apa saya bisa mempraktekannya…?”, “Kelak saya bisa jadi apa kalau belajar ini…?”. Pernahkah anda memikirkannya? Jika pernah, sungguh saya ingin belajar dari anda!!
Memang sih, ada beberapa orang yang juga pernah memikirkannya. Tapi hanya sebatas berfikir, tanpa ada realisasi yang jelas. Sering kali kita hanya sekedar berfikir dan menyimpan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hati saja. Karena itu, jadilah masyarakat kita seperti sekarang ini. Orang-orang yang hanya belajar untuk mendapatkan gelar akademis, pekerjaan yang layak serta kebebasan financial dengan cara yang instan. Sehingga pelajar-pelajarpun terinfeksi oleh budaya semacam ini. Aksi contek-mencontek yang semakin marak, pembocoran soal ujian, dan hal-hal jelek lainnya.
Misalnya saja, suatu ketika temanku pernah bertanya pada guru matematika yang sedang mengajar dikelas. Saat itu materi yang sedang dibahas adalah persamaan dan pertidaksamaan linear. Ketika session pertanyaan, temanku bertanya “Di kehidupan sehari-hari persamaan linear itu kita aplikasikan dimana ya bu?”, dan guruku menjawab, “Kalian cari saja di buku, dimana saja biasanya persamaan linear itu diaplikasikan”. Gubrakkkk !! Aku tidak tahu apa maksud dari jawaban guruku itu. Entah itu karena dia ingin siswa-siswinya belajar mandiri atau memang karena dia tidak tahu. Yang jelas, saat itu aku dan temanku mencarinya dalam buku-buku matematika yang kami pelajari. Tapi pertanyaan kami sama sekali tidak ada yang membahas. Yang ada hanya pembahasan rumus dan contoh-contoh soal. Lalu siapa yang mesti kami pintai jawab?
Setelah kejadian itu, aku jadi semakin mengerti bahwa budaya semacam itu bukan hanya menginfeksi para pelajar saja, tapi guru-gurunya juga. Murid-murid belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus, dan guru mengajar hanya untuk mendapatkan gaji dari pemerintah. Tidak ada lagi rasa ingin tahu dan kritisasi akan ilmu.
Kita terus berdoa dan berusaha, semoga budaya-budaya seperti ini akan segera lenyap dari dunia pendidikan Indonesia. Kalo tetep kaya gini, apa kata dunia??
Bravo Education, Bravo Indonesia!! ![]()
Andaikan achievement yang kita dapat dari bangku sekolah tidak melulu berupa nilai maka saya kira kejadian2 diatas bisa di netralisir.Banyak teman2 saya (terutama di bangku kuliahan) dengan nilai pas-pasan kemampuan di jurusannya jauh diatas teman2 mereka yang nilainya aduhai… bahkan teman2 dengan nilai aduhai tersebut berguru kepada teman saya yang nilainya pas-pasan tadi namun kembali lagi banyak orang yang silau (heran aku…) sama IPK diatas 3 padahal nilai bisa didapat dari banyak cara ga hanya contekan tapi juga keberuntungan… sudah banyak sekali contohnya, mungkin nanti kalo dek Via masuk perguruan tinggi akan menemui fenomena ini…
yang pasti sebagai generasi muda yang haus akan ilmu pengetahuan kita seharusnya mulai bersikap bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya didapat dari bangku sekolah/kuliah, bahwa ilmu ada dimana2 (seperti di google misalnya…) sehingga meminimalisir pandangan sempit tentang belajar yang berorientasi terhadap nilai….
weleh…weleh…..gitu aza ko’repot…..yg nmY cri ilmu tuh bs dmn sj..bs bljr dari alam, lingkungan sekitar kita, budaya dan tradisi kita etc.,. nabi aza sampai ngomng”Uthlubul ‘ilma walau bi shin” (tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negri cina) yang bermakna mncari ilmu itu tak terbatas waktu, ruang dan masa…trus bagaimana dengan pola pikir masyarakat yg “kadung”/kepalang basah bercorak PRAGMATIS??? ya mau gimana lg…..yg jelas untuk masa yang akan datang QT lah yang menentukan apakah budaya PRAGMATIS tetap diprtahankan atau??????????? mlah tambah parah he……….